Bab 75: Berangkat!
“Sialan! Pak Zhang benar-benar mengeluarkan modal besar kali ini!” Pagi-pagi sekali, Mo Yun tiba di sekolah. Di sekolah yang masih lengang, sebuah bus besar terparkir di jalur utama, sementara para siswa duduk berkelompok di lapangan.
“Menyewa bus sebesar ini, sepertinya tidak mungkin kurang dari sejuta, kan?” Mo Yun memandang bus itu, lalu menggeleng-gelengkan kepala.
Gaji Pak Zhang memang tidak bisa dibilang sedikit, tapi juga tidak banyak. Demi para murid, beliau rela mengeluarkan jutaan rupiah begitu saja. Mo Yun sungguh mengagumi wali kelasnya itu.
Guru seperti ini, mungkin sudah hampir punah...
Sambil berpikir, Mo Yun menoleh dan melihat Pak Zhang bersama seorang pria paruh baya yang asing sedang duduk di tepi taman bunga sambil merokok. Ia pun menghampiri mereka.
Kalau benar Pak Zhang yang membayar bus itu, Mo Yun berniat mengganti uangnya. Setelah menguasai dunia bawah di Kota Jintian, meski Mo Yun tidak pernah meminta uang, para bos besar tetap memberinya sebuah kartu, setiap bulan diisi hampir sepuluh juta. Sekarang, Mo Yun sama sekali tidak kekurangan uang.
“Selamat pagi, Pak Zhang!” sapa Mo Yun sambil berjalan mendekat. “Ini pasti sopirnya, ya?”
“Hehe, halo Nak!” Sopir itu melambaikan tangan pada Mo Yun, memperlihatkan deretan gigi kuningnya.
“Hai, ada angin apa kamu jadi sopan begini?” Pak Zhang tersenyum geli memandang Mo Yun. “Biasanya kamu yang paling bandel.”
“Hehe, Bapak sudah mau menghabiskan gaji hanya demi kami, masa saya tidak boleh memuji Bapak sekali?” Mo Yun tertawa dan duduk di samping Pak Zhang.
“Kamu salah duga, Nak. Bukan aku yang bayar bus ini. Bus ini disponsori oleh Pak Xu, teman lamaku,” ujar Pak Zhang sambil menepuk bahu Mo Yun. “Kalau bukan karena dia, kita pasti sudah naik angkutan umum berdesakan.”
“Haha, Zhang, kita kan teman lama. Bantu-bantu kecil saja, lagian bus ini punyaku sendiri, tempatnya juga tidak jauh. Paling cuma keluar seratusan ribu buat bensin, anggap saja membantu calon mahasiswa masa depan,” kata Pak Xu sambil tersenyum.
“Pak Xu, biasanya sekali jalan bisa dapat sejuta, ya? Kali ini antar kami yang cuma anak sekolahan, pasti rugi besar nih!” canda Mo Yun.
“Kamu ini ngomong apa sih? Bus ini punyaku sendiri, suka-suka aku dong. Barusan sudah dibilang, paling cuma habis seratusan ribu buat bensin. Atau kamu mau ganti rugi?” Pak Xu jelas punya gaya yang mirip dengan Pak Zhang. Mendengar ucapan Mo Yun, ia langsung membalas dengan nada bercanda.
“Aduh, Pak Xu memang hebat. Kalau saya benar-benar mau kasih uang, jangan-jangan Bapak malah gampar saya ya?” Mo Yun tertawa.
“Kamu tahu juga!” Pak Xu mendengus, lalu membuang puntung rokok ke tanah dan berdiri menengok ke sekitar.
Tak lama kemudian, semua siswa sudah berkumpul. Pak Xu mengecek satu per satu, lalu mengangguk puas. “Zhang, lihat, anak-anakmu sudah lengkap?”
Pak Zhang berdiri dan menangkupkan tangan di mulut, berteriak, “Ayo semua, kumpul! Kita mau berangkat!”
Mendengar suara Pak Zhang, para siswa langsung berlari mendekat sambil tertawa. Beberapa di antaranya masih asyik memainkan GBA.
Pak Zhang melirik ke arah mereka, lalu mengangguk puas sambil tersenyum. “Bagus, semua sudah datang.”
“Tentu saja, Pak Zhang. Kalau sudah disediakan makan dan penginapan gratis, siapa yang mau ketinggalan!” sahut beberapa siswa sambil tertawa.
“Sudah, jangan banyak omong. Naik ke bus!” Pak Zhang mengayunkan tangan, mengajak para siswa yang masih berisik untuk naik ke bus.
“Mo Yun, haaa...” Begitu duduk, Mu Feixue datang menghampiri. Belum sempat duduk, ia sudah menguap lebar.
“Aduh, Feixue, kenapa wajahmu seperti panda?” Mo Yun menatap lingkaran hitam di bawah mata Mu Feixue sambil bercanda. “Meskipun kamu tetap manis dan cantik, begadang itu tidak baik untuk kesehatan, lho!”
“Aku tidak begadang kok, cuma semalam terlalu bersemangat, jadi tidak bisa tidur...” Mu Feixue menggerutu, duduk di samping Mo Yun, lalu kembali menguap lebar. “Aduh, aku ngantuk sekali... Mo Yun, pinjam bahumu ya, aku mau tidur sebentar!”
Tanpa menunggu jawaban, kepala Mu Feixue langsung bersandar di bahu Mo Yun dan matanya terpejam.
Hubungan mereka memang selalu sangat dekat, bahkan bisa dibilang lebih dari sekadar teman, meski belum resmi menjadi kekasih. Mo Yun kadang suka bercanda genit, dan Mu Feixue pun sering memukulnya main-main. Namun, baru kali ini Mu Feixue bersandar di bahunya seperti sepasang kekasih.
Mo Yun tiba-tiba jadi kaku, tak berani bergerak sedikit pun. Ia menoleh, melihat wajah Mu Feixue yang tidur nyaman di pundaknya, bibir mungilnya bergerak-gerak lucu. Hatinya dipenuhi kebahagiaan yang aneh dan hangat.
Andai saja bus ini bisa terus berjalan seperti ini, alangkah indahnya... Mo Yun perlahan merangkul Mu Feixue agar ia bisa lebih nyaman bersandar. Menatap wajah lembut gadis itu, ia tanpa sadar mulai berandai-andai.
Namun, segera saja pikiran Mo Yun berubah.
Mu Feixue ternyata tidur sambil ngiler!
Mo Yun memandangi bahunya yang sudah basah di satu titik, ia pun hanya bisa tertawa pahit. Dalam tidur, gadis kecil itu masih saja menggerakkan bibir, dan setitik air liur bening meluncur dari sudut mulutnya.
Namun, Mo Yun benar-benar tidak tega membangunkannya. Sambil mengusap hidung, ia terkekeh pelan. Cuma air liur, apalah artinya. Tidak semua orang bisa menjadi tempat bersandar dan tempat Mu Feixue mengiler!
Lagipula, kalau nanti ciuman, toh juga saling bertukar air liur. Kena sedikit sekarang, tak masalah!
Berpikir sampai di situ, Mo Yun menoleh pada Mu Feixue. Bibir mungilnya yang merekah, tipis dan kemerahan, membuat hati Mo Yun bergetar, dan suara nakal dalam kepalanya pun berbisik.
Cium! Cium sekarang! Jangan ragu! Cium saja!! Hahaha...
Suara nakal itu terus-menerus menghasut.
Pergi kau! Mo Yun langsung menepis bisikan nakal itu. Astaga, aku orang baik-baik, kalau mau mencium harus dengan terang-terangan. Menyerang saat orang tidur itu bukan gayaku!
Saat itu, bus sudah keluar dari pusat Kota Jintian. Dari kejauhan mulai tampak perbukitan kecil dan sawah hijau membentang. Bagi para siswa yang terbiasa melihat gedung tinggi, pemandangan ini sungguh menyegarkan.
Banyak yang langsung menempel di jendela bus, melihat sambil berdiskusi riang.
Setelah lebih dari sejam, bus pun sampai di tujuan. Sebuah rumah besar bergaya lama berdiri sendiri di depan mereka. Kebun sayur di sekeliling dan pagar bambu yang mulai menguning membuat semua siswa kegirangan.
Di belakang rumah itu, kira-kira satu kilometer jauhnya, tampak sebuah bukit kecil setinggi 20-30 meter. Mo Yun menatap keluar jendela, lalu tiba-tiba mengernyit.
Meskipun pemandangannya sangat indah, entah kenapa terasa agak aneh. Mo Yun bergumam dalam hati.