Bab Dua Puluh Dua: Memalukan Martabat Para Cendekia
“Kakak, kita sudah berlatih sehari semalam penuh, tapi tetap saja tidak merasakan adanya tenaga dalam. Kalau terus begini, entah kapan kita bisa berhasil...” keluh Guo Xingxing yang mulai kehilangan semangat.
“Benar, benar! Anak buahku semuanya lebih hebat dariku, jadi jadi bos itu ternyata tidak mudah…” sahut Zeng Xiaowei.
“Nenek Zhu sampai rambutnya sudah memutih pun belum bisa menguasai tenaga dalam, kalian berdua malah baru mulai kemarin sudah ingin berhasil?” Du Feng menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir.
Mata Zeng Xiaowei tiba-tiba berkilat, ia langsung berkata, “Kakak, apa ada pil yang bisa langsung menambah puluhan tahun tenaga dalam begitu diminum? Kasih kami berdua beberapa butir, dong!”
“Ada sih ada, tapi itu pil yang digunakan kami para kultivator untuk meningkatkan kekuatan spiritual dan menaikkan tingkat. Tidak tahu juga, apakah berpengaruh pada kalian yang berlatih bela diri. Kalian coba saja...” Du Feng mengeluarkan sebuah botol porselen.
Merasa adanya getaran energi spiritual, Zhou Wuwei yang duduk di dekatnya langsung terkejut. Itu kan Pil Penyubur Energi, bahkan para pewaris sekte hitam sepertinya saja hanya dapat satu butir setahun, dan sekarang Du Feng malah memberikannya pada dua orang yang bahkan belum bisa disebut ahli bela diri, Zeng Xiaowei dan Guo Xingxing.
“Terima kasih, Kakak!” ujar Zeng Xiaowei, tak peduli sedang jam pelajaran atau bukan, langsung membagi pil dengan Guo Xingxing dan menelannya bersama-sama.
Zhou Wuwei hanya bisa mengelus dada melihat energi spiritual pil itu tak terserap dan malah terbuang sia-sia oleh Guo Xingxing dan Zeng Xiaowei, dalam hati ia menjerit, “Dasar pemboros!”
“Efeknya ada! Gendut, kau merasakannya?” baru saja Du Feng hendak menggelengkan kepala dan menyatakan pil itu tak berguna untuk para pejuang, ia sudah mendengar teriakan kagum Zeng Xiaowei.
Guo Xingxing juga mengangguk, dan melayangkan sebuah pukulan ke udara. Du Feng, yang pendengarannya tajam, bahkan mendengar suara angin robek di udara! Ia merasa heran, jelas-jelas melihat energi pil itu menguap percuma, bagaimana mungkin Guo Xingxing yang baru belajar sehari bisa langsung mencapai tingkat tenaga dalam tersembunyi? Du Feng segera mengeluarkan pil gagal buatannya dan menyerahkannya pada Guo Xingxing. “Coba yang ini!”
Guo Xingxing, tanpa curiga, menelannya lalu duduk bersila seperti biksu tengah bermeditasi. Lama kemudian, keringat sebesar biji jagung menetes di wajah gempalnya, dan secuil asap biru keluar dari kepalanya.
“Siswa di belakang yang sedang merokok, berdiri!” seru profesor tua di depan kelas yang menyadari keanehan itu.
Du Feng dan Zeng Xiaowei segera menegakkan Xiao Yijun yang tertidur pulas di kanan-kirinya.
“Jelaskan apa yang barusan saya sampaikan tentang kompensasi nilai dan kompensasi barang!” tanya profesor itu.
“Kompensasi nilai… itu… itu…” Xiao Yijun melirik ke arah Du Feng, meminta bantuan. Melihat mulut Du Feng membentuk kata, ia berkata, “Kompensasi yang bernilai! Misalnya, kalau saya melecehkan seorang perempuan, lalu dia melecehkan saya balik, itu kompensasi barang, kalau saya bayar uang, itu kompensasi nilai...”
Suara Xiao Yijun makin lama makin kecil, ia sendiri merasa kata-katanya tak beres. Tiba-tiba, profesor yang biasanya kalem itu mengamuk, “Itu mah uang kencan! Keluar dari kelas!”
Diiringi tawa seluruh kelas, Xiao Yijun pun keluar. Saat itu juga, asap di kepala Guo Xingxing berhenti mengepul, matanya yang tertutup rapat terbuka. Du Feng langsung bertanya, “Bagaimana?”
“Rasanya, seluruh tubuhku kuat sampai bisa membunuh seekor sapi!” jawab Guo Xingxing.
“Kenapa sih kau selalu bermusuhan sama sapi? Coba pukul sekali!” Du Feng mendengus.
Guo Xingxing menarik napas dalam, mengikuti teknik napas Tai Chi, menahan napas di bawah pusar, lalu mengerahkan tenaga dan melayangkan pukulan ke papan tulis! Semburat energi tak kasat mata melesat dari kepalan Guo Xingxing, tepat mengarah ke profesor yang sedang menulis di papan. Du Feng terkejut dan segera bertindak menetralkan energi itu.
Profesor yang membelakangi murid tiba-tiba merasakan angin dingin di tengkuknya, ia langsung berbalik, “Siapa?”
Melihat semua siswa tampak kebingungan, profesor itu mengira-ngira dan kembali menulis, “Jangan-jangan aku kurang baju hari ini?”
Zeng Xiaowei, yang terkesima, memohon pada Du Feng, “Kakak, aku juga mau!”
“Hanya tersisa dua butir terakhir, kalian bagi sendiri!” Du Feng mengeluarkan dua pil yang sama, lalu termenung. Ternyata, orang yang bukan kultivator tidak bisa menyerap energi spiritual pil, tapi justru efek obatnya sangat berguna. Pantas saja tenaga dalamnya sendiri tebal, karena bahkan pil gagal saja sudah bisa membuat Guo Xingxing mencapai tingkat tenaga dalam eksternal. Demi teman-teman, kayaknya ia harus lebih sering gagal membuat pil...
Namun, Du Feng sama sekali lupa ekspresi Qilingzi yang berlinang darah waktu ia bersikeras menambah segala macam ramuan langka ke Pil Peningkat Spiritual, tak peduli nasihat Qilingzi, dan bagaimana ia babak belur setelah pil itu gagal dibuat.
Saat itu, Guo Xingxing yang sudah minum satu pil, setuju untuk membagi rata, tapi Zeng Xiaowei ingin dua-duanya. Mereka pun bersitegang soal satu pil yang tak bisa dibagi rata, tanpa terpikir untuk membelahnya separuh...
“Sudah, kembalikan ke Kakak saja, kita berdua nggak usah!” malas berdebat, Guo Xingxing meletakkan pil itu di meja Du Feng. Entah karena lantai miring atau meja tak rata, pil bundar itu langsung menggelinding ke lantai!
“Kalau kau tak mau, aku ambil!” seru Zeng Xiaowei, lalu langsung membungkuk di bawah meja.
“Mau sembunyi di bawah meja buat merokok lagi? Kukira aku tidak tahu?” profesor tua yang sedari tadi mengawasi lokasi asap, turun dari panggung.
“Keluarlah!” suara marah profesor menggema di telinga Zeng Xiaowei yang baru saja menemukan pil di dekat kaki Du Feng. Ia buru-buru menengadah.
Melihat kepala Zeng Xiaowei muncul di antara kedua kaki Du Feng, jantung profesor tua itu hampir copot. Semua perkataan yang sudah ia siapkan langsung lenyap, dalam pikirannya berkecamuk apakah harus menegur atau membiarkan saja.
Saat Zeng Xiaowei berpegangan pada kaki Du Feng untuk berdiri, dan Du Feng yang malu karena disangka macam-macam oleh profesor, buru-buru ikut berdiri untuk menjelaskan.
Tiba-tiba, Du Feng merasa bagian bawah tubuhnya dingin, entah karena Zeng Xiaowei menariknya terlalu keras, atau ia bangkit terlalu kuat, atau keduanya terlalu bersemangat, atau memang celana yang dipakai Du Feng hari itu kurang pas. Singkatnya, celana olahraga longgarnya sudah melorot hingga ke pergelangan kaki, menampakkan celana dalam bergambar Mickey Mouse.
“Wah… mereka benar-benar melakukan itu, di kelas pula!”
“Jijik, benar-benar menjijikkan…”
“Kalian wanita sama pria itu baru menjijikkan, kami pria sama pria itu cinta sejati!” Begitu Zeng Xiaowei keluar dari bawah meja, seisi kelas gaduh tak karuan.
“Sungguh memalukan, sungguh memalukan…” profesor tua itu, saking marahnya, merangkul dadanya lalu jatuh pingsan.
Du Feng buru-buru mendekat, menggunakan energi spiritualnya untuk melindungi jantung profesor.
Ketika profesor dilarikan ambulans, di departemen rawat inap Rumah Sakit Universitas Ibu Kota, seorang kakek yang tengah bersembunyi di lorong sambil merokok, menerima telepon, “Halo, Xiao Liao, ada apa? Aku sudah sehat, sialan, rumah sakit ini saja yang tak mau kasih surat keluar. Apa, cucu sulungku besok lamaran? Berarti tahun depan aku sudah jadi kakek buyut? Kenapa baru bilang sekarang? Apa, kau juga baru tahu? Siapkan penginapan, aku pesan tiket dan terbang ke sana sekarang juga!”
Setelah menutup telepon, kakek itu langsung membuang rokoknya, berseru, “Hei, Qin! Sialan, aku mau keluar dari rumah sakit!”