Bab Tujuh Puluh Tiga: Sang Mertua
“Kawan, nanti kita minum bersama, bagaimana?” Atas dorongan Du Feng, Guo Xingxing berjalan mengendap-endap mendekati Zhou Wuwei dan mengajaknya. Zhou Wuwei tampak terkejut, lalu melirik ke arah Du Feng yang tak jauh darinya. Tepat saat itu, pandangan mereka saling bertemu, dan Du Feng pun buru-buru mengalihkan pandangannya sambil tertawa-tawa bersama Xiao Yijun. Zhou Wuwei tersenyum, “Jangan-jangan ini jamuan berbahaya?”
“Mana mungkin! Aku hanya ingin berterima kasih atas bantuanmu waktu itu,” Guo Xingxing yang merasa tidak tenang segera menjelaskan.
“Waktu itu, Du Feng sudah memberiku pisau sebagai tanda terima kasih. Aku rasa tak perlu lagi minum bersama, lagipula kita memang bukan orang satu jalan!” Zhou Wuwei menolak undangan Guo Xingxing tanpa basa-basi.
Guo Xingxing pun pergi dengan sangat canggung, sementara Zhou Wuwei tertawa dingin dalam hati, “Tak ada angin tak ada hujan, pasti ada maunya!”
“Bos, Zhou Wuwei nggak mau juga ya…” Guo Xingxing kembali dengan tangan hampa, tampak pasrah.
“Tak apa, anak itu memang sangat berhati-hati, kalau tidak, aku tak mungkin menyelidikinya begitu lama tanpa menemukan celah,” jawab Du Feng santai, “Kalau sekali undangan gagal, kita coba dua kali, kalau dua kali gagal ya tiga kali. Suatu saat dia pasti mau minum juga dengan kita!”
“Benar, benar!” Zeng Xiaowei menimpali, “Kalau nggak berhasil juga, biar saja dia menjual pesonanya untuk menggoda Shishi, lalu Shishi yang mengundang istri si Zhou Wuwei, masa dia masih bisa menolak?”
“Wah, kau ternyata lumayan juga otaknya di saat penting…” Du Feng menatap Zeng Xiaowei dengan heran.
“Duh, Shishi perlu jual pesona untuk menggoda? Asal ada makanan, Shishi rela melakukan apa saja, tahu!” Xiao Yijun geleng-geleng kepala.
“Itulah, berarti rencana kita memang kurang matang. Harusnya kita banyak belajar licik dari Qian Kuan!” Du Feng menyimpulkan, lalu melanjutkan, “Tapi Qian Kuan meskipun licik, tetap saja jatuh di tangan kita, kan? Menurutku, bukan kita yang kurang pintar, tapi kita saja yang belum serius!”
Ucapan Du Feng membuat mereka semua merenung. Dan justru karena ringkasan Du Feng hari ini, kelak mereka dapat menghadapi segala tipu daya di dunia para kultivator, bahkan berhadapan dengan iblis-iblis tua berumur ribuan tahun pun mereka tetap mampu bertahan dengan tenang. Namun, itu cerita nanti.
Hari ini, entah kenapa Shishi tidak datang ke sekolah, sehingga rencana Du Feng dan kawan-kawan pun tertunda. Saat bel pulang berbunyi, Su Fei yang seharian tidak ramah pada Du Feng karena ucapan Tang Youyou, melangkah keluar dari gerbang sekolah. Begitu melihat sosok yang sangat dikenalnya sedang tersenyum di samping sebuah mobil off-road berpelat nomor militer, Su Fei sangat gembira, tersenyum lebar dan berlari ke arahnya. Sosok itu pun dengan alami membuka tangan, siap memeluknya.
“Astaga!” Pemandangan ini disaksikan langsung oleh Du Feng yang sejak tadi memikirkan cara merebut hati Su Fei. Menyadari bahwa keduanya tidak punya hubungan darah, Du Feng dengan cepat melompat ke tengah-tengah mereka yang hampir berpelukan, memandang lelaki berbaju militer itu dengan waspada.
“Eh…” Lelaki itu tampak canggung, menarik kembali tangannya.
“Du Feng, apa yang kau lakukan?” Su Fei yang terkejut dengan aksi mendadak Du Feng, menjadi agak marah.
Du Feng melirik Su Fei dengan wajah muram, lalu berkata pada lelaki itu, “Aku peringatkan, siapa pun kau, tolong jauhi dia!”
Lelaki itu tersenyum geli menatap Du Feng, lalu melirik Su Fei. Saat itu, jendela mobil di samping mereka turun, menampakkan seorang pria paruh baya berseragam militer yang menatap Du Feng dengan suara penuh wibawa, “Ini pacarmu?”
“Mm…” Su Fei hendak mengiyakan, namun teringat pada keberadaan Tang Youyou dan keputusan dirinya sendiri, ia pun buru-buru menggeleng, “Dia hanya muridku!”
“Sekaligus pacar sambilan!” Menyadari adanya hubungan darah kuat antara pria paruh baya dan Su Fei, Du Feng segera mengeluarkan cerutu Kuba kuno hasil rampasan dari markas besar Hongmen dari kantong penyimpanannya, dan menyerahkannya dengan penuh hormat, “Ayah mertua, silakan hisap satu!”
Pria paruh baya itu mengerutkan dahi, tidak mengambil cerutu yang diberikan Du Feng. “Masuk mobil!”
Mendengar itu, Su Fei langsung membuka pintu dan naik. Du Feng yang sedang kikuk, tiba-tiba disapa lelaki di luar mobil yang membukakan pintu di sisi lain. “Silakan!”
Du Feng terpaku sejenak, menunjuk dirinya sendiri, dan setelah lelaki itu mengangguk, ia pun masuk dengan penuh semangat.
“Ayah mertua, nama kecilku Du Feng: Du seperti Du Fu, Feng seperti pepohonan maple di senja hari. Nama ayah mertua siapa, ya?”
“Ayah mertua, melihat seragammu, kau pasti tentara, ya?”
“Feifei, kenapa ayahmu diam saja, jangan-jangan punya masalah bicara…”
Sepanjang perjalanan, Du Feng berusaha keras untuk memulai percakapan dengan pria paruh baya itu, namun semua usahanya seperti menepuk angin, sebab ayah Su Fei hanya menatap lurus ke depan tanpa menghiraukan Du Feng. Sopir di depan beberapa kali tak kuasa menahan tawa karena celotehan Du Feng.
Akhirnya, mobil berhenti di Taoranju, restoran di mana Du Dong memiliki saham. Saat pelayan yang ramah membukakan pintu, Du Feng tak henti-hentinya bicara, “Ayah mertua, kau belum tahu, ini restoran milik ayahku, hari ini bebas makan apa saja, semua aku yang traktir!”
Ayah Su Fei mengerutkan dahi, menatap Du Feng, “Kau ini cerewet sekali, ya?”
“Aku hanya ingin memberi kesan baik di mata ayah…” Du Feng tersipu. Ayah Su Fei mendengus dingin, melangkah masuk ke Taoranju, dipandu pelayan menuju ruang VIP yang sudah dipesan. Begitu masuk, lelaki muda itu langsung melepas jaket dan menggulung lengan bajunya.
“Ayah…” Su Fei tampak tegang, namun saat mendapat tatapan dingin dari ayahnya, ia langsung diam dan dalam hati berdoa untuk Du Feng.
Setelah mendapat isyarat dari ayah Su Fei, lelaki muda itu mengangkat tinjunya, siap menghantam Du Feng.
Tiba-tiba, tinjunya berhenti di udara, tak bergerak sedikit pun, matanya terpaku pada moncong pistol hitam yang menodong ke arahnya. Jantungnya berdebar kencang. Gerakan Du Feng mengeluarkan dan menyiapkan pistol begitu lancar, membuat lelaki muda itu yang bertahun-tahun menjadi tentara langsung tahu bahwa Du Feng bukan orang sembarangan dalam urusan senjata!
Kejadian mendadak itu membuat suasana di dalam ruangan menjadi sangat dingin. Ayah Su Fei melotot marah, hendak mengeluarkan pistol juga, namun siapa sangka, tangan Du Feng yang lain entah dari mana juga mengacungkan pistol ke arahnya, membuat ayah Su Fei tak berani bertindak gegabah.
“Ayah mertua, aku tahu lelaki muda ini calon menantu idamanmu, tapi putrimu sudah jadi milikku. Kalau dia cuma mau memukulku, tak apa, tapi kalau sampai mengeluarkan pistol, itu sudah keterlaluan, bukan?” Suara Du Feng terdengar tenang.
“Du Feng, apa yang kau lakukan?” Su Fei yang sangat terkejut melihat Du Feng membawa pistol, segera maju menurunkan tangan Du Feng, “Kau bicara apa sih? Dia itu kakakku…”
“Kakak sepupu? Kakak tiri? Atau kakak angkat?” Du Feng menatap dengan wajah tak percaya.
“Dia anak sahabat ayahku!” jawab Su Fei.
“Pantas saja!” Du Feng menatap lelaki muda itu dengan dingin, “Pantas jadi menantu idaman ayah mertua.”
“Dia itu teman masa kecilku…” Su Fei kembali menjelaskan. Belum sempat selesai, Du Feng sudah menimpali, “Sahabat kecil yang tumbuh bersama?”
“Kau ini…” Su Fei kehilangan kata-kata. Lelaki muda itu yang menyadari kesalahpahaman Du Feng, akhirnya tersenyum lega, “Orang tuaku gugur, dan Paman Su yang membesarkanku!”
Du Feng menatap Su Fei ingin memastikan, namun Su Fei yang masih marah langsung berpaling. Du Feng buru-buru menyimpan pistol, menggenggam tangan lelaki muda itu dengan penuh hormat, “Jadi begitu ceritanya, aku yang salah paham…”
Tiba-tiba, genggaman tangan lelaki muda itu menggencang kuat.