Bab 101 Kasus yang Ganjil
Dua puluh satu Juni, pukul tujuh pagi, Kompleks Perumahan Lingnan, Kota Jintian.
Kompleks ini termasuk kawasan hunian kelas atas yang terkenal dengan lahan hijaunya yang sangat luas. Area hijau tersebut seharusnya menjadi fasilitas bagi para penghuni, namun seiring berjalannya waktu dan kelalaian pihak pengelola, sudut-sudut tersembunyi di sana kini terbengkalai dan ditumbuhi semak belukar.
Di sinilah tempatnya. Rumput liar yang tumbuh setinggi lutut orang dewasa menjadi bukti betapa lamanya area ini tidak terurus. Biasanya, selain kucing atau anjing liar dan para tunawisma yang menyelinap masuk, tidak akan ada orang yang memperhatikan tempat ini.
Namun, tempat yang biasanya sepi tersebut kini dipenuhi kerumunan. Banyak orang berkerumun di sekitar area tersebut, berbisik-bisik dengan riuh. Garis polisi berwarna kuning yang terpasang di sekeliling area terbuka itu menandakan bahwa lokasi tersebut telah berada di bawah kendali pihak kepolisian. Sejumlah orang berseragam polisi dan mengenakan jas putih tampak sibuk bekerja di tengah lapangan.
Di tengah lapangan, sebuah area telah dipagari dengan kain putih untuk menghalangi pandangan warga sekitar. Hal ini memicu protes keras dari massa, namun setelah mendapatkan tatapan tajam dari para petugas yang berjaga di balik garis polisi, mereka terpaksa bungkam sembari terus berbisik dan berspekulasi tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Meski tidak melihat pemandangan di baliknya secara langsung, rumput yang telah berubah warna menjadi merah tua menunjukkan bahwa apa pun yang tersembunyi di balik kain putih itu bukanlah pemandangan yang menyenangkan.
Kenyataannya memang demikian.
Sebuah mobil Land Rover berhenti di jalan beton di samping area tersebut dengan decitan rem yang nyaring. Seorang pria berbadan tegap keluar dari mobil dengan terburu-buru, diikuti oleh seorang pria paruh baya serta dua orang pemuda, laki-laki dan perempuan.
"Kepala Mo! Kapten Liu!" dua petugas polisi yang berjaga segera memberi hormat saat melihat mereka dan mengangkat garis polisi.
Mereka yang datang tak lain adalah Kepala Biro Keamanan Umum Kota Jintian, Mo Zhenhua, dan Kapten Tim Reserse Kriminal, Liu Yong. Adapun polisi muda yang mengikuti di belakang mereka adalah Huo Ling.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Mo Zhenhua sambil melangkah masuk ke dalam area steril.
"Sangat tragis... Pak Wang sedang melakukan pemeriksaan di dalam. Kepala, sebaiknya Anda lihat sendiri," jawab salah satu polisi yang lebih senior dengan wajah pucat.
Dahi Mo Zhenhua berkerut. Tanpa membuang waktu, ia memimpin rombongannya menuju area yang dikelilingi kain putih tersebut.
Begitu mendekat, aroma anyir darah yang menyengat langsung menusuk hidung mereka. Mo Zhenhua sedikit mengernyit, wajahnya tampak semakin serius.
Saat kain putih yang berfungsi sebagai pintu darurat disibakkan, pemandangan di dalamnya akhirnya tertangkap oleh mata keempat orang tersebut. Mereka semua tertegun!
Di depan mereka, tujuh belas mayat tergeletak berjajar rapi. Semuanya dalam keadaan telanjang bulat. Rumput di bawah mereka telah basah kuyup oleh darah mereka sendiri, menciptakan aroma amis yang menyesakkan di ruang sempit yang tertutup kain putih itu.
Penyebab pendarahan hebat tersebut tidak lain adalah bagian leher mereka. Siapa pun yang kehilangan kepalanya pasti akan memancarkan darah dalam jumlah yang sangat banyak. Tujuh belas mayat itu semuanya kehilangan kepala, menyisakan ruas tulang leher yang putih pucat tanpa jejak darah sedikit pun.
Melihat pemandangan ini, meski Mo Zhenhua adalah sosok yang pernah kenyang dengan pengalaman di medan tempur, ia tidak sanggup menahan rasa mual yang membuat wajahnya memucat. Sementara itu, Huo Ling dan polisi muda di belakangnya sudah berlari keluar untuk memuntahkan isi perut mereka.
"Kepala!" Liu Yong pun tampak pucat, namun sebagai detektif senior yang pernah menangani berbagai kasus mutilasi, pemandangan ini tidak sampai membuatnya kehilangan kendali. Ia menepuk bahu Mo Zhenhua dan berkata dengan suara berat, "Ini jelas merupakan kasus pembunuhan berencana yang sangat keji, sebuah pembantaian yang dilakukan oleh orang gila!"
Mo Zhenhua tidak menjawab, matanya menyipit.
Tujuh belas mayat ini semuanya laki-laki, mulai dari yang muda hingga paruh baya. Yang tertua mungkin berusia empat puluh tahun lebih, sementara yang termuda tampak seperti mahasiswa. Dilihat dari ciri fisiknya, ada buruh bangunan, pekerja kantoran, serta beberapa orang bertubuh kekar yang mungkin merupakan atlet atau pelatih kebugaran. Dengan rentang usia dan latar belakang yang begitu beragam, sepertinya para korban tidak saling mengenal satu sama lain.
Ini adalah kasus pembunuhan acak! Mo Zhenhua memijat dahinya, mencoba mengatur pikiran untuk mencari titik kunci dari kasus ini.
"Kepala!" Seorang pria tua yang mengenakan masker dan sedang berjongkok di samping mayat berdiri. Ia mengenakan jas putih di atas seragam polisinya, tampak seperti seorang ahli forensik.
"Wang Tua, bagaimana? Apa ada temuan?" Mo Zhenhua melangkah cepat menghampirinya.
"Kepala, Anda pasti sudah melihatnya, orang-orang ini tidak saling berhubungan sama sekali!" Wang Tua menyerahkan catatan di tangannya kepada petugas lain dan melepas sarung tangan karetnya. "Para korban terdiri dari mahasiswa, pekerja kantoran, buruh bangunan, hingga pelatih bela diri. Soal penyebab kematian, saya tidak perlu menjelaskannya lagi. Waktu kematian mereka semua berkisar antara pukul sebelas malam kemarin hingga pukul satu dini hari tadi, dengan selisih waktu tidak lebih dari satu menit!"
"Artinya, mereka mati hampir di saat yang bersamaan?" Mo Zhenhua mengernyit. Hal ini mengingatkannya pada kasus organisasi sekte sesat yang pernah diungkap beberapa tahun lalu di Xinjiang. Mungkinkah ini ritual pengorbanan darah yang serupa?
"Kepala, selain itu, saya menemukan satu hal lagi." Wang Tua melepas maskernya dengan wajah serius. "Semua korban adalah laki-laki, dan semuanya berada dalam kondisi *tuoyang* (kehilangan energi maskulin). Organ vital mereka hampir mengempis!"
"Apa?" Mo Zhenhua dan Liu Yong terbelalak. "Kehilangan energi maskulin?"
"Benar, organ vital mereka semua hampir kering!" Wang Tua mengajak Mo Zhenhua dan Liu Yong ke samping salah satu mayat dan menunjuk ke bagian bawah tubuhnya. "Lihat, semuanya seperti ini."
Organ vital mayat itu tampak mengerut seperti kotak minuman yang diisap habis isinya, menunjukkan kondisi kering yang aneh, persis seperti spesimen yang dipajang di fakultas kedokteran—namun ini masih melekat pada tubuh manusia!
Mo Zhenhua memeriksa mayat satu per satu dengan perasaan yang semakin tidak keruan. Setiap mayat dalam kondisi yang sama. Ia merasa kasus ini semakin tidak masuk akal, atau lebih tepatnya, semakin menyerupai ritual berdarah dari sekte sesat.
"Selain itu, saya telah mengumpulkan sampel cairan dari bagian vital semua mayat. Untuk sementara, cairan itu berasal dari sumber yang sama," ujar Wang Tua dengan nada cemas. "Mengenai apa sebenarnya cairan itu, kita masih memerlukan analisis dan pemeriksaan lebih lanjut."