Bab Seratus Tujuh Belas: Wanita yang Tidak Masuk Akal
Paman Qin Yan adalah orang yang benar-benar tidak berguna dan brengsek.
Dulu, dia beberapa kali datang ke kediaman keluarga Qin. Penampilannya tampak sopan, namun di balik itu, ia menyimpan banyak niat jahat. Ia sering memanipulasi dan mengancam orang tua Qin Yan agar Qin Yan mencuri buku tabungan keluarga. Lebih parahnya lagi, ketika mendengar bahwa Cheng Qingxuan memiliki paras yang cantik, ia justru menyuruh Qin Yan untuk mengajaknya bertemu dengan dalih ingin melakukan "pemeriksaan kualitas".
Kebiasaan buruk Qin Yan pun banyak dipengaruhi oleh pamannya itu. Hanya saja, dulu nyali Qin Yan masih kecil dan ayahnya menghilang, sehingga ia tidak sampai melakukan tindakan yang melampaui batas.
"Hehe, Paman, bicara soal itu, aku menderita cukup parah karena ulahmu."
Jika Qin Yan tidak terlahir kembali, hidupnya mungkin sudah hancur. Sebaliknya, pamannya itu masih bisa menjalani hidup dengan nyaman.
Qin Yan bertanya, "Sebenarnya ada masalah apa?"
Keluarga pihak ibu Qin Yan bisa dibilang merupakan keluarga besar. Sejak ayahnya menghilang, mereka terus mendesak ibunya untuk menikah lagi. Demi kepentingan sendiri, mereka ingin menjadikan ibunya sebagai tumbal. Karena kejadian itu, ibunya hampir memutuskan hubungan dengan keluarga besarnya.
"Pamanmu telah menyinggung seseorang yang seharusnya tidak ia singgung."
Ibunya ragu sejenak, menghela napas, lalu akhirnya mengatakannya.
Seseorang yang tidak seharusnya disinggung—hanya dengan mendengar kalimat itu, Qin Yan langsung sadar bahwa pamannya pasti sedang dalam masalah besar.
Ibunya melanjutkan, "Xiao Yan, Ibu tahu sifatmu tidak buruk. Jangan pernah meniru pamanmu, dia itu..."
"Bu, aku tidak akan melakukannya."
Qin Yan menggelengkan kepala dalam hati. Selama bertahun-tahun ini, ibunya telah menanggung terlalu banyak tekanan. Dia dulunya adalah wanita yang lembut dan bijak, namun selain mengalami musibah keluarga, putranya pun tidak bisa diandalkan. Setelah bersusah payah berjuang hingga bisnisnya mulai menunjukkan kemajuan, ia malah harus menghadapi saudara laki-laki yang tidak berguna.
"Bu, setelah aku mencari tahu tentang urusan Ayah, aku akan pergi membantumu."
Qin Yan merasa ada desakan waktu; ia harus mempercepat prosesnya agar ibunya tidak perlu lagi menanggung terlalu banyak penderitaan.
Untungnya, dia bukan lagi orang yang tidak berguna!
Ibunya tersenyum dan berkata, "Ibu sudah merasa lega mendengar ucapanmu. Oh ya, aku dan Kakak Nan tidak bisa pulang, tapi aku menyuruh Bibi Hua ke sana. Dengan dukungannya, Qin Boshan tidak akan berani bertindak sembarangan kepadamu."
Bibi Hua?
Ekspresi Qin Yan berubah. Bibi Hua adalah sahabat karib ibunya yang membantu mengurus urusan perusahaan. Qin Yan pernah bertemu dengannya sekali, dan kesan pertamanya sangat buruk. Wanita itu tampak seperti orang yang sangat matrealistis.
"Tidak perlu!"
Karena ibunya tidak bisa pulang, dia bisa menyelesaikannya sendiri.
Ibunya berkata, "Tidak bisa. Kamu sudah diusir dari keluarga Qin oleh Qin Boshan, dan keluarga Cheng mungkin juga berniat buruk padamu. Jika tidak ada yang mendukungmu, kamu akan berada dalam bahaya. Bibi Hua mungkin sedikit cerewet, tapi dia tidak memiliki niat jahat. Bersabarlah sedikit."
Qin Yan terdiam, namun ia tidak bisa menolak, jadi ia pun setuju.
Setelah menutup telepon, mobil sudah hampir penuh. Sopir menginjak pedal gas dan mobil perlahan melaju.
"Aduh!"
Saat itu, seorang wanita berjalan di lorong. Dia kehilangan keseimbangan, menginjak kaki Qin Yan, lalu jatuh ke lantai sambil mengerang kesakitan.
"Matamu buta ya? Tidak bisa geser kaki sedikit?"
Qin Yan tadinya berniat membantu, tetapi wanita itu justru bangkit, menunjuk ke arah Qin Yan, dan memaki habis-habisan.
Qin Yan mengerutkan kening. Ia menunduk dan melihat bahwa kakinya tidak menghalangi lorong; wanita itulah yang kehilangan keseimbangan dan menginjaknya.
"Sepertinya, kamu yang menginjak kakiku, bukan?"
Wanita itu berambut pendek dan memakai kacamata hitam berbingkai hitam. Dengan ekspresi kesal, ia melotot tajam ke arah Qin Yan, memaki pelan, lalu pergi dengan penuh amarah.
Beberapa detik kemudian, wanita itu kembali lagi sambil memegang tiket. "Aku tidak suka duduk di dekat jendela, kamu pindah ke dalam."
Qin Yan tidak bergeming!
Meski ia tidak ingin ambil pusing dengan wanita itu, perilaku wanita ini benar-benar tidak masuk akal.
"Hei, kamu dengar tidak? Aku sedang bicara padamu."
"Tidak dengar!"
Qin Yan hanya mengucapkan dua kata itu, lalu menggeser tubuhnya sedikit untuk memberi ruang bagi wanita itu masuk.
"Kamu..."
Wanita itu menggertakkan gigi, melepas kacamata hitamnya, dan menunjuk ke arah Qin Yan. "Teman, sepertinya kamu juga mau ke Kabupaten Pingshan, kan? Tahu keluarga Cheng?"
Keluarga Cheng?
Dia tidak hanya tahu, tetapi kepulangannya kali ini sebagian juga karena keluarga Cheng.
Melihat Qin Yan diam saja, wanita itu melanjutkan, "Kuberitahu ya, aku adalah tamu kehormatan yang diundang oleh keluarga Cheng. Kalau kamu tahu diri, cepat pindah ke dalam, kalau tidak..."
"Apa yang akan terjadi?" tanya Qin Yan.
"Begitu sampai di Kabupaten Pingshan, keluarga Cheng pasti akan membereskanmu."
Wanita itu jelas-jelas tidak masuk akal, ia membawa-bawa nama keluarga Cheng untuk mengintimidasi Qin Yan.
Qin Yan perlahan bangkit dan menatap wanita itu.
"Hehe, tahu takut juga ya!" Wanita itu memakai kembali kacamata hitamnya dan tersenyum puas.
Namun, di luar dugaan, Qin Yan sama sekali tidak berniat memberikan tempat duduknya. Sebaliknya, ia menatap wanita itu dengan penuh minat dan berkata datar, "Kamu siapa bagi keluarga Cheng?"
"Aku bukan bagian dari keluarga Cheng, tapi orang-orang keluarga Cheng harus membungkuk dan memberi hormat padaku saat melihatku."
Wanita itu mencibir dengan angkuh. "Identitasku bukan sesuatu yang bisa kalian, orang dusun di Kabupaten Pingshan ini, ganggu. Aku sarankan kamu tahu diri dan minggir, jangan cari masalah untuk dirimu sendiri."
Saat ia bicara, ia sempat menilai Qin Yan dari atas ke bawah.
Pakaiannya biasa saja!
Penampilannya biasa saja!
Usianya pun masih muda, kemungkinan besar masih seorang pelajar.
Untung saja ini di Kabupaten Pingshan. Jika di kotanya sendiri, tanpa perlu dia bertindak, orang seperti itu pasti sudah dibuat tunduk sejak lama.
"Bagaimana kalau aku tidak mau minggir?"
Qin Yan melihat tidak ada informasi berharga yang bisa didapat, jadi ia duduk kembali. Meskipun wanita itu bukan bagian dari keluarga Cheng, ia pasti ada hubungannya dengan keluarga tersebut. Mengenai perkataan wanita itu, ia hanya mempercayai setengahnya.
Wanita itu tertegun. Ia tidak menyangka Qin Yan begitu keras kepala dan tidak takut padanya.
"Kamu, kamu..."
"Ada apa denganku?" Qin Yan mencibir. "Ini tempat dudukku. Aku yang menentukan mau pindah atau tidak. Kamu merasa punya latar belakang hebat, kenapa masih naik bus umum dan menyiksa diri sendiri?"
Wanita itu menggertakkan gigi, menunjuk ke arah Qin Yan tanpa bisa berkata-kata.
Beberapa detik kemudian, ia masuk ke kursi bagian dalam, mengeluarkan ponselnya, menelepon seseorang, lalu berkata dengan dingin, "Bocah, tunggu saja. Sampai di Kabupaten Pingshan, kamu akan tahu rasa."
Qin Yan tidak memedulikannya. Ia memejamkan mata. Semakin dekat dengan Kabupaten Pingshan, hatinya mulai berdebar.
Tiba di Kabupaten Pingshan.
Ia merasa terenyuh. Beberapa bulan lalu ia pergi dengan perasaan hancur, kini ia kembali lagi. Kabupaten Pingshan masih tetap sama, tetapi dirinya sudah bukan orang yang dulu lagi.
"Kak Lin, aku di sini."
Saat Qin Yan hendak turun dari bus, wanita di sampingnya berteriak.
Tak lama kemudian, sekelompok orang berkumpul di depan pintu bus. Pemimpinnya adalah seorang pemuda berambut cepak dengan postur tegak. Sekilas terlihat bahwa ia adalah seorang praktisi bela diri karena ada pancaran energi yang samar di tubuhnya. Di belakangnya, ada tujuh atau delapan anak buah yang tampak bukan orang sembarangan.
Qin Yan mengernyitkan kening. Kabupaten Pingshan hanyalah tempat kecil; bahkan keluarga besar di sana pun tidak akan sanggup menyewa pengawal seperti itu.
Beberapa bulan tidak pulang, tampaknya banyak perubahan yang terjadi.
"Nona, Anda pergi secara diam-diam, Tuan Besar sangat marah."
Pemuda berambut cepak itu naik ke bus, berjalan menuju wanita tersebut, dan berbicara dengan nada yang sangat hormat.
Wanita itu berdiri dan menunjuk ke arah Qin Yan. "Kak Lin, orang ini melecehkanku. Kalian bantu aku memberinya pelajaran."
"Apa?"
Kak Lin membelalakkan mata dengan panik. Setelah melihat wanita itu tidak terluka, ia baru merasa lega. Ia menoleh ke arah Qin Yan dan berkata dengan nada mengancam, "Teman, apakah kamu mau ikut sendiri atau perlu kami bantu?"
"Apa maksudmu?" Qin Yan perlahan berdiri dan bertanya dengan tenang.
Kak Lin mengepalkan tinjunya hingga terdengar bunyi gemeretak, lalu memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengepung.
Penumpang lain yang melihat situasi itu segera berlari keluar. Adapun sopir bus, yang tadinya ingin menengahi, langsung menciut dan tidak berani bersuara saat melihat gerombolan Kak Lin.
Kak Lin mencibir, "Kamu berani melecehkan nona kami, dan masih berharap bisa pergi dengan utuh?"
Setelah kata-kata itu terucap, beberapa anak buahnya mengeluarkan pisau lipat dari balik pinggang, menggenggamnya, dan menatap Qin Yan dengan niat jahat.
Wanita itu keluar dari kursinya, berdiri di belakang Kak Lin, dan menatap Qin Yan sambil tersenyum, "Bocah, sudah kubilang, sampai di Kabupaten Pingshan, kamu akan tahu rasa."
"Aku tidak melecehkannya!"
Qin Yan menggelengkan kepala. Ia tidak menyangka baru saja kembali ke Pingshan, masalah seperti ini sudah menunggunya.
Kak Lin juga mengeluarkan pisau lipatnya dan berkata dingin, "Itu tidak penting. Nona bilang kamu melecehkannya, berarti kamu memang melecehkannya."
"Begitu rupanya. Baiklah, kalau begitu silakan kalian mulai."
Qin Yan menyipitkan mata, memancarkan kilatan tajam. Sepertinya ia tidak bisa menghindar lagi.
Wanita itu memerintah, "Jangan banyak bicara! Kak Lin, potong lidahnya, dan patahkan kedua kakinya."
"Siap!"
Kak Lin mengayunkan tangannya. Anak buahnya menggeram dan menerjang ke arah Qin Yan.