Jilid Pertama Bab 17 Nyonya Tua Sakit
Halaman (1/3)
“Cuma penyakit ringan, tidak apa-apa. Ibumu sudah meminta seseorang merebuskan obat untuk Nenek. Sekarang tubuh Nenek sudah terasa jauh lebih baik.” Nyonya Tua melambaikan tangan acuh tak acuh.
“Hari ini adalah jamuan pengakuan keluargamu. Para bangsawan ibu kota akan datang, jadi kau harus mempersiapkan diri dengan baik. Sudah, cepat pergi. Tak perlu menemani nenek tua sepertiku.”
Jiang Yueshan sebenarnya enggan beranjak, tetapi ia tetap menurut dan pergi.
Namun, sebelum meninggalkan tempat itu, Jiang Yueshan berkata kepada Xiao Tao, “Selidiki apa saja yang telah dilakukan para pelayan tua di sisi Ibu. Jika bisa mendapatkan mangkuk obatnya, sebaiknya periksa obat apa yang ada di dalamnya.”
Xiao Tao segera pergi melaksanakan perintah.
Setelah memberi perintah kepada Xiao Tao, Jiang Yueshan langsung menuju taman.
Baru berjalan setengah jalan, Xiao Tao sudah bergegas datang sambil membawa mangkuk obat. Wajahnya tampak cemas.
“Nona, celaka! Obat ini beracun. Nyonya Tua dalam bahaya!”
Wajah Jiang Yueshan berubah. Ia segera berbalik dan bergegas menuju kediaman Nyonya Tua.
Begitu tiba di halaman, ia berpapasan dengan pengasuh pribadi Nyonya Tua.
Pengasuh itu tampak panik. Begitu melihat Jiang Yueshan, ia segera memohon, “Nona Sulung, celaka! Nyonya Tua muntah darah.”
Jiang Yueshan mengangkat rok dan masuk. Melihat wajah pucat Nyonya Tua, ia tak sempat memikirkan hal lain. Ia mengeluarkan satu set jarum perak yang telah lama ia siapkan, tetapi belum pernah digunakan.
Saat hendak menusukkan jarum, Xiao Tao buru-buru mencegahnya.
“Nona, jangan!”
Namun, Jiang Yueshan tak memedulikannya. Ia langsung melakukan akupunktur.
Ia baru saja keluar dari kediaman Nenek. Jika Nenek sampai meninggal, hidupnya di kediaman itu pasti tidak akan tenang.
Di tengah pengobatan, para nyonya dan nona dari kediaman-kediaman lain berdatangan setelah mendengar kabar tersebut.
Selain beberapa nyonya yang dekat dengan Zhao Qiuyu, yang datang hanyalah para nyonya dan nona dari keluarga suami yang tidak terlalu berpengaruh dan ingin mencari muka kepada Kediaman Hou.
“Jiang Yueshan, apa yang sedang kaulakukan? Dia adalah nenek kandungmu! Bagaimana mungkin kau tega mencelakainya?” bentak Zhao Qiuyu. “Cepat menyingkir! Jangan menghalangi tabib mengobatinya.”
Sambil berkata demikian, Zhao Qiuyu maju hendak menarik Jiang Yueshan.
Xiao Tao segera berdiri di depan Jiang Yueshan untuk menghalanginya.
“Nyonya, Nona kami sedang menyelamatkan nyawa. Mohon jangan menghalangi Nona kami mengobati Nyonya Tua.”
“Jangan membuat keributan! Seorang pengemis sepertinya memangnya mengerti cara menyembuhkan orang? Kau hanya seorang budak, berani-beraninya menghalangiku?” Zhao Qiuyu melotot garang, lalu menampar wajah Xiao Tao.
Pada detik berikutnya, Zhao Qiuyu mendadak merasakan nyeri di pipinya. Ketika menoleh, ia tepat berhadapan dengan tatapan tajam Xu Shuyi.
“Untuk apa membuat keributan?” hardik Xu Shuyi dengan marah.
“Tak perlu ikut campur! Pergi kau!”
“Urusan hari ini akan kuurus sampai tuntas. Biar kulihat siapa yang berani menjebak gadis Yueshan.” Xu Shuyi memerintah dengan suara dingin, “Pengawal! Selidiki semuanya. Kalau hari ini tidak menemukan hasil, jangan kembali!”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Xu Shuyi, aku ini kakak iparmu…”
“Aku adalah Tuan Putri Kabupaten Dingxiang.” Xu Shuyi sama sekali tidak gentar. “Kalau bukan karena putrimu, memangnya kau pantas menjadi saudara iparku?”
Zhao Qiuyu tertegun. Para nyonya itu mulai berbisik-bisik, tetapi tak seorang pun berani mencela Xu Shuyi sedikit pun.
Semua orang tahu bahwa Tuan Putri Kabupaten Dingxiang sangat disayangi oleh mendiang Kaisar. Meskipun hanya bergelar tuan putri kabupaten, kedudukannya tidak berbeda dari seorang putri kerajaan.
Setengah dari para nyonya dan nona yang bersedia datang hari ini melakukannya demi menghormati Xu Shuyi. Kediaman Hou yang diperoleh berkat jasa menyelamatkan seseorang belum cukup untuk membuat orang-orang ibu kota menaruh perhatian.
Jamuan pengakuan keluarga yang kecil ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang wajib mereka hadiri.
Sementara pertengkaran berlangsung, Jiang Yueshan telah selesai mengobati Nyonya Tua. Ia berdiri dan memberi tempat, lalu berkata dengan sopan kepada tabib, “Terima kasih, Tabib. Mohon periksa kondisi Nenek.”
Tabib itu melirik darah hitam di lantai, menyeka keringat di dahinya, lalu segera maju.
Semula ia mengira keadaan sudah tak tertolong. Namun, ketika jarinya menempel pada denyut nadi Nyonya Tua, matanya langsung berbinar.
“Melapor kepada Nyonya, Nyonya Tua tidak dalam bahaya.”
“Kalau begitu, mengapa dia muntah darah?” Zhao Qiuyu tidak percaya.
Racun itu diberikan sendiri oleh orang kepercayaannya. Racun tersebut sangat ganas, sementara tubuh perempuan tua itu sudah lama lemah. Bagaimana mungkin ia baik-baik saja?
Jangan-jangan… pelayan tuanya telah berkhianat?
Pasti perbuatan Xu Shuyi!
Hampir seketika, Zhao Qiuyu memikirkan Xu Shuyi.
Di kediaman ini, hanya ada satu orang yang mampu menukar obat secara diam-diam sekaligus membuat orang kepercayaannya berkhianat. Tidak, ada satu kemungkinan lain—Jiang Yueshan telah bekerja sama dengan Xu Shuyi.
Mereka berdua hendak membunuhnya dalam jamuan pengakuan keluarga!
Zhao Qiuyu mengepalkan tangannya erat-erat. Di sampingnya, Jiang Lingqing menarik tangannya sambil menggeleng.
Baru setelah merasakan kehangatan telapak tangan putrinya, Zhao Qiuyu perlahan berhasil menenangkan diri.
Semua orang mulai membicarakan penyebab Nyonya Tua pingsan.
Saat itulah seorang pelayan tua dibawa masuk.
Begitu melihatnya, hati Zhao Qiuyu mencelos. Tatapannya terpaku pada pelayan tersebut. Jika pelayan itu berani mengatakan hal yang tidak semestinya, ia akan…
Sebelum Zhao Qiuyu sempat memikirkan hukuman yang akan dijatuhkan, pelayan tua itu sudah menggigit lidahnya sendiri hingga tewas.
Melihat hal itu, mata Zhao Qiuyu langsung berbinar. Ia menjatuhkan diri ke lantai, menepuk pahanya, lalu berteriak-teriak.
“Aduh, aku difitnah! Tuan Putri Kabupaten Dingxiang telah memfitnahku! Dia membunuh pelayanku, lalu hendak menjebak dan menuduhku!”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Semua ini jelas perbuatan gadis kecil bernama Jiang Yueshan itu! Dia meracuni nenek kandungnya sendiri. Dia bukan manusia!”
“Lihat, lihatlah! Lantai ini penuh darah hitam, tetapi tabib itu masih berkata tidak ada masalah. Mereka pasti telah bersekongkol. Kalau tidak, mengapa ibu mertuaku belum juga sadar setelah sekian lama? Hiks, ibu mertuaku yang malang…”
Zhao Qiuyu duduk di lantai sambil berteriak-teriak. Sikapnya tak ubahnya perempuan kampung yang kasar dan suka mengamuk.
Para nyonya bangsawan yang semula hendak mencari muka kepada Zhao Qiuyu segera mundur beberapa langkah. Satu per satu menatapnya dengan ekspresi rumit, takut ikut terseret.
Keluarga Zhao Qiuyu berasal dari kalangan petani, sedangkan keluarga suaminya hanyalah pedagang yang tidak terpandang. Kekuasaan yang dimilikinya sekarang pun tak lepas dari keberadaan seorang putri yang baik.
Seandainya putrinya tidak menyelamatkan sang putri kerajaan dan memperoleh keberuntungan besar, kekayaan yang melimpah ini belum tentu jatuh ke tangan mereka.
Namun, tak disangka, ia malah menuduh putrinya sendiri meracuni dan membunuh nenek kandungnya.
Jika hal ini benar, apa yang akan dipikirkan oleh Ibu Suri?
Apakah Kediaman Hou dan segala kemewahan ini masih dapat dipertahankan?
Tatapan penuh hina jatuh kepada Zhao Qiuyu. Tak satu pun nyonya yang biasanya dekat dengannya berniat maju untuk menghiburnya.
Tak seorang pun ingin terlibat dalam kekacauan ini.
Selama bertahun-tahun menjadi nyonya utama Kediaman Hou, Zhao Qiuyu sebenarnya telah mempelajari sedikit gaya para nyonya bangsawan ibu kota.
Namun, karena terlalu panik, ia tak lagi memedulikan apa pun dan langsung meratap keras-keras.
Di desa, setiap kali ia meratap seperti itu, selalu ada orang yang membelanya.
Sayangnya, hari ini tak seorang pun membela Zhao Qiuyu.
Setelah meratap cukup lama, ia baru menyadari bahwa di sekelilingnya tidak terdengar suara apa pun. Ketika mengangkat kepala, ia melihat semua orang sedang menggandeng tangan Jiang Yueshan dan berusaha mendekatinya.
Satu-satunya orang yang masih berada di sisinya hanyalah Jiang Lingqing, yang berdiri dengan gugup dan tak berani bersuara.
Zhao Qiuyu hampir menjadi gila karena marah.
Ia mendengus dingin. Tanpa memedulikan apa pun lagi, ia mengalihkan pandangan kepada perempuan tua yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. Senyum aneh perlahan tersungging di bibirnya.
Zhao Qiuyu hendak maju, tetapi tubuhnya ditahan erat oleh Jiang Lingqing.
“Lepaskan!” seru Zhao Qiuyu dengan suara rendah.
Ia menepis tangan Jiang Lingqing, lalu melangkah cepat ke sisi ranjang Nyonya Tua. Ia meraih selimut dan menekankannya ke wajah perempuan tua itu.
Tiba-tiba, orang yang terbaring di atas ranjang membuka mata lebar-lebar.
Suara tua yang lemah pun terdengar.
“Kau… sedang apa?”
Halaman (3/3)