Bab 42: Menara Pemurnian Jiwa dan Kompetisi Murid
Dengan balutan pakaian putih, Lin Luo yang berwajah tampan melangkah keluar dari kamar. Ia menatap Wu Yu, gadis muda yang wajahnya penuh kekaguman, lalu tersenyum ramah.
“Aku adalah roh suci, kecepatan latihanku memang sudah tidak lambat, apalagi sekarang dibantu Mutiara Roh Tingkat Xuan, jadi menembus batas kekuatan memang jadi sangat mudah.”
Terhadap gadis kecil yang berkali-kali berani melindunginya ini, Lin Luo menyimpan rasa suka. Walau ia sendiri tak memerlukan perlindungan Wu Yu, kepolosan dan keberanian gadis itu tetap membuatnya, yang sudah tua renta, merasa terharu dan tersentuh.
Ia teringat akan satu kehidupan terdahulu, di mana dirinya tidak mampu berlatih ilmu dan hanya hidup sebagai manusia biasa. Di kehidupan itu, ia juga memiliki cucu perempuan seumuran Wu Yu.
Melihat Wu Yu, Lin Luo tiba-tiba merasa mereka sangat mirip. Dalam lamunan, ia mengulurkan tangan, merapikan beberapa helai rambut di pelipis Wu Yu.
Liu Ye dan Bai He tertegun, mulut mereka menganga memandang pemandangan itu.
Saat helaian rambutnya dirapikan, wajah Wu Yu langsung merona, menundukkan kepala dengan malu.
“Te... terima kasih...” Suaranya lirih, hampir tak terdengar.
Namun, Lin Luo tetap menangkapnya.
“Tak perlu sungkan, kita semua saudara seperguruan.”
Ia menepis kenangan yang muncul di benaknya, lalu berkata, “Ngomong-ngomong, aku mau berlatih di Menara Pemurnian Jiwa untuk memperkuat kekuatanku. Kalian mau ikut?”
“Aku mau!” Wu Yu mengepalkan tangan kecilnya dengan bersemangat.
Bai He dan Liu Ye saling pandang, lalu berkata dengan pasrah, “Kami tidak ikut.”
Mereka tahu betul bahwa Wu Yu benar-benar menyukai Lin Luo, jadi mereka tak ingin mengganggu ‘dunia berdua’ mereka.
Beberapa saat kemudian, di depan Menara Pemurnian Jiwa.
Para murid memandang Lin Luo dengan penuh rasa hormat dan kagum.
Petugas penjaga gerbang menampakkan senyum pada Lin Luo. “Anak muda yang hebat. Aku menantikan penampilanmu di Kompetisi Murid nanti.”
Lin Luo tak berniat membuang waktu berharganya bersama anak-anak. Ia memang tidak ada niat untuk mengikuti Kompetisi Murid. Namun demi sopan santun, ia tetap mengangguk kepada penjaga gerbang itu.
Setelah masuk ke dalam menara, Wu Yu tersenyum tipis dan berkata, “Saudara Lin, bolehkah aku berlatih bersamamu?”
Lin Luo menggeleng, “Aku lebih suka sendiri.”
“Baiklah,” Wu Yu sedikit kecewa, bibirnya cemberut. Ia lalu meloncat-loncat pergi.
Lin Luo menatap arah kepergian gadis itu, lalu menggeleng perlahan. Ia tidak berhenti di situ, melainkan terus melangkah ke dalam.
Di dunia Xumi ini, di mana-mana terdapat ruang rahasia yang dibangun dari batu-batu raksasa, tempat para murid berlatih. Semakin masuk ke dalam, aura api jiwa semakin kuat, udara pun dipenuhi kabut tipis yang membuat penglihatan jadi samar.
Tujuan kedatangan Lin Luo kali ini bukan sekadar berlatih, melainkan untuk menyelidiki rahasia Menara Pemurnian Jiwa. Jika benar kata jiwa senjata Tungku Langit Ungu, bahwa di tempat ini ada aura yang sama dengannya, maka sudah pasti dunia Xumi ini bukan satu-satunya.
Konon, menara itu sebagai salah satu dari dua belas Senjata Dao Langit dan Bumi, memiliki sembilan tingkat. Tiap tingkatnya seluas dunia tersendiri, dan di sana dikurung para siluman mengerikan agar tidak menimbulkan malapetaka. Walau menara ini hanya tiruan, kekuatannya tetap melebihi senjata langit.
Secara teori, menara ini pun seharusnya punya beberapa ruang tersembunyi.
Ia terus berjalan, sampai tiba-tiba seseorang berlari keluar dari kabut di depannya. Lin Luo menggeser tubuhnya, nyaris bersenggolan. Hidungnya menangkap aroma harum yang lembut.
Sesaat, mata mereka bertemu.
Lin Luo melihat sepasang mata jernih dengan sorot tegas.
Sosok itu berlalu, Lin Luo mengusap dagunya, merasa aura gadis itu sangat familiar.
Namun ia tak terlalu memikirkannya dan terus melangkah ke dalam.
Semakin jauh, kabut semakin tebal.
Akhirnya, ia sampai di sebuah sungai. Sungai itu selebar sepuluh depa, membelah dunia Xumi menjadi dua bagian.
Lin Luo mencoba menyeberang, namun mendapati ada penghalang kuat di permukaan sungai, membuatnya tak bisa melintas.
Ia memang menguasai banyak cara untuk menembus formasi, tapi karena kekuatannya belum cukup, ia tidak bisa menggunakannya. Ia pun berjalan menyusuri tepi sungai, sampai akhirnya menemukan sebuah jembatan kayu sempit.
Ia naik ke jembatan itu, melangkah ke depan. Namun baru berjalan beberapa langkah, ia terdorong mundur oleh kekuatan halus yang lembut dan tak bisa melanjutkan perjalanan.
Menatap ujung jembatan yang diselimuti kabut, Lin Luo memilih untuk kembali.
Dengan kekuatannya saat ini, ia belum mampu menyeberangi jembatan itu tanpa menimbulkan suara.
“Tampaknya, aku harus mencari cara lain.”
Lin Luo mencari ruang rahasia yang kosong di tengah kabut, lalu masuk ke dalamnya.
Dengan memanfaatkan efek pemurnian api jiwa, ia mulai menempah tubuhnya.
Tampak jelas, dari permukaan kulitnya mengepul uap putih, kulitnya memancarkan kilau seperti batu giok.
Setelah berhasil membentuk Segel Penakluk Langit, ia menggunakan kekuatan segel dan api jiwa itu untuk memperbaiki tubuhnya, menghilangkan efek samping dari teknik Tubuh Kaca, agar kekuatan fisiknya meningkat lagi.
Kini, saat ia menggunakan Tubuh Kaca, kulitnya tak lagi berubah hijau.
Dengan begitu, ia bisa menggunakan teknik itu kapan saja, tanpa takut identitasnya sebagai Pembantai Putih terbongkar.
Dalam pertarungan melawan Bei Bing kemarin, alasan ia mampu menahan serangan telapak tangan bermuatan energi murni adalah karena diam-diam mengaktifkan Tubuh Kaca.
Jika pendekar biasa yang menerima serangan itu, pasti lengannya hancur remuk.
“Sekarang potensi Tubuh Kaca sudah habis. Jika ingin memperkuat tubuh lagi, aku harus mendapatkan kekuatan Tubuh Raja, atau mengalami metamorfosis kedua pada fisikku, menjadi Tubuh Raja sejati,” pikir Lin Luo.
Namun, barang yang dibutuhkan untuk metamorfosis kedua tubuh sangat sulit ditemukan, dan dalam waktu singkat mustahil untuk mengumpulkannya. Sedangkan memperoleh kekuatan Tubuh Raja jauh lebih sulit.
Ia sempat terpikir meminta beberapa tetes darah jiwa dari Zhi Yan, tapi itu akan sangat melukai gadis itu, jadi ia urungkan niatnya.
Keesokan harinya, ia kembali ke Villa Ying Ying dan menemui Cai Ji yang tinggal di paviliun lain.
“Saudara Lin, kau sudah melihat Sungai Jiwa dan Jembatan Penuntun Jiwa?”
Mengetahui maksud Lin Luo, Cai Ji sangat terkejut.
“Kau mungkin belum tahu, Sungai Jiwa adalah penghalang yang membagi ruang menara, dan Jembatan Penuntun Jiwa satu-satunya jalan ke seberang. Namun sekarang, waktunya belum tiba untuk membukanya.”
Lin Luo berpikir sebentar lalu bertanya, “Kapan akan dibuka?”
Cai Ji menjawab, “Setelah Kompetisi Murid selesai. Mungkin kau belum tahu arti penting acara tahunan itu.”
Lin Luo menggeleng. “Aku ingin mendengarnya lebih jelas.”
“Begini...” Cai Ji pun menjelaskan dengan rinci.
Setiap tahun, pada bulan terakhir, Menara Pemurnian Jiwa akan mengalami fluktuasi. Saat itu, dengan menggunakan sebuah lambang khusus, Jembatan Penuntun Jiwa bisa dibuka, memungkinkan masuk ke ruang latihan tingkat lanjut.
Itu adalah sebuah wilayah rahasia yang memiliki kehendak para leluhur. Bila seseorang diterima, ia bisa mendapatkan harta karun, ilmu, pil, bahkan warisan di dalamnya.
Karena kuotanya terbatas, setiap bulan sebelas diadakan Kompetisi Murid untuk menentukannya.
Hanya yang menduduki peringkat atas yang berhak masuk. Untuk murid inti dan pewaris utama, tidak ada batasan.
“Sepertinya, aku harus ikut Kompetisi Murid,” gumam Lin Luo pasrah.
Beberapa tekniknya memang mampu menembus penghalang Sungai Jiwa, tapi pasti akan menimbulkan gejolak besar. Jika sampai diketahui para petinggi Perguruan Bela Diri, sudah pasti akan mendatangkan masalah.
Lagi pula, ia belum yakin sepenuhnya apakah di seberang Jembatan Penuntun Jiwa ada yang ia inginkan.
Mengambil resiko sangatlah bodoh.
Cara paling aman adalah mengikuti Kompetisi Murid.