Bab 7: Pedagang Perempuan Rendahan? Kalau Berani, Jangan Pakai Uangnya
Wajah Ruyani seketika memerah, namun beberapa saat kemudian, ia kembali tenang.
“Kakak sungguh telah salah menuduhku, bukan aku yang ingin hamil sebelum menikah. Suamiku begitu berapi-api, siang dan malam tak pernah memberi jeda. Sekuat apa pun tubuh adik ini, tetap saja tak sanggup menahan.”
Hati Mawar Xie serasa remuk mendengar kata-kata itu, meski wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi. Tiga tahun penantian sulit ia lupakan, seluruh hatinya masih terhenti pada janji setia Yichen di masa lalu. Namun, ia pun punya harga diri. Mungkin perpisahan ini akan sangat menyakitkan, tapi ia takkan membiarkan dirinya diinjak-injak.
Ia tersenyum tipis, lalu mencibir dingin, “Binatang hanya tahu soal nafsu, itu hal yang tak aneh. Seorang pecundang yang kalah perang, tak punya apa-apa, hanya bisa mencari sedikit kepuasan di tubuhmu.”
Wajah Ruyani seketika pucat pasi.
“Mawar Xie, kau hanya perempuan rendahan dari keluarga pedagang, kenapa sok mulia di sini? Hari ini, biar kuberi pelajaran pada mulut kasarmu itu.”
Merasa dirinya diperlakukan istimewa, ia langsung mengangkat tangan hendak menampar Mawar Xie.
Mawar Xie yang sedang didera amarah, dengan sigap menghindar, lalu membalas dengan satu tamparan keras di wajah Ruyani.
Tak mendapat keuntungan, Ruyani pun menjatuhkan diri ke lantai.
“Ibu, Mawar Xie menamparku!”
Nyonya tua segera masuk tergesa-gesa.
“Ruyani, apa yang terjadi?”
Ruyani memegangi perutnya, sambil merengek kesakitan.
“Ibu, dia menamparku, lalu mendorongku sampai jatuh ke lantai. Perutku sakit sekali, Ibu, apakah anakku dan Yichen akan baik-baik saja?”
Mendengar tentang cucu pertamanya, wajah nyonya tua berubah tegang. Ia segera menyuruh pelayan membantu Ruyani berdiri.
“Mawar Xie, bagaimanapun dia sedang mengandung, sesama perempuan seharusnya saling mengerti dan tidak saling menyakiti.”
Mawar Xie menatap dingin pada nyonya tua, hatinya makin membeku. Dengan orang tua seperti ini, tak heran Yichen tumbuh menjadi laki-laki bejat.
“Enak sekali ucapan Ibu. Dia perempuan, jadi aku laki-laki? Aku harus berdiri diam menunggu dipukul begitu saja?”
Ruyani yang murka membela diri, “Kau bohong! Aku tidak memukulmu! Ada dua pelayan di sini, tanya saja pada mereka, apakah mereka melihatnya?”
Kedua pelayan itu serempak menggelengkan kepala.
Hati Mawar Xie semakin hancur. Selama ini ia telah banyak berkorban untuk keluarga ini, namun sampai pelayan pun tak mau membelanya. Ia merasa segala kebaikannya sia-sia, seperti diberikan pada anjing.
“Kalian pikir baik-baik, apakah benar kalian tidak melihatnya?”
Mawar Xie melangkah mendekat, sorot matanya menajam.
Salah satu menjawab, “Saya tidak melihat apa-apa.”
Plak, satu tamparan mendarat di pipinya.
“Berbicara pada nyonya, bahkan tidak menyebut diri sebagai hamba? Apakah di rumah bangsawan ini kalian diajari seperti itu?”
“Mawar Xie!”
Kedua pelayan itu adalah abdi pribadi nyonya tua yang sudah mengabdi sejak kecil. Tamparan pada mereka membuat wajah nyonya tua ikut panas.
Mawar Xie tak menggubris, lalu menampar pelayan satunya lagi.
“Sekarang aku masih istri Yichen. Kalian para pelayan berani menentang majikan? Berlututlah!”
Dua pelayan itu tetap berdiri, kemarahan tampak jelas di mata mereka.
“Kalian tidak mendengar ucapan kakak ipar kalian? Jika kalian tuli, tak perlu lagi bekerja di rumah ini. Rumah ini tak butuh pelayan rendah yang hanya tahu menjilat atasan dan menindas bawahan.”
Suara Shuyan terdengar dari luar, dan dalam sekejap ia sudah masuk ke ruang tamu.
Nyonya tua menegur dengan nada kesal, “Bukankah Ibu sudah bilang, kau harus belajar baik-baik? Kenapa kembali ke sini?”
“Kakak ipar sudah tiga tahun setia mengabdi di keluarga ini, sekarang bahkan dua pelayan berani kurang ajar padanya. Jika kabar ini tersebar, apa kata orang? Tuan rumah tidak seperti tuan rumah, pelayan tidak seperti pelayan. Cepat atau lambat, mereka akan berani menginjak kepala kita.”
Suara Shuyan tak keras, namun setiap kata terasa tegas dan menusuk.