Bab 131 Menjadikan Sasaran
"Nama saya Zheng Rong. Mulai sekarang, saya adalah instruktur sekaligus ketua kelas kalian." Zheng Rong melirik Mo Yun dan kawan-kawan dari sudut matanya. "Kudengar kalian punya jadwal olahraga pagi?"
"Hehehe, benar, Instruktur. Kami memang berolahraga setiap hari. Stamina kami sebenarnya cukup bagus, jadi saya rasa kami sanggup menjalani latihan fisik standar!" jawab Feng Tianming sambil nyengir.
Maksudnya adalah agar sang instruktur tidak terlalu membebani mereka dengan latihan fisik, sehingga mereka bisa sedikit lebih santai.
"Oh, ya?" Zheng Rong menyapu pandang ke arah mereka dengan senyum yang sulit diartikan. "Sepertinya latihan fisik standar tidak ada gunanya bagi kalian. Kalau begitu, kita tingkatkan intensitasnya!"
"Apa?" Mereka semua tersentak kaget dan langsung menatap tajam ke arah Feng Tianming. Dasar mulut ember!
"Tapi Instruktur, kenapa begitu? Bukankah intensitas latihan setiap orang harusnya sama? Tidak perlu sampai memberikan perlakuan khusus seperti ini," protes Feng Tianming dengan nada tidak terima.
"Heh, kalau orang lain sudah kelelahan seperti anjing sekarat sementara kalian masih segar bugar, aku takut nanti dituduh pilih kasih!" dengus Zheng Rong.
"Tapi, Instruktur!" Mo Yun menatapnya dan tersenyum. "Bukankah dengan begitu, citra kita justru bisa terlihat lebih baik?"
"Kenapa? Ada yang tidak puas? Semua latihan di sini adalah keputusanku. Apa kau berniat mempertanyakan rencana latihanku?" Zheng Rong melirik sinis ke arah Mo Yun. "Ingat, di sini kalian tidak boleh meragukan keputusanku sedikit pun. Jawabannya hanya 'siap' atau 'mengerti'! Kecuali kalau kau ingin poinmu dipotong. Kalau mau mengadu, silakan pergi ke atasan!"
"Tapi..." Mo Yun menatap Zheng Rong dengan perasaan ganjil. Pria itu seolah sengaja mengincar mereka. Ia mengerutkan kening, hendak bicara lagi.
"Tidak ada tapi-tapian. Kau mau poinmu dipotong atau mau lari dua kilometer sebelum latihan dimulai nanti?" tanya Zheng Rong dengan sorot mata dingin.
"Tidak, tidak ada apa-apa, Instruktur!" Mo Yun segera menggeleng.
"Sudah terlambat. Saat kau berani mempertanyakan keputusanku, kau harus siap menanggung risikonya. Nanti saat latihan dimulai, kalian semua harus lari dua kilometer dulu!" Zheng Rong mendengus dingin. "Ingat, lain kali hukumannya tidak akan seringan ini!"
"Siap, Instruktur!" jawab mereka semua dengan wajah lesu.
Sial, rasanya kami tidak pernah menyinggung orang ini! Mo Yun menatap Zheng Rong yang bersikap dingin dengan bingung.
Setelah pembagian regu selesai, tibalah saatnya merapikan asrama. Meskipun setiap kelas mendapatkan satu ruangan, kondisinya hanya sedikit lebih baik daripada barak umum. Tempat tidurnya adalah ranjang besi tingkat dua. Di dalam ruangan, jangan harap ada AC, bahkan kipas angin pun tidak ada. Satu-satunya alat elektronik hanyalah sebuah lampu pijar yang menggantung telanjang di langit-langit. Dindingnya pun bersih dari stopkontak.
Sangat minimalis hingga ke titik yang tidak masuk akal.
Di atas setiap ranjang diletakkan satu set kasur serta dua pasang pakaian lengkap dari dalam hingga luar. Ada dua pasang sepatu kain, satu baskom plastik berisi gelas kaca, pasta gigi, sikat gigi, dan handuk. Semua harta benda mereka hanya itu saja.
Kecuali baskom, gelas, dan pasta gigi, semua barang berwarna loreng atau hijau lumut. Bahkan sikat giginya pun bermotif loreng, membuat mereka semua hanya bisa memutar bola mata.
"Kuberikan waktu satu jam untuk merapikan ruangan. Setelah satu jam, aku akan datang memeriksa. Jika tidak lolos, silakan pilih antara lari dua kilometer atau pengurangan lima poin!" ucap Zheng Rong sebelum berbalik pergi.
"Sial, orang ini benar-benar keterlaluan! Biasanya instruktur akan memberikan standar kerapian, tapi dia bahkan tidak mengatakannya. Bukankah itu artinya dia bisa mencari-cari kesalahan sesuka hatinya?" umpat Feng Tianming begitu Zheng Rong pergi.
"Sepertinya ini memang cara dia untuk menindas kita," sahut Fang Hao sambil mengambil sapu dengan senyum kecut. "Kita harus tahu diri. Ayo teman-teman, kerjakan saja!"
Mereka mulai bekerja dengan menghela napas panjang. Hanya Mo Yun yang tampak berpikir keras. Nanti dia harus melihat apakah kelas lain juga diperlakukan sama, agar dia bisa memastikan apakah Zheng Rong memang sengaja mengincar mereka.
Saat pergi ke kamar mandi untuk mengambil air, Mo Yun melirik ke kamar lain, namun ia tidak melihat sosok instruktur di sana. Semua orang bekerja dengan mengeluh. Hal ini membuat Mo Yun bingung. Apakah dugaannya salah dan Zheng Rong memang memiliki sifat seperti itu, bukan karena mengincar mereka?
Mo Yun menyimpan keraguan itu di dalam hati. Ruangan itu tidak besar, mereka bekerja sama membersihkan kamar, menyeka jendela, mengepel lantai, serta mengelap meja dan rangka ranjang hingga tidak ada debu sedikit pun.
Setelah semua perlengkapan pribadi tertata rapi, mereka duduk untuk beristirahat. Baru saja selesai, Zheng Rong masuk ke ruangan. Mereka segera berdiri dan memberi hormat, "Selamat siang, Instruktur!"
"Hmm," gumam Zheng Rong sambil menatap sekeliling. Ia terkejut melihat ruangan yang begitu bersih dan rapi.
Sebenarnya, ia mendapat instruksi dari atasan untuk mempersulit kelompok ini. Jika berhasil, jaminan kariernya setelah pensiun nanti akan aman. Itulah sebabnya ia sengaja tidak memberikan standar kerapian, agar ia bisa mencari kesalahan saat memeriksa. Namun melihat kerapian ruangan ini, ia kesulitan mencari celah.
Namun, Zheng Rong tidak akan menyerah. Demi masa depannya, ia harus menjalankan tugas ini dengan baik. Baginya, anak-anak muda ini hanyalah domba yang bisa ia tindas sesuka hati.
Berbekal prinsip 'mencari-cari kesalahan', ia mengelilingi ruangan dan mengerutkan kening. Ia menunjuk pakaian yang tergantung di rangka ranjang dan mendengus, "Siapa yang menyuruh kalian menggantung pakaian di sana?"
Mo Yun mengerutkan kening. Apakah ini awal dari pencarian kesalahan?
"Lapor Instruktur, setahu saya saat latihan militer di SMA dulu, instruktur kami mengajarkan untuk menggantung pakaian cadangan di ujung rangka ranjang!" jawab Fang Hao.
"Omong kosong! Yang digantung di sana adalah pakaian yang sedang dijemur. Pakaian yang sudah kering harus disimpan rapi di dalam lemari. Jika tidak ada lemari, lipat dengan rapi dan letakkan di atas kasur! Kalian ini sedang merapikan asrama atau apa?" Zheng Rong mendengus dingin. "Kalian pikir merapikan asrama hanya soal membersihkan lantai dan jendela saja? Ingat, nanti sore tambah lari dua kilometer lagi!"
"Instruktur! Tapi..." Feng Tianming panik dan mencoba memprotes.
"Empat kilometer!" potong Zheng Rong dengan ketus.
Mereka pun terdiam dan tidak berani membantah lagi. Zheng Rong mendengus sombong lalu melenggang pergi.