Volume Satu Bab 17 Kenari Emas
Halaman 1 dari 3
Jiang Ning Su merasa sekujur tubuhnya seolah tercebur ke dalam ruang es. Benaknya dipenuhi nada suara Pei Qi yang mengejek dan menguasai.
Bagaimana Pei Qi bisa mengetahui dengan begitu jelas percakapannya dengan Chen Fu Yan di depan gerbang kediaman?
Ia menatap Pei Qi dengan ngeri, tak mampu berkata-kata untuk waktu yang lama.
Pei Qi memiringkan kepala, lalu menyunggingkan seringai dingin. Dengan jari-jari panjangnya, ia mengangkat dagu Jiang Ning Su dan hendak menundukkan wajah untuk menciumnya secara paksa.
Jiang Ning Su tidak ingin lagi memiliki hubungan apa pun dengannya, maka ia memalingkan kepala untuk menghindar.
Gerakan itu tampaknya membuat Pei Qi murka. Jari panjang yang semula hanya menyangga dagunya mendadak mengerahkan tenaga, memutar kembali kepala Jiang Ning Su.
“Menghindar?” Matanya menyipit, dan satu kata berbahaya itu meluncur dari dasar tenggorokannya.
Jiang Ning Su semula ingin melawannya, tetapi tatapan pria itu terlalu mengintimidasi, seolah mampu menembus penyamarannya dan membaca isi hatinya. Tanpa sadar, ia pun menyerah.
“Mohon Kakanda menjaga sikap. Keluarga Chen sudah mengirimkan mas kawin. Sekarang aku adalah calon istri Tuan Muda Kedua Chen.” Jiang Ning Su mengedipkan mata, lalu mengembuskan napas perlahan.
Ia telah berhasil mendapatkan perlindungan Chen Fu Yan dan sebentar lagi akan menikah dengannya. Ia tidak boleh lagi menjalin hubungan gelap dan terlarang dengan Pei Qi.
Tatapan dingin Pei Qi mengeras. Ia melangkah maju dengan cepat, tubuhnya merapat hingga menekan Jiang Ning Su.
Punggung Jiang Ning Su menempel pada dinding yang dingin, sementara di hadapannya berdiri tubuh pria yang membara. Ia terjepit di antara keduanya, tak bisa maju ataupun mundur, sampai-sampai hampir tak mampu bernapas.
Namun pria itu masih belum berniat melepaskannya. Suara ejekan dan ancaman segera menyelubungi tubuh serta pikirannya.
“Belum menikah saja sudah bicara begitu. Bahkan jika kau benar-benar menikah ke keluarga Chen, aku tetap berani mengambilmu.” Ujung jari Pei Qi mengusap bibir Jiang Ning Su dengan sikap mempermainkan. Senyumnya tampak nyaris gila. “Melakukannya di hadapannya pasti akan terasa lebih menarik.”
Dahi Jiang Ning Su berkerut dalam. Ia menatap Pei Qi dengan tak percaya.
Selama ini ia mengira, setelah dirinya menikah, Pei Qi akan terpaksa melepaskannya demi menjaga tata krama. Ia tidak menyangka pernikahan itu justru akan membuat pria tersebut semakin kehilangan akal.
Pei Qi menatap Jiang Ning Su dengan santai, bahkan penuh minat bermain-main.
“Jangan takut. Saatnya benar-benar merasa takut belum tiba.”
Mata Jiang Ning Su membelalak. Rasa jijik dan ngeri menjalar di sekujur tubuhnya. Ia hanya ingin melarikan diri.
Pei Qi sangat puas melihat reaksinya. Ia sedikit menekuk lutut untuk menahan kedua kaki Jiang Ning Su, lalu tanpa ragu mengangkat ujung gaunnya.
Jiang Ning Su terkejut. Dalam kepanikan, ia mendorong pria itu sekuat tenaga.
“Aku tidak mau.” Saat ini Jiang Ning Su sudah tidak mampu berpikir jernih. Ia hanya tahu bahwa dirinya tidak boleh terus mengulangi kesalahan bersama Pei Qi.
Seluruh berat tubuh Pei Qi bertumpu pada Jiang Ning Su. Ia sama sekali tidak menyangka perempuan yang biasanya takut kepadanya berani melawan, sehingga tidak sempat bersiap. Tubuhnya pun terhuyung akibat dorongan itu.
Setelah menegakkan tubuh, ia menatap perempuan di hadapannya dengan sorot mata yang membeku.
Halaman 1 dari 3
Halaman 2 dari 3
Demi Chen Fu Yan, perempuan itu ternyata berani memberontak.
Hanya dalam beberapa hari, ia sudah beberapa kali menantangnya.
Jiang Ning Su melirik Pei Qi dengan diam-diam. Hatinya ketakutan, tetapi wajahnya berusaha tetap tenang.
“Langit sudah semakin malam. Aku harus kembali. Permisi.” Ia membungkukkan tubuh dan memberi hormat, lalu segera pergi menyamping dengan langkah cepat, takut Pei Qi akan mengejarnya dan kembali mencengkeram dirinya.
Pei Qi tidak bergerak sedikit pun. Ia membiarkannya pergi.
Burung kenari yang selama ini patuh ternyata telah menumbuhkan keinginan untuk melawan. Kalau begitu, patahkan saja sayapnya dan lihat apakah ia masih bisa terbang.
Jiang Ning Su berjalan cepat menuju halaman belakang. Namun, begitu berbelok, ia berhadapan dengan Tuan Muda Ketiga dari keluarga Pei, Pei Si Li.
“Adik, ada apa? Mengapa kau begitu terburu-buru?” Tatapan Pei Si Li menyapu tubuh Jiang Ning Su dengan cara yang aneh.
Ekspresi panik Jiang Ning Su seketika berubah menjadi jijik. Tanpa sadar, ia mundur selangkah untuk menjauh dari Pei Si Li.
Tuan Muda Ketiga Pei Si Li adalah putra Selir Lin. Kepribadiannya sama sekali bertolak belakang dengan namanya. Benaknya hanya dipenuhi pikiran-pikiran kotor. Bahkan, ia pernah mengusulkan untuk mengambil Jiang Ning Su sebagai selirnya.
“Tuan Muda Ketiga.” Jiang Ning Su memberi hormat dengan sikap dingin dan menjaga jarak, lalu berbalik hendak pergi. Namun, jalannya dihalangi.
“Selarut ini, Adik hendak pergi ke mana?” Pei Si Li melangkah maju dua kali, mendekati Jiang Ning Su dengan nada yang sulit dimengerti.
Jiang Ning Su mengernyitkan dahi dan berusaha menjaga jarak sejauh mungkin darinya.
“Aku tidak pergi ke mana-mana. Aku akan kembali lebih dulu.” Setelah berkata demikian, ia menghindari Pei Si Li dan hendak pergi melalui sisi lain. Namun, pria itu kembali menghalangi jalannya.
Pei Si Li merentangkan kedua lengan untuk menghalangi Jiang Ning Su. Dari sudut matanya, ia melihat tidak ada pelayan perempuan yang mendampingi Jiang Ning Su. Senyumnya pun berubah semakin cabul.
“Jangan terburu-buru pergi, Adik. Kita sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar di paviliun?” Sambil berbicara, Pei Si Li mengulurkan tangan untuk meraih lengannya.
Tatapan Jiang Ning Su seketika menjadi sedingin es. Ia mengangkat tangan dan menampar wajah Pei Si Li.
“Kurang ajar!” bentaknya.
Terhadap Tuan Muda Pei yang pertama, ia tidak berdaya untuk melawan. Namun, Pei Si Li hanyalah putra seorang selir. Apa yang perlu ia takuti?
Tamparan Jiang Ning Su dilayangkan dengan seluruh tenaga. Ketidakpuasannya terhadap Pei Qi ia lampiaskan sekaligus kepada Pei Si Li, membuat kepala pria itu berdenging hebat dan tubuhnya terpaku selama beberapa saat.
“Sudah diberi hati malah minta jantung! Kau hanya anak angkat keluarga Pei. Siapa dirimu sampai berani menamparku?” Pei Si Li naik pitam karena dipermalukan. Ia mengangkat tangan, hendak membalas tamparan itu.
Jiang Ning Su sama sekali tidak gentar. Ia menegakkan punggung dan menatap tajam Pei Si Li.
“Aku adalah calon istri Tuan Muda Kedua Chen, juara ujian kekaisaran terbaru. Beranikah kau memukulku?”
Nada suaranya tegas dan penuh peringatan.
Lengan Pei Si Li sudah terangkat tinggi dan hendak diayunkan dengan keras, tetapi setelah mendengar kata-katanya, tangan itu membeku di udara.
Halaman 2 dari 3
Halaman 3 dari 3
Dahulu, ia boleh saja mengusik Jiang Ning Su sesuka hati. Namun, Jiang Ning Su yang sekarang tampaknya memiliki dukungan keluarga Chen.
Konon, Tuan Muda Kedua Chen sangat menaruh perhatian kepadanya.
Jiang Ning Su mengangkat dagu sedikit. Tatapan meremehkannya tertuju pada Pei Si Li.
Di kehidupan sebelumnya, Pei Si Li kerap menyiksanya secara terang-terangan maupun diam-diam. Ia bahkan berusaha menodainya. Namun, saat itu Jiang Ning Su hanyalah burung kenari yang bergantung pada Pei Qi dan tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri. Semua penghinaan hanya bisa ditelannya dalam diam.
Di kehidupan ini, ia pasti akan membuat mereka semua membayar harganya.
Tatapan Pei Si Li menyapu wajahnya. Ketika melihat riasan bibir Jiang Ning Su yang telah berantakan, ia tak kuasa menahan tawa sinis.
“Jadi, selama ini aku bertanya-tanya ke mana Adik pergi selarut ini. Ternyata kau pergi bertemu diam-diam dengan seorang pria.”
Pei Si Li menyilangkan kedua tangan di depan dada dan berjalan mondar-mandir di samping Jiang Ning Su.
“Kau sungguh mengira bisa menikah dengan lancar ke keluarga Chen? Kau telah merebut tunangan Pei Shu. Dengan sifatnya yang pendendam, apa kau pikir dia akan melepaskanmu?” Pei Si Li mencibir dengan nada mengejek dan menyindir.
Tiba-tiba, ia berhenti dan menatap Jiang Ning Su sambil tersenyum.
“Bagaimana kalau kau menjadi wanitaku? Aku pasti akan memperlakukanmu dengan baik.” Pei Si Li masih tidak mampu menahan kebiasaannya menyentuh orang lain. Sambil berbicara, ia mengangkat tangan dan berusaha membelai wajah Jiang Ning Su.
Mata Jiang Ning Su tampak hening tanpa sedikit pun kehangatan. Ia menatap Pei Si Li dengan dingin.
Mengingat tamparan yang baru saja diterimanya, Pei Si Li segera menarik tangannya kembali.
“Kita juga bisa dibilang tumbuh bersama sejak kecil. Jika kau menjadi milikku, kau akan benar-benar menjadi bagian dari keluarga Pei. Itu lebih baik daripada menikah ke keluarga Chen setelah menyinggung Pei Shu. Pikirkanlah.”
Sekali lagi, ia mengamati Jiang Ning Su dari atas ke bawah. Tatapannya dipenuhi kegilaan dan nafsu.
Wajah Jiang Ning Su begitu lembut dan rapuh, membuat siapa pun merasa iba. Lekuk tubuhnya juga begitu indah, dengan pinggang ramping bak ranting willow yang seolah dapat digenggam dengan satu tangan. Sekilas saja sudah cukup membuat hati seseorang berdebar dan timbul keinginan untuk menyiksanya dengan kasar.
Jiang Ning Su memasang wajah sedingin salju. Sejak kecil, Pei Si Li memang bukan manusia baik. Ia sering menyiksanya, dan setelah dewasa, pria itu justru menaruh hasrat kotor kepadanya. Jiang Ning Su berharap bisa membunuhnya dengan tangannya sendiri.
Niat membunuh yang tak berujung melintas di matanya, tetapi ia menahannya dengan sekuat tenaga.
Ia sebenarnya tidak ingin menimbulkan masalah pada saat genting seperti ini. Namun, ketika hendak pergi, ia melihat bayangan bergerak di tempat yang gelap.
Itu Pei Qi!
Mata Jiang Ning Su berputar cepat. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum penuh perhitungan.
Halaman 3 dari 3