Bab Sembilan Belas: Kemungkinan Keahlian Memasak Juga Berkaitan dengan Ilmu Ramuan dan Alkimia
“Apakah kamu ingin pergi berpetualang?” tanya Safira sambil menikmati makan malam yang dimasak oleh Heath. Ia makan perlahan, menatap Heath sembari melontarkan pertanyaan itu.
“Ya, Kak Safira, aku berniat pergi ke kota lain, mencari dan mengumpulkan masakan khas di sana,” jawab Heath sambil mengangguk. Ia sudah memikirkannya matang-matang. Ia ingin menjadi seorang koki pengelana; di setiap kota yang disinggahi, ia akan mencari dan mencoba kuliner khas setempat.
Dengan begitu, ia bisa menyelesaikan tugas dari kemampuannya yang istimewa, sekaligus memenuhi keinginannya sejak awal: memulai perjalanan di dunia Pokémon.
“Saat kamu memutuskan tidak ikut aku bekerja di Kepolisian, aku sudah tahu suatu hari nanti kamu pasti akan meninggalkan Kota Evergreen. Kapan kamu berencana berangkat?” Safira bertanya dengan tenang, ekspresinya tak berubah.
Heath mengunyah daging merah yang ada di mulutnya, sembari memikirkan jawabannya. Secara teori, untuk bepergian ia hanya perlu membawa Pokémon miliknya. Namun, karena ia ingin mengumpulkan bahan makanan dari berbagai kota, tentu butuh dana.
“Mungkin beberapa minggu lagi?” jawab Heath ragu. Hari ini memang ia mendapat penghasilan dari Gengar, tapi uang itu belum cukup buat modal perjalanan.
Berpetualang bukan sekadar membawa pokéball dan ransel lalu pergi begitu saja. Paling tidak, ia harus menyiapkan uang. Lagi pula, di dunia ini tidak ada aturan harus membayar uang denda jika kalah bertarung.
Mengandalkan penghasilan dari pertarungan seperti di permainan itu sungguh tidak masuk akal. Apalagi dunia ini sangat luas; perjalanan dari Kota Evergreen ke Kota Batu Kelam saja, berjalan kaki bisa memakan waktu empat atau lima hari.
“Baik, nanti kabari aku, aku akan mengantarmu,” kata Safira sambil mengelap mulut, menandakan ia sudah selesai makan.
Heath hanya bisa pasrah menatap Safira. Sudah berapa kali ia mengingatkan agar jangan makan terlalu cepat karena tidak baik untuk pencernaan. Tapi Safira selalu mengabaikan itu setiap kali makan.
Sudah diingatkan berkali-kali, Safira tetap saja tak pernah berubah. Setiap makan bersama, Heath merasa dirinya seperti siput; baru setengah piring, Safira sudah selesai.
“Kak Safira, ada berita apa di Kota Evergreen akhir-akhir ini?” tanya Heath, menatap Safira yang ekspresinya tetap tenang.
Ia merasa Safira seperti sedang kurang senang, jadi ia mencoba mencari tahu.
“Tidak ada berita besar... Tapi, kamu mau cari uang?” Safira sempat berhenti mengelap mulut, lalu menoleh ke arah Heath.
Heath spontan mengangguk. Hanya orang yang belum pernah hidup susah yang tidak akan mengerti perasaannya. Beban utang yang pernah menindihnya nyaris membuatnya gila. Meski kini sudah lunas, Heath tetap menjalani hidup hemat.
“Akhir-akhir ini, penjara Kota Evergreen akan mengirim sekelompok narapidana ke Pulau Abadi. Penjara berniat memenuhi permintaan terakhir mereka, yaitu makan malam istimewa. Keterampilan memasakmu cukup bagus. Satu orang mendapat tunjangan makan lima puluh koin Liga, total lima puluh orang. Kamu mau ambil pekerjaan ini?” tawar Safira, menyampaikan kabar yang membuat Heath tertarik.
Tentu saja di dunia Pokémon juga ada penjara dan hukum. Hanya saja, hukuman mati sangat jarang dijatuhkan. Hukuman terberat selain itu adalah dikirim ke Pulau Abadi.
Pulau itu hanya punya satu musim, musim panas sepanjang tahun, dikelilingi lautan, tanpa angin. Panasnya membuat para narapidana ingin terjun ke laut. Tapi lautnya pun panas, jadi berenang pun tak membuat mereka merasa sejuk. Biasanya, narapidana yang dijatuhi hukuman ke Pulau Abadi boleh mengajukan satu permintaan, selama tidak berlebihan pasti akan dipenuhi.
“Aku terima!” Heath langsung mengangguk tanpa ragu. Tunjangan lima puluh koin Liga per orang memang terlihat kecil, tapi tetap ada keuntungan yang bisa diambil.
“Tapi jangan terlalu serakah. Hari ini saja Nyonya Lory mengadu padaku soal kamu menagih seribu koin Liga pada Gengar,” kata Safira dengan tatapan tajam, meninju dinding hingga tercipta lekukan, memberi peringatan.
Heath buru-buru mengangguk. Setelah itu, Safira kembali ke kamarnya. Heath menatap bekas tinju di dinding, menghela napas dalam-dalam.
Orang-orang di dunia Pokémon ini benar-benar luar biasa. Setelah ada Satria, pemula super itu, kini kekuatan Safira juga setinggi itu.
Heath bahkan curiga, Safira menangkap penjahat mungkin tak perlu Pokémon, cukup tangan kosong, dua gerakan saja, pelaku pasti tak berdaya.
“Susah juga ya,” gumam Heath sambil membereskan peralatan makan, lalu mencuci piring, dan akhirnya merebahkan diri di tempat tidur.
Bebek Daun Bawang sedang latihan masak di dapur. Heath berusaha tetap tenang, walaupun setitik asap hitam melintas di depannya, ia sama sekali tak bergeming.
Memang masakan Bebek Daun Bawang kadang seperti bencana, tapi setidaknya masih di atas batas layak makan. Kalau Safira yang masak, itu bukan lagi memasak, melainkan bereksperimen menciptakan senjata kimia.
Heath pernah punya pengalaman mencicipi sup iga lobak buatan Safira. Supnya berwarna merah muda. Saat dihidangkan, Heath sampai gemetaran.
Setelah meneguk satu sendok, Heath tercerahkan: ternyata puncak tertinggi seni kuliner adalah menciptakan sesuatu dari ketiadaan.
Heath sungguh ingin bertanya pada Kak Safira, bagaimana caranya sup iga lobak bisa berasa seperti kue bolu?
Sejak saat itu, Heath tak pernah membiarkan Safira masuk dapur lagi. Ia sadar, jika ingin makan malam yang layak, maka dirinya sendirilah yang harus masak.
“Ada bau yang aneh di sini,” gumam Heath, hidungnya mengendus-endus. Ia segera bangkit dari tempat tidur, lalu menuju dapur untuk memeriksa.
“Bebek Daun Bawang, kamu... menemukan tambang batu bara, ya?” tanya Heath, melihat Bebek Daun Bawang hendak membuang sesuatu ke tempat sampah dengan sembunyi-sembunyi, wajahnya langsung masam.
Heath mengaku, saat melihat benda itu, ia sempat bingung. Ia benar-benar tak tahu apa benda hitam legam itu. Bentuknya potongan-potongan, mirip arang.
“Kwaa...” Bebek Daun Bawang malu-malu, menggoyangkan pantatnya.
Heath mendesah, lalu mengambil satu potong ‘arang’ itu dan mencoba mematahkannya.
Bunyi ‘krek’ terdengar. Heath menatap kosong pada ‘arang’ yang entah apa itu, lalu melamun.
Heath merasa, mungkin di kehidupan sebelumnya ia pernah melakukan perbuatan luar biasa hingga akhirnya terdampar di dunia aneh seperti ini.
Safira, sang ahli ramuan, mampu membuat sup iga berubah warna jadi merah muda. Sekarang hadir pula Bebek Daun Bawang, mungkin sudah belajar alkimia dari negeri seberang, menghasilkan arang melalui pertukaran setara.
“Apa dosaku, hingga bisa bertemu kalian berdua, Sang Jenius dan Sang Fenomenal?” Heath benar-benar tak habis pikir. Ia curiga, Bebek Daun Bawang punya bakat minus dalam memasak.
Padahal, bukankah sebelumnya ia baru saja mengajarkan cara memasak daging merah padanya?