Bab Delapan: Petunjuk Penting?
Dojo di Kota Evergreen bisa dibilang adalah dojo pertama yang akan ditemui setelah keluar dari Desa Shinbaru. Nama besar Sang Penguasa Tanah, Sakaki, memang sudah sangat terkenal di seluruh aliansi. Karena itulah, di depan Dojo Evergreen sering berkumpul banyak pelatih, umumnya mereka yang sedang mengumpulkan lencana Pokémon untuk bersiap mengikuti Liga Quartz.
Selain tempat itu, menurut Heath, tempat yang paling banyak didatangi pelatih berikutnya mungkin adalah Pusat Pokémon. Namun, mengingat jarak Pusat Pokémon cukup jauh dari posisinya sekarang, Heath akhirnya memutuskan untuk datang ke dojo saja.
Baru saja sampai di Dojo Evergreen, Heath langsung melihat banyak pelatih—ada yang membawa Burung Pipit, ada yang membawa Rumput Berjalan, bahkan ada satu dua yang menuntun Bunga Penguasa. Aroma yang aneh langsung tercium dari tempat itu, membuat Heath refleks menutup mulutnya.
Bagaimana bisa ia lupa bahwa Dojo Evergreen, yang terkenal sebagai Dojo Tanah, akan membuat sebagian besar orang memilih membawa Pokémon bertipe rumput dan air? Di antara para pelatih itu pasti ada yang membawa Bunga Busuk. Sebenarnya nasib Bunga Busuk memang cukup malang; karena aromanya yang sangat khas, Pokémon itu sampai masuk dalam daftar “tidak boleh dilepas di kota”.
Selain itu ada juga Si Lumpur Busuk, Bola Gas, serta Pokémon- Pokémon lain seperti Si Gendut dan Ular Batu Raksasa yang terlalu berat pun tak diperbolehkan masuk.
“Andai tadi aku bawa masker... Bisa mati juga, nih...” Heath mengelus Pokéball di pinggangnya, namun demi menuntaskan tugas, ia tetap harus mendirikan gerobaknya di tempat itu.
Mungkin karena aroma Bunga Busuk benar-benar terlalu kuat, tak banyak yang berminat untuk makan. Heath menunggu sampai para pelatih yang membawa Bunga Busuk masuk ke dojo untuk bertarung, barulah ia mendapat pelanggan pertama.
Para pelatih ini, dilihat dari penampilan dan sikap, tak jauh beda dari pelanggan biasa. Melayani mereka pun tidak ada yang istimewa; setelah cukup sibuk, Heath sudah menerima sembilan pelanggan.
Ada yang memberinya sebutir permen, ada pula yang tidak memberi apa-apa. Heath sendiri masih belum paham bagaimana “tangan emas” miliknya menilai layak atau tidaknya mendapat hadiah.
“Halo, apakah di sini bisa membuatkan makanan untuk Pokémon?” Sebuah suara asing menyapa. Heath menoleh ke atas dan melihat seorang anak laki-laki kecil yang tampak agak sombong, lehernya tergantung sebuah kalung.
“Bisa, sih... Tapi, apakah Pokémon-mu cocok dengan makananku?” Heath mengangguk ragu. Anak itu sepertinya seusia dengan Ash.
Namun, Heath tidak terlalu yakin bisa melayani dengan baik. Saat melayani Naga Api sebelumnya, ia sadar tiap Pokémon punya preferensi rasa yang berbeda. Apalagi untuk nasi goreng atau martabak, ada yang suka, ada yang tidak, apalagi Pokémon. Heath tentu bukan manusia super, tak mungkin semua orang menyukai masakannya.
“Aku lihat para pelatih yang beli makananmu semua puas, seharusnya Pokémon-ku juga bisa.” Anak laki-laki itu mengangguk percaya diri.
Heath hanya bisa menahan senyum. Apa yang dipikirkan bocah ini? Tapi karena pelanggan sudah bilang begitu, Heath tak keberatan membuatkan satu porsi. Hanya saja, ia perlu tahu dulu Pokémon apa yang dimiliki anak itu.
“Kalau begitu, Pokémon-mu apa?” tanya Heath. Setiap Pokémon punya selera berbeda, hal ini pun terlihat dari buah-buahan yang mereka sukai.
Tentu, tidak semua Pokémon suka buah yang sama. Ada yang unik, misalnya Naga Api tadi lebih suka rasa manis.
“Aku... aku belum punya Pokémon! Tapi kalau punya makanan Pokémon, pasti aku bisa dapat satu!” Anak itu terlihat sangat percaya diri. Heath mengangkat alis, belum punya Pokémon tapi sudah mau beli makanan?
“Kalau tidak punya Pokémon, aku tidak bisa jamin makanan ini berguna. Pikirkan dulu baik-baik.” Heath menggeleng, menolak permintaan bocah itu.
“Aku mau satu... eh, nasi goreng telur!” Anak itu mengambil lima belas koin aliansi dari sakunya dan menyerahkannya pada Heath, yang hanya bisa pasrah.
Karena pelanggan sudah membayar, Heath merasa tidak enak menolak. Ia pun memasak seporsi nasi goreng telur seperti biasanya, menaruhnya di kotak, dan memberikannya pada anak itu. Sang anak menerima nasi goreng lalu berlari riang meninggalkan tempat itu.
Heath menggeleng pelan. Mungkin anak itu bukan pelatih sungguhan. Lagi pula ia belum menerima informasi bahwa tugasnya selesai, jadi ia pun kembali diam menunggu di depan Dojo Evergreen.
Pengunjung di Dojo Evergreen masih ramai. Namun, kebanyakan yang keluar dari dalam dojo tampak kecewa, hanya sebagian kecil saja yang terlihat bahagia. Melihat wajah-wajah itu, Heath sudah tahu hasil tantangan mereka.
“Jangan-jangan Sakaki jadi serius mengurus Tim Roket karena tak tahan diganggu terus-menerus?” gumam Heath dengan ekspresi aneh menatap kerumunan orang. Benar-benar terlalu banyak yang datang.
[Kau telah melayani Green, mendapat satu Permen Bebek Daun]
Tiba-tiba sebuah kotak pesan muncul. Tangan Heath refleks bergetar, nyaris saja spatula di tangannya melayang ke muka pelanggan. Ia menatap pelatih di depannya, seorang paman berumur. Jelas-jelas bukan Green. Barusan, ia hanya membuatkan nasi goreng untuk seorang anak laki-laki. Jadi, anak itu Green?
Heath sedikit bingung, tapi hal itu tak menghalanginya untuk melayani pelatih di depan mata dengan cekatan. Ia menerima pembayaran dan memasukkannya ke sakunya.
[Kau telah melayani sepuluh pelatih, mendapat satu petunjuk penting secara acak]
[Ada rumor seseorang melihat bayangan putih berlari sangat cepat di Hutan Evergreen]
Dua kotak pesan muncul sekaligus. Heath tertegun sejenak. Belum sempat ia memikirkan lebih jauh, para pelatih yang kelaparan sudah berdatangan karena mencium aroma masakannya. Demi melayani pelanggan, Heath pun menunda dulu memikirkan pesan tadi.
Ketika semua makanan habis terjual, hari masih sore. Heath buru-buru membereskan gerobaknya lalu berjalan pulang ke tempat tinggalnya.
“Bayangan putih yang berlari sangat cepat? Apa maksudnya itu?” Heath kebingungan. Karena petunjuk itu didapat dari tangan emasnya, pasti ada arti khusus, tapi ia belum tahu apa maksudnya.
Setidaknya, kini ia tahu lokasinya: Hutan Evergreen.
“Daun... daun!” Bebek Daun terbang di samping Heath, terus mengelilingi sambil berseru-seru.
Heath agak pusing. Bebek Daun memang tak mudah menyerah, terus saja ingin belajar membuat martabak. Kalau saja Heath punya tekad sekuat Bebek Daun, dulu ujian masuk pascasarjana pasti bisa dilalui dengan mudah.
“Iya, iya, nanti kubelikan!” Heath akhirnya menyerah dan menenangkan si Bebek Daun, baru ia bisa memikirkan soal petunjuk tadi.