Bab Empat Puluh Empat: Aku Tidak Akan Pernah Lagi Menyukai atau Mencintaimu, Sekalipun Harus Mati
Baru setengah hari bertugas di unit patroli, dia sudah dilempar kembali ke unit polisi lalu lintas. Yang aneh, dia masih bisa tersenyum. Ding Ning pun menegurnya, "Dasar kau, Xiao Qi, masih bisa-bisanya tersenyum. Cepat katakan, apa yang sebenarnya terjadi? Baru setengah hari di unit patroli, sudah kembali lagi? Apa kau pikir ini main rumah-rumahan?"
Setelah ditanya Ding Ning, Ye Zhengxun menceritakan kejadian di supermarket pagi tadi secara garis besar. Tentu saja, dia menyembunyikan jumlah uangnya. Dia hanya mengatakan ada seorang pria yang menggendong bayi berusia beberapa bulan, mencuri susu bubuk senilai 300 yuan, lalu tertangkap oleh petugas keamanan supermarket. Dia turun tangan dan membayar 300 yuan untuk pria itu, siapa sangka manajer supermarket justru melaporkannya atas tuduhan menghalangi proses hukum.
Mendengar itu, Ding Ning berkata dengan nada gemas, "Xiao Xun, bagaimana aku harus mengatakannya padamu? Kesempatan sebagus itu tidak kau hargai, malah sibuk mengurusi urusan orang lain. Kau ini benar-benar! Kalau kau memang merasa uangmu terlalu banyak, lebih baik berikan saja padaku!"
"Kak Ning, aku tahu kau tidak rela aku pergi, makanya aku kembali!"
"Sudahlah, jangan banyak bicara. Sepertinya nasibmu memang hanya ditakdirkan menjadi polisi lalu lintas seumur hidup. Ya sudah, tetaplah di unit polisi lalu lintas ini. Selama ada Kak Ning, tidak akan ada yang berani menindasmu!"
Ye Zhengxun mengangguk dan tersenyum. Baginya, mutasi memang terlalu sering terjadi. Pukul tiga sore, Kepala Biro Wang yang bertanggung jawab atas mutasi personel menelepon Zhang Yuancheng lagi, menjelaskan bahwa Ye Zhengxun telah menghalangi proses hukum dan meminta Zhang Yuancheng untuk menerima kembali Ye Zhengxun.
Begitulah, karier patrolinya yang berlangsung kurang dari empat jam berakhir. Satu-satunya orang yang masih bisa tersenyum adalah Ye Zhengxun. Dia mengendarai mobil patroli dengan santai kembali ke posnya untuk melanjutkan hidup sebagai polisi lalu lintas. Arus kendaraan di perempatan Jalan Barat tetap tak putus-putusnya. Setiap hari berulang dengan sederhana dan rutin seperti ini. Hidup memang begitu; terbiasa dengan kesederhanaan dan rutinitas berarti telah memahami hakikat kehidupan.
Sore harinya, tidak banyak hal yang terjadi. Cuaca berubah drastis, langit mendung kelabu, pertanda hujan akan segera turun.
Di tengah waktu itu, Xia Xinyi menelepon dan mengabarkan bahwa dia sudah bangun. Dia bertanya apakah Ye Zhengxun akan pulang untuk makan malam. Jika ya, si cantik pemalas itu berniat memasak sendiri untuk Ye Zhengxun.
Mendapat tawaran manis seperti itu, Ye Zhengxun pun cukup antusias. Dia penasaran masakan apa yang bisa dibuat oleh Xia Xinyi. Namun, malam ini dia sudah punya dua janji makan malam. Satu di rumah calon ayah mertuanya yang sulit ditolak, dan satu lagi janji dengan Xia Qingying karena Xiao Yuchen terus menunggunya. Karena waktunya bisa diatur agar tidak berbenturan, Ye Zhengxun terpaksa menolak tawaran Xia Xinyi dengan alasan ada urusan lain, dan bertanya apakah bisa diganti besok siang. Tak disangka, Xia Xinyi justru setuju, lalu berpesan agar Ye Zhengxun pulang lebih awal nanti malam. Selama "harimau betina" Xia Xinyi tidak mengamuk, biasanya semua akan baik-baik saja.
Entah karena cuaca atau karena Ma Ziqiang mencemaskan kondisi ibunya, meski adiknya, Ma Dingshan, sudah memberitahu bahwa biaya operasi akan cukup besok, Ma Ziqiang justru terlihat lebih gelisah.
"Ada apa, Lao Ma? Masih memikirkan biaya operasi ibumu?" tanya Ye Zhengxun sambil menyodorkan sebatang rokok.
Ma Ziqiang mengangguk tanpa bicara, hanya menunduk sambil menghisap rokoknya.
"Bukankah adikmu sudah menemukan jalan keluar? Jika terjadi sesuatu yang tidak terduga, kita akan cari cara lain. Jangan terlalu cemas!"
Mendengar soal uang dari adiknya itu, Ma Ziqiang menghisap rokoknya dalam-dalam dan berkata, "Ye, kau tidak mengenal adikku. Siang tadi dia bilang bos Qian meminjamkan 200.000 yuan padanya. Kalau bos Qian tulus, tentu bagus, tapi aku takut adikku dimanfaatkan! Menurutmu, siapa yang begitu murah hati meminjamkan 200.000 yuan, padahal tahu kita tidak akan mampu membayarnya?"
Kekhawatiran Ma Ziqiang memang masuk akal. Tidak ada makan siang gratis di dunia ini. Meski begitu, Ye Zhengxun tetap menghiburnya, "Lao Ma, mungkin kau terlalu cemas. Siapa tahu bos adikmu memang menyukainya dan tulus ingin membantu."
"Semoga saja begitu!"
Beban mental Ma Ziqiang terlalu berat. Menjelang malam, Ye Zhengxun menyuruhnya istirahat sementara dia sendiri kembali bertugas di tengah perempatan Jalan Barat, mengatur lalu lintas dengan serius.
Karena cuaca, hari menjadi gelap lebih cepat. Langit tertutup awan hitam dan sesekali terdengar suara guntur, namun hujan belum juga turun.
Cheng Ruolin, yang hendak pulang sekolah, sengaja menunggu di pinggir jalan setelah tahu Ye Zhengxun akan makan malam di rumahnya. Dia tidak mengganggu pekerjaan Ye Zhengxun, hanya bersandar di jendela mobil sambil menatap pria itu. Pikirannya melayang ke pertemuan pertama mereka di perempatan ini. Saat itu, Ye Zhengxun juga sedang mengatur lalu lintas dengan gerakan yang canggung, benar-benar seperti pemula. Cheng Ruolin sendiri saat itu masih canggung mengemudi. Pertemuan dua pemula itu hampir saja berujung tabrakan.
Sebuah kisah pun dimulai dari hari itu.
Dibandingkan pertemuan pertama, gerakan Ye Zhengxun kini sudah hampir sempurna, dan yang lebih penting, sikapnya sangat serius dan penuh dedikasi.
"Tianhao, menurutmu Kak Ye keren tidak?" tanya Cheng Ruolin pada pengawal sekaligus sopirnya, Liu Tianhao.
Liu Tianhao tersenyum, "Keren, tentu saja keren. Cinta itu buta, Nona Muda. Di matamu, mungkin tidak ada orang di dunia ini yang lebih keren darinya."
"Hehe, aku juga merasa begitu!" senyum Cheng Ruolin makin mengembang.
Langit yang sedari tadi mendung akhirnya tumpah. Disertai kilat dan guntur, hujan deras mengguyur. Tanpa ragu, Cheng Ruolin mengambil payung dan menerobos hujan untuk memayungi Ye Zhengxun. Melihat kemunculan Cheng Ruolin yang tiba-tiba, hati Ye Zhengxun terasa hangat. Dia tersenyum dan tidak menolak ketulusan gadis itu.
Begitulah, Cheng Ruolin terus memayungi Ye Zhengxun hingga arus lalu lintas di perempatan itu melewati "jam sibuk malam" dan pekerjaan hari itu pun berakhir.
Ma Ziqiang bergegas ke rumah sakit untuk menjaga ibunya, sementara Ye Zhengxun mengantar Cheng Ruolin pulang ke kediamannya di Kompleks Vila Jinghu. Saat masuk ke mobil patroli, Cheng Ruolin bertanya dengan heran, "Kak Ye, kenapa mobilmu ganti?"
Ye Zhengxun tertawa, "Gadis kecil, aku beri tahu alasannya, tapi jangan laporkan aku ya. Sebenarnya, aku memodifikasi mobil ini!"
"Hehe, kalau begitu tamatlah riwayatmu, Kak Ye. Sekarang aku punya bukti. Kalau kau berani menindasku, aku akan melaporkanmu karena menyalahgunakan wewenang dan memodifikasi kendaraan secara ilegal!"
"Kalau kau benar-benar melaporkanku, aku akan kehilangan pekerjaan ini dan harus hidup menggelandang di jalanan!"
"Bagus, bagus, menggelandang itu seru!"
"Gadis kecil, apa serunya menggelandang?"
"Kalau kau menggelandang, aku bisa ikut menggelandang bersamamu!"
"Dasar gadis bodoh, kau bicara begitu karena belum pernah merasakan susah, kan? Hujan deras begini malah lari-lari memayungiku, bodoh sekali kau!"
"Kau sendiri, kenapa tidak kasihan padaku dan bilang kalau aku tidak perlu memayungimu?"
"Sekalipun aku bilang begitu, apa kau akan meninggalkanku? Aku tahu, mau kubilang atau tidak, kau pasti akan tetap memayungiku, jadi aku tidak perlu bicara."
"Huh, jangan besar kepala! Kalau ada lain kali, sampai mati pun aku tidak akan memayungimu!"
"Hehe, kalau tidak sampai mati? Berarti mau memayungiku lagi?"
"Huh, Kak Ye, bisakah kau jadi sedikit lebih bodoh? Aku belum bicara saja kau sudah tahu jawabannya. Sekarang aku beri tahu, mulai hari ini, sampai mati pun aku tidak akan menyukaimu, mencintaimu, atau peduli padamu lagi!"
Ye Zhengxun sangat mengerti arti sebenarnya dari kalimat itu: "Jika tidak sampai mati, aku akan terus menyukaimu, mencintaimu, dan peduli padamu!"