Tujuh Puluh Enam: Terpeleset di Kamar Mandi
Bab 76: Perumahan Tangpin Erchen, Lantai 8, Kamar 802
Begitu sampai di kamar, Lin Xinying akhirnya bisa melepas kacamata dan maskernya. Rambut hitam panjangnya tergerai bebas, menampakkan kembali kecantikannya yang tiada tara. Wajah dan tubuhnya sudah basah oleh keringat. Cuaca sepanas ini membuat Lin Xinying jarang keluar di bawah terik matahari. Hari ini benar-benar penuh kejutan: ia tak sengaja bertemu Lao Liu dan Xiao Bai, lalu diculik. Untung saja semuanya berakhir tanpa bahaya. Namun, keseleo di kakinya pasti akan mengganggu konser malam nanti. Hal itulah yang terus ia cemaskan.
Apa pun yang sudah terjadi, mencemaskannya tak akan mengubah keadaan. Dengan tubuh letih, Lin Xinying mengikuti arahan Ye Zhengxun menuju kamar mandi. Ruangan itu sangat bersih, dan setiap bagian ditata dengan apik. Cermin, bak mandi, serta pancuran mandinya semuanya berkualitas tinggi. Selain itu, Lin Xinying melihat banyak sikat gigi dan handuk merah muda di sana. Sekilas saja sudah jelas bahwa barang-barang itu milik seorang perempuan.
Apakah Ye Zhengxun tinggal bersama seorang perempuan, atau mereka sepasang kekasih? Lin Xinying merasa dirinya terlalu banyak berpikir. Itu urusan pribadi orang lain. Ia mengatur suhu air dan baru hendak melepas pakaian untuk mandi ketika tiba-tiba teringat sesuatu yang penting: setelah mandi, ia perlu berganti pakaian dalam. Pakaian dalam yang dikenakannya sudah basah oleh keringat, dan pasti tidak nyaman kalau dipakai lagi.
Ia pun membuka pintu kamar mandi dan menjulurkan kepala.
“Kak Yezi!”
“Kenapa, Xinying? Kalau kakimu sakit dan kamu sulit berdiri, kamu bisa mandi sambil duduk di bak.”
Ye Zhengxun sedang merokok di ruang tamu dengan pendingin ruangan menyala.
“Bukan begitu, Kak Yezi. Aku ingin minta tolong dibelikan sesuatu. Boleh?”
Suara Lin Xinying terdengar malu-malu.
“Tentu. Kamu mau beli apa?”
“...Barang yang biasa dipakai perempuan di balik pakaian. Bisa?”
Wajah Lin Xinying sedikit memerah. Ye Zhengxun belum memahami maksudnya, dan tak mengerti kenapa gadis kecil itu tiba-tiba tersipu.
“Yang dipakai di balik pakaian? Maksudmu apa?”
“...Pakaian dalam!”
Pakaian dalam... Ye Zhengxun merasa agak tak berdaya. Ia teringat, dulu ketika Cheng Ruolin mandi di rumahnya, perempuan itu juga pernah memintanya membelikan pakaian dalam. Namun, saat itu sudah tengah malam dan tak ada toko yang buka. Jadi, ia terpaksa mengambil pakaian dalam baru dari kamar Xia Xinyi untuk sementara dipakai Cheng Ruolin.
Ye Zhengxun merasa serba salah, tetapi tetap mengangguk.
“Baiklah. Ukurannya apa?”
“Ukuran cup C, yang putih.”
Setelah mengatakannya, Lin Xinying buru-buru menarik kepalanya kembali ke dalam kamar mandi dengan wajah malu.
Ye Zhengxun keluar rumah. Semakin dipikirkan, semakin terasa janggal. Apa kata pemilik toko pakaian dalam kalau seorang pria datang membeli pakaian dalam perempuan?
Namun, ia sudah telanjur berjanji. Tak mungkin ia mengurungkan niat. Ia hanya bisa memberanikan diri, tetapi di sekitar sini ada toko pakaian dalam di mana?
Ye Zhengxun berusaha mengingat-ingat. Tiba-tiba, ponsel di sakunya berdering.
Ia mengeluarkan ponsel dan melihat nama Lu Bingqian. Polisi wanita itu sangat mengaguminya dan selalu menjaga rahasianya. Karena ia sedang kerepotan memikirkan cara membeli pakaian dalam perempuan, meminta bantuan Lu Bingqian jelas pilihan terbaik.
“Bingqian, ada perlu apa?”
“Guru, kenapa pagi tadi Anda tidak masuk kerja? Saya baru saja mendapat kabar bahwa Ma Dingshan sudah ditemukan polisi. Dia mengakui bahwa dia sengaja menabrak korban sampai tewas. Kasus ini mungkin akan ditutup besok!”
Mendengar kabar itu, Ye Zhengxun mengernyit. Kasus ini jelas menyimpan sesuatu yang lain. Kenapa Ma Dingshan mengaku?
“Bingqian, sekarang aku di rumah. Datang saja ke sini, nanti kita bicarakan detailnya. Oh ya, sekalian mampir ke toko pakaian dalam dan belikan aku satu set.”
“Guru, yang benar saja. Anda benar-benar menganggap saya pembantu? Pakaian dalam Anda pun harus saya belikan?”
“Pakaiannya bukan untukku. Belikan pakaian dalam perempuan, ukuran cup C.”
“Punya perempuan? Guru, jangan-jangan Anda menyembunyikan perempuan di rumah lagi. Anda malu membelinya sendiri, jadi menyuruh saya?”
“Lagipula sekalian lewat, bukan? Sebagai laki-laki, rasanya kurang pantas kalau aku masuk ke toko pakaian dalam perempuan.”
“Baiklah. Saya segera ke sana!”
“Oh ya, Bingqian! Ingat, pilih yang putih.”
“Siap, Guru. Tak disangka, ternyata Anda ini mata keranjang!”
Lu Bingqian bergumam lalu menutup telepon. Ye Zhengxun hanya bisa mengangkat bahu pasrah.
Tak lama kemudian, Lu Bingqian menelepon lagi.
“Guru, Anda belum bilang rumah Anda di mana.”
“Perumahan Tangpin Erchen. Aku tunggu di gerbang.”
Ye Zhengxun belum selesai bicara ketika polisi wanita yang temperamental itu sudah menutup telepon lagi. Perempuan yang tak sabaran. Untung saja dia hanya muridnya, bukan istrinya. Kalau tidak, hidupnya pasti akan sangat menderita.
Lu Bingqian memang perempuan yang cekatan. Sepuluh menit kemudian, ia tiba dengan gagah mengendarai sepeda motor patroli polisi di gerbang Perumahan Tangpin Erchen.
Seandainya bukan karena mereka perlu membicarakan kasus Ma Dingshan, Ye Zhengxun tidak akan mengajak Lu Bingqian ke rumahnya.
Saat ini, Lu Bingqian satu-satunya orang yang menguasai informasi terperinci mengenai kasus Ma Dingshan. Situasinya juga mendesak, jadi mereka harus segera mengungkap kebenaran kasus itu. Kalau polisi sampai menutup perkara dan jenazah Li Chunping dikremasi, Ma Dingshan mungkin tak lama lagi akan dijatuhi hukuman mati.
Ye Zhengxun mengantar Lu Bingqian masuk. Lin Xinying yang sedang berada di kamar mandi tidak tahu ada orang ketiga di rumah itu. Mendengar langkah kaki, ia menjulurkan kepala.
“Kak Yezi, barangku sudah dibelikan?”
Namun, suaranya segera terhenti. Lin Xinying mendadak melihat ada orang lain di samping Ye Zhengxun. Ia terkejut dan buru-buru menarik tubuhnya kembali karena malu. Selama ini ia hanya bertumpu pada kaki kirinya. Karena kaget, kakinya terpeleset.
“Aah!”
Lin Xinying tanpa sengaja jatuh lagi di kamar mandi.
Ye Zhengxun langsung panik. Ia tak tahu seberapa parah Lin Xinying jatuh. Semoga saja kaki kirinya tidak terluka lagi.
“Xinying, kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?”
“Tidak apa-apa, Kak Yezi!”
Lin Xinying pasti sedang telanjang di kamar mandi. Sebagai laki-laki, Ye Zhengxun tentu tak bisa masuk. Ia menoleh kepada Lu Bingqian.
“Xinying, yang datang bersamaku ini rekan kerjaku. Dia perempuan. Biar dia yang mengantarkan barang itu kepadamu.”
Lin Xinying menjawab setuju dari dalam kamar mandi.
Ye Zhengxun memberi isyarat kepada Lu Bingqian. Polisi wanita itu, yang biasanya berapi-api, ternyata menurut saja. Ia berjalan ke pintu kamar mandi, mengetuknya, lalu berkata pelan, “Xinying, aku rekan kerja Kak Yezi. Barangmu kubawakan.”
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka sedikit. Lu Bingqian menyelinap masuk, lalu pintunya tertutup lagi.
Namun, begitu masuk, Lu Bingqian tiba-tiba berseru kaget. Suaranya cukup keras hingga membuat Ye Zhengxun terlonjak. Ia khawatir Lin Xinying terluka parah.
“Ada apa, Bingqian? Xinying terluka parah?”
“Tidak... tidak apa-apa!”
Lu Bingqian menjawab dengan terbata-bata, entah sedang kenapa. Setelah itu terdengar suaranya yang riuh dan bersemangat dari dalam kamar mandi.
Ternyata begitu masuk, Lu Bingqian langsung mengenali Lin Xinying. Ia tak pernah menyangka bintang besar itu akan berada di rumah Ye Zhengxun. Saking terkejutnya, ia spontan berseru.
Begitu tahu Lu Bingqian mengenalinya, Lin Xinying buru-buru menggeleng, memberi isyarat agar perempuan itu tidak terlalu bersemangat.
“Kak, jangan bilang kepada Kak Yezi siapa aku. Anggap saja kakak tidak mengenaliku!”
“Ya ampun, dia benar-benar seperti orang dari planet lain. Bahkan kamu pun tidak dikenalnya!”
Lin Xinying, yang membalut tubuhnya dengan handuk mandi, tersenyum getir. Lu Bingqian terus menatapnya, tetapi belum juga menyerahkan pakaian dalam itu.
“Kak, boleh berikan barangnya?”
“Tentu saja!”
Lu Bingqian menyerahkan pakaian dalam itu kepada Lin Xinying, tetapi ia sama sekali tidak berniat pergi.
“Ngomong-ngomong... bolehkah aku memanggilmu Xinying?”
“Boleh, Kak.”
“Bolehkah aku berfoto denganmu?”
Lin Xinying hanya bisa tersenyum getir.
“Kak, boleh tunggu sebentar? Biar aku berpakaian dulu.”
Barulah Lu Bingqian sadar bahwa karena terlalu bersemangat, ia lupa kalau dirinya masih berada di kamar mandi.
Sebelum keluar, Lin Xinying mengingatkannya sekali lagi.
“Kak, jangan bilang kepada Kak Yezi siapa aku, ya!”