Jilid Kedua: Badai di Pelabuhan Jin Bab Dua Puluh Enam: Keajaiban Medis
Bab 26: Keajaiban Medis
Di dalam ruang operasi, Qin Bu berbaring tenang di atas meja operasi, namun dokter bedah utama merasa situasinya sangat sulit. Peluru di perut Qin Bu sudah berhasil diambil, dan luka yang diakibatkan peluru itu tidak terlalu parah. Namun, peluru yang dekat dengan jantung sungguh merepotkan. Peluru itu menekan arteri Qin Bu dan posisinya sangat rumit. Bahkan sebagai dokter terbaik di negeri ini, sang dokter tidak bisa benar-benar yakin, sebab sekali sayatan, hidup dan mati sepenuhnya tergantung takdir.
Keraguan hanya berlangsung sekejap. Jika dioperasi, Qin Bu masih punya harapan tipis untuk bertahan hidup, tetapi jika tidak, ia takkan mampu bertahan lama. Setelah mengeluarkan serangkaian instruksi, dokter bedah utama pun dengan tenang mengambil pisau bedah.
Qin Bu merasa seolah baru saja tidur, bahkan seperti bermimpi sangat panjang. Dalam mimpi itu, dunia berubah, terasa akrab sekaligus asing, dan di sana Qin Bu menjalani kehidupan yang berbeda dari sebelumnya. Samar-samar, Qin Bu merasa kembali ke kontrakan yang biasa ia tinggali. Ia mencoba membuka mata, sadar bahwa jika tidak segera bangun, ia akan terlambat bekerja.
Atasan di tempat kerja selalu tidak suka padanya, Qin Bu tak ingin memberinya alasan untuk marah. Begitu membuka mata, Qin Bu tiba-tiba merasa sekelilingnya gelap gulita, seolah ia berada di ruang yang tak dikenal.
"Jangan-jangan kebanyakan nonton serial? Sampai berhalusinasi begini?" Qin Bu mencoba mencari setitik cahaya, namun tak membuahkan hasil.
Tak yakin apakah ini mimpi, Qin Bu berteriak sekencang-kencangnya, berlari sekuat tenaga. Sudah lama ia tidak mengenal rasa takut, tapi kini ia benar-benar ketakutan.
Namun, meski teriakannya serak dan tubuhnya lelah, ia merasa tetap berada di tempat yang sama. Saat itulah, dari kejauhan tiba-tiba muncul seberkas cahaya dan terdengar suara samar-samar.
"Qin Bu!"
Seluruh tubuhnya bergetar, Qin Bu mendengar ada yang memanggil namanya. Suaranya sangat pelan di awal, namun lama-kelamaan ia bisa mendengarnya jelas.
Qin Bu pun kembali berlari sekuat tenaga ke arah suara itu.
"Qin Bu!"
Suaranya semakin dekat.
Tak jelas sudah berapa jauh ia berlari, cahaya di depan matanya makin terang, seolah hendak mengoyak ruang dan waktu. Sinar yang tiba-tiba itu membelah dunia gelap, membuat Qin Bu tak bisa membuka mata. Setelah terbiasa dengan cahaya, akhirnya ia bisa melihat jelas di mana dirinya.
Di hadapannya tampak seperti ruang komando luar angkasa dalam film fiksi ilmiah, nuansa biru penuh sentuhan teknologi. Beberapa layar besar di sekelilingnya memancarkan cahaya, salah satunya menampilkan atribut pribadi Qin Bu.
Sekejap, Qin Bu sadar kembali. Ia teringat dirinya tertembak dan tengah sekarat.
Saat itu pula, Qin Bu sadar ia berada di ruang internal sistem.
Tiba-tiba, sebuah layar besar kosong menyala. Layar itu menampilkan suasana ruang operasi, dengan waktu di pojok bawah: 15 Juli, pukul 6.30 pagi. Jelas dirinya sedang dioperasi.
"Ada orang di sini? Sistem orang lain bisa bicara, kau bisa bicara tidak?" seru Qin Bu keras-keras, namun tak ada yang menjawab.
Untuk pertama kalinya, Qin Bu merasa benar-benar tak berdaya. Meski saat ini ia hanyalah gumpalan kesadaran, pikirannya justru lebih jernih dari sebelumnya.
Qin Bu tahu, ini adalah ruang internal sistem. Di sini, ia tak bisa melakukan apapun. Seiring waktu berlalu, ia merasakan cahaya di ruang komando biru itu semakin meredup.
Terlintas pikiran buruk di benaknya—jangan-jangan cahaya ini berbanding lurus dengan vitalitasnya.
Dilihatnya lagi layar operasi, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Ia tak tahu sudah berapa lama berada di ruang operasi, namun ia sadar lukanya parah.
Tiba-tiba, Qin Bu melihat dokter yang mengoperasinya mengeluarkan sebutir peluru. Sebagai orang yang paham tentang senjata api, Qin Bu tahu dirinya beruntung, atau mungkin karena ketahanannya tinggi sehingga masih hidup.
Peluru yang menembus tubuhnya adalah peluru senapan. Setelah masuk, peluru itu tersangkut di arteri. Kalau sampai menembus, barangkali ia sudah mati.
Qin Bu memang tak begitu paham soal medis, tapi ia tahu mengambil peluru bukan berarti masalah beres. Jika organ dalam tidak rusak, pendarahanlah yang paling mematikan.
Benar saja, saat peluru itu diambil, darah menyembur keluar.
Tak lama kemudian, ruang operasi jadi sangat sibuk; para dokter berusaha keras menyelamatkannya.
"Sial, kenapa garisnya jadi lurus?" seru Qin Bu kaget. Di monitor detak jantung, garis yang harusnya berdenyut berubah lurus.
Qin Bu tahu, kalau garis itu lurus, artinya ia sudah mati.
Cahaya di ruang komando biru semakin redup. Saat hampir padam, tiba-tiba lampu peringatan merah berkedip di sekelilingnya.
"PERINGATAN! PERINGATAN! Nyawa pemilik sistem dalam bahaya!"
Terdengar suara mekanis di ruangan. Qin Bu geram dan berteriak, "Jangan cuma kasih peringatan, cari solusi dong!"
Untuk pertama kalinya, Qin Bu ingin mengeluh tentang sistem ini. Sehari-hari seperti mayat, tak bisa diajak ngobrol.
Namun ia juga berpikir, kalau di kepalanya ada suara yang tiap hari ngoceh, mungkin ia bakal merasa aneh.
Di meja operasi, darah Qin Bu membanjir. Segala upaya, mulai menghentikan pendarahan hingga transfusi, dilakukan, tapi darah tak kunjung berhenti.
Entah sudah berapa lama, Qin Bu melihat seorang dokter menggelengkan kepala. Lalu ada yang membuka kelopak matanya, menyinari dengan senter, dan ikut menggeleng.
Qin Bu merasa hatinya tenggelam—apakah ini akhirnya?
"TING! Nyawa pemilik sistem dalam bahaya! Semua fragmen umum dikosongkan."
Di saat genting, sistem malah menambah beban. Semua fragmen umum yang susah payah ia kumpulkan lenyap seketika. Melihat ribuan fragmen di layar lain jadi nol dalam sekejap, hati Qin Bu hampir hancur.
Saat Qin Bu hendak memaki sistem, tiba-tiba sistem memberinya kehangatan.
"TING! Fragmen umum kosong. Membentuk kekuatan super—Kebangkitan Segala Sesuatu."
"Kekuatan super—Kebangkitan Segala Sesuatu: Setiap satu fragmen umum akan memulihkan stamina dan fungsi tubuh tertentu. Jika dalam kondisi kritis, kekuatan super ini akan otomatis aktif."
"TING! Fragmen umum -1!"
"TING! Fragmen umum -1!"
Serangkaian notifikasi membuat Qin Bu linglung, namun segera saja ia diliputi kegembiraan.
Kekuatan super ini benar-benar kemampuan abadi. Selama belum benar-benar mati, masih bisa diselamatkan. Hanya saja, ia tak tahu apakah bisa menumbuhkan kembali tangan atau kaki yang putus.
Di sisi lain, dokter bedah utama di ruang operasi tahu pasiennya sudah tak bisa diselamatkan. Pendarahan hebat tak mampu dihentikan, dan nyawa pasien hampir tak ada tanda-tandanya.
Dokter Liu, sang dokter utama, merasa tak berdaya. Operasi sudah berlangsung lebih dari sepuluh jam, tapi akhirnya seperti ini.
Ia seorang dokter, tapi ia tak mampu menyelamatkan semua orang.
Namun saat ia hendak mengumumkan operasi gagal, perawat di sampingnya tiba-tiba berteriak, "Dokter Liu, darahnya berhenti!"
Dokter Liu mendekat. Darah yang semula mengucur deras kini perlahan-lahan berhenti.
TING!
Pada saat yang sama, monitor detak jantung yang tadinya garis lurus mulai berdenyut kembali.
"Keajaiban medis! Lanjutkan operasinya cepat!" bisik Dokter Liu sebelum kembali melanjutkan operasi.
Di ruang komando, Qin Bu menghela napas lega. Meski kini ia berutang banyak fragmen, setidaknya nyawanya selamat.
Cahaya di ruang komando biru kembali terang. Qin Bu melihat operasinya telah selesai.
Tubuh Qin Bu dipindahkan ke ICU. Melihat seluruh tubuhnya penuh selang, Qin Bu bertanya, "Hei, kapan aku bisa bangun?"
Tetap tak ada yang menjawab.
Waktu di ruang komando berlalu cepat. Karena kini ia hanya sebentuk kesadaran, Qin Bu tak perlu makan atau minum. Kegiatannya sehari-hari hanya memandangi dirinya sendiri di ICU.
Melihat dirinya sendiri—rasanya aneh.
Sekitar tiga hari kemudian, tanda-tanda vital Qin Bu benar-benar stabil. Para dokter yang memeriksanya berkali-kali menyebutnya keajaiban medis.
Tiga hari lagi berlalu, Qin Bu dipindahkan ke ruang perawatan biasa, namun kesadarannya masih terjebak di ruang komando.
Kini, Qin Bu yang memahami prinsip membunuh, sedikit-banyak juga mengerti prinsip rumah sakit.
Qin Bu tidak mengalami cedera otak; jika selama ini ia tak sadar, itu jelas tak wajar.
Namun, ia kehilangan banyak darah selama operasi, dan kondisi itu bisa menyebabkan syok hemoragik.
Syok hemoragik bisa menyebabkan otak kekurangan darah dan oksigen, yang akhirnya membuat seseorang dalam kondisi vegetatif.
Secara sederhana, Qin Bu kini jadi manusia vegetatif, atau ibaratnya berubah jadi pohon.
Tentu saja itu penjelasan umum. Menurut Qin Bu, sistem sedang memperbaiki tubuhnya. Sebelum tubuhnya benar-benar pulih, ia tak bisa kembali.
Sudah sepuluh hari sejak ia turun dari meja operasi. Sejak dipindahkan ke ruang biasa, Qin Bu merasa relasinya dengan orang-orang cukup baik.
Saat Cui Hu datang, ia menangis tersedu-sedu. Qin Hao hampir setiap hari menjenguknya.
Selama itu, Ming Zhen datang dua kali, dan setiap kali perawat harus memintanya pergi. Qin Bu tidak melihat Ah Xiang, entah ia tahu atau tidak soal cederanya.
Pagi ini, Qin Bu bahkan melihat Gao Wen datang menjenguk.
Sepertinya Qin Hao tidak memberi tahu penghuni panti asuhan tentang cederanya, mungkin takut para lansia tak kuat menerima kabar itu.
Dalam lamunannya, Qin Bu tiba-tiba melihat seorang gadis membawa baskom air masuk ke kamar. Ternyata itu Qin Zuo Man.
Wajah cantik Qin Zuo Man tampak letih. Qin Bu tahu, selama ini Qin Zuo Man selalu menemani.
Kamar tempat ia dirawat pun kamar tunggal, tampaknya kelas VIP. Entah itu pengaturan polisi atau Qin Zuo Man sendiri.
Qin Zuo Man membawa baskom air, lalu perlahan membersihkan tubuh Qin Bu. Di luar layar, Qin Bu merasa sangat canggung.
Biasanya tugas seperti ini dilakukan perawat, dan waktu itu Qin Bu tak merasa apa-apa. Tapi kini, Qin Zuo Man adalah orang yang ia kenal, bahkan pernah menyatakan cinta padanya.