Bab 37 Mustahil! Sama sekali mustahil!
Halaman 1/3
Hahaha...
Melihat para murid dari kelompok pertama muncul untuk menjalani ujian, Sun Liangkun yang terikat pada rak berbentuk manusia di sisi arena tak kuasa menahan kegembiraan dalam hati!
Kabar baiknya: murid dari kelompoknya yang dipanggil untuk maju adalah siswa terbaik di kelasnya!
Kabar yang lebih baik lagi: murid dari kelompok Zhongli Yan yang dipanggil maju adalah si kepala besar bodoh yang bahkan saat berbicara pun selalu terbata-bata!
Sungguh, langit berpihak kepadaku!
Sun Liangkun merasa sangat puas. Bahkan kegembiraannya membuat pengendalian ekspresinya sedikit lepas. Ia tak kuasa melirik Zhongli Yan di sampingnya.
“Wah, Kakak Seperguruan Zhongli, sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak padamu. Murid dari kelompokmu ini tampaknya memiliki nilai pelajaran yang kurang memuaskan, ya?”
“Apa hubungannya denganmu?”
Mendengar itu, Zhongli Yan membalas dengan nada datar.
“Kau—!”
Wajah Sun Liangkun seketika berubah. Amarah berkobar dalam hatinya.
Namun, sebelum sempat membuka mulut—
Pletak!!!
Tiba-tiba terdengar suara cambuk yang nyaring dari sisi arena!
Sesaat kemudian, jeritan memilukan salah seorang murid pewaris menyusul.
“Aaaargh—!”
Menurut kebiasaan ujian pengajaran di Puncak Alkimia, setiap kali seorang murid biasa yang mengikuti ujian membuat satu kesalahan, murid pewaris yang bertugas mengajarinya di sisi arena harus menerima satu cambukan.
Jangan pernah meremehkan hukuman cambuk semacam ini.
Cambuk yang dilaksanakan langsung oleh Kakak Seperguruan Senior dijamin akan membuat kulit penerimanya robek dan dagingnya terbelah, tetapi tidak sampai mencederai otot maupun tulang. Setiap sabetan begitu kejam sekaligus tepat sasaran.
Baru satu cambukan, punggung murid pewaris yang mengenakan pakaian dalam putih itu sudah dibasahi guratan darah merah pekat.
Melihatnya, Sun Liangkun menyeringai, diam-diam merasa ngeri.
Namun di saat yang sama, rasa bahagia penuh harap juga mulai tumbuh dalam hatinya.
Sebab sesuai urutan, orang berikutnya yang akan menjawab adalah murid dari kelompok Zhongli Yan—si kepala besar bodoh bernama Li Dalou.
...
“Murid Li Dalou memberi salam kepada Guru.”
Setelah murid pertama selesai menjawab, si kepala besar itu dengan gugup berjalan ke hadapan gurunya, Yang Mulia Li Ding, lalu membungkuk memberi hormat.
Duk, duk—duk, duk—duk, duk—
Di tengah kesunyian yang mencekam, Li Dalou bahkan dapat mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu.
Sejujurnya, ia sangat tegang. Bahkan, mungkin inilah pertama kalinya sepanjang hidup ia merasa setegang ini.
Bagaimanapun, sebagai murid biasa, ia hampir tidak pernah bertemu langsung dengan gurunya. Pelajaran yang ia terima sehari-hari pada dasarnya diajarkan oleh para kakak seperguruan pewaris.
Kini, berdiri berhadapan dengan gurunya dalam jarak sedekat ini, tekanan alami yang terpancar dari tubuh Yang Mulia Li Ding saja sudah cukup membuat detak jantungnya meningkat dan keringat membasahi dahinya.
Terlebih lagi—
Ia telah menyaksikan dengan jelas bagaimana murid seperguruan sebelumnya menjawab.
Dari enam soal teori resep pil, ia salah tiga. Dari dua soal praktik pemurnian, ia salah satu. Dari dua soal pengendalian api pil, ia juga salah satu.
Dalam ujian standar yang terdiri dari sepuluh soal, setengahnya dijawab dengan keliru.
Murid pertama itu bahkan belum sempat melihat soal tambahan dari sang guru, tetapi ujiannya sudah dinyatakan berakhir.
Sesuai prinsip ujian pengajaran Puncak Alkimia—satu kesalahan, satu hukuman—kakak seperguruan yang bertugas mengajar murid tersebut bahkan harus menerima lima cambukan di punggung.
Halaman 1/3
Halaman 2/3
Setiap cambukan terdengar jelas, dan setiap sabetan meninggalkan darah.
Cambuk-cambuk itu memang tidak mengenai tubuh Li Dalou.
Namun bagi Li Dalou, suara tersebut justru menjadi tekanan tak kasatmata yang jauh lebih berat.
Saat ini, Li Dalou yang membungkuk berdiri di hadapan gurunya merasa jantungnya hampir meloncat keluar dari tenggorokan.
“Tak perlu memberi hormat. Duduklah.”
Setelah mendengar gurunya mempersilakan duduk, barulah Li Dalou berani bergerak. Ia perlahan mengambil tempat duduk, hanya dipisahkan sebuah meja dari Yang Mulia Li Ding.
Untuk sesaat, Li Dalou merasa seluruh darah di tubuhnya mengalir ke kepala. Telinganya berdenging dan tenggorokannya terasa tercekat.
Dalam keadaan samar antara sadar dan tidak, ia mendengar suara yang melayang ke arahnya.
“Guru hendak bertanya kepadamu. Tahukah kau bagaimana cara memurnikan Pil Pencerah Hati?”
Pil Pencerah Hati?
Tiba-tiba ia mendengar nama pil yang begitu akrab hingga tak mungkin lebih akrab lagi.
Dalam sekejap, bahkan sebelum sempat berpikir, mulut Li Dalou sudah menjawab sebelum suara Yang Mulia Li Ding selesai terdengar.
“Dua bagian abu rumput penjernih hati, satu bagian serbuk bunga penenang jiwa, satu bagian getah pinus kabut, dua bagian sari beras spiritual, dua bagian air tanpa akar, api kecil selama dua jam dan dua perempat jam, lima belas, kristal roh taruh di meja kasir... Sial!”
Tubuh Li Dalou tersentak.
Mulut sialan, kenapa semua hal dibocorkan begitu saja?!
Tanpa sengaja, ia menjawab terlalu lancar!
Pil yang ditanyakan gurunya itu merupakan pil paling awal dalam Legenda Menara Pil Spiritual.
Karena itu, dalam keadaan linglung, jawabannya secara tidak sadar turut membawa kebiasaan berbicara dari Legenda Menara Pil Spiritual.
Bukan hanya resep pil yang ia jawab dengan lancar, bahkan harganya pun ikut terlontar!
Seketika, seluruh arena diliputi keheranan!
Bahkan Yang Mulia Li Ding yang duduk di hadapannya pun tak kuasa tertegun sejenak, lalu berkata sambil menahan tawa.
“Lima belas? Kristal roh ditaruh di meja kasir? Apa kau perlu membayar kristal roh untuk menjawab pertanyaan gurumu?”
“Tidak, tidak, tidak... Tidak berani, tidak berani... Murid tidak berani...”
Li Dalou hampir mati ketakutan. Secara refleks ia hendak berdiri untuk meminta maaf.
Namun sebelum sempat bangkit, ia tiba-tiba merasakan bahunya ditekan oleh sesuatu yang berat.
Yang Mulia Li Ding hanya menekan tangannya ke udara, tetapi tekanan tak kasatmata itu langsung menahan Li Dalou tetap di kursinya. Dengan penuh minat, ia berkata,
“Tidak apa-apa. Selama murid-murid sekte kita unggul dalam pelajaran, kristal roh receh semacam ini bukanlah masalah.”
Sambil berkata demikian, Yang Mulia Li Ding membalik tangannya.
Cahaya spiritual berkilat dari cincin penyimpan yang dikenakannya di ruas jari.
Pada detik berikutnya, setumpuk kristal roh pecahan telah muncul di atas meja giok putih di antara mereka.
...
Baiklah, tinggal menunggu kemenangan tanpa perlu berbuat apa-apa.
Melihat sang guru justru dengan penuh minat mengeluarkan kristal roh, Zhongli Yan di sisi arena langsung menyipitkan mata dan memejamkannya untuk beristirahat.
Sebab ia sangat tahu bahwa cambuk Kakak Seperguruan Senior hari ini sudah pasti tidak akan mengenai dirinya.
Halaman 2/3
Halaman 3/3
Bercanda, ya?!
Guru mengeluarkan kristal roh untuk orang-orang dari kelompokku?
Guru, Guru, apa kau benar-benar tidak tahu pendidikan macam apa yang diterima murid-murid dari kelompokku sehari-hari?
Bahkan jika kau tidak memberi mereka kristal roh, mereka tetap mampu menghafal seluruh resep pil yang ditentukan sampai di luar kepala!
Sekarang ditambah lagi dengan dorongan berupa kristal roh?
Mereka bahkan bisa menghafal bagian awal resep dari depan ke belakang, dan bagian akhirnya dari belakang ke depan!
Haruskah aku berbicara kepada Kakak Seperguruan Senior agar ia melepaskanku saja?
Terikat di sini juga cukup melelahkan. Lagi pula, hari ini aku sudah pasti tidak akan dicambuk.
Dengan mata masih terpejam, Zhongli Yan dengan tenang berjemur di bawah sinar matahari sambil menimbang-nimbang dalam hati.
Namun pada saat yang sama—
Sun Liangkun di sampingnya membelalakkan mata.
Ini... bagaimana mungkin?
Ia menyaksikan sendiri Li Dalou di arena menjawab pertanyaan gurunya dengan lancar. Tanya jawab berlangsung tanpa jeda sedikit pun, membuat hati Sun Liangkun dipenuhi kebingungan dan kecurigaan.
Sialan!
Saat sebelumnya aku membuat keributan di kelas Zhongli Yan, bukankah si kepala besar ini masih tampak dungu? Ia bahkan terbata-bata dan tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, benar-benar terlihat seperti orang bodoh tak berguna!
Bagaimana mungkin baru belasan hari berlalu, orang ini seakan berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda? Bahkan resep pil yang sangat sulit pun dapat diingatnya dengan begitu sempurna!
Bagaimana dia melakukannya?
Jangan-jangan dia tiba-tiba tercerahkan dalam semalam?
Untuk sesaat, Sun Liangkun diliputi kebingungan. Tatapannya pun mulai bergetar.
Tidak mungkin! Sama sekali tidak mungkin!
Di tengah kebingungannya, Sun Liangkun terus menghibur dirinya sendiri.
Mungkin Zhongli Yan hanya memberikan pelatihan tambahan secara intensif kepada sekelompok pecundang itu, dengan fokus pada teori resep pil!
Bagaimanapun, semua orang tahu bahwa dalam ujian pengajaran, soal teori resep pil memiliki porsi paling besar—jumlahnya mencapai enam soal!
Jadi, demi mengurangi jumlah cambukan yang harus diterimanya, Zhongli Yan pasti telah bekerja keras pada bagian ini!
Lagi pula, jika seluruh soal teori resep pil dijawab dengan benar, bahkan apabila murid yang menjawab itu salah semua dalam dua bagian ujian berikutnya, paling banyak Zhongli Yan hanya akan menerima empat cambukan!
Benar! Pasti begitu!
Memikirkan hal itu, Sun Liangkun mengangguk sendiri. Ia diam-diam mengakui bahwa Zhongli Yan memang licik.
Namun, itu juga bukan masalah!
Harus diketahui bahwa cambuk Kakak Seperguruan Senior, sekali mengenai tubuh, pasti akan membuat kulit robek dan daging terbelah!
Empat cambukan ya empat cambukan. Selama ia dapat menyaksikan Zhongli Yan dicambuk dengan mata kepala sendiri, ia sudah akan merasa puas!
Memikirkan hal itu, Sun Liangkun sedikit merasa tenang. Kemudian, ia kembali memusatkan pandangan ke arena.
Pada saat itu, Li Dalou telah menjawab seluruh teori resep pil dengan lancar dan mulus.
Di sisi arena, beberapa murid segera membawa keranjang bambu dangkal berisi bahan-bahan pil, serta sebuah tungku pil kecil, lalu meletakkannya di atas meja giok.
Selanjutnya, terdengarlah suara Yang Mulia Li Ding.
“Jawabanmu mengenai resep pil cukup baik. Berikutnya adalah saatnya membuktikan kemampuanmu yang sesungguhnya. Apakah kau sudah siap?”
Halaman 3/3