Bab 58: Mau Main Sesuatu yang Menarik?
Waktu sehari berlalu dengan cepat, dan keesokan harinya adalah hari keberangkatan menuju Xizhou.
Pukul tujuh pagi, tim produksi meminta kesembilan peserta membawa koper mereka dan berkumpul di ruang tamu lantai satu.
Wang Zihuan datang sambil menguap, lagi-lagi menjadi yang terakhir tiba.
Begitu semua sudah berkumpul, staf membawa sembilan kotak sandi dan meletakkannya di atas meja kopi, lalu berkata dengan suara lantang, "Sekarang, dalam waktu sepuluh menit, silakan keluarkan kartu SIM dari ponsel kalian, kemudian masukkan ponsel ke dalam kotak sandi di depan kalian masing-masing, dan atur kata sandi sendiri."
Belum sempat ada yang bertanya, staf itu melanjutkan, "Mulai sekarang, semua orang harus menggunakan ponsel yang disediakan oleh sponsor acara."
Semua langsung mengerti, lalu menggunakan alat yang diberikan untuk mengambil kartu SIM dari ponsel dan menguncinya di kotak sandi masing-masing.
Tak lama kemudian, setiap peserta menerima satu unit ponsel VOPO yang masih baru, merek yang memang sering muncul di acara hiburan dan sudah tak asing lagi.
Namun, ketika mereka memasukkan kartu SIM ke ponsel baru itu, mereka merasa seperti dijebak, karena saat dinyalakan hanya ada tiga ikon di layar.
Panggilan, pesan, dan peta.
"Apa-apaan ini, cuma bisa telepon dan kirim pesan?" tanya Jiang Zi frustrasi kepada staf.
"Benar sekali, karena selama empat hari di Xizhou, kalian tidak boleh menggunakan aset pribadi untuk bertransaksi, jadi silakan serahkan semua kartu dan uang tunai yang kalian bawa. Kami akan menyimpannya untuk kalian," jelas staf itu.
"Jadi makan dan minum ditanggung bersama?" Mata Wang Zihuan langsung berbinar.
"Bukan, kalian harus mencari uang sendiri."
Tanda tanya besar muncul di wajah para peserta.
Akhirnya, di bawah pengawasan staf, semua orang mengosongkan dompet dan kantong mereka. Sebagian besar memang tidak membawa banyak uang tunai, maklum, zaman sekarang semua serba kode QR.
Tapi ada pengecualian. Tong Ling membuka koper besarnya, lalu mengeluarkan sepuluh ikat uang seratus ribuan dari lapisan tersembunyi.
Semua mata langsung terbelalak menatapnya. Pipinya pun memerah saat ia berkata, "Ini uang diselipkan ayahku sebelum berangkat, katanya buat jaga-jaga kalau ponselku hilang."
Wang Zihuan menarik napas dalam-dalam, lalu bertanya dengan serius, "Omong-omong, apakah ayahmu masih butuh anak laki-laki?"
Hanya untuk dana cadangan saja sudah sepuluh juta, benar-benar putri konglomerat.
Semua orang di ruangan itu tertegun sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Wang Zihuan.
Tong Ling yang awalnya canggung juga ikut tertawa, lalu melemparkan pandangan genit pada Wang Zihuan, "Bukan butuh anak laki-laki, tapi menantu. Mau coba? Setiap bulan kukasih uang saku sepuluh juta."
"Kalau begitu sama saja jadi karyawan dong." Wang Zihuan buru-buru menggeleng, "Kerja? Tidak mungkin. Seumur hidup aku tak mau kerja begitu."
Percakapan mereka lagi-lagi membuat semua yang hadir terhibur, ruang tamu pun dipenuhi gelak tawa.
Hanya Han Shaochen yang tidak menampakkan banyak reaksi, menatap datar interaksi antara Wang Zihuan dan Tong Ling.
Setelah semua barang berharga dikumpulkan, staf mendokumentasikan dengan video dan mencatat semuanya, lalu bertanya sekali lagi, "Ada lagi dana cadangan yang lupa diserahkan? Selama perjalanan kami akan mencatat semua pengeluaran, jika ketahuan menyimpan uang, atau ada selisih, maka akan dipotong dari nilai akhir."
Semua orang tetap tenang, seolah memang tidak ada dana cadangan lagi.
Melihat tidak ada yang menanggapi, staf pun hendak melanjutkan ke pengumuman berikutnya. Namun tiba-tiba, sebuah suara terdengar.
"Eh... kayaknya aku masih punya dana cadangan yang kelupaan."
Wang Zihuan mengangkat tangan, lalu di bawah tatapan semua orang, ia mengeluarkan uang dua ratus ribu dari kaus kakinya.
"Ha ha ha ha...," Jiang Zi tak bisa menahan tawa, lalu menepuk pahanya, "Kamu ini lucu sekali!"
Setelah semua selesai, staf kembali mengambil alih, lalu dengan suara lantang mengumumkan, "Selanjutnya, tentang misi utama perjalanan ke Xizhou kali ini, mohon didengarkan baik-baik."
Semua pun memasang telinga menunggu instruksi.
"Nanti, setiap grup bisa mengambil modal awal sebesar tiga ratus ribu untuk perjalanan ke Xizhou. Kalian bebas memilih moda transportasi ke tujuan, grup yang tiba lebih dulu berhak memilih kostum zaman dulu yang sudah kami siapkan dan boleh langsung masuk babak kedua."
"Untuk grup yang berisi tiga orang, modalnya empat ratus lima puluh ribu."
Staf itu meletakkan kartu instruksi, lalu menambahkan, "Sedikit petunjuk, makan siang hari ini juga harus kalian atur sendiri, jadi tolong rencanakan keuangan dengan baik."
"Serius, makan siang juga gak disediakan?" Jiang Zi mengeluh.
"Lalu, bagaimana dengan akomodasi?" tanya Zhang Yankang menyoroti hal penting.
"Itu disediakan. Nanti setelah tiba di Xizhou, petugas di sana akan menjelaskan detailnya."
Mendengar jawaban itu, mereka merasa pasti ada sesuatu yang disembunyikan.
Tong Ling pun bertanya, "Boleh pakai mobil pribadi?"
"Boleh, tapi kami akan menaksir biaya bensin di mobil kalian, dan bila melebihi tiga ratus ribu, kelebihannya akan kami simpan."
Hal itu langsung menggugurkan niat beberapa orang untuk membawa mobil sendiri. Jarak dari Shenhai ke Xizhou memang tidak terlalu jauh, sekitar seratus kilometer lebih sedikit. Tiket kereta cepat seharga tujuh puluh lima ribu, waktu tempuh satu jam enam menit, sedangkan kereta biasa dua puluh tiga ribu lima ratus dengan waktu perjalanan dua jam delapan menit. Tiket bus lima puluh delapan ribu, waktu tempuh dua hingga tiga jam.
Dari Vila Kasih ke Stasiun Kereta Shenhai, naik taksi butuh sekitar empat puluh menit dengan ongkos tujuh puluh ribu, naik metro lima puluh menit dengan tarif empat ribu per orang, dan sama saja jika menuju terminal bus.
Jika mengendarai mobil dengan kecepatan rata-rata seratus dua puluh kilometer per jam, dari Vila Kasih ke Xizhou tetap butuh sekitar tiga jam, jadi tak ada keunggulan waktu. Biaya tol dan bensin juga akan memakan sekitar tiga ratus ribu.
Namun, pada kenyataannya, jalan tol di Tiongkok berbeda dengan di negeri lain.
Di sini tidak ada batas kecepatan!
Jadi waktu tempuh hanya bergantung pada seberapa dalam kaki menginjak pedal gas.
Tapi jangan lupa, uang itu juga harus digunakan untuk makan siang, mungkin juga makan malam.
Membawa mobil sendiri jelas bukan keputusan bijak.
Melihat tidak ada yang bertanya lagi, staf menepuk tangan dan berkata lantang, "Sekarang pukul tujuh tiga puluh lima, tepat pukul delapan kalian bisa berangkat dari sini. Seluruh perjalanan akan didokumentasikan, jadi mohon tentukan moda transportasi sebelum pukul tujuh lima puluh agar kami bisa mengatur kru kamera. Terima kasih atas pengertiannya."
"Dan ingat, keputusan kalian harus dirahasiakan dari grup lain!"
Begitu kelompok sudah terbentuk, semua orang langsung berpencar mencari tempat untuk berdiskusi.
Wang Zihuan awalnya ingin naik metro lalu lanjut kereta cepat, jadi dua orang hanya menghabiskan seratus empat puluh sembilan ribu, dan masih ada sisa seratus lima puluh satu ribu untuk makan siang dan malam.
Itu juga strategi sebagian besar peserta karena paling efisien.
Tapi akhirnya ia mengurungkan niat.
"Aku ini harus jadi pusat perhatian, mana boleh pilih cara biasa begini," pikir Wang Zihuan.
Dia menoleh ke Tong Ling, lalu bertanya, "Mobilmu apa?"
"Porsche 911, Turbo S," jawab Tong Ling, matanya penuh tantangan.
Memang wanita ini sultan...
"Berani coba sesuatu yang seru?" Wang Zihuan tersenyum nakal.
Tong Ling bukannya takut malah makin tertarik, "Mau bagaimana?"
"Kita bawa mobil, salip kereta cepat."