Bab 50: Namanya Ayi, Bukan Bibi
Keluar dari area kantor tim produksi, Wang Zi Huan terus mencerna informasi yang baru didapatnya. Walau pertemuan ini tak berlangsung lama, isinya sangat padat. Soal program hiburan baru itu memang di luar dugaannya, tetapi jika ada peluang untuk meraih ketenaran dan keuntungan sekaligus, tentu saja ia tak akan menolaknya. Apalagi, jika ingin Li Wan Xin memutus kontrak dengan perusahaannya saat ini, kemungkinan denda pelanggaran kontraknya bakal mendekati angka yang tak kecil, sedangkan uang yang ia miliki sekarang bahkan belum mencapai lima puluh ribu yuan.
Jadi, ini jelas merupakan kesempatan emas yang tak boleh dilewatkan.
Hal kedua, ternyata studio rekaman yang disarankan oleh Yu Man memang milik Pei Qian Yi. Awalnya, Wang Zi Huan ingin mencari tempat lain setelah mendengarnya, namun Yu Man memberitahu bahwa di Shenhai, biaya rekaman satu lagu saja yang normal paling sedikit sekitar seribu yuan, belum termasuk proses mixing dan tuning. Mungkin jika lewat Pei Qian Yi, ia bisa mendapat potongan harga.
Sebagai seseorang yang berpegang pada prinsip, Wang Zi Huan tanpa ragu mengangguk dan meminta Yu Man membantu menghubungi Pei Qian Yi.
Siapa sangka, begitu Pei Qian Yi tahu, ia langsung mengatakan tak perlu membayar. Wang Zi Huan agak sungkan, tetap memaksa ingin membayar, akhirnya Pei Qian Yi menyerah dan berkata cukup tiga ratus yuan saja sebagai tanda jadi.
Dengan demikian, Wang Zi Huan pun menaiki mobil tuanya dan meluncur menuju studio rekaman milik Pei Qian Yi.
Tepat pukul satu siang, Wang Zi Huan tiba di studio rekaman “Qian Qian Jing Ting” yang terletak di lingkar keempat kota Shenhai. Pei Qian Yi sudah menunggunya di resepsionis dengan senyum di wajahnya, sepasang kaki jenjang yang dibalut celana jeans tampak sangat menarik perhatian.
“Kemarin aku sudah ingin bilang, kenapa kamu tiba-tiba ganti gaya seperti ini?” tanya Pei Qian Yi sambil berdiri tegak menatap Wang Zi Huan.
“Melihat Kakak saja, aku jadi berdebar,” jawabnya bercanda, lalu mereka pun berjalan masuk bersama.
“Sekarang sudah mulai terkenal, jadi harus jaga penampilan, ada beban idola, dong.”
Wang Zi Huan menyebutkan alasan asal-asalan, lalu berbalik bertanya, “Kenapa Kak Pei kepikiran buka studio rekaman?”
Pei Qian Yi tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadapnya. Wang Zi Huan yang tak menduga, hampir saja menabraknya.
“Ada apa, Kak?” tanya Wang Zi Huan tak mengerti.
Pei Qian Yi menatapnya yang agak oleng lalu tertawa, “Bisakah kamu ganti panggilan? Aku sudah bosan dipanggil Kak Pei terus.”
“Baik, Kak Pei,” Wang Zi Huan mengangguk penuh kepastian.
Pei Qian Yi hanya bisa menghela napas. Pemuda ini rupanya meniru trik yang biasa ia pakai ke Zhang Yan Kang.
“Kalau kamu mau ganti panggilan, aku kasih kamu kartu VIP hitam studio ini. Diskon dua puluh persen selamanya.”
“Baik, Mama.”
“Mau mati, ya?” Pei Qian Yi langsung mencubit telinga Wang Zi Huan dengan keras.
“Aduh, jangan begitu, aku cuma bercanda!” Wang Zi Huan meringis kesakitan, buru-buru memohon ampun.
“Ganti sekarang, atau...” Pei Qian Yi makin mengencangkan cubitannya.
“Pei Jie?” “Qian Jie?” “Yi Jie?”
Wang Zi Huan mencoba beberapa panggilan, tapi telinganya tak kunjung dibebaskan.
“Tidak bisa panggilan yang lebih muda sedikit?” tanya Pei Qian Yi.
“Eh... A... Yi?”
Akhirnya, Wang Zi Huan merasakan telinganya kembali bebas. Ia menarik napas lega.
Pei Qian Yi berbalik melangkah ke depan, “Kelihatannya kamu memang tak punya ide lain, ya sudah, pakai itu saja.”
Wang Zi Huan mengusap telinganya sambil menahan senyum geli di belakangnya. Apakah kakak ini tidak sadar kalau “A Yi” terdengar mirip seperti “bibi”?
Namun Pei Qian Yi yang membelakanginya justru mengangkat alis dengan elegan, senyum nakal dan genit terlukis di wajahnya.
“Panggilan ‘bibi’ ini lumayan menggoda juga...” pikirnya.
Setelah berjalan beberapa saat, Wang Zi Huan melihat dinding penuh foto, di mana banyak selebriti berfoto bersama Pei Qian Yi di studio tersebut.
“Qian... eh, A Yi, studio rekamanmu ini sudah lama berdiri ya?”
“Sudah enam tahun. Sebagian besar uang yang aku hasilkan, aku tanamkan di sini,” jawab Pei Qian Yi dengan nada bangga. “Tempat ini sudah bisa dibilang salah satu studio rekaman terbaik di Shenhai.”
“Menghasilkan banyak uang?”
“Tidak juga. Seringkali aku kasih harga teman. Tadi kamu tanya kenapa ingin buka studio seperti ini, sebenarnya karena aku sangat suka musik dan bernyanyi. Selalu ingin melakukan sesuatu yang berkaitan dengan musik.”
“Di sini, setiap hari aku bisa mendengar banyak orang bernyanyi. Ada yang merdu, ada yang fals, ada yang pamer teknik, tiap orang punya cara sendiri memahami musik. Mereka juga sering berbagi cerita musik denganku. Itu membuatku merasa rileks, bebas.”
Sambil bicara, Pei Qian Yi membuka satu pintu, di dalamnya terdapat ruang kontrol utama yang luas dengan peralatan lengkap. Beberapa langkah ke dalam, tampak ruang rekaman mewah dengan panjang lima meter, penuh alat musik seperti piano, gitar, drum, dan lain-lain.
Ternyata studio ini memang menghabiskan banyak biaya... pikir Wang Zi Huan.
“Mau rekam yang mana dulu, ‘Summer’?” tanya Pei Qian Yi.
“Ya,” jawab Wang Zi Huan, lalu duduk di depan piano. Ia membiarkan jemarinya menyapu tuts, melodi pun mengalun dengan suara yang sangat indah, jelas harganya mahal.
“Kalau begitu, aku keluar dulu. Beri isyarat kalau sudah siap,” kata Pei Qian Yi sebelum menutup pintu.
Di ruang kontrol, ia memperhatikan jemari Wang Zi Huan yang menari di atas tuts piano dengan anggun dan bebas.
Mendengarkan musik dari headphone, Pei Qian Yi tiba-tiba teringat potongan lirik yang dinyanyikan Wang Zi Huan saat kencan,
“Aku akhirnya mengembalikan masa mudaku padanya
Bersama musim panas yang mengalun dari ujung jariku.”
“Mungkinkah lagu ini juga punya kisah di baliknya?” Pei Qian Yi bertanya dalam hati.
Lagu “Summer” berhasil ia rekam dalam sekali percobaan, tanpa kesalahan.
Mereka pun berlanjut merekam lagu “Putar Kembali”. Untuk versi resmi, tentu tidak cukup hanya dengan piano, tapi juga gitar, drum jazz, shaker, lonceng, dan lain-lain. Dari semua alat musik itu, Wang Zi Huan hanya bisa piano.
“Mau pakai musisi profesional untuk rekaman asli, atau pakai MIDI saja?” tanya Pei Qian Yi sambil melihat partitur.
Keyboard MIDI adalah papan tuts yang hanya mengirimkan sinyal midi, tanpa suara sendiri, bisa disambungkan ke perangkat suara lain atau software untuk menghasilkan suara alat musik. Intinya, bisa meniru suara berbagai instrumen.
Wang Zi Huan berpikir sejenak, “Kita coba rekam demo dengan MIDI dulu saja.”
Tentu ia tahu suara MIDI tak bisa menandingi alat musik asli, tapi rekaman langsung terlalu merepotkan. Lebih baik coba dulu dengan MIDI, lihat hasilnya.
“Baik,” Pei Qian Yi mengangguk.
Ada teknisi profesional di studio, jadi prosesnya cepat. Tak lama, aransemen “Putar Kembali” pun selesai dibuat.
Wang Zi Huan mendengarkan sekali, merasa cukup bagus, lalu membawa partitur masuk ke ruang rekaman dan mulai menyanyi.
Namun setelah beberapa kali, ia tak juga puas. Masalahnya, nyanyiannya terasa kurang emosi.
Kemampuan yang ia dapat dari sistem hanyalah “teknik bernyanyi”, tidak termasuk bagaimana melibatkan perasaan.
Sementara “Putar Kembali” sangat menekankan emosi saat dinyanyikan. Hasil nyanyiannya terasa kurang greget dibanding versi aslinya.
Orang-orang di dunia ini memang belum pernah mendengar lagu ini, jadi mungkin tak merasa ada yang kurang. Tapi Wang Zi Huan tahu, sebagai koki yang selalu menghormati setiap bahan makanan, kini ia menjadi pencipta lagu, tetap menjaga prinsip yang sama.
Tentu saja, alasan utamanya adalah jika lagunya bagus, ia akan mendapat bayaran lebih besar, sebab sistem bagi hasil.
“Kenapa aku waktu itu milih lagu ini, apa otakku kemasukan air?” gumamnya sambil mengernyit.
“Ada apa? Menurutku sudah bagus, apa yang kurang?” tanya Pei Qian Yi sambil melepas headphone.
Wang Zi Huan hendak menjelaskan, tapi mendadak teringat sesuatu. Dulu ia memilih lagu ini karena mendengar cerita Pei Qian Yi, ingin membuatnya terharu dan jadi bahan pembicaraan, tapi gagal.
“Benar juga, waktu itu aku memang nyanyi buat kamu,” katanya sambil menepuk tangan. “Qian... eh, A Yi, kalau sekarang mau mengajak kamu duet, harus bicara dengan manajermu dulu?”
“Tidak perlu. Kontrakku dengan Kang Chen sudah habis kemarin. Alasanku ikut ‘Cinta Satu Hati’ adalah sebagai syarat agar Kang Chen Entertainment mau melepas aku. Sekarang kamu bisa langsung bicara denganku.”
Pei Qian Yi memandang Wang Zi Huan dengan tatapan lembut dan penuh pesona, “Jadi kamu mau aku nyanyi ‘Putar Kembali’?”
“Benar.”