Bab 32: Ingatlah untuk Mengoleskan Obat pada Pria Milikmu!
Pada kehidupan sebelumnya, kesehatannya memang selalu buruk. Meski sudah berulang kali menjalani pengobatan, kondisinya tidak kunjung membaik, sehingga ia hanya bisa bertahan hidup dengan sisa-sisa tenaga.
Sebelum ia sempat berkata apa-apa, anak kecil dalam dekapannya menggumam dengan linglung, "Papa!"
Shen Tang buru-buru menunduk.
"Xiao Guai, kau sudah bangun?"
Xiao Guai mengangguk kecil, jari mungilnya menunjuk ke arah pria itu, "Mama, Papa datang."
Kakek dokter yang memeriksa mereka melirik Xiao Guai, lalu mengikuti arah telunjuk anak itu ke arah pria tersebut, dan terakhir pandangannya tertuju pada Lu Zhuo. Keduanya tampak seperti pinang dibelah dua.
"Kau suaminya?"
"Bagaimana kau menjaga istrimu sampai tubuhnya selemah ini? Padahal kau sendiri tampak bugar sekali... Tapi kulihat dari raut wajahmu, kau pun sepertinya bukan orang yang berumur panjang..."
Kakek itu terus mengoceh hingga pembicaraannya melantur entah ke mana. Untungnya, setelah memanggil, Xiao Guai kembali memejamkan mata di pelukan ibunya karena masih mengantuk.
Shen Tang menyentuh kening anak itu, lalu berbisik pada sang dokter, "Anda salah paham, dia bukan suami saya."
"Anak ini anakmu, bukan?"
Shen Tang mengangguk tanpa sadar.
"Kalau begitu dia suamimu. Jangan kira kakek tua ini sudah pikun, mataku masih awas!" Kakek itu membelalakkan mata ke arah Shen Tang, "Apa kau tidak berniat memulihkan kondisi tubuhmu?"
Shen Tang tentu ingin memulihkannya sesegera mungkin. Di kehidupan ini, ia ingin hidup dengan baik bersama anak-anaknya dan menciptakan lingkungan yang layak bagi mereka. "Saya ingin, Dokter."
Sambil berkata demikian, Shen Tang menyodorkan pergelangan tangannya.
Namun, kakek itu tidak langsung memeriksa nadinya. Ia malah berjalan ke belakang Lu Zhuo dan mencabut jarum yang tertancap di tubuh pria itu. Setelah membersihkan lukanya, ia melemparkan sekotak salep kepada Shen Tang, "Kau yang oleskan salep ini padanya, aku mau mengambil sesuatu dulu."
Shen Tang menatap salep di tangannya, lalu mendongak menatap pria itu. Karena ia duduk di kursi kecil, sudut pandangnya tepat tertuju pada otot perut pria itu yang bidang. Wajahnya seketika terasa panas membara, dan ia tidak tahu harus menaruh pandangan di mana.
Dengan suara rendah, ia berkata, "Dia sepertinya salah paham."
Lu Zhuo menatap telinga Shen Tang yang memerah, lalu terkekeh pelan dan meraih kemeja di sampingnya untuk disampirkan ke bahu.
Shen Tang bertanya spontan, "Bagaimana dengan lukamu?"
"Tidak akan mati."
Saat Shen Tang hendak mengembalikan salep itu, terdengar suara dari luar, "Kak Lu! Kau di dalam?"
"Sayuran milik Shen Tang sudah habis terjual, aku datang untuk mengembalikan... uangnya." He Jun masuk ke dalam ruangan dan tertegun sejenak saat melihat orang-orang di halaman. "Shen Tang, kenapa kalian ada di sini?"
Shen Tang melirik putrinya, "Xiao Guai sedang demam."
He Jun mengangguk, "Oh, begitu."
Ia melirik Lu Zhuo yang kancing bajunya belum terpasang rapi, lalu beralih ke wajah Shen Tang yang tampak masih bersemu merah. Saat masuk tadi, tangan Shen Tang masih terangkat, membuat He Jun berkata, "Ah, aku tidak tahu apa-apa, silakan dilanjutkan saja."
Apa-apaan ini?
Shen Tang bertanya, "Apa maksudmu tadi? Apa hubungannya dengan sayuran yang kujual?"
"Uhuk, uhuk."
Sebelum He Jun sempat menjawab, suara batuk berat terdengar. He Jun melirik Lu Zhuo, lalu menggeleng, "Tidak ada apa-apa, lupakan saja!"
Sikapnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa tidak terjadi apa-apa. Karena pria itu enggan bicara, Shen Tang tidak mengejarnya lagi. Ia melihat salep di tangannya dan berkata, "Dokter minta aku mengoleskan obat ini padanya. Kau temannya, kau saja yang oleskan."
He Jun bahkan belum sempat bereaksi ketika melihat tatapan dingin Lu Zhuo, ia buru-buru menggeleng, "Aku tidak mau."
"Aku baru ingat ada urusan, aku pergi dulu." He Jun berhenti melangkah sebentar, "Oh iya, Shen Tang, soal wawancara dan bonus itu, itu adalah saran dari Kak Lu kepada atasan. Ingatlah untuk berterima kasih padanya."
"Satu lagi, aku datang untuk mengembalikan uangnya. Kak Lu khawatir sayuranmu tidak habis terjual, jadi dia memintaku untuk membelinya semua."
Setelah mengatakan itu, ia langsung lari terbirit-birit.
Suasana di halaman menjadi hening.
"Tak kusangka kau masih memedulikan istrimu," suara kakek dokter terdengar dari belakang. Melihat salep yang masih di tangan Shen Tang, ia bertanya, "Kenapa belum dioleskan?"
Shen Tang merasa canggung saat bertemu pandang dengan pria itu, "Aku harus memberi anakku minum obat dulu."
"Oh, ya sudah. Setelah memberi obat, serahkan anak itu pada suamimu dan ikut aku ke dalam." Sang dokter masuk kembali ke dalam rumah.
Di halaman kini hanya tersisa keluarga Shen Tang dan pria itu.
Shen Tang dengan lembut membangunkan Xiao Guai dan menyuapinya obat dengan cangkir teh. Ramuan itu dicampur madu sehingga rasanya tidak pahit, dan si kecil langsung menghabiskannya dalam sekali teguk.
Setelah minum, si kecil menjilat bibirnya, "Mama, manis."
Shen Tang tersenyum, "Lain kali kalau merasa tidak enak badan, bilang pada Mama, ya? Kau juga, Xiao Pei."
Kedua anak itu mengangguk serentak.
Lu Zhuo memperhatikan pemandangan itu, tatapan matanya yang dalam sulit ditebak. Xiao Guai yang tadinya lemas karena terlalu lama tidur, kini merasa sedikit lebih segar meski masih lesu. Saat melihat Lu Zhuo di sampingnya, matanya membelalak, "Papa! Aku tidak sedang bermimpi, kan?"
Wajah kecilnya yang memerah tampak kebingungan.
Shen Tang baru menyadari pria itu sudah berada di depannya tanpa ia sadari, "Kau belum pergi?"
Pandangan Lu Zhuo tertuju pada tangan Shen Tang.
Shen Tang baru sadar salep itu masih ada di tangannya. Ia merasa kesal pada diri sendiri karena melakukan hal konyol, lalu buru-buru hendak memberikan salep itu. Tak disangka, pria itu tiba-tiba menunduk.
Ia mengulurkan tangan ke arah Xiao Guai, "Papa gendong?"
Xiao Guai menjulurkan tangannya.
Saat pria itu mendekat, tercium aroma sabun yang bersih. Shen Tang merasa aroma itu tidak asing, namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, pria itu sudah mengangkat Xiao Guai dan berdiri.
"Kau tidak jadi berobat?"
Shen Tang buru-buru berdiri, namun kakek dokter memintanya duduk kembali dan meletakkan bantalan empuk di bawah pergelangan tangannya.
Sambil memejamkan mata memeriksa nadi, dokter itu berkata, "Saat melahirkan dulu, kau tidak menjalani masa pemulihan dengan benar, ya?"
"Apalagi kau melahirkan anak kembar, itu sangat menguras fisik ibu. Seharusnya kau merawat diri dengan baik agar bisa pulih. Tapi lihat dirimu, sepertinya kau sama sekali tidak memperhatikan kesehatanmu..."
Sambil berkata demikian, dokter itu kembali mengomel pada Lu Zhuo yang berdiri di ambang pintu, "Sebagai pria dewasa, selain memikirkan karier, kau juga jangan mengabaikan keluarga. Kalau isi rumah sudah tidak ada lagi, buat apa karier yang sukses?"
Shen Tang memang tidak menjalani masa pemulihan setelah melahirkan, namun hal itu tidak ada hubungannya dengan pria lain. Menyadari dokter itu salah paham lagi, ia buru-buru mengalihkan pembicaraan, "Dokter, saya ingin memulihkan kondisi tubuh saya. Menurut Anda, bagaimana cara terbaik untuk melakukannya?"
"Aku akan meresepkan obat. Kondisi tubuhmu tidak bisa langsung diberi suplemen yang terlalu keras, nanti tidak akan terserap..."
Mendengar dokter itu teralihkan perhatiannya, Shen Tang merasa lega. Bagaimanapun, pria itu adalah penolongnya. Seperti yang dikatakan He Jun, pria ini berwajah dingin namun berhati hangat, dan telah banyak membantunya.
Setelah dokter memeriksa nadinya, Shen Tang meminta Xiao Pei juga diperiksa. Xiao Pei tidak memiliki masalah kesehatan yang berarti, hanya saja ia dan Xiao Guai memang terlihat terlalu kurus.
Saat dokter menatap pria itu lagi, Shen Tang takut ia akan kembali menyinggung soal istri dan anak, jadi ia buru-buru berkata, "Saya akan pulang dan memastikan mereka mendapatkan nutrisi yang cukup."
"Termasuk dirimu sendiri!"
Shen Tang mengangguk dengan semangat.
Akhirnya, setelah membayar obat dan bersiap untuk pergi, kakek dokter itu berpesan agar ia kembali lagi setiap minggu.
"Satu lagi, jangan lupa oleskan obat untuk suamimu!"
Shen Tang hanya bisa terdiam.
Begitu keluar dari rumah dokter, suasana di sekitar mendadak sunyi, namun keberadaan pria di sampingnya tak bisa diabaikan. Bayangan tubuh pria itu jauh lebih tinggi daripada bayangannya sendiri.
Shen Tang pun berhenti melangkah.