Bab Empat Puluh Lima: Pria yang Terjebak dalam Pikiran Sendiri
Setibanya di aula utama kelab malam, kami baru saja duduk ketika beberapa pria tampan berjalan mendekat dan mulai menyapa kami. Namun sebelum sempat bicara, mereka tiba-tiba menjerit ngeri, terjatuh ke lantai sambil berteriak ada hantu, lalu lari ketakutan seolah nyawa mereka terancam. Orang-orang di sekitar pun mengira mereka sedang gila.
Memang benar ada hantu, karena mereka melihat Fu Siyang.
Fu Siyang akhirnya pulih, membuatku cukup bersemangat. Aku hendak membuka mulut, namun ia sudah menatap Miao Xiao dengan marah, “Aku sudah mempercayakan Tiantian padamu, tapi kau justru membawanya ke tempat seperti ini.”
“Ada apa kalau ke tempat seperti ini, memangnya salah?” balas Miao Xiao tak kalah tajam.
“Tentu saja salah.” Fu Siyang langsung memelukku, lalu berkata pada Miao Xiao, “Kau membiarkannya pakai baju terbuka ke tempat seperti ini. Untung aku datang tepat waktu, kalau dia sampai tertipu bagaimana? Lagi pula, dia wanita milikku, lelaki mana pun tak boleh menyentuhnya.”
Ucapannya membuat wajahku seketika memerah, jantungku berdebar keras.
Wajah Miao Xiao sempat tampak getir, namun segera kembali datar. “Kami ke sini untuk menyelidiki Li Feifei. Kalau kau tak mau membantu, pergilah saja, jangan ganggu urusan kami.”
Fu Siyang tak menggubris Miao Xiao, ia menunduk memandangku lembut, “Kau sungguh cantik.”
Pipiku terasa panas.
Belum sempat aku membalas, Fu Siyang langsung menciumku, lalu berkata pelan dengan nada agak kesal, “Jangan pernah pakai pakaian terbuka di depan orang lain, nanti kalau ada lelaki lain yang membawamu pergi, aku bagaimana?”
“Jangan bicara ngaco,” sahutku sambil meliriknya.
“Aku serius, benar-benar.” Ucap Fu Siyang dengan penuh keyakinan, “Kau milikku, jadi aku harus membuat aturan: selain denganku, kau tak boleh dekat dengan pria mana pun. Bicara boleh, tapi jangan sampai mereka menyentuhmu, bergandengan tangan pun tidak.”
Ucapannya membuatku agak kesal, aku juga punya dunia sendiri, dia terlalu ikut campur.
Aku malas menanggapi, lalu menoleh ke arah Miao Xiao, tapi ternyata ia sudah entah ke mana. Aku melirik sekeliling aula, namun tak menemukannya.
“Tenang saja, kita tunggu saja dia di sini,” kata Fu Siyang, lalu melepaskan pelukannya.
Orang-orang di sekitar sibuk minum dan bersenang-senang, tak ada yang sadar aku berbicara dengan udara. Kalau mereka tahu, pasti sudah lari tunggang langgang.
Aku memejamkan mata, ingin beristirahat sejenak, namun sadar Fu Siyang terus menatapku dengan senyum nakal di wajahnya.
“Sudah lama, belum cukup juga kau menatapku?” ujarku pasrah.
“Seumur hidup pun tak akan pernah cukup,” balasnya dengan senyum bandel.
Ia kembali mengulurkan tangan hendak memelukku, namun aku menghindar. “Sudahlah, sekarang yang terpenting itu menyelidiki urusan Li Feifei. Aku ingin tahu, benarkah yang dikatakan Du Shengming sebelum meninggal?”
Mendengar itu, Fu Siyang baru berhenti bercanda, namun matanya tetap tak lepas dariku.
Aku pura-pura tak memperhatikan, lalu mengamati aula kelab malam.
Tak lama kemudian, Miao Xiao turun dari tangga lantai dua, berjalan lurus ke arah kami, lalu duduk dan berkata, “Aku sudah bertanya pada beberapa pelayan. Dari mereka, aku tahu sesuatu yang berkaitan dengan Li Feifei.”
“Apa itu?” tanyaku penasaran.
“Kasus bunuh diri yang terjadi setahun lalu di kelab malam ini.” Wajah Miao Xiao tampak semakin serius. “Malam itu, seorang gelandangan masuk dari luar, kebetulan melihat Li Feifei sedang bermesraan dengan seorang bos di koridor. Entah apa yang terjadi kemudian, gelandangan itu melompat dari jendela dan langsung tewas.”
“Apa hubungannya dengan Li Feifei?” aku bertanya-tanya.
“Tentu ada,” jelas Miao Xiao. “Saat gelandangan itu melompat, Li Feifei ada di tempat kejadian. Apa yang terjadi waktu itu, hanya Li Feifei yang tahu. Setelah kejadian itu, Li Feifei cuti sebulan, dan bos itu langsung pergi ke luar provinsi, tak pernah kembali.”
“Mungkin karena suatu alasan, Li Feifei dan bos itu membunuh gelandangan itu,” Fu Siyang menebak.
“Itu juga yang dikatakan semua orang,” Miao Xiao menghela napas. “Sayangnya, karena kurang bukti, polisi akhirnya harus membebaskan Li Feifei dan bos itu.”
Kami pun tak berlama-lama di kelab malam. Begitu masuk mobil, Fu Siyang langsung memelukku erat, seakan takut aku direbut orang, dan itu membuatku pasrah.
“Selanjutnya kita harus menyelidiki Dong Yu,” Miao Xiao menyalakan mobil, tampaknya tak mau melihat aku dan Fu Siyang, ia langsung menutup tirai agar kami tak terlihat dari depan.
Aku jadi merasa seperti sedang berselingkuh saja.
Tak lama, Miao Xiao menghentikan mobil di sebuah gang kecil. Begitu turun, aku melirik ke dalam gang, terlihat rumah-rumah rendah berjajar, di depan pintu berdiri beberapa perempuan berpakaian seksi dengan riasan tebal, menyapa para lelaki yang lewat, sengaja berpose genit.
Mereka adalah wanita penghibur jalanan.
“Dong Yu dia…” aku ragu berkata.
“Benar, dia wanita penghibur jalanan, diam-diam bekerja seperti ini tanpa sepengetahuan keluarganya,” kata Miao Xiao dengan nada jijik. “Aku sangat tak suka perempuan yang tak menghargai diri sendiri.”
Wajah Miao Xiao menunjukkan rasa muak.
Padahal banyak yang terpaksa memilih jalan ini demi bertahan hidup. Aku sendiri besar di panti asuhan, tahu betul artinya hidup susah.
“Kalian saja yang cari tahu soal Dong Yu, aku tunggu di mobil,” ujar Miao Xiao, lalu kembali ke dalam mobil.
Mau tak mau aku melangkah ke depan, namun baru beberapa langkah, sebuah mobil polisi melaju mendekat. Para wanita di depan pintu buru-buru lari masuk dan mengunci pintu rapat-rapat. Polisi yang turun tampak sudah bersiap, tapi tak menangkap seorang pun.
“Kau sedang apa di sini?” tanya polisi itu padaku.
“Kami hanya lewat,” jawabku.
Kupikir polisi itu pasti tahu banyak soal gang ini. Maka aku memberanikan diri bertanya, “Pak, apakah Anda mengenal seorang gadis bernama Dong Yu? Saya temannya. Belakangan ini dia meninggal, dan saya merasa ada kejanggalan, jadi ingin mencari tahu.”
“Aku tahu Dong Yu, dia juga terlibat dalam sebuah kasus,” jawab polisi itu sambil mengerutkan kening.
Ternyata benar ia tahu.
Aku buru-buru bertanya, “Kasus apa yang melibatkan Dong Yu?”
Setelah ragu sejenak, polisi itu akhirnya bicara, “Tahun lalu, musim dingin, seorang anak berumur sebelas atau dua belas tahun diam-diam keluar untuk membeli camilan dan tertabrak mobil. Sebenarnya, anak itu masih bisa diselamatkan, tapi pelaku tabrak lari itu tak menolong dan malah kabur. Anak itu meninggal sebelum sampai rumah sakit. Kami terus menyelidiki kasus ini, namun karena tak ada kamera pengawas dan saksi mata, penyelidikan sangat sulit. Sampai bulan lalu kami baru bisa mengarah ke Dong Yu dan hendak menangkapnya, namun ia sudah meninggal. Setelah itu, kasus ini pun tak berlanjut.”
Ternyata benar, Dong Yu juga memikul nyawa seseorang.
Polisi itu tak berkata banyak dan segera pergi.
“Menurutku tak perlu lagi diselidiki,” ujar Fu Siyang dingin. “Tak peduli apakah Dewa Kematian memang membunuh orang-orang yang pantas mati, ia tak berhak mencabut nyawa siapa pun. Ia sudah membunuh banyak orang, aku harus menagkapnya dengan tanganku sendiri.”
“Benar,” Miao Xiao mengangguk, lalu berkata pada Fu Siyang, “Aku dan Tiantian berbeda tujuan denganmu. Kau ingin menangkap Dewa Kematian, kami ingin menemukannya demi melindungi Tiantian. Bisa jadi dia sewaktu-waktu akan menyerang Tiantian.”
“Itu kan sama saja?” Wajah tampan Fu Siyang tampak kesal. “Jelas-jelas kau hanya ingin memisahkan aku dan Tiantian.”
Ucapan itu membuat aku dan Miao Xiao terdiam, Fu Siyang benar-benar keras kepala! Padahal Miao Xiao hanya bilang tujuan kami berbeda, tapi dia malah menuduh Miao Xiao mau memisahkan aku dari dirinya.
Miao Xiao akhirnya tak tahan dan tertawa terbahak-bahak.
Sementara aku, pipiku terasa panas.
Miao Xiao berkata dia akan menyelidiki sendiri urusan Zhuang Xiaoman dan Zhao Ruoyu, sementara aku diminta pulang agar Ibu Fu tidak khawatir.
Aku mengangguk, lalu memesan taksi online dan pulang ke villa.
Begitu masuk, aku melihat Wang Jun duduk di ruang tamu, mengobrol dengan Ibu Fu.
Melihat Wang Jun, wajah Fu Siyang langsung berubah marah, ia berjalan ke arah mereka dengan langkah penuh emosi.
“Jangan macam-macam,” bisikku menahan Fu Siyang. “Di leher Wang Jun ada giok kuno yang aneh, kau lupa waktu itu kau terluka gara-gara dia?”
“Anak itu pasti datang karena kau,” Fu Siyang berkata geram. “Berani-beraninya mendekati wanitaku, tak akan kuampuni dia.”
“Sudahlah!” aku pasrah menahan Fu Siyang. “Tenang saja, aku hanya suka padamu, tak mungkin suka padanya.”
Mendengar itu, wajah Fu Siyang baru sedikit melunak.
Aku khawatir ia tak bisa mengendalikan diri, jadi memintanya naik ke lantai atas.
Melihat aku datang, Wang Jun berdiri tergesa-gesa, tersenyum lembut dan berkata, “Aku dengar dari Direktur kau kurang sehat, jadi aku mampir menjenguk.”
“Aku baik-baik saja,” balasku dengan senyum dipaksakan.
Saat itu, Fu Siyang berdiri di koridor lantai dua, menatap Wang Jun tajam seperti ingin membunuh dengan pandangan saja.
Aku tahu, Fu Siyang begitu membencinya karena terlalu mencintaiku.
Sebenarnya, aku merasa sangat bahagia, setidaknya aku tahu Fu Siyang tulus padaku.
“Kalian lanjutkan saja, aku mau beres-beres kamar,” kata Ibu Fu sambil tersenyum pada kami, lalu naik ke lantai atas.
Jelas Ibu Fu ingin memberi aku dan Wang Jun kesempatan berbicara berdua.
“Kau sangat cantik hari ini,” Wang Jun menatapku lembut.
Ucapannya membuatku gugup, aku pun buru-buru mengalihkan pembicaraan, “Bagaimana dengan perusahaan, tak ada masalah kan?”
Sebenarnya aku hanya asal bicara. Aku baru seminggu bekerja di sana, tak tahu banyak soal perusahaan, jadi aku hanya bicara untuk mengisi suasana.