Bab Dua Puluh Empat: Hilangnya Miao Xiao
Merasa ada sesuatu di dalam perutku, aku mulai ketakutan. Panik, aku buru-buru meraih tangan Miao Xiao. “Ada sesuatu di dalam perutku.”
“Itu adalah serangga yang kutanam padamu,” Miao Xiao berusaha menenangkanku. “Serangga ini bisa menyeimbangkan energi yin dan yang pada janinmu. Tapi aku tak bisa melakukannya sendiri, untungnya Nenek Hantu mau membantu, jadi akhirnya serangga itu bisa tertanam di dalam tubuhmu. Setelah bayimu lahir, serangganya akan keluar dengan sendirinya.”
Meskipun ketakutanku sedikit mereda, aku tetap merasa khawatir. Siapa yang tidak risih jika ada sesuatu merayap di dalam perutnya?
“Ingat baik-baik, jangan sekali-kali meminum arak berisi belerang, kalau serangga itu mati, janinmu pun tidak akan selamat,” suara Nenek Hantu terdengar seram dan parau, sorot matanya tajam menatapku.
“Terima kasih, Nek,” jawabku setengah ketakutan.
“Tidak perlu berterima kasih padaku,” Nenek Hantu memejamkan mata, bibirnya bergerak pelan. “Kalau bukan karena harus menghadapi Jin Po si nenek tua itu, aku tak akan mau membantumu. Sudah, kalian boleh pergi!”
Setelah berkata demikian, Nenek Hantu duduk bersila di atas tanah, tak bergeming sedikit pun, tidak lagi memedulikan aku dan Miao Xiao.
Kami pun pamit dan keluar. Rasa sakit yang tadi mendera perutku kini sudah menghilang, meski begitu aku tetap bisa merasakan ada sesuatu yang merayap di dalam perutku.
“Tak apa-apa kalau sudah tidak sakit,” Miao Xiao melirik ke arah rumah Nenek Hantu, senyum bangga menghiasi wajahnya. “Sekarang Nenek Hantu sudah ada di pihakmu, kita punya ahli untuk menghadapi Jin Po. Kalau dia berani cari gara-gara lagi, dia pasti tidak akan bisa kembali.”
“Benarkah ini akan berhasil?” tanyaku khawatir. “Bukankah mereka itu sesama murid seperguruan, dan kau seperti memanfaatkan dia.”
“Mereka memang seperguruan, tapi musuh bebuyutan,” ujar Miao Xiao sambil tersenyum. “Lagi pula ini bukan memanfaatkan, melainkan saling mengambil untung. Akan sia-sia kalau kemampuan sehebat itu tidak digunakan menghadapi musuhnya sendiri.”
Aku tidak membantah. Jika Miao Xiao yakin, aku pun jadi lebih tenang.
Hari masih sore, sekitar pukul tiga. Aku tak ada pekerjaan apa-apa di rumah, jadi kupikir inilah saat yang tepat untuk bersantai dan mencari hiburan.
Miao Xiao seolah tahu isi pikiranku, ia mengajak pergi ke suatu tempat yang katanya menarik.
Di dalam mobil, aku tak tahan lagi bertanya, “Kita mau ke mana sih?”
Miao Xiao tersenyum penuh rahasia, “Sudahlah, nanti juga tahu. Kita tidak hanya akan bersenang-senang, tapi juga bisa menyelidiki kematian Zhuang Xiaoman.”
Zhuang Xiaoman? Jangan-jangan yang dimaksud adalah tepi laut?
Beberapa waktu lalu, aku sempat membaca berita kematian Zhuang Xiaoman. Menurut laporan, ia meninggal karena tenggelam di Pantai Liuli. Tapi aku tidak percaya. Aku pernah membaca riwayat hidupnya di media sosial, sejak kecil ia tumbuh di tepi laut dan sangat pandai berenang. Tidak mungkin ia tenggelam, itu sungguh tidak masuk akal.
Sebenarnya pergi ke pantai sekarang tak banyak gunanya, Zhuang Xiaoman sudah meninggal lebih dari seminggu, dan jasadnya pasti sudah dimakamkan. Tapi tak apa, setidaknya aku bisa melepas penat, menganggapnya sebagai rekreasi saja.
Memikirkan itu, hatiku jadi lebih lega.
Satu jam kemudian, kami tiba di Pantai Liuli. Tempat itu sangat ramai, hamparan pasir penuh dengan orang, sinar matahari yang cerah memantul di permukaan air, burung camar beterbangan di langit biru. Pemandangannya sungguh indah.
Di tepi pantai tersedia ruang istirahat. Aku baru saja duduk di kursi, Miao Xiao pamit ke toko di belakang untuk membeli sesuatu.
Saat ia kembali, ia membawa dua set pakaian dalam berwarna merah muda, sangat minim bahan, lebih mirip underwear daripada baju renang.
“Ayo, kita pakai ini lalu main di pantai,” kata Miao Xiao ceria. “Kalau Fu Siyao melihatmu pakai pakaian begini, bisa-bisa dia mimisan.”
Aku orang yang pemalu, tidak terbiasa memakai baju terbuka, apalagi berjalan-jalan di pantai hanya dengan pakaian dalam.
Bahkan sebelum berganti baju, wajahku sudah memerah.
“Bagaimana kalau tidak usah?” ujarku ragu. “Terlalu terbuka, aku malu.”
“Apa yang kau takutkan?” Miao Xiao menarikku menuju ruang ganti. “Lihat saja, banyak wanita di sini pakai baju seperti itu.”
Di ruang ganti, Miao Xiao sudah mengenakan pakaian dalamnya yang seksi. Aku sendiri masih ragu-ragu, benar-benar tidak nyaman memakai baju seperti itu.
“Biar kubantu,” ujar Miao Xiao, langsung menanggalkan pakaianku dan menyodorkan pakaian dalam itu. “Cepat pakai, kalau tidak aku marah.”
Tak ada pilihan lain, akhirnya aku memakainya juga.
“Wah!” seru Miao Xiao kagum, matanya berbinar penuh rasa iri. “Tidak kusangka tubuhmu bagus sekali, seperti model saja. Nanti keluar pasti banyak pria yang melirik.”
“Benarkah?” aku bertanya, sebenarnya tubuh indah memang bisa membuat percaya diri.
Setelah mendengar ucapannya, aku jadi lebih santai. Benar juga, banyak wanita di sini pakai baju seperti itu, kenapa aku harus malu?
“Aku berkata jujur,” kata Miao Xiao iri. “Nanti kita beli baju-baju bagus buatmu. Sayang sekali tubuh secantik ini tertutup pakaian terus. Ini aset wanita, idaman para pria, jangan disia-siakan.”
Aku jadi semakin malu mendengar pujiannya.
Miao Xiao memang orang yang terbuka dan percaya diri, sering mengenakan pakaian seksi seperti tanktop atau stoking. Sedangkan aku lebih konservatif, tidak seberani dia.
“Ayo, kita keluar,” Miao Xiao menarikku keluar dari ruang ganti.
Di ruang istirahat, orang cukup ramai. Begitu kami keluar, beberapa pasang mata langsung tertuju pada kami. Sejumlah pria terang-terangan menatap kami tanpa berkedip.
Wajahku langsung merah padam.
Begitu menginjak pasir pantai dan merasakan hangatnya sinar matahari di kulit, perasaan tertekan yang tadi kurasakan langsung lenyap. Rasanya sungguh nyaman.
Namun tiba-tiba aku merasakan ada sepasang mata dingin yang menatap tajam ke arahku, seperti pedang menusuk. Aku menoleh ke sekeliling, tapi tidak melihat siapa pun yang mencurigakan.
Perasaan ini sudah berkali-kali kualami. Jika itu hanya halusinasi, tak mungkin terjadi setiap hari.
Pasti ada seseorang yang diam-diam mengawasi kami. Dan orang itu, kemungkinan besar adalah Jin Po.
Wajah Miao Xiao berubah serius. Ia menunjuk ke arah batu karang di kejauhan. “Di sanalah tempat Zhao Xiaoman tenggelam. Kita lihat ke sana, mungkin ada petunjuk.”
“Baik,” aku mengangguk dan mengikutinya.
Pantai sangat ramai, orang-orang sibuk bermain. Kami harus berjuang menembus keramaian sebelum akhirnya sampai di dekat batu karang. Ombak tidak terlalu besar, jadi kami bisa naik ke atas batu dengan mudah.
Miao Xiao berjalan di depan, aku mengikutinya.
Ketika aku menengadah, tanpa sengaja kulihat ada bekas telapak tangan di punggung Miao Xiao. Dari ukurannya, itu jelas tangan anak kecil.
Tadi kami memang melewati kerumunan, mungkin tanpa sengaja seorang anak memukul punggungnya, jadi meninggalkan bekas.
Aku tidak terlalu memikirkannya.
Tiba-tiba, Miao Xiao menjerit kesakitan dan terjatuh di atas batu karang. Aku buru-buru menghampirinya dan membantu berdiri. Saat kulihat pergelangan kakinya membengkak, pasti ia terpeleset di atas batu licin dan terkilir, bahkan mungkin retak.
Ini benar-benar merepotkan.
Kami tak punya pilihan selain kembali ke ruang istirahat.
Aku menuntun Miao Xiao cukup lama hingga akhirnya menemukan sebuah klinik kecil di pinggir jalan.
Dokternya pria paruh baya, sekitar empat puluh tahunan, berkacamata. Setelah memeriksa kaki Miao Xiao, ia mengerutkan dahi. “Pergelangan kakinya retak, cukup parah. Harus segera operasi, kalau tidak tulangnya bisa tumbuh miring...”
“Cepat lakukan saja!” seru Miao Xiao panik.
Aku bisa memahami perasaannya. Wanita mana yang tak ingin tampil sempurna? Jika tulangnya tumbuh miring, jalannya jadi pincang, itu bisa jadi masalah besar.
“Apa di sini bisa operasi?” aku bertanya sopan pada dokter.
“Bisa. Ini hanya cedera ringan, alat-alat kami lengkap,” jawab dokter itu sambil menyiapkan peralatan.
Sebelum mulai operasi, dokter meminta aku keluar dari ruang praktik.
Aku pun keluar dan menunggu di luar.
Namun, waktu berlalu, sudah beberapa jam aku menunggu. Untuk operasi kecil seperti ini, mestinya tidak butuh waktu lama. Aku mulai khawatir, lalu buru-buru masuk ke dalam klinik.
Begitu masuk, aku tertegun—Miao Xiao dan dokter itu sama sekali tidak ada.
Ini benar-benar aneh!
Klinik kecil itu hanya memiliki satu pintu keluar, dan sedari tadi aku menunggu di luar, tidak melihat siapa pun keluar.
Dua orang dewasa hilang tanpa jejak begitu saja.
Aku mencari ke seluruh penjuru klinik, tapi tetap tidak menemukan Miao Xiao maupun dokter itu. Saat itu, matahari sudah hampir terbenam di balik laut, setengah jam lagi akan gelap.
Aku mencoba menelpon Miao Xiao berkali-kali, tapi tak ada yang menjawab. Baru kuingat, semua barang kami ada di mobil, dan Miao Xiao tidak membawa ponsel.
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Aku mulai panik. Mendadak, aku teringat pada Fu Siyao dan segera menelponnya.
Tak lama, telepon tersambung. Suara Fu Siyao yang lembut terdengar di seberang. “Tadi Miao Xiao bilang mau mengajakmu ke pantai agar kau bisa relaks. Aku khawatir, sebaiknya kau segera pulang. Sekarang sudah hampir malam.”
“Miao Xiao menghilang!” Suaraku hampir pecah menangis.
Aku menceritakan semuanya pada Fu Siyao. Ia menyuruhku mencari tempat yang aman untuk bersembunyi, dan ia akan segera menjemputku.
Hari sudah benar-benar gelap.
Aku kembali ke ruang istirahat. Sore tadi masih penuh orang, tapi kini, selain aku, tak ada seorang pun di sana.