Bab Satu: Permainan Mengerikan
Aku kehilangan pekerjaan.
Setiap hari aku mondar-mandir di tempat-tempat pencarian kerja, seolah-olah tempat itu telah menjadi rumah keduaku.
Suatu hari, dalam keseharianku mencari kerja, aku melihat seseorang di jalan mengenakan kostum badut dan mengadakan sebuah acara. Katanya, cukup memindai kode di aplikasi pesan, kita bisa mendapat segelas teh susu gratis. Tanpa berpikir panjang, aku segera memindai kode itu dan mendapat segelas teh susu gratis.
Rasanya agak pahit, tapi masih bisa diminum.
Malamnya, setelah kembali ke apartemen mungilku yang nyaman, ponselku berdering. Ternyata aku dimasukkan ke sebuah grup obrolan oleh penyelenggara acara tadi. Nama grup itu sangat aneh: “Permainan Mencekam”.
Foto profil pemilik grup itu benar-benar gelap, tak bisa dibedakan laki-laki atau perempuan. Ia masuk grup tanpa berkata apa-apa; langsung saja membagikan beberapa amplop merah bernilai ratusan ribu. Semua orang berebut, dan dalam waktu kurang dari semenit, amplop itu sudah habis. Aku yang masuk belakangan, bahkan masih sempat mendapat enam ribuan lebih, sedangkan yang paling beruntung mendapat lebih dari sembilan puluh ribu.
Setelah mendapat amplop merah, semua orang mengirimkan emoji untuk berterima kasih pada pemilik grup.
Pemilik grup tertawa, “Tidak perlu buru-buru senang, ini baru pemanasan. Sebentar lagi akan ada hujan amplop merah, jangan lupa untuk menunggu tepat waktu. Setelah hujan amplop merah selesai, yang paling beruntung harap segera menghubungiku, akan ada hadiah yang lebih besar.”
Mendengar itu, semua orang langsung gembira.
Aku menelusuri anggota grup, ternyata ada delapan puluh delapan orang, semuanya remaja, dan seperti aku, mereka sedang mencari pekerjaan.
Aku sedikit bingung, kenapa grup ini tiba-tiba membagikan amplop merah begitu saja?
Tepat waktu, hujan amplop merah pun dimulai. Meski merasa heran, aku tetap tak tahan untuk ikut berebut amplop. Ada lima putaran, tiap putaran berisi tiga ratus enam puluh ribu. Empat putaran pertama, aku berhasil mendapat lebih dari seratus ribu. Di putaran terakhir, aku berhasil mendapat amplop paling besar, hingga jumlahnya pas dua ratus lima puluh ribu!
Aku mulai merasa ada yang tidak beres.
Setelah selesai, pemilik grup langsung berkata, “Bagi lima orang dengan keberuntungan terbaik, segera hubungiku, ada hadiah besar menanti. Jika tidak menghubungiku, akan ada hukuman.”
Hukuman?
Jangan-jangan ini perusahaan hacker, setelah kita mengambil amplop, mereka langsung tahu semua data kita?
Dengan ragu, aku menambahkan pemilik grup sebagai kontak. Ternyata ia langsung membalas, “Selamat, kamu mendapat kesempatan untuk mencoba Permainan Mencekam. Berikutnya kami akan mengirimkan amplop besar, kamu harus memakai uang dari amplop itu untuk menyelesaikan tugas yang kami berikan. Sisa uangnya bisa kamu miliki.”
Aku ingin menolak, rasanya ada yang tidak beres.
Tapi sebelum sempat kukirim pesan, uangnya sudah langsung ditransfer. Kulihat baik-baik, jumlahnya delapan juta delapan ratus delapan puluh delapan ribu?
Sebanyak itu?
Sudah sekian lama mencari kerja, aku pun hampir lupa rasanya memegang uang sebanyak itu. Entah kenapa, aku pun menekan tombol terima. Pemilik grup segera mengirim pesan, “Tugas berikutnya sangat mudah. Belilah satu set pakaian pengantin tradisional, lengkap dengan hiasan kepala dan sepatu bordir.”
“Hanya itu?”
“Hanya itu.”
Setelah mendapat tugas, aku segera menghubungi empat orang lainnya yang juga paling beruntung. Ternyata semuanya perempuan, dan mereka pun mendapat jumlah uang serta tugas yang sama.
Li Feifei, yang cukup berani, berkata, “Gampang sekali, kan? Satu set baju pengantin tradisional paling cuma beberapa ratus ribu, sisanya jadi milik kita! Aku pasti akan melakukannya.”
Dong Yu, yang bekerja serabutan, juga tergoda, “Aku juga mau beli. Bukankah sudah dibilang, sisa uangnya jadi milik kita? Aku kerja serabutan sekian lama, tak pernah dapat uang sebanyak ini.”
Dua lainnya, Zhuang Xiaoman dan Zhao Ruoyu, juga sepakat untuk membeli, dan kami pun membuat grup kecil, berjanji akan mengunggah foto memakai pakaian itu ke grup setelah membelinya besok.
Keesokan pagi, Zhuang Xiaoman yang pertama mengunggah fotonya, tak lama kemudian Li Feifei dan Dong Yu juga mengunggah foto. Melihat mereka semua sudah membeli, aku pun segera ke toko, dan secara kebetulan bertemu Zhao Ruoyu di toko yang sama.
Zhao Ruoyu sangat cantik, polos pula. Ia menebak, “Sepertinya ini acara promosi dari perusahaan wedding organizer, siapa tahu nanti kita diminta jadi model iklan mereka.”
Aku hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa, lalu pulang dan menunggu balasan dari pemilik grup. Malamnya, pemilik grup muncul, meminta kami mengirimkan satu foto lagi. Ia sangat puas, lalu memberikan tugas selanjutnya, kali ini dengan uang sebesar enam juta enam ratus enam puluh enam ribu.