Bab 64: Kapal Hantu
“Tidak ada cara lain.” Wang Jun mengangkat bahu dan berkata, “Yacht-ku ini diimpor dari luar negeri, di dalam negeri tidak ada perusahaan yang bisa memperbaikinya. Tapi tenang saja, besok pagi aku akan cari solusinya.”
Dari ekspresi Wang Jun, sepertinya dia tidak berbohong.
Malam ini kami harus bermalam di laut.
Sekarang hari sudah gelap, lampu di yacht tidak terlalu terang, suasananya temaram.
Bintang-bintang memenuhi langit malam. Aku duduk di kursi, menengadah, tak menyangka pemandangan malam juga begitu indah, sungguh jarang bisa menikmati keindahan yang menenangkan seperti ini.
Fu Siyao bersandar di pagar dek, memandang ke arah laut yang gelap di kejauhan. Wajah tampannya tampak muram, seolah sedang memikirkan sesuatu.
Aku berdiri dari kursi, berniat mendekatinya, tapi Miao Xiao tiba-tiba menarikku, mengerutkan kening dan berkata, “Tian Tian, kamu sudah lupa apa yang pernah aku bilang? Di saat seperti ini, justru kamu tidak boleh menunjukkan kelemahan di depannya.”
Mendengar ucapan itu, aku hanya bisa duduk kembali di kursi.
“Lihat ke sana!” Miao Xiao menunjuk Wang Jun yang tak jauh dari kami. Wang Jun duduk santai, menyilangkan kaki, di tangannya sebuah majalah yang ia baca dengan tenang, kadang-kadang ia mengernyit, kadang tersenyum.
“Sebenarnya Wang Jun juga cukup tampan,” gumam Miao Xiao sambil terkekeh. “Tian Tian, jujur saja, apa kamu pernah punya sedikit perasaan pada Wang Jun? Pria seperti dia, punya kemampuan, lembut dan perhatian, sekarang sudah seperti spesies langka.”
“Aku tidak tahu!” Aku menatap Wang Jun dengan dahi mengernyit.
Setiap kali melihat Wang Jun, entah kenapa hatiku selalu timbul sedikit amarah.
Saat aku hendak mengalihkan pandangan, tiba-tiba aku melihat sosok seseorang berdiri di sudut gelap. Karena pencahayaan yang buruk, aku tak bisa jelas melihat wajahnya, hanya bisa melihat ia mengenakan pakaian hitam dan sepasang mata yang menatapku tajam.
Wajahku langsung memucat.
“Aaah!” Aku menjerit ketakutan.
Begitu jeritanku terdengar, Fu Siyao dan Wang Jun langsung berlari mendekat, berdiri di depanku, melindungiku.
Saat aku kembali menoleh ke arah bayangan itu, sosok tersebut sudah menghilang, seolah tak pernah ada. Aku mengucek mataku, lalu berjalan ke sudut tadi, berjongkok di tempat bayangan itu berdiri, kulihat ada banyak bekas air di lantai, juga rumput laut yang menghitam.
Fu Siyao mengernyit, “Ada aura arwah di sekitar sini, pasti ada hantu jahat yang naik ke kapal.”
Setelah berkata demikian, Fu Siyao menatap Wang Jun tajam dan berkata dingin, “Ini pasti ulahmu! Kau yang mengajak kami ke sini, ketika kami hendak pulang, tiba-tiba yacht rusak, dan sekarang muncul hantu jahat. Bagaimana kau jelaskan semua ini?”
Fu Siyao tampak siap bertindak.
“Apa perlu aku melakukan itu?” Wajah Wang Jun tetap tenang. Setelah sekilas menatapku, ia lanjut bicara pada Fu Siyao, “Seandainya aku sebodoh itu, tak mungkin aku memakai cara kekanak-kanakan seperti ini dan membahayakan orang yang kusukai.”
“Tapi kamu.” Wang Jun balik menatap Fu Siyao, “Kamu selalu ingin membunuhku, tapi tak pernah berhasil. Sekarang ada hantu membantumu, peluangmu jadi lebih besar, bukan?”
“Sudah cukup!” Aku menutup telinga, “Bisakah kalian tidak ribut? Kita sekarang ada di tengah laut, di atas yacht. Tahukah kalian betapa berbahayanya situasi ini?”
“Betul,” Miao Xiao menyambung, “Kalian kan hebat? Begini saja, siapa yang bisa menangkap hantu itu, Tian Tian nanti ikut sama dia.”
Mendengar itu, aku langsung diam membisu. Lelucon Miao Xiao kali ini benar-benar tidak lucu, apa dia pikir aku ini barang taruhan?
“Kalau sudah begini, kalau aku tak bisa menangkap hantu itu, berarti aku tak pantas untuk Tian Tian,” kata Wang Jun, lalu berlari masuk ke dalam kabin.
Fu Siyao agak panik, wajahnya berubah, lalu ikut masuk ke dalam.
Melihat mereka berdua pergi, Miao Xiao tertawa keras, menepuk bahuku, “Lihat kan, mereka pasti nanti bertengkar demi menangkap hantu itu. Kita tunggu saja tontonan seru.”
Mendengar itu, wajahku langsung masam.
Di kapal ini ada hantu, dia malah bercanda seperti itu.
Aku hendak membuka mulut, tiba-tiba terdengar suara perkelahian dari dalam kabin. Wajahku berubah khawatir, kalau nanti benar-benar Fu Siyao dan Wang Jun bertarung, bagaimana jadinya? Semua ini gara-gara omongan Miao Xiao.
Tak sempat berpikir lebih jauh, aku buru-buru menuju kabin. Di sepanjang lorong ada empat atau lima kamar, lampu-lampu di lorong berkedip-kedip, sejak tadi memang sudah redup, kini makin gelap.
Aku menatap ke ujung lorong, tak terlihat Fu Siyao dan Wang Jun.
Apa yang terjadi?
Kabin tak sebesar itu, mereka tak mungkin menghilang begitu saja. Fu Siyao memang hantu, dia bisa saja lenyap, tapi Wang Jun manusia, mana mungkin bisa menghilang?
Aku melangkah ke ujung lorong, mendapati jendela terbuka lebar, pecahan kaca berserakan di lantai.
Aku cepat-cepat melihat ke luar, dan di kejauhan sekitar dua puluh meter dari yacht, kulihat sebuah perahu kayu mengapung, beberapa sosok terlihat samar bergerak di atasnya. Malam itu tanpa bulan, aku tak bisa jelas melihat keadaannya, tapi satu hal yang pasti, Fu Siyao dan Wang Jun pasti ada di perahu itu.
Bagaimana Wang Jun bisa ke sana?
Aku bertanya-tanya dalam hati, Fu Siyao itu hantu, bisa saja melayang, tapi Wang Jun manusia, tak mungkin bisa melompat sejauh itu.
Sampai di dek, kulihat Miao Xiao sedang memperhatikan perahu kayu itu dengan dahi berkerut.
“Itu apa?” tanyaku pada Miao Xiao.
“Aku juga tidak tahu.” Miao Xiao seperti teringat sesuatu, berbalik masuk ke kabin, tak lama kemudian ia keluar membawa pistol sinyal, menembakkannya ke arah perahu kayu.
“Swiiing…”
Cahaya terang melesat dan jatuh di atas perahu kayu itu. Setelah melihatnya, tubuhku langsung dingin penuh keringat.
Itu adalah perahu kayu tua yang usang, dikelilingi aura hitam pekat, hawa dinginnya menusuk, benar-benar menakutkan.
“Kita ke sana saja!” ajakku pada Miao Xiao.
“Tidak bisa!” jawab Miao Xiao tegas, “Perahu hantu itu cukup jauh, satu-satunya cara adalah menyeberang dengan papan, tapi itu sangat berbahaya.”
Mendengar itu, aku makin cemas.
Yang paling aku khawatirkan sekarang adalah Fu Siyao dan Wang Jun akan saling melukai. Itu hal yang paling tidak kuinginkan.
Dan kini, aku hanya bisa berdiri di sini, menatap dari kejauhan.
Cahaya itu perlahan menghilang, perahu kembali samar, hanya terlihat siluetnya, selebihnya tak tampak apa-apa.
“Tidak apa-apa, Wang Jun dan Fu Siyao pasti bisa kembali dengan selamat,” Miao Xiao menggenggam tanganku, menghibur dengan wajah penuh penyesalan, “Semua ini salahku, aku tak seharusnya mendorong mereka.”
Aku diam saja, terus menatap perahu itu dengan cemas.
Detik demi detik berlalu, tapi Fu Siyao dan Wang Jun tak kunjung kembali, bahkan bayangan mereka di dek perahu pun hilang, suasana perahu itu jadi sangat sunyi.
Saat menoleh ke belakang, aku dikejutkan oleh ketidakhadiran Miao Xiao.
Aku mulai panik, tadi Miao Xiao masih di sampingku, baru sebentar saja sudah lenyap. Apa dia menemukan sesuatu lalu masuk ke kabin?
Angin dingin bertiup dari permukaan laut, kabut tebal turun, menekan suasana. Hujan deras mulai mengguyur, tetesannya membentur lambung yacht, menimbulkan suara berdebam.
Aku bergegas masuk ke kabin, mencari di setiap kamar, bahkan sampai ke gudang, tapi tetap tak kutemukan jejak Miao Xiao.
Kini, di kapal ini hanya aku seorang diri.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar bingung, jika Miao Xiao tak ada di kapal, hanya ada satu kemungkinan: dia pasti diam-diam pergi ke perahu di seberang sana, takut aku ikut, jadi dia pergi sendirian.
Di gudang, aku menemukan senter.
Sampai di dek, aku menyalakan senter dan menyorot ke permukaan air. Benar saja, terlihat sosok manusia mengapung, sudah hampir sampai ke perahu di sana.
Pasti itu Miao Xiao.
“Tuut tuut!” Ponsel di saku tiba-tiba berdering.
Kulihat layarnya, ternyata dari Fu Siyao. “Tetap di sana, jangan sekali-kali ke sini. Apa pun yang terjadi, jangan tinggalkan tempatmu.”
“Apa kalian sedang dalam masalah?” tanyaku panik.
“Tidak ada masalah, hanya beberapa mayat kering saja,” jawab Fu Siyao dengan nada tenang.
Aku hendak menanyakan apakah Miao Xiao sudah ke sana, tiba-tiba dari ujung telepon terdengar suara jeritan mengerikan, lalu sambungan langsung diputus Fu Siyao.
Jeritan tadi jelas kudengar, pasti mereka sedang mendapat masalah!
Tapi aku tak bisa ke sana, aku tak pandai berenang, tak seperti Miao Xiao yang bisa menyeberang.
Aku menyorot perahu aneh itu dengan senter, tapi karena jarak terlalu jauh, aku tetap tak bisa melihat jelas.
Dua jam berlalu, hingga pukul dua belas malam, mereka belum juga kembali.
Aku mencoba menelepon mereka, tapi semua ponsel mati, bahkan ponsel Wang Jun juga tak aktif.
Hujan makin deras, kapal tertutup kabut pekat, semuanya jadi samar, ombak bergulung-gulung menghantam lambung kapal.
“Hihihi…”
Tiba-tiba suara tawa menyeramkan terdengar di belakangku.
Saat aku menoleh, lututku langsung lemas. Seorang perempuan berdiri di sana, rambut panjang menjuntai hingga lantai, mengenakan gaun merah, di kakinya sepatu bordir merah.
Hantu perempuan bergaun merah?
Bagaimana dia bisa di sini? Apa dia mengikuti kami sejak tadi?
Rambut hitamnya merayap mendekat ke arahku, gerakannya amat cepat, dalam sekejap sudah di depanku.
Aku ketakutan, berbalik lari masuk ke kabin, di belakangku suara tawa menyeramkan sang hantu, membuat bulu kudukku meremang.
Lampu lorong kabin terus berkedip, mengeluarkan suara berdesis, aku berlari masuk dan langsung mengunci pintu. Begitu suara tawa hantu perempuan itu tak terdengar lagi, emosiku mulai tenang. Saat kulihat ponselku, ada satu pesan masuk dari Wang Jun.
Hanya satu kata, “Lari.”