Bab Empat Puluh Enam: Aksi Hantu Perempuan
“Perusahaan tidak terjadi apa-apa,” kata Wang Jun, lalu terdiam. Ia menatapku lembut, seolah mengumpulkan keberanian besar, lalu dengan serius berkata, “Sejak pertama kali melihatmu, aku sudah memutuskan bahwa kau harus menjadi wanitaku...”
Aku buru-buru memotong perkataannya, merasa canggung, “Maaf, kau bukan tipe pria yang kusukai.”
“Lalu, siapa yang kau sukai?” tanya Wang Jun padaku.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Wang Jun tertawa, “Aku tahu kau malu, sebenarnya kau memang belum punya orang yang disukai. Ibunda Fu tadi sudah memberitahuku semuanya. Aku pasti akan berusaha lebih keras lagi untuk merebut hatimu. Aku sudah bilang, aku ingin kau jadi wanitaku.”
Aku bisa merasakan tatapan Fu Siyao di belakangku, dipenuhi aura membunuh.
“Aku...” Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Mana mungkin aku bisa bilang bahwa orang yang kusukai adalah Fu Siyao yang sudah meninggal? Demi keselamatan Fu Siyao, aku hanya bisa memilih diam.
Wang Jun menatapku, “Mulai sekarang kita akan resmi berpacaran, saling mengenal lebih jauh. Setelah kau mengenalku, pasti kau akan jatuh cinta padaku.”
Aku kehabisan kata-kata. Apa-apaan sih orang ini? Kapan aku bilang mau berpacaran dengannya? Lagi pula, dia terlalu percaya diri! Memang dia tampan, tak kalah dari Fu Siyao, juga sangat cakap dan berbakat, tapi dengan modal apa dia begitu yakin aku akan jatuh cinta padanya hanya karena mengenalnya?
Sombong sekali orang ini.
“Aku akan segera membuatmu melihat sebuah keajaiban,” Wang Jun berkata penuh percaya diri, “Aku jamin, dalam waktu kurang dari setahun, entah ayahmu mau pensiun atau tidak, aku pasti akan membuatmu duduk di kursi puncak dan menjadi orang nomor satu di Grup Fu.”
Apa?
Aku benar-benar terkejut. Dia ingin menjatuhkan Ayah Fu demi membuatku jadi ketua Grup Fu.
Gila! Aku tidak pernah bilang ingin jadi ketua Grup Fu. Hanya karena hal itu, dia sampai tega melawan Ayah Fu, padahal Ayah Fu sangat mempercayainya. Ayah Fu pasti tidak akan menduganya.
“Kau tidak boleh lakukan itu!” Aku buru-buru berkata pada Wang Jun.
“Tidak ada ruang untuk tawar-menawar dalam hal ini,” Wang Jun menatapku lembut dan tersenyum, “Ini hadiah pertamaku untukmu. Saat waktunya tiba, kau harus menerimanya. Meski kau menolak, aku tetap punya cara agar kau duduk di kursi itu dengan patuh.”
Setelah berkata demikian, Wang Jun beranjak meninggalkan ruang tamu.
Fu Siyao turun dari lantai dua, matanya penuh dengan amarah, “Brengsek, aku harus melenyapkan dia! Berani-beraninya memakai kekayaan keluarga Fu untuk mengejar wanitaku...”
Kupikir Fu Siyao akan langsung mengejarnya, tapi di luar dugaan, ia malah menahan diri dan duduk di sofa, wajah tampannya memancarkan kilatan dingin, “Kalau Wang Jun mau main-main denganku, aku akan layani. Aku ingin melihat sampai di mana kemampuannya.”
“Jangan gegabah...” Aku menggenggam lengan Fu Siyao, khawatir dengan sikapnya.
“Tenang, aku tahu batasannya.” Tatapan dingin di wajah Fu Siyao perlahan menghilang ketika menatapku. Ia merangkulku dengan lembut, “Kau adalah wanitaku. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebutmu dariku. Kalau dia mau menjadikanmu ketua Grup Fu, aku tidak keberatan. Tapi dia tidak berhak memakai kekayaan keluargaku untuk mengejar wanitaku. Itu yang tidak akan pernah kuizinkan.”
Aku hanya diam, bersandar dalam pelukannya yang hangat.
Tiba-tiba, terdengar suara aneh dari lantai atas.
Aku buru-buru melepaskan pelukan Fu Siyao dan berlari naik ke atas. Aku melihat Ibu Fu pingsan di lorong, sementara Qingfeng, sang pendeta, dicekik lehernya oleh hantu wanita yang mengangkat tubuhnya ke udara.
Melihat pemandangan itu, aku tertegun ketakutan.
Saat aku sadar kembali, Fu Siyao sudah melompat maju. Hantu wanita itu tertawa seram, lalu menghilang ke dalam dinding.
Ketika hantu wanita itu lenyap, Fu Siyao menoleh ke arah Qingfeng, “Kenapa kau menyakiti ibuku?”
“Bukan aku...” Qingfeng terengah-engah, “Itu hantu wanita...”
Lehernya yang masih sakit membuatnya sulit bicara.
Saat itu Fu Siyao sudah sangat marah, ia langsung menerkam Qingfeng. Semua alat ritual Qingfeng sudah disita oleh Miao Xiao, jadi ia tak berdaya melawan Fu Siyao dan langsung terlempar karena dicekik.
Qingfeng memang tega pada hantu jahat, tapi ia tak pernah menyakiti manusia. Aku menduga tadi hantu wanita itu ingin mencelakai Ibu Fu, lalu Qingfeng datang dan berusaha menyelamatkan.
Aku menunduk, memeriksa keadaan Ibu Fu di pelukanku. Ia hanya pingsan, tidak terluka.
“Berhenti!” Aku berteriak pada Fu Siyao, “Ibu bukan disakiti oleh Qingfeng, tapi oleh hantu wanita itu.”
Fu Siyao menoleh padaku, “Meski begitu, aku tetap tak bisa membiarkannya. Demi keselamatanmu dan anak kita, aku harus menyingkirkannya.”
Baru saja kata-katanya selesai, seberkas rambut panjang keluar dari dinding dan langsung melilit leher Fu Siyao dan Qingfeng.
Hantu wanita itu muncul lagi.
Aku tidak bisa membantu apa-apa sekarang. Yang terpenting adalah membawa Ibu Fu ke kamar agar lebih aman. Aku memapahnya masuk ke dalam kamar.
Setelah itu, aku keluar lagi dan mendapati Fu Siyao dan Qingfeng sudah dililit rambut hitam yang membungkus seluruh tubuh mereka. Mereka terus berjuang melepaskan diri, tapi sia-sia. Seluruh lorong dipenuhi rambut.
Apa yang harus kulakukan?
Aku panik sampai keringatan.
Tiba-tiba aku teringat cermin penangkap arwah. Tanpa berpikir lama, aku segera berlari ke kamar, membuka brankas, dan mengambil cermin itu.
Itu adalah ide buruk dari Miao Xiao. Katanya, alat-alat ritual tidak boleh ditemukan oleh Qingfeng, jadi paling aman disimpan di brankas.
Begitu aku keluar kamar, rambut hitam itu langsung meluncur ke arahku. Secara refleks, aku mengangkat cermin penangkap arwah untuk menangkisnya. Begitu rambut itu menyentuh cermin, tiba-tiba terdengar jeritan memilukan seorang wanita di seluruh lorong. Lalu, semua rambut itu serempak menyusut kembali ke dalam dinding.
Fu Siyao bangkit dari lantai dengan susah payah, menatap Qingfeng tajam, dan aura hitam dari tubuhnya mulai menyebar.
“Jangan!” Aku buru-buru menahan Fu Siyao.
Melihat aku menghalangi, Fu Siyao tampak tidak rela, tapi takut aura jahatnya melukaiku, ia pun menahan amarahnya dan menyembunyikan aura itu.
“Kau tidak apa-apa?” tanyaku cemas pada Fu Siyao.
“Aku baik-baik saja,” jawabnya. Ekspresi dingin di wajahnya lenyap, digantikan kehangatan. Ia memelukku erat, “Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Aku akan selalu melindungimu.”
Hatiku terasa sangat hangat.
Qingfeng menoleh ke arah kami, melirik Fu Siyao dan berkata sinis, “Anak muda, aku tahu kau sangat mencintai istrimu, tapi aku harus mengingatkanmu, kalian tak akan pernah punya akhir yang bahagia.”
“Itu bukan urusanmu,” jawab Fu Siyao datar.
“Aku tetap akan ikut campur. Janin hantu itu harus mati,” Qingfeng menatap perutku, terdiam sejenak, lalu berkata, “Aku punya usul. Untuk sementara, kita lupakan masalah di antara kita, fokus dulu menghadapi hantu wanita itu. Bagaimana?”
Fu Siyao tidak menjawab.
Ekspresi Qingfeng sangat serius, ia melanjutkan, “Tadi saat melawan hantu wanita itu, aku merasa kekuatannya jauh lebih besar daripada beberapa hari lalu. Kalau dugaanku benar, pasti ada orang yang membantunya memperkuat diri. Kalau tidak segera kita basmi, aku pun kelak tak akan mampu menghadapinya.”
Aku menoleh pada Fu Siyao, “Bagaimana menurutmu? Kita setuju saja?”
“Ya,” Fu Siyao mengangguk pada Qingfeng, “Aku setuju. Tapi sebelum itu, kalau kau berani melukai Tian Tian, aku tak akan melepaskanmu.”
“Setuju. Itu janji,” jawab Qingfeng sebelum berbalik turun dari lantai atas.
Setelah Qingfeng pergi, Fu Siyao menunduk dan mengecup lembut keningku, “Sekarang sudah malam, cepatlah istirahat di kamar.”
Aku mengangguk dan berjalan ke kamar. Namun, saat melihat Fu Siyao tak mengikutiku, aku heran dan bertanya, “Kenapa kau tidak ikut?”
Dulu, setiap malam, Fu Siyao selalu menemaniku tidur karena takut aku ketakutan.
Wajah Fu Siyao tampak pasrah, “Miao Xiao pernah bilang, aura dingin di tubuhku terlalu kuat. Jika terlalu lama bersamamu, itu bisa membahayakanmu dan anak kita. Jangan takut, aku ada di kamar sebelah dan akan selalu melindungimu.”
Ada rasa kecewa dalam hatiku.
Aku ingin Fu Siyao selalu di sisiku, tapi aku juga tak tega memaksanya. Aku hanya bisa tersenyum padanya, lalu masuk ke kamar.
Mengingat hantu wanita yang bersembunyi di vila, aku jadi was-was. Aku memeluk erat cermin penangkap arwah, menaruh beberapa kertas kuning di bawah bantal, lalu baru berani berbaring dan beristirahat.
Keesokan paginya, begitu bangun, aku pergi ke kamar Ibu Fu.
Ibu Fu sudah bangun. Melihat kondisinya baik-baik saja, aku pun lega.
“Kau tampak lebih segar dibanding kemarin,” Ibu Fu tersenyum, merapikan rambutku ke telinga, “Seringlah bergaul dengan Wang Jun. Dia anak yang baik. Kalau kalian bisa bersama, aku dan ayahmu akan sangat tenang.”
Aku hanya bisa pasrah. Ibu Fu kembali membicarakan Wang Jun.
Sebenarnya, aku juga merasa Wang Jun baik, tapi aku sama sekali tidak punya perasaan padanya. Aku hanya menganggapnya teman biasa. Lagi pula, sekarang aku sudah menjadi wanita Fu Siyao, bahkan mengandung anaknya. Mana mungkin aku bisa menyukai orang lain.
Satu-satunya cara agar Ibu Fu dan Ayah Fu berhenti menjodohkanku dengan Wang Jun hanyalah dengan mengatakan yang sebenarnya. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Jika mereka tahu, Fu Siyao akan sangat berbahaya. Selain itu, mereka pasti tak akan bisa menerima kenyataan itu.
Semakin kupikirkan, kepalaku semakin pusing, tak tahu harus berbuat apa.
Aku khawatir Ibu Fu akan terus membicarakan Wang Jun, jadi aku segera mengalihkan pembicaraan, “Ma, apakah Ibu tahu apa yang terjadi semalam?”