Bab Dua Puluh Enam: Wanita yang Hendak Melompat dari Gedung
Ayah Fu mengangguk, wajahnya penuh senyuman. “Kau anak yang baik. Meski bukan darah dagingku, aku selalu menganggapmu seperti putriku sendiri. Aku tidak salah menilaimu, dan anakku, Fu Siyao, juga tidak salah memilihmu.”
Setelah masuk mobil, Ayah Fu meminta sopir menuju kantor pusat.
Setengah jam kemudian, kami tiba di depan sebuah gedung megah di pulau itu. Ayah Fu menunjuk ke gedung tersebut dengan bangga, “Inilah hasil kerja keras saya selama lebih dari tiga puluh tahun. Sekarang saya sudah tua, saatnya menyerahkan kesempatan pada kalian yang muda untuk berjuang dan menciptakan dunia kalian sendiri.”
Setelah mengutarakan perasaannya, Ayah Fu mengajakku ke kantor ketua dewan direksi di lantai atas.
Aku dibuat terkesima oleh kemegahan gedung itu. Di mana-mana, para karyawan berjalan dengan langkah cepat.
Tak lama kemudian, seorang pria mengenakan setelan jas masuk. Wajahnya tampan, dari tutur kata dan gerak-geriknya terlihat jelas ia pria yang lembut.
“Ketua,” pria itu berdiri dengan hormat.
“Ya.” Ayah Fu mengangguk singkat lalu mulai memperkenalkan, “Di sampingku ini adalah anak angkatku, juga calon penerus perusahaan di masa depan. Hanya kau yang saya beritahu soal ini, jangan sampai tersebar, kalau tidak saya akan menanyai langsung padamu.”
Pria itu mengangguk perlahan, tersenyum tipis padaku.
Ayah Fu melanjutkan, “Dia adalah Wang Jun, manajer umum divisi sumber daya manusia di grup kita, juga pria muda paling tampan di perusahaan.”
“Halo!” Aku menyapa Wang Jun.
“Senang berkenalan denganmu.” Wang Jun menjabat tanganku.
Ayah Fu mengangguk puas, lalu berkata pada Wang Jun, “Aku akan menempatkannya di divisi SDM. Berikan dia posisi yang layak, mulai sekarang ia akan bekerja di bawahmu.”
“Baik!” Wang Jun mengangguk dengan cepat.
Ayah Fu menoleh padaku, “Nak, mulai sekarang kau kerja di SDM. Kalau ada yang tidak kau mengerti, bisa tanya Wang Jun atau tanya langsung padaku. Sekarang, ikutlah dia ke SDM.”
Aku mengangguk dan mengikuti Wang Jun keluar dari kantor itu.
Di depan pintu, Wang Jun dengan sopan kembali menyapaku, lalu mulai menjelaskan, “Perusahaan kita punya lebih dari dua puluh anak perusahaan, ada perusahaan properti, kosmetik, juga beberapa perusahaan teknologi baru. Perusahaan tempat kita sekarang adalah kantor pusat, dan divisi SDM bertugas mengatur rotasi pimpinan di anak-anak perusahaan.”
Tak lama, kami tiba di divisi SDM.
Wang Jun tersenyum, “Kau adalah calon penerus perusahaan, meski mulai belajar dari bawah, posisimu tidak boleh terlalu rendah. Aku tugaskan kau sebagai manajer SDM, bertanggung jawab mengatur pimpinan di beberapa perusahaan kecil. Meski kelihatannya sederhana, tapi saat dijalankan, tidak semudah yang dibayangkan.”
Setelah berkata demikian, Wang Jun membawaku ke sebuah kantor yang sangat luas dan mewah.
“Mulai sekarang, ini kantormu,” ujarnya ramah. “Kantorku ada di sebelah, kalau ada yang ingin kau tanyakan, langsung saja ke ruanganku.”
“Baik, terima kasih,” jawabku.
Wang Jun tertawa, “Tak perlu sungkan, ini memang tugasku, perintah dari ketua. Oh ya, di lemari kantor ini ada daftar seluruh pimpinan perusahaan. Hari ini kau pelajari dulu data-data mereka, besok akan kuatur agar mereka menemuimu.”
Setelah itu, Wang Jun keluar dan menutup pintu.
Melihat kantor yang luas dan mewah di hadapanku, rasanya seperti mimpi. Tidak pernah terbayang aku bisa duduk di kantor seperti ini.
Seharian penuh aku mempelajari berkas-berkas, baru berhasil menuntaskan semua data pimpinan perusahaan. Aku tak mau mengecewakan Ayah Fu, jadi setiap berkas kubaca sangat teliti.
Melihat jam, ternyata sudah pukul enam sore.
Aku keluar dari kantor dan kebetulan bertemu Wang Jun yang hendak mencariku.
Wajah Wang Jun tampak tegang, ia berkata, “Barusan ketua pingsan di kantor, sekarang sedang di rumah sakit. Aku akan mengantarmu ke sana.”
Aku segera mengikuti Wang Jun keluar dari perusahaan menuju rumah sakit.
Ibu Fu juga ada di ruang rawat. Saat melihatku, ia langsung memelukku dan menangis, “Ayahmu memang sudah lama kesehatannya kurang baik. Beberapa hari ini terlalu sibuk mengurus perusahaan…”
Ibu Fu tak melanjutkan ucapannya, air mata menetes di matanya.
Ayah Fu yang sudah sadar melirik Ibu Fu, “Kau ini lebay. Aku hanya tekanan darah tinggi, istirahat beberapa hari pasti sembuh.”
Malam itu, aku membujuk Ibu Fu agar pulang, biar aku saja yang berjaga di rumah sakit. Butuh usaha keras hingga akhirnya beliau mau pergi.
Ayah Fu tertidur. Tak ingin mengganggunya, aku keluar dari ruang rawat, duduk di kursi, menatap para dokter dan pasien yang berlalu-lalang.
Sudah malam, lorong rumah sakit sepi, sangat berbeda dengan suasana siang yang ramai.
Tiba-tiba, Miao Xiao muncul dari lift, tersenyum padaku, lalu duduk di samping, “Kudengar ayah Fu Siyao sakit, dan kau menjaga beliau di sini. Aku khawatir dengan keselamatanmu, jadi aku ke sini menemanmu semalam.”
Aku berkata dengan nada menyesal, “Tidak apa-apa, kau pulang saja. Kakimu belum sembuh, jangan terlalu banyak berjalan.”
“Kau kurang paham,” Miao Xiao menaruh kruk di samping, merangkul lenganku, “Dokter bilang pergelangan kakiku masih ada memar, justru harus sering berjalan. Lagi pula, ruang rawatku ada di lantai bawah.”
“Kau juga dirawat di sini?” Aku terkejut.
“Ya! Demi melindungimu, aku pindah ke rumah sakit ini.” Miao Xiao berkata penuh percaya diri, “Selama aku di sisimu, tidak ada yang bisa menyakitimu.”
Sebenarnya aku ingin bertanya soal Perempuan Tua itu, tapi akhirnya kuurungkan. Dengan kemampuannya, rasanya Banaspati pun tak bisa melukai dia.
Tiba-tiba, aku merasa ingin ke toilet. Setelah berpamitan sebentar, aku menuju kamar mandi.
Lampu di kamar mandi rusak, berkedip-kedip, membuat suasana jadi menakutkan.
Di depan cermin, aku menatap wajah sendiri. Walau tak bisa dibilang cantik, tapi masih ada daya tarik tersendiri. Sayangnya aku kurang berwibawa sebagai seorang pemimpin.
Tiba-tiba, dari cermin itu, aku melihat seorang perempuan paruh baya berdiri di belakangku, mengenakan baju pasien, juga sedang bercermin, pandangannya tampak kosong.
Aku buru-buru mengambil tas dan menyingkir, tapi saat menoleh ke belakang, ternyata tak ada siapa-siapa.
Tubuhku langsung merinding, kedua kakiku lemas. Jelas tadi aku melihat seseorang di cermin, tapi saat menoleh, orang itu menghilang.
Apa mungkin aku hanya berhalusinasi?
Aku ingat Miao Xiao pernah bilang, karena aku mengandung bayi gaib, tubuhku jadi lemah dan mudah berhalusinasi. Apa barusan juga hanya halusinasiku?
Tapi rasanya nyata sekali, tidak seperti halusinasi.
Tak berani berlama-lama di kamar mandi, setelah selesai aku buru-buru keluar dan duduk di samping Miao Xiao, baru perlahan ketakutanku mereda.
“Kau kenapa? Wajahmu pucat sekali,” tanya Miao Xiao.
Aku hendak bicara, tiba-tiba sekelompok dokter bergegas masuk ke ruang rawat di seberang. Beberapa menit kemudian, terdengar tangisan, lalu dokter keluar mendorong ranjang. Di atas ranjang, seorang wanita terbaring kaku, jelas sudah meninggal.
Saat melihat wajah wanita itu, tubuhku langsung gemetar.
Wanita yang meninggal itu adalah orang yang kulihat di kamar mandi tadi. Aku tak percaya, baru saja ia ada di kamar mandi bercermin, hanya dalam hitungan menit, ia sudah meninggal.
Mana mungkin orang yang sekarat sempat bangun dan pergi ke kamar mandi bercermin?
“Ada apa?” tanya Miao Xiao khawatir sambil menggenggam tanganku. “Itu cuma orang mati, tak perlu ditakuti.”
“Aku barusan melihat dia bercermin di toilet,” ujarku lirih sambil gemetar.
“Jangan takut,” Miao Xiao menggenggam tanganku erat-erat menenangkanku, “Kau sedang mengandung bayi gaib, aura gelap di tubuhmu sangat kuat, wajar jika bisa melihat hal-hal yang tak kasat mata. Yang kau lihat tadi seharusnya adalah arwah perempuan itu. Sebenarnya, arwah itu tak semenyeramkan yang kau bayangkan.”
Arwah tetaplah makhluk halus, siapa yang tak takut?
Setelah jenazah itu dibawa pergi, ketakutanku perlahan mereda, meski tak sepenuhnya hilang.
Dulu aku selalu percaya dunia ini tak ada hantu. Tapi setelah mengalami semua ini, aku mulai yakin, dunia ini memang ada makhluk gaib.
Miao Xiao melihat jam, lalu berkata, “Sudah tengah malam. Aku harus kembali ke kamar dan istirahat. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku.”
Aku sebenarnya ingin Miao Xiao tetap menemaniku, tapi tak mungkin menahannya semalaman.
Setelah Miao Xiao pergi, aku tak berani sendirian di lorong. Aku kembali ke ruang rawat Ayah Fu. Ia masih tertidur pulas, napasnya teratur.
Aku menyandarkan kepala di tangan, duduk di kursi sambil memejamkan mata, dan tertidur karena kelelahan.
Entah sudah berapa lama aku tertidur, aku terbangun oleh suara langkah kaki.
Saat membuka mata, kulihat tirai jendela entah sejak kapan sudah tersibak, angin malam masuk ke dalam ruangan.
Aku berdiri hendak menutup tirai. Namun saat akan menarik tirai, aku melihat di pinggir jendela, ada seorang wanita berdiri. Ia mengenakan gaun merah, tubuhnya kaku, perlahan-lahan merayap ke atas jendela, lalu berdiri di sana.
Padahal ini lantai tujuh.
Dari ekspresinya yang kosong, jelas ia ingin melompat, hendak bunuh diri.
“Jangan lakukan itu!” Aku berteriak pada wanita itu.
Tapi ia seperti tak mendengar. Ia berdiri di jendela, angin malam meniup gaun merahnya yang tampak menyala, merah seperti darah, sangat mencolok.
Melihat ada orang yang hendak melompat, siapa pun tak mungkin berdiam diri.
Tanpa pikir panjang, aku berlari keluar ruang rawat dan naik ke lantai atas, lantai delapan, yang juga penuh pasien. Tapi karena malam, lorong sangat sepi, hanya suara langkah kakiku yang terdengar.
Aku ingin mencari bantuan, tapi tak ada seorang pun.
Sampai di depan kamar, aku coba mendorong pintu, tapi terkunci dari dalam, tak bisa dibuka.
Apa yang harus kulakukan?
Peluh dingin mulai membasahi dahiku.
“Ada apa?”
Terdengar suara dari ujung lorong.
Aku menoleh. Ternyata Miao Xiao, berjalan ke arahku sambil membawa tongkat.