Bab 96: Firasa Buruk
Hari sudah larut, aku kembali ke kamar untuk beristirahat. Fu Siyang berdiri di dekat jendela, melihatku masuk, sudut bibirnya terangkat, wajah tampannya menampilkan senyum memikat, “Mari kita istirahat lebih awal malam ini.”
Aku mengangguk, sengaja pura-pura menunjukkan ekspresi dingin.
Melihat sikapku, Fu Siyang tampak pasrah, lalu berbaring di atas ranjang, meraihku ke pelukannya. Aku buru-buru mendorongnya menjauh dan berkata dengan datar, “Sebaiknya kau cari Miao Xiao saja!”
Aku hanya mengucapkannya sebagai bentuk kekesalan.
Tak kusangka, ia benar-benar keluar dari kamar.
Keesokan paginya, saat aku bangun dan turun dari ranjang, kulihat ada secarik kertas di atas meja, tulisan tangan Fu Siyang, bertuliskan: “Aku akan mencintaimu seumur hidupku.”
Akhirnya ia mengucapkan isi hatinya.
Aku sangat bahagia, berdandan dengan sungguh-sungguh, lalu pergi ke kamar sebelah. Peti mati masih terletak di sana, namun Fu Siyang tidak ada. Seharusnya, menurut kebiasaan, ia tak akan pergi ke mana-mana.
Perasaan tidak enak menyelinap di hatiku.
Ketika sampai di halaman vila, aku bertemu dengan Pendeta Qing Feng yang duduk di atas anak tangga batu, “Pendeta, apakah Anda melihat Fu Siyang dan yang lain?”
“Tidak!” Mata Pendeta Qing Feng tampak agak gelisah.
Pendeta Qing Feng hanya akan menunjukkan kegelisahan saat bicara. Ia pasti sedang berbohong.
“Pendeta, tolong katakan yang sebenarnya padaku.” Aku memohon dengan suara lirih.
“Fu Siyang dan Miao Xiao sudah pergi,” Pendeta Qing Feng menghela napas, “Tian Tian, jangan terlalu bersedih. Ada hal-hal yang telah ditakdirkan dari semesta.”
Apa maksudnya ucapan itu?
Apakah Fu Siyang benar-benar meninggalkanku dan bersama Miao Xiao?
Aku tersenyum pahit. Apakah Fu Siyang memilih menyerah karena aku tak mau memaafkannya dan hendak bersama Miao Xiao? Rasanya mustahil. Sekiranya pun Fu Siyang terpikir begitu, Miao Xiao tidak akan melakukan hal yang menyakitiku.
Aku terus mendesak Pendeta Qing Feng, tapi ia bungkam dan langsung menghindar ke taman belakang.
Baru saja aku keluar, tepat bertemu Wang Jun yang datang menjemputku untuk ke kantor.
Beberapa hari ini Wang Jun selalu tepat waktu.
“Tian Tian, mau naik mobil?” Wajah tampan Wang Jun menampilkan senyum lembut.
“Pergi sana!” Begitu teringat orang tuanya datang melamarku kemarin, hati ini langsung kesal. Ia tahu soal itu, tapi tidak mencegahnya.
Aku melangkah ke jalan.
“Tian Tian, jangan marah, ya?” Wang Jun mengemudikan mobil menyusul, wajahnya tampak pasrah, “Soal lamaran itu, aku baru tahu tadi malam.”
Mata Wang Jun berputar, seperti memikirkan sesuatu.
“Kau sedang mencari Fu Siyang, bukan?” Sebuah senyum aneh terbit di wajahnya.
“Ya,” jawabku datar.
“Aku tahu di mana mereka. Naiklah, aku antar.”
Setelah ragu sejenak, aku pun naik ke mobil Wang Jun.
Wang Jun menghidupkan mobil dan melaju ke arah selatan kota.
Aku menelepon Miao Xiao, tapi ia tidak menjawab. Setiap kali aku meneleponnya, sesibuk apa pun, ia selalu mengangkat. Tapi kali ini, tidak.
Mungkin Miao Xiao merasa bersalah padaku.
Mobil tiba di taman selatan kota. Di taman itu, kulihat Fu Siyang dan Miao Xiao duduk di bangku, berbincang dan tertawa. Akhirnya, Fu Siyang meraih tangan Miao Xiao, memandangnya penuh kelembutan, seperti seorang kekasih.
Dan Miao Xiao, tidak menolak.
Tak lama, mereka saling bersandar.
Aku terpaku, pikiranku kosong, tak percaya pada penglihatan sendiri. Mereka benar-benar bersama.
Di sampingku Wang Jun berseru lirih, “Akhirnya dua insan yang saling mencintai bisa bersatu, aku iri pada mereka!”
Aku marah dan menginjak kakinya dengan keras. Wang Jun meringis menahan sakit, “Pukulan tanda cinta, makian tanda sayang...”
Hatiku serasa ditusuk-tusuk, air mata mengalir tak terbendung. Sumpah Fu Siyang, akhirnya hanya menjadi kata-kata kosong, tak berarti.
Aku berjalan gontai keluar taman, ingin mencari tempat untuk menangis sepuasnya. Fu Siyang mengabaikanku dan anakku, memilih bersama Miao Xiao. Apakah hanya karena semalam aku tak memaafkannya?
“Jangan menangis, aku ikut sedih melihatnya,” Wang Jun menyusul, menatapku penuh kasih.
“Aku tidak menangis,” aku menghapus air mata, berusaha terlihat biasa saja, memaksa diri tersenyum, meski lebih mirip tangisan.
Wang Jun mengantarku ke kantor.
Hari ini ada rapat dewan direksi. Aku harus hadir tepat waktu.
Di ruang rapat, para kepala departemen telah duduk di tempatnya, suasana sunyi senyap.
Wang Jun duduk di sampingku, melirik Kang Dacheng dan Dan Cheng di seberang, lalu berbisik padaku, “Tian Tian, nanti biar aku yang bicara, kau diam saja.”
Apa yang ingin Wang Jun lakukan?
Aku heran, tapi akhirnya menurut.
“Ehem...” Wang Jun berdeham, lalu berdiri, “Rekan-rekan sekalian, kondisi kesehatan ketua dewan sedang kurang baik, jadi hari ini aku yang akan menyampaikan arahannya.”
Orang-orang mulai berbisik pelan.
Tatapan Wang Jun tajam mengarah pada Dan Cheng, “Manajer Dan, Anda telah menyalahgunakan dana perusahaan dalam jumlah besar, menyebabkan proyek terhenti. Hal ini sudah kami buktikan. Sesuai peraturan, Anda dinonaktifkan untuk pemeriksaan lebih lanjut.”
Begitu ia selesai bicara, ruang rapat langsung riuh.
“Kurang ajar!” Dan Cheng berdiri, “Dasar tuduhan tanpa bukti! Mana buktinya?”
Wang Jun melemparkan setumpuk dokumen ke atas meja, “Ini semua bukti yang ada. Ada tiga belas orang yang terlibat, semuanya pejabat penting perusahaan. Dan Anda, Manajer Dan, adalah dalangnya.”
Mendadak, Dan Cheng malah tertawa terbahak-bahak dan melenggang keluar ruang rapat.
Aku sadar, Wang Jun memang hendak bertindak terhadap Dan Cheng. Akar Dan Cheng dalam perusahaan sangat kuat. Jika salah langkah, bisa-bisa malah mencelakai diri sendiri.
Setelah rapat usai, semua orang keluar.
“Apa yang kau rencanakan?” tanyaku pada Wang Jun dengan dahi berkerut.
“Mengguncang si Dan Cheng,” Wang Jun mengangkat alis, menampilkan senyum penuh arti, “Dan Cheng sudah berkuasa selama puluhan tahun di bawah Fu Siyang. Mendengar dirinya dinonaktifkan, ia pasti panik dan akan bertindak besar-besaran.”
“Lalu?” tanyaku.
“Lalu giliran kita bergerak. Jika dia adalah Dewa Sungai Mati, pasti akan ketahuan. Jika tidak, kita sekalian singkirkan. Aku sudah bilang, aku tak akan membiarkan siapa pun atau apa pun yang mengancammu.”
Aku sudah tak peduli semua itu, pikiranku hanya dipenuhi soal Fu Siyang.
Sesampai di vila, aku ingin mencari Fu Siyang dan Miao Xiao untuk menanyakannya langsung, tapi mereka tak ada.
Aku menelepon, tak ada yang mengangkat.
Aku masuk ke kamar Fu Siyang, melihat beberapa foto di dalam peti mati, foto mereka berdua. Begitu mesra, seperti sepasang kekasih.
Mengapa semua ini terjadi?
Hatiku terasa hancur berkeping-keping.
Kehilangan Fu Siyang, serasa kehilangan seluruh dunia.
Keesokan paginya, aku kembali ke kamar Fu Siyang, tapi suasana tetap sepi, Fu Siyang tak ada.
Bahkan Miao Xiao, dua hari ini tak terlihat batang hidungnya.
Malamnya, aku berbaring di ranjang, menangis diam-diam, menatap kosong keluar jendela. Angin malam meniup pucuk-pucuk pohon, bayangannya menari menyeramkan.
“Tolong!”
Tiba-tiba terdengar teriakan pilu dari kamar orang tua Fu.
Aku panik berlari ke lorong, membuka pintu kamar, dan mendapati kamar itu kosong.
Ayah dan ibu Fu telah hilang. Lampu kamar masih menyala, di atas meja ada secangkir kopi yang sudah diminum separuh, dan selembar koran yang belum selesai dibaca oleh ayah Fu.
Mereka tertimpa musibah!
Aku panik, berlarian ke seluruh penjuru rumah, mencari ke mana-mana, tapi tak ada jejak ayah dan ibu Fu, bahkan Pendeta Qing Feng juga menghilang.
Vila itu terasa begitu sunyi dan kosong, angin dingin bertiup dari luar, cahaya bulan menari di atas lantai.
Aku menelepon Wang Jun.
Setengah jam kemudian, Wang Jun tiba, melihatku duduk lemas di sofa dengan tatapan kosong, ia berkata dengan lembut, “Tenang saja, aku akan menemukan paman dan bibi.”
Aku tak menjawab, merasa seluruh diriku runtuh.
Wang Jun kembali mencari ke setiap sudut vila, lalu bertanya pada satpam di gerbang. Satpam bilang tidak melihat ayah dan ibu Fu keluar, juga tak ada kejadian aneh.
Tiba-tiba, terdengar dua teriakan pilu dari luar halaman.
Aku dan Wang Jun bergegas ke luar, mendapati dua satpam tergeletak bersimbah darah, udara dipenuhi aroma anyir.
Wang Jun mengangkat salah satu satpam yang masih bernapas, “Apa yang terjadi...”
Dengan susah payah satpam itu mengangkat tangan, menunjuk ke jalan, “Tuan muda...”
Belum selesai bicara, tangannya dan kepalanya terkulai, ia menghembuskan napas terakhir.
Apakah itu Fu Siyang?
Aku terpaku di tempat. Fu Siyang telah mencelakai ayah dan ibunya sendiri, mungkinkah itu? Aku menggeleng, tak percaya.
Di jalan, sebuah mobil membunyikan klakson.
Kulihat, itu mobil milik Fu Siyang. Sejak ia meninggal, ayahnya menyimpan mobil itu di gudang, tak pernah digunakan.
Kini seseorang mengendarainya keluar.
Aku mengejar, lalu melihat kaca mobil terbuka, wajah yang sangat kukenal muncul—wajah Fu Siyang yang berlumuran darah, menampilkan senyum mengerikan.
Ternyata benar, Fu Siyang yang membunuh satpam.
Berarti ayah dan ibu Fu pun pasti dalam bahaya.
Sebelum aku sempat berpikir lebih jauh, Fu Siyang menutup kaca jendela dan melaju ke ujung jalan.
“Cepat naik!” Wang Jun datang dengan mobilnya, menarikku masuk ke kursi penumpang depan.
Tubuhku seperti patung kayu, pandangan kosong.
Wang Jun melihat keadaanku, jelas merasa iba, namun tak tahu harus berkata apa.
Setelah melewati beberapa jalan, mobil Fu Siyang melaju langsung ke pemakaman utara kota. Gerbang didobrak, dua satpam yang mencoba menghadang langsung terpental.
Mobil Fu Siyang berhenti tak jauh dari sana.
Wang Jun turun dan berjalan ke mobil Fu Siyang, dan setelah melirik ke dalam, wajahnya langsung berubah.
Pasti ada sesuatu yang terjadi.
Aku buru-buru menyusul, dan ketika melihat apa yang ada di dalam mobil, rasanya seperti langit runtuh menimpa diriku.