Bab Sepuluh: Tinggal di Daun Kayu

Marvel: Memulai Perdagangan dari Dunia Ninja Jangan mendesak aku untuk menulis. 2415kata 2026-03-04 23:59:51

“Tentu saja, tentu saja. Beberapa hari ini kau sudah cukup bekerja keras, hahaha~”

Melihat basa-basi itu tetap tak membuat ekspresi di wajah Kaen berubah, Tsunade pun melanjutkan, “Baiklah, beberapa hari ini sudah bisa dipastikan bahwa khasiat obatmu benar-benar sesuai dengan keterangan. Aku sudah mengirim kabar ke dalam Konoha, selanjutnya pasti akan ada pembelian dalam jumlah besar.”

Mendengar itu, Kaen menghela napas pelan dan berkata, “Baguslah. Sejujurnya, aku sudah keluar cukup lama. Kalau bisa menyelesaikan transaksi ini secepatnya, tentu lebih baik.”

Tsunade menenangkan, “Tenang saja, kalau tidak ada halangan, tiga hari lagi ada rombongan yang akan kembali ke Konoha. Saat itu aku akan pulang bersamamu; urusan pembelian obat biar aku yang urus, sedangkan untuk barang-barang lain, ada orang lain yang akan bernegosiasi denganmu.”

Kaen menatap Tsunade sejenak, tapi akhirnya ia memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. Namun, Tsunade menangkap sorot mata Kaen, lalu bertanya, “Ada apa? Kau punya pertanyaan?”

Kaen menjawab, “Aku hanya penasaran saja. Kekuatamu pasti sangat besar, di waktu seperti ini apa kau harus pulang hanya demi urusan transaksi denganku? Kalau tidak nyaman dijawab, anggap saja aku tidak bertanya.”

“Tidak ada yang perlu disembunyikan.”

Tsunade menjawab ringan, “Perang sebentar lagi selesai, jadi aku akan ikut pulang bersama para korban luka.”

Pasukan Pasir juga sudah mulai menarik garis pertahanan mereka dan kehilangan keinginan untuk melanjutkan perang. Jika bicara soal korban, di bawah tekanan Konoha dan Amegakure, shinobi Pasir menderita lebih banyak kerugian dibanding Konoha, semua itu berkat pelaksanaan rencana Danzou.

Jika perang dilanjutkan, mungkin Konoha akan mengalami kerugian besar, tapi Pasukan Pasir pasti akan runtuh. Itulah sebabnya mereka memilih untuk menyerah.

Pada saat seperti ini, peran Tsunade di garis depan memang sudah berkurang. Ia perlu memaksimalkan kemampuannya sebagai ninja medis dan kembali bekerja di rumah sakit Konoha, itulah tugas utamanya.

“Baguslah.”

Kaen tidak tahu apakah waktu di dua dunia berjalan selaras, ia sudah berada di dunia ini selama lima hari, dan ia hanya bisa bertahan paling lama dua puluh hari di sini. Jika terlalu lama tak kembali, baik Karl maupun orang-orang di sekitarnya pasti akan melapor ke polisi dan mengeluarkan pengumuman orang hilang.

Beberapa hari kemudian, Tsunade membawa sekelompok korban luka sebagai rombongan pertama yang kembali ke Konoha. Kaen pun termasuk di antara mereka.

Karena ia bukan seorang ninja, Tsunade pun dengan sigap menyiapkan sebuah kereta kuda untuknya. Bagaimanapun juga, Kaen akan menjadi tamu penting Konoha, jadi harus dijamu sebaik-baiknya.

Perjalanan memakan waktu cukup lama. Ketika mereka tiba di Konoha, hari sudah memasuki sore hari.

“Kita sudah sampai, inilah Konoha. Bagaimana menurutmu?”

Tsunade tampak sedikit ingin pamer saat memperkenalkan Konoha pada Kaen. Mungkin karena ia merasa desa ini cukup makmur di dunia ninja, sehingga ia memperkenalkannya dengan rasa bangga.

“Lumayan. Jadi selanjutnya…”

Kaen menatap Tsunade dengan wajah datar, sama sekali tak terkesan oleh kemakmuran Konoha. Hanya sebuah desa, bahkan New York lima puluh tahun lalu jauh lebih ramai daripada desa kecil seperti ini.

Melihat Kaen tampak tak terkejut, Tsunade menghela nafas kesal lalu berkata, “Aku antar kau istirahat dulu. Di rumahku masih banyak kamar kosong.”

“Di rumahmu?”

Ekspresi Kaen sedikit berubah, lalu segera berkata, “Cari penginapan saja, tak perlu di rumahmu. Tsunade-san, aku hanya datang untuk bertransaksi, hubungan kita belum cukup dekat untuk menginap di rumah orang lain.”

Kecuali Kaen tiba-tiba didiagnosis sakit jiwa, ia takkan setuju tinggal di wilayah klan Senju.

Tsunade menatap Kaen sejenak, lalu berkata, “Di Konoha tidak ada penginapan. Yang ada hanya rumah-rumah kosong yang belum ditempati dan apartemen ninja, keduanya tidak cocok untukmu. Lagi pula, di rumahku banyak kamar kosong, dan tinggal di wilayah Senju juga lebih mudah untuk melindungimu.”

Jadi, apa sebenarnya yang kau banggakan tadi kalau Konoha bahkan tak punya penginapan?

Konoha baru berdiri sekitar tiga puluh tahun, dan hingga kini masih didominasi oleh klan ninja. Dukungan Hokage Kedua terhadap ninja dari kalangan rakyat biasa baru berlangsung belasan tahun, sebagian besar tempat usaha pun dikelola oleh klan ninja. Penginapan yang khusus untuk orang luar memang belum ada.

Sejak Perang Ninja Dunia Pertama hingga Perang Dunia Kedua, suasana di Konoha selalu tegang. Setelah kematian Hokage Kedua, Konoha pun tak pernah benar-benar damai, baik karena balas dendam maupun untuk menunjukkan kekuatan. Bahkan Perang Dunia Kedua pun Konoha yang memulai.

Keputusan Tsunade untuk menampung Kaen di rumahnya sudah ia laporkan ke Hokage Ketiga dan mendapat izin. Yang paling utama, hanya nenek Tsunade, Uzumaki Mito, yang bisa merasakan niat jahat seseorang tanpa diketahui yang bersangkutan.

Tak peduli seberapa dalam niat jahat seseorang terhadap Konoha, tetap saja tak bisa lolos dari indra Mito. Beberapa waktu lalu, berkat kemampuan Mito, Konoha berhasil mengungkap banyak mata-mata yang bersembunyi di desa.

Jika Kaen adalah mata-mata dari desa ninja lain, ia pasti takkan lolos dari indra Mito.

Sarutobi Hiruzen memikirkan itu, dan ia pun akan menugaskan Anbu untuk mengawasi Kaen secara diam-diam.

Bukan tanpa alasan ia begitu waspada, obat yang dibawa Kaen terlalu penting, bisa mempengaruhi jalannya perang. Jika Kaen lebih dulu ditemukan oleh Amegakure, Konoha yang akan berada dalam posisi sulit.

Kaen memandangi Tsunade cukup lama, lalu sadar bahwa urusan ini tak mungkin bisa ia nego lagi. Ia pun menghela nafas dan berkata, “Baiklah, kalau begitu aku merepotkanmu, Tsunade-san.”

Sungguh penuh lika-liku, transaksi pertama ini ternyata tak semulus bayangan Kaen.

Di bawah bimbingan Tsunade, ia pun tiba di wilayah klan Senju. Dua kali Perang Dunia Ninja telah membuat klan Senju kehilangan banyak anggota, ditambah Senju Hashirama telah membubarkan klan dan membiarkan para anggota melebur ke dalam Konoha, akibatnya wilayah klan pun terasa sangat lengang.

Setelah menyiapkan sebuah kamar untuk Kaen, Tsunade berkata, “Istirahatlah di sini sehari. Besok aku akan mengajakmu menemui Guru Sarutobi, Hokage Ketiga Konoha.”

“Baik, aku mengerti. Kalau tidak ada halangan, aku tidak akan keluar rumah.”

“Tak perlu sejauh itu. Kalau kau ingin jalan-jalan, bilang saja padaku.” Tsunade agak heran atas kehati-hatian Kaen, karena lelaki itu benar-benar tidak tertarik pada rahasia Konoha. Sepanjang jalan, ia bahkan takut mendengar sesuatu yang tak seharusnya.

Begitu Tsunade pergi, di halaman besar tak jauh dari rumah Kaen, Hokage Ketiga Sarutobi Hiruzen berdiri hormat di samping seorang nenek berambut merah yang sudah sangat tua, sambil memegang bola kristal ia berkata, “Mito-sama, mohon gunakan kemampuanmu untuk merasakan niat baik atau buruk. Apakah orang ini berniat jahat terhadap Konoha?”

Tadi, Sarutobi Hiruzen sudah memberi tahu Uzumaki Mito bahwa Kaen akan tinggal di wilayah Senju. Dengan kemampuan indra Mito, ia bisa dengan mudah merasakan keberadaan Kaen dan niat di hatinya.

Jika ada niat buruk, pasti tak bisa lolos dari Mito.

Beberapa saat kemudian, Uzumaki Mito membuka mata dan berkata pada Sarutobi Hiruzen, “Orang ini tak punya niat jahat.”

Sarutobi Hiruzen mengangguk, lalu berkata pada Mito, “Saya mengerti. Kalau begitu, saya tak akan mengganggumu lagi, Mito-sama.”

Setelah itu, ia membawa bola kristal itu pergi, bersiap mengatur pertemuan bisnis esok hari.