Bab 31: Nona, Anda Bukan Anggota Keluarga Ji
Dia meraih tangan Ji Hanyi, mengamati gelang biji saga yang melingkar di pergelangan tangannya dengan saksama.
"Dari mana kau mendapatkan gelang ini?" tanya Ji Yaoqing.
Ji Hanyi tidak mengerti mengapa reaksi Ji Yaoqing begitu berlebihan, namun ia menangkap raut wajah panik yang terpancar dari wajah saudarinya itu. Ji Yaoqing tampak seperti baru saja melihat sesuatu yang mengerikan, bahkan tubuhnya bergetar tanpa sadar. Wajahnya pun memucat seketika.
Ji Hanyi tidak bisa membaca ketakutan di mata saudarinya. Ia mengira Ji Yaoqing takut jika dirinya mendapatkan kasih sayang kaisar, sehingga ia berkata dengan penuh kemenangan, "Ini adalah hadiah dari Baginda Kaisar. Apa kau cemburu karena aku adalah kesayangan di istana?"
Ji Yaoqing terdiam sejenak. Jika Xiao Tingming memberikan gelang biji saga ini kepada Ji Hanyi, itu berarti pria itu benar-benar telah jatuh hati padanya. Xiao Tingming mencintai Ji Hanyi? Hal ini sungguh sulit untuk dibayangkan. Xiao Tingming adalah pria yang kejam, licik, penuh keraguan, berdarah dingin, dan bahkan tidak segan membunuh orang tanpa berkedip. Ia juga sangat curiga terhadap orang-orang di sekitarnya.
Sepengetahuan Ji Yaoqing, Xiao Tingming secara berkala "membersihkan" para pelayan yang bekerja untuknya agar rahasia dan kesukaannya tidak bocor kepada pihak-pihak yang berniat jahat. Fakta bahwa pria itu begitu cepat takluk oleh Ji Hanyi benar-benar di luar dugaan. Mungkinkah Xiao Tingming memang menyukai tipe wanita seperti Ji Hanyi? Ini sungguh mengerikan. Jika ia tahu akan seperti ini, untuk apa ia menghabiskan begitu banyak tenaga dan pikiran di kehidupan sebelumnya? Namun, bagi Ji Yaoqing, kaisar yang jatuh cinta pada Ji Hanyi adalah sebuah keuntungan besar.
Memikirkan hal itu, Ji Yaoqing pun tersenyum, "Bagaimana mungkin aku cemburu pada kakak? Aku justru sangat bahagia untukmu!"
Awalnya, Ji Hanyi datang untuk mencari masalah, namun karena rencananya gagal dan ia kehilangan minat untuk berdebat, ditambah waktu kembali ke istana yang semakin dekat, ia pun memutuskan untuk pergi.
Begitu Ji Hanyi menghilang dari pandangan, senyum di wajah Ji Yaoqing lenyap seketika. Wajahnya tampak sedingin es, tanpa secercah senyuman pun tersisa.
Malam harinya, Ruan Ruan membawakan camilan ke kamar tidur dan berkata dengan senyum, "Nona, silakan dinikmati. Malam ini dapur menyiapkan sup ayam teratai dan bunga lili."
Ji Yaoqing yang sedang membaca buku kedokteran segera berhenti. Ia menatap Ruan Ruan dengan alis terangkat dan bertanya seolah tanpa beban, "Ruan Ruan, ke mana saja kau kemarin?"
Tangan Ruan Ruan sedikit gemetar mendengar pertanyaan itu, hingga sup ayam yang panas tumpah ke tangannya. Ia tidak memedulikan rasa panas di tangannya, lalu menjawab dengan senyum yang dipaksakan, "Mengapa Nona tiba-tiba menanyakan hal itu? Kemarin saya hanya berjalan-jalan di kota karena tidak ada pekerjaan, lalu membeli beberapa bedak wajah."
"Lalu, mengapa ada orang yang melihatmu berhubungan dengan kasim pengadaan istana?" Ji Yaoqing bangkit dengan perlahan dan melangkah mendekati Ruan Ruan. Ia menatap mangkuk sup di tangan gadis itu dan berkata datar, "Mengapa Selir Ji bisa mengetahui urusan di Kediaman Pangeran Duan?"
Tubuh Ruan Ruan bergetar hebat, ia pun berlutut dengan ketakutan, "Bukan saya! Nona, Anda harus percaya pada saya! Saya telah menemani Anda menanggung banyak penderitaan sejak kecil, kita selalu saling mengandalkan..." Air mata Ruan Ruan jatuh seperti butiran mutiara, seolah ia difitnah, tampak begitu menyedihkan.
Namun, hati Ji Yaoqing kini sekeras es. Sekali berkhianat, seribu kali tidak akan dimaafkan. Aturan kejam di istana pada kehidupan sebelumnya telah mengajarkan Ji Yaoqing bahwa belas kasihan sesaat hanya akan mengundang serangan yang lebih ganas dari musuh.
Ji Yaoqing mengeluarkan botol kecil berisi pil merah dari lengan bajunya, lalu menjatuhkan pil itu ke dalam sup ayam yang masih dipegang Ruan Ruan. "Sup ayam ini adalah hadiah untukmu," ucapnya dingin sembari memejamkan mata.
Ruan Ruan tampak kehilangan seluruh kekuatannya, tangannya gemetar memegang mangkuk sup itu dengan mata merah. Ia tahu bahwa nasibnya telah berakhir. Bahkan jika Ji Yaoqing tidak mempermasalahkan pengkhianatannya, Ji Hanyi pun tidak akan membiarkannya hidup karena ia telah memberikan informasi palsu yang membuat Ji Hanyi pulang dengan tangan hampa.
Ruan Ruan memegang mangkuk itu entah berapa lama sampai uap panasnya menghilang dan kakinya terasa kaku. Ji Yaoqing bukannya tidak merasa sedih; Ruan Ruan adalah pelayannya, bahkan ia sudah menganggapnya sebagai adik sendiri. Namun, Ruan Ruan telah mengkhianatinya. Hatinya terasa seperti terjerat benang-benang kencang yang membuatnya sulit bernapas.
"Nona, Ruan Ruan minta maaf," isak Ruan Ruan. "Saya tahu Nona tidak akan memaafkan saya." Air matanya jatuh ke dalam sup, lalu ia meminum sup itu hingga tandas.
Seketika itu pula racunnya bekerja. Kuku jari Ruan Ruan menghitam dan darah mulai keluar dari sudut bibirnya. Namun, ia tidak merasa kesakitan. Itu adalah racun yang membunuh tanpa rasa sakit—mungkin itulah bentuk terakhir dari belas kasihan Ji Yaoqing padanya.
Sesaat sebelum menghembuskan napas terakhir, Ruan Ruan tiba-tiba berbalik dan mencengkeram ujung gaun Ji Yaoqing dengan kuat. Ji Yaoqing menangis tersedu-sedu, namun tetap menatapnya dengan tatapan kosong.
"Nona... Anda... bukan... anggota... keluarga Ji."
Setelah mengucapkan kalimat itu, tangan Ruan Ruan yang mencengkeram gaun Ji Yaoqing terkulai lemas. Ia jatuh ke lantai dan memejamkan mata untuk selamanya.
Ji Yaoqing membelalakkan matanya. Ia memeluk tubuh Ruan Ruan di lantai dengan suara bergetar, "Apa yang kau katakan?" Namun, Ruan Ruan tidak bisa lagi menjawabnya.
Keraguan di hati Ji Yaoqing semakin membesar. Mengapa Ruan Ruan mengatakan bahwa ia bukan anggota keluarga Ji? Apa sebenarnya yang gadis itu ketahui? Jika ia bukan anggota keluarga Ji, apakah semua yang ia lakukan di kehidupan sebelumnya dan kasih sayang orang tua yang ia dambakan hanyalah kebohongan belaka? Apakah pengorbanannya untuk keluarga Ji hanyalah sebuah lelucon yang konyol sejak awal?
Ji Yaoqing bangkit dengan tiba-tiba; ia harus mencari kebenaran tentang hal ini! Ia berbalik dan hendak pergi, namun Xiao Tingfeng muncul dan menghalangi jalannya. Pria itu telah menyaksikan semuanya, termasuk kata-kata terakhir sang pelayan. Dibandingkan dengan Ji Yaoqing yang sedang panik, ia tetap tenang dan memegang bahu Ji Yaoqing.
"Ji Yaoqing, sadarlah," ujar Xiao Tingfeng dengan suara yang penuh kekhawatiran. "Sekalipun kau pergi menanyai keluarga Ji sekarang, mereka tidak akan pernah mengatakan yang sebenarnya."
Ji Yaoqing menatap Xiao Tingfeng dengan mata merah, "Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Tatapan Xiao Tingfeng lembut namun tenang, "Kau tahu apa yang harus dilakukan. Hal-hal seperti ini tidak akan bisa mengalahkanmu."
Mungkin karena sikap tenang Xiao Tingfeng, Ji Yaoqing perlahan mulai tenang. Ya, ia tahu apa yang harus dilakukan. Saat ini, ia tidak boleh gegabah. Karena ia ingin menyelidikinya, ia harus melakukannya secara perlahan agar keluarga Ji tidak menyadari ada sesuatu yang tidak beres.