Bab Empat Puluh Lima: Sekte Kuno
"Kemarin malam tidurnya kurang nyenyak?" tanya Si Penanya sambil menuangkan secangkir teh kepada Long Yan yang nampak jelas lingkaran hitam di bawah matanya.
"Kau tidak tahu?" Gerakan Long Yan saat meminum teh itu terhenti, pandangannya penuh keheranan. Sungguh betapa tak berperasaannya seseorang itu, bisa tidur pulas seperti bangkai babi padahal suasana tadi malam begitu menegangkan.
"Ah!"
Di saat yang sama, Putri Laut turun ke bawah sambil menguap. Meski kebanyakan orang akan terlihat kurang sedap dipandang saat menguap, namun pada dirinya, justru ada keindahan tersendiri yang membuat siapapun takkan merasa terganggu.
"Putri Laut, kau juga tidak tidur nyenyak semalam?" Si Penanya agak terkejut, ada apa sebenarnya, kenapa satu per satu terkena insomnia?
"Babi!"
"Babi!"
Long Yan dan Putri Laut menjawab bersamaan, lalu saling tersenyum, jelas mereka tidak berniat memberi penjelasan.
Si Penanya hanya bisa memandang kedua orang yang telah bersatu dalam aliansi strategis itu dengan penuh keheranan. Hanya karena dirinya tidak punya beban pikiran dan bisa tidur nyenyak, apakah itu juga sebuah masalah?
"Kalian semua sudah di sini, mari kita makan dulu lalu lanjutkan perjalanan," kata Li Zhi yang muncul bersama Pengawal Cantik. Namun keduanya juga tampak lesu, seperti terong yang layu terkena embun beku.
"Ada apa dengan kalian semua, kenapa pada lemas begini?" Si Penanya makin heran.
Yang menjawabnya adalah Li Zhi dan Pengawal Cantik serempak, "Babi!"
Kali ini Si Penanya langsung terdiam, merasa dirinya benar-benar diserang bersama-sama. Sudahlah, lebih baik tak bertanya lagi.
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi malam? Petir dan guntur itu benar-benar menakutkan," bisik seorang tamu di meja sebelah saat mereka sedang makan. Ia berkata sambil melirik ke kanan kiri, lalu menurunkan suara lebih pelan lagi, gayanya benar-benar seperti pencuri.
"Zaman sekarang sudah damai, jangan-jangan ini pertanda kemurkaan langit dan bumi?" Seorang dukun ikut menyela.
"Omong kosong! Sekarang Baginda begitu bijaksana, terbuka menerima orang-orang berbakat, baik kebijakan maupun kekuatan militer semuanya dipuji, bagaimana mungkin terjadi kemurkaan langit dan bumi!" seru seorang patriot fanatik.
"Tak ada yang menjelekkan Baginda, tapi kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa tadi malam muncul fenomena seperti itu?" Dukun itu menarik napas dingin, matanya menyiratkan ketakutan yang sulit dijelaskan.
"Benar, kejadian seperti itu bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan manusia!"
"Sungguh menakutkan, semoga saja hari-hari damai kita ini tidak berakhir!"
Mendengar percakapan seperti itu, Si Penanya perlahan mulai mengerti, tampaknya memang ada peristiwa besar yang terjadi semalam.
"Putri Laut, kau ahli ramalan, tahu tidak apa yang terjadi sebenarnya?" Si Penanya tak tahan untuk bertanya.
Suara pertanyaannya agak keras, sehingga seluruh ruang makan seketika sunyi. Namun, ketika orang-orang melihat siapa yang ditanya, mereka hanya menggelengkan kepala lalu kembali membahas urusan mereka masing-masing.
Walaupun zaman sekarang tidak seharusnya menilai orang dari usia atau penampilan, tetap saja manusia sering terjebak dalam sudut pandang sempit seperti itu. Begitulah sifat manusia.
"Rahasia langit sedang kacau, aku tak bisa meramalkannya," jawab Putri Laut dengan sorot mata agak serius. "Tapi aku pernah membaca di sebuah kitab bahwa pada zaman kuno, semua sekte besar tiba-tiba lenyap bersamaan, puluhan ribu sekte menghilang sekaligus, itulah sebabnya era kuno lenyap dari sejarah. Kuduga, fenomena aneh semalam mungkin berhubungan dengan peristiwa itu."
"Putri Laut, apa dasar dari dugaanmu?" wajah Li Zhi menegang. Jika benar sekte-sekte kuno itu kembali, dunia pasti akan kacau.
"Itu hanya dugaanku. Dalam naskah rahasia yang menuliskan kejadian itu, tercatat juga ucapan ketua Sekte Pedang saat itu: 'Dunia telah kacau, sekte-sekte kita tak mampu mengubah keadaan. Demi kelangsungan sekte, para tetua mengorbankan nyawa, menyegel sekte selama seratus ribu tahun...'"
Melihat semua orang memasang telinga, mata Putri Laut berkilat tipis. Kalian ingin muncul ke dunia? Baiklah, aku akan beri hadiah besar. Dengan kerajaan dan sekte-sekte luar yang mengincar, kemunculan kalian pasti takkan berjalan mulus!
"Kalau dihitung-hitung, sekarang memang sudah hampir seratus ribu tahun berlalu."
"Hii..."
Sorot mata Li Zhi memancarkan kemarahan samar. Ia tak menyangka orang itu meninggalkan masalah sebesar ini! Sial, kalau bukan karena ulahnya, sekte-sekte kuno yang menyegel diri itu takkan mulai gelisah. Hmph, kini ia punya satu lagi alasan untuk melenyapkannya.
"Tapi tak perlu terlalu khawatir. Walaupun sekte-sekte kuno hebat, mereka sudah tersegel seratus ribu tahun. Para murid mereka pasti sudah lama mati. Yang masih hidup mungkin hanya ketua sekte dan para tetua agung. Namun, aku yakin mereka pun pasti tinggal separuh nyawa."
Yang paling menakutkan di dunia ini bukanlah kekuatan atau aura membunuhmu, melainkan waktu. Sebab di bawah gempuran waktu, entah kau bangsawan, jenderal, atau bahkan kaisar besar, pada akhirnya semua akan menjadi tanah.
Bahkan pendekar yang menantang langit pun sama saja. Jika belum mencapai keabadian, waktu perlahan akan menggerogoti tubuhmu hingga akhirnya kau pun menjadi bagian dari debu tanah.
"Syukurlah, kalau begitu." Semua orang menghela napas lega. Benar-benar menakutkan, andai orang-orang sekte kuno itu masih hidup segar bugar, mereka pasti tamat. Dunia mungkin akan kembali ke zaman kelam tanpa hak asasi manusia.
"Tapi ini juga kesempatan bagus, siapa tahu orang-orang berbakat bisa mewarisi ilmu dan ajaran sekte kuno!" ujar Putri Laut dengan nada agak bersemangat.
"Sudahlah, jangan terlalu bersemangat!" Si Penanya menimpali, "Dengan kondisi tubuhmu, mau belajar ilmu sehebat apapun, tetap saja tak ada gunanya."
"Kakak Senior!"
"Hahaha!"
"Sahabat Si Penanya, semoga beruntung!"
"Sekte kuno, ya? Selidiki!"
"Segera selidiki, siapa pun yang menerima warisan, cari tahu semuanya!"
"Kepada seluruh anggota Istana Iblis Langit, selidiki!"
"Bawahanku, selidiki!"
"..., selidiki!"
"..., selidiki!"
Saat itu, hampir seluruh negeri bergerak. Pemerintah, sekte-sekte besar, semua orang secara naluriah menyingkirkan konflik mereka dan mulai mencari tahu tentang sekte-sekte kuno yang sangat berpengaruh terhadap masa depan mereka.
Tentu saja, di antara mereka hanya Sekte Perasaan, Istana Iblis Langit, dan pemerintah yang benar-benar mendapat petunjuk langsung dari para muridnya. Sisanya hanya ikut-ikutan karena fenomena langit dan gerak-gerik lawan mereka.
Jadi, ikut-ikutan bukanlah hal baru, itu sudah menjadi naluri manusia sejak awal sejarah umat manusia...