Bab 14: Bersiap Memberi Kehangatan
Pengadilan.
Setelah memarkir mobil, Laik membawa Jo berjalan lurus masuk ke gedung pengadilan, lalu langsung berlari menaiki tangga menuju kantor Hakim Laura Birch di lantai dua.
Sejak dipromosikan menjadi detektif, Laik selalu mendapat surat penggeledahan yang ditandatangani oleh Hakim Laura Birch untuk kasus-kasus yang ia tangani.
Bisa dibilang mereka sudah cukup akrab.
Setelah masuk ke kantor, asisten Hakim Laura Birch mendengarkan maksud kedatangan Laik, lalu meminta Laik menunggu sebentar sebelum masuk ke ruang dalam untuk mengetuk pintu dan melapor.
Tak lama kemudian, asisten keluar lagi, tersenyum ramah pada Laik, “Detektif Edwin, Anda boleh masuk.”
Laik mengucapkan terima kasih, memberi isyarat kepada Jo di sampingnya, lalu masuk ke dalam ruangan.
“Selamat pagi,” sapa Laik kepada Hakim Laura Birch yang sedang menangani beberapa dokumen di mejanya, “Laura.”
Sebagai teman lama, mereka tak perlu lagi menjaga formalitas.
Laura, tahun ini berusia empat puluh lima dan memiliki dua anak, seorang putra dan seorang putri. Ia melepas kacamatanya dan menggoda Laik, “Kupikir aku akan melihatmu duduk di kursi terdakwa hari ini. Kenapa, sudah kembali bertugas?”
Laik tertawa, “Mungkin itu akan membuatmu kecewa. Kalaupun aku harus berdiri di kursi terdakwa, aku lebih memilih berdiri di depan hakim seperti Martin.”
Hakim Martin, yang tahun lalu ketahuan menerima suap dan akhirnya dipecat.
Laura menggelengkan kepala, tersenyum samar, “Jadi, kau mengaku bersalah?”
Laik tergelak, melangkah maju dan menyerahkan surat penggeledahan pabrik tekstil yang baru saja ia susun sebelum meninggalkan kantor polisi kepada Laura.
Begitu Laura menandatangani surat itu, secara hukum surat penggeledahan itu pun sah.
Laik yakin, setelah ini ia pergi ke pabrik tekstil, jangankan orang, bahkan mesin pemintal palsu yang mengaku Tuhan pun bisa ia bawa ke kantor polisi dan biarkan berdebu di gudang.
Cabut hingga ke akar-akarnya!
Laik memang tipe orang yang suka menyimpan dendam. Jika ada jasa, bisa jadi ia lupa membalas, tapi jika ada dendam, ia pasti akan membalas setuntas-tuntasnya.
Laura menerima surat penggeledahan itu dan membacanya.
Sesaat kemudian, Laura tampak sedikit terkejut melihat siapa yang menjadi target penggeledahan, lalu menatap Laik, “Kau ingin menggeledah pabrik tekstil itu?”
Laik mengangguk, “Benar.”
Kemudian Laik menceritakan pada Laura bahwa pabrik tekstil itu sebenarnya adalah markas organisasi pembunuh yang mereka sebut Perkumpulan Saling Bantu, lalu menyerahkan lampiran pengakuan pembunuh Carlos kepada Laura, “Informan-ku juga mengatakan, Carlos ini adalah salah satu pembunuh yang membelot dari Perkumpulan itu, jadi aku berencana menggeledah mesin-mesin di sana.”
Laura tampak ragu, “Selain pengakuan informan dan surat pengakuan yang tidak jelas asal-usulnya ini, apa kau punya bukti lain?”
Memang, jika sudah menyangkut organisasi seperti itu, bahkan Laura pun agak bimbang. Jika mereka langsung membuat keributan, kota New York pasti akan gempar.
Laik menatap Laura, “Jaminanku.”
Laura menatap balik Laik.
Laik mengangkat bahu, “Laura, kau tahu aku. Jika aku tidak benar-benar yakin, aku tidak akan datang mengganggumu.”
Laura masih ragu.
Setelah beberapa saat, ia terdiam lalu menatap Laik, “Laik, kali ini kau benar-benar tidak boleh gagal.”
Setelah itu, Laura mengeluarkan pena dan menandatangani surat penggeledahan itu, lalu memanggil asistennya di luar dan memerintahkannya membawa surat itu ke arsip untuk didaftarkan.
“Tunggu!”
“Ya, Bu?”
Laura menahan asistennya yang hendak membawa surat asli itu, melirik Laik, lalu berkata, “Setengah jam lagi baru dibawa ke arsip untuk didaftarkan.”
Asisten mengangguk.
Laik menyimpan salinan surat itu, mengucapkan terima kasih pada Laura, kemudian keluar bersama Jo dari kantor.
Keluar dari gedung pengadilan.
Masuk mobil.
Jo yang duduk di kursi penumpang tampak heran, “Kenapa harus didaftarkan setengah jam lagi?”
Surat penggeledahan tidak langsung sah begitu ditandatangani, harus didaftarkan di pengadilan dulu. Ada satu kasus dulu, seorang pengacara menemukan perbedaan satu menit waktu antara surat penggeledahan yang ditunjukkan polisi dan waktu pendaftaran di pengadilan, sehingga semua bukti yang didapat dinyatakan tidak sah.
Tentu saja.
Penundaan setengah jam kali ini berbeda dengan kasus itu.
Saat Laik mengemudikan mobil ke kantor polisi, ia melirik Jo sekilas, “Menurutmu, sebuah pabrik tekstil yang bisa menyumbang lima juta dolar dan punya anggota yang menjadi tim sukses walikota, apakah mereka tidak akan tahu dalam waktu singkat bahwa kita akan menggeledah mereka?”
Jo menjawab, “Sudah pasti mereka akan tahu.”
Laik mengangkat bahu, “Jadi, barusan Laura sedang membantu kita. Setelah aku mendapat surat penggeledahan dan memobilisasi tim khusus, ketika pihak pabrik tahu, kita sudah siap mengepung mereka.”
Jo mengangguk paham.
Di kantor polisi cabang tempat ia dulu bertugas, kasus yang paling sering ditangani hanyalah pembunuhan biasa, kebanyakan karena emosi sesaat. Begitu menyangkut kejahatan terorganisir atau kasus besar, semua akan langsung diambil alih oleh tiga detektif utama di kantor pusat.
Yakni tim satu George, tim dua Caitlyn, dan tim tiga Laik di bagian kriminal berat.
Kantor polisi utama.
Komisaris Montgomery menatap surat penggeledahan dari pengadilan yang baru setengah jam lalu diurus dan kini sudah ditangani Laik. Ia menatap Laik yang berdiri di depannya dengan heran, “Jangan-jangan kau memalsukan tanda tangan ini juga?”
Kalau tidak, mana mungkin Laura Birch yang hampir jadi alat tanda tangan langganan Laik, mau menandatangani hanya berdasarkan pengakuan yang tidak jelas asal-usulnya?
Gila saja.
Meski peluangnya besar, selama masih ada satu persen kemungkinan gagal, kalau sampai kejadian, akibatnya fatal.
Laik hanya mengangkat bahu tanpa berkata apa pun.
Sebenarnya, seandainya ini dulu, Laura pun belum tentu mau menandatangani surat itu. Tapi kali ini berbeda. Hakim utama pengadilan akan pensiun tak lama lagi, dan Laura jelas tertarik dengan posisi itu.
Jadi...
Ini semacam persetujuan diam-diam di antara mereka.
Montgomery melihat Laik tidak berniat menjawab, ia pun malas bertanya lebih jauh. Ia menggelengkan kepala, langsung menelepon kapten tim khusus, memberikan beberapa perintah singkat, lalu menutup telepon dan berkata pada Laik, “Kau harus pastikan kali ini berhasil.”
Maksudnya, kalau sampai ada masalah, Montgomery pun tak punya pilihan selain menyingkirkan Laik dengan berat hati.
Laik tersenyum tipis, berbalik dan pergi.
Setelah semua persiapan yang ia lakukan selama ini, bahkan kalau tidak ada aksi di pabrik tekstil itu, Laik akan memaksa mereka untuk bergerak. Jika ingin membunuh ular, harus sekaligus memutus kepalanya.
Bukan hanya memotong kepala, tapi juga harus menghancurkannya sampai benar-benar tak bersisa.
Tak lama kemudian.
Tim Strategis Kepolisian New York.
Laik masuk ke dalam ruangan, melambaikan tangan kepada para anggota tim khusus yang sudah menerima perintah dan mengenakan perlengkapan lengkap, “Saudara-saudara, sudah siap pergi menghangatkan organisasi pembunuh itu?”
Para anggota tim khusus hanya terdiam.