Pembunuh adalah pekerjaan utamaku.
Opini publik di New York pada sore hari benar-benar meledak. Terutama di kalangan kelompok tertentu.
“Terkejut, Kepolisian New York kembali melakukan tindakan kekerasan.”
“Polisi memukuli warga tanpa alasan.”
“Dua warga tak bersalah luka parah, rumah sakit sempat mengeluarkan peringatan kritis.”
“Pertanyaan…”
Ketika judul-judul sensasional ini dipadukan dengan foto seorang berkulit hitam dan seorang berkulit putih yang terbaring mengerang kesakitan, efek yang ditimbulkan sungguh luar biasa.
Pukul empat sore. Di depan kantor Kepolisian New York, sekelompok warga keturunan Afrika sudah menempati posisi strategis. Berbagai spanduk dukungan sudah siap, dan slogan-slogan pun diteriakkan dengan serempak.
Dalam urusan seperti ini, tak ada kelompok lain yang bisa menandingi mereka. Orang-orang keturunan Afrika mungkin lambat dalam bekerja, bahkan telat makan, tapi soal protes dan demonstrasi, begitu ada sedikit percikan, akan mereka anggap seperti ledakan nuklir.
Jelas sekali, dalang di balik layar sudah menyiapkan semua ini dengan matang.
Hampir seluruh lapangan di depan kantor polisi dikuasai oleh mereka, meneriakkan yel-yel bahwa kepolisian New York korup dan melindungi pembunuh, menuntut agar Leik segera ditangkap.
Kepala Polisi Bert sedang mengumpulkan banyak pejabat kepolisian untuk rapat.
“Tring-tring!”
“Halo.”
“Aku.”
“Aku tahu, aku tidak berniat beli surat izin sakit lagi.”
“Ada info orang dalam, seribu dolar.”
“…Oke.”
“Baru saja ada pengacara yang menjenguk kedua orang itu.”
“…Kenapa membantuku?”
“Aku tidak suka orang berkulit hitam, di malam hari tampak sangat menakutkan.”
“…”
Leik mendengarkan nada sambung di telepon, berkedip, dan membayangkan sebuah adegan: di malam gelap tiba-tiba muncul dua deret gigi putih… Memang cukup menyeramkan.
Leik bangkit dari tempat tidur, mengusap pelipis, lalu masuk ke kamar mandi.
Setengah jam kemudian.
Saat keluar dari parkiran bawah tanah Menara Bintang, Leik masih mengenakan kacamata berbingkai emas.
Menengadah ke langit. Matahari mulai terbenam.
Aduh!
Tadinya Leik ingin tidur nyenyak sampai malam dan kemudian ke rumah sakit untuk mengantarkan si hitam-putih itu ke “jalan akhir”, namun rencana memang sering kalah cepat oleh kenyataan.
Tampaknya dalang di balik layar ini bahkan tidak memberinya waktu untuk istirahat semalam saja.
Leik menggeleng-gelengkan kepala.
Orang yang bersembunyi di balik pasangan hitam-putih itu, jelas sekali ingin terus-menerus menjerumuskan Leik hingga hancur.
Apa dendamnya sampai segitunya?
Untung saja, orang itu tidak terlalu pintar.
Leik memberhentikan taksi dan menyebutkan alamat Rumah Sakit Amsterdam Baru, sambil berpikir.
Coba bayangkan, daripada menyewa pengacara untuk melawan Leik, lebih baik menyewa pembunuh bayaran untuk diam-diam menghabisi dua orang itu. Dengan begitu, Leik bukan hanya akan dituduh membunuh, tapi dalang di balik semua ini juga bisa benar-benar bersembunyi.
Sayang sekali… otaknya ternyata tidak terlalu cerdas.
Aku akan langsung ke sana dan “menyelesaikan” dua orang itu. Tanpa pelapor, aku ingin lihat apa lagi rencanamu.
Sepasang mata Leik memancarkan kilatan dingin.
Jangan sampai aku tahu siapa dalang di balik ini. Kalau sampai ketahuan, aku pastikan hidupmu jadi lebih buruk dari kematian.
Tak lama kemudian.
Leik tiba di Rumah Sakit Amsterdam Baru.
Saat ini, rumah sakit itu juga sudah dikepung oleh banyak wartawan, jelas mereka menunggu kabar dari dalam.
Tentu saja, harapan mereka adalah kabar kematian si hitam-putih akibat luka berat.
Media New York memang senang melihat kekacauan. Semakin kacau, semakin banyak berita, dan itu artinya bonus dan komisi mereka juga akan naik.
Leik berjalan lurus ke dalam.
Kacamatanya sudah dilepas. Ia berdiri di lobi rumah sakit lantai satu, menatap dua polisi yang berjaga di depan lift, lalu mengernyit.
Niat baik malah jadi buruk.
Dua polisi itu jelas kiriman Kepolisian New York. Singkatnya, saat ini yang paling tidak ingin si hitam-putih mati adalah pihak kepolisian, entah mereka ingin melindungi Leik atau tidak.
Selama belum mati, semuanya masih bisa diatur.
Kalau mati, bisa-bisa wali kota baru yang baru sebulan menjabat akan turun tangan.
Sayang sekali… mereka pasti mati, aku jamin.
Leik melirik sekilas pada polisi penjaga, lalu langsung melewati lift dan menuju toilet lantai satu.
Menjaga lift saja, pikir mereka aku tak bisa naik?
Leik ini pembunuh profesional, bukan cuma rumah sakit, ruang tertutup pun bisa ia tembus.
“Duar!”
“Siapa?”
“Bug!”
“…”
Leik langsung menendang pintu toilet, satu hantaman tangan membuat dokter muda yang sedang bersiap menurunkan celana itu pingsan. Ia pun menutup pintu dan mulai melepas pakaian korban.
Dua menit kemudian.
Dengan mengenakan jas putih, Leik keluar dari toilet, tersenyum pada pasien yang hendak masuk, lalu menggantungkan papan “sedang diperbaiki” di depan pintu masuk toilet pria, memberi isyarat agar pasien itu pergi ke toilet wanita di sebelah.
Pasien menunjuk ke toilet wanita di belakang, memandang Leik seolah bertanya, bolehkah?
Leik mengangkat bahu, seolah berkata, kenapa tidak?
Pasien itu mengangguk, memegangi perut dan bergegas masuk ke sana.
Tiga!
Dua!
Satu!
“Aaah!” Suara jeritan wanita yang melengking keluar dari toilet wanita, membuat kedua polisi yang menjaga lift saling berpandangan, lalu melewati Leik menuju toilet.
Tak lama.
Leik masuk ke dalam lift.
Lift bergerak naik.
Tiga menit kemudian.
Leik dengan sopan meminta izin keluar dari lift.
Lantai ini bukan ruang ICU.
ICU ada satu lantai di atas. Sebenarnya bisa saja naik lift langsung ke ICU, tapi tetap saja tak akan bisa masuk.
Pasti ada polisi dari Kepolisian New York juga di dalam sana. Mencuri jas putih hanya cukup untuk menyamar sebagai dokter dan bebas masuk ke ruang-ruang biasa, tapi kalau mau masuk ICU dengan modal jas putih saja, itu hanya ada di film.
Tujuan Leik mencuri jas putih hanya supaya nanti saat membunuh, darah tidak mengenai pakaiannya.
Walau tampak kaya, sebenarnya Leik sangat miskin. Rumahnya hadiah, mobilnya pun mobil bekas lima tahun, hanya setelan jas custom satu-satunya itu yang masih layak.
Itu pun cuma satu setel. Leik punya mimpi sederhana: ketika lotere bisa didapat sesuka hati, ia ingin memenuhi lemari pakaiannya dengan berbagai jas custom.
Ia lalu masuk ke tangga sebelah, naik satu lantai, berbelok, dan langsung mendapati pintu khusus staf medis menuju ICU.
12138!
Dengan sarung tangan kulit, Leik langsung memasukkan kode yang tadi ia beli dari Hotel Continental dengan satu koin emas saat keluar dari Menara Bintang.
Terdengar bunyi tik.
Lampu merah di kunci pintu langsung berubah hijau.
Pintu terbuka.
Seorang perawat yang baru lewat menatap Leik yang masuk dari pintu kecil itu, mengerutkan kening, “Eh, kamu dari bagian mana, kok aku…”
Leik mengarahkan pistol ke perawat di depannya. Melihat wajah perawat itu yang langsung berubah ketakutan, ia tersenyum, “Tidak apa-apa, kamu boleh teriak. Teriaklah, aku janji tidak akan membunuhmu.”
Begitu kata-kata itu selesai.
Aaaaaa!!! Suara teriakan perempuan melengking nyaris menyamai tenor Rusia menggema di seluruh lantai ICU. Perawat di depannya menjatuhkan berkas yang dipegang, lalu menekuk kedua tangan dan berteriak sekuat tenaga.
“Ada pembunuh!!”