Bab 39: Awal dari Latihan
Cang Tian Qi masih terjebak dalam kegembiraan yang sulit ia lepaskan. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu menghalangi di depan matanya, wajahnya langsung berubah. Refleks pertamanya bukan mundur atau menghindar, melainkan dengan kecepatan luar biasa, ia menyelipkan batu roh kelas menengah yang ada di tangannya ke dalam dadanya!
Baru setelah itu ia buru-buru mundur beberapa langkah, menatap ke depan dengan waspada. Melihat yang datang adalah Da Shan, syarafnya yang tegang langsung mengendur, ia menghela napas berat.
“Kakak senior, kalau kau muncul bisakah setidaknya memberi suara? Nyaris saja aku mati ketakutan.” Cang Tian Qi memelototi Da Shan, masih belum tenang dari rasa terkejutnya.
“Dengan tubuh sebesar ini, meski tanpa suara seharusnya kau bisa sadar. Kalau tidak, itu berarti perhatianmu sepenuhnya tertuju pada batu roh kelas menengah tadi.”
Sambil berkata demikian, Da Shan membuka telapak tangannya, memperlihatkan sebongkah batu roh kelas menengah.
Cang Tian Qi tersenyum canggung, sekilas melirik batu roh di tangan Da Shan, sementara tangannya secara refleks meraba dadanya. Gerakan itu spontan, tapi tiba-tiba membuat senyum di wajahnya membeku, tawa pun terhenti seketika.
Batu roh kelas menengah yang baru saja ia masukkan ke dalam dadanya, menghilang tanpa jejak!
Sekejap saja, Cang Tian Qi seperti kehilangan jiwanya, terkejut dan tidak percaya, kedua tangannya meraba-raba dadanya seperti orang mencari sabun di pemandian.
“Sudahlah, jangan diusap-usap lagi. Untung wajahmu tak menunjukkan ekspresi menikmati, kalau tidak kau sudah benar-benar aneh.” Da Shan berkata dengan datar.
Mendengar itu, Cang Tian Qi menatap Da Shan dengan ekspresi terkejut, menatap batu roh di tangannya, lalu menjilat bibirnya yang kering, bertanya, “Itu...”
“Itu memang batu yang tadi ada di dadamu.”
“Kakak senior... bagaimana kau melakukannya...”
“Saat kau masukkan ke dadamu, aku langsung mengambilnya.”
“Bagaimana mungkin! Tubuhmu sebesar itu, lenganmu saja lebih besar dari kepalaku, jelas tak masuk akal!”
“Kakakmu ini bisa menempa besi dan menyulam kain, apa lagi yang tak mungkin?”
“Aku... aku masih sulit percaya.”
“Benarkah?”
Da Shan balik bertanya. Lalu tanpa gerakan apa pun yang terlihat, batu roh kelas menengah di telapak tangannya tiba-tiba lenyap.
Detik berikutnya, entah Da Shan sengaja memperlambat gerakannya, atau Cang Tian Qi memang sangat fokus, ia bisa merasakan dengan jelas ujung bajunya di dada terbuka sedikit, sesuatu yang keras dan berat dimasukkan ke dalam dadanya!
Ketika ia raba, ternyata benar, itu adalah batu roh kelas menengah!
Mata Cang Tian Qi langsung membelalak!
Da Shan jelas berdiri tepat di depannya tanpa bergeser sedikit pun, tapi bukan hanya bisa mengambil batu roh dari dadanya tanpa ia sadari, bahkan dalam keadaan tubuhnya tak bergerak, ia bisa mengembalikannya ke tempat semula!
Semua ini benar-benar di luar nalar Cang Tian Qi.
“Kakak senior...” Cang Tian Qi menelan ludah, bertanya dengan suara gemetar, “Bagaimana caranya?”
“Sederhana saja, kecepatan, lebih cepat dari yang bisa kau lihat dengan mata telanjang.” Wajah Da Shan tetap tanpa ekspresi.
“Kecepatan?” Cang Tian Qi hanya setengah paham.
“Mau belajar?”
Tubuh Cang Tian Qi bergetar, ia mengangguk kuat-kuat dengan nada penuh semangat, “Mau!”
“Tapi... bagaimana aku bisa sampai di tahapmu?”
“Kalau tingkat kultivasimu sudah cukup, kau juga akan bisa.”
“Kultivasi...” Mendengar ini, ekspresi Cang Tian Qi mendadak muram, ia langsung teringat bahwa dirinya bertubuh Sian Ling, bagaikan seember air dingin disiramkan ke kepala.
“Kenapa? Mau menyerah lagi?”
Tak disangka Da Shan, Cang Tian Qi yang sedetik tadi muram, mendadak tersenyum lebar padanya, kedua matanya berbinar terang.
“Takkan pernah menyerah. Aku ingin menjadi kuat, sebesar apa pun rintangannya, tak akan menggoyahkan tekadku! Memang benar aku bertubuh Sian Ling, tapi aku masih belum yakin tubuh ini benar-benar tak bisa diselamatkan!”
Ketekunan dan keyakinan teguh di mata Cang Tian Qi membuat hati Da Shan sedikit terguncang.
“Kalau misalnya tubuh Sian Ling benar-benar tak bisa diubah?” Da Shan berkata datar.
Setelah berkata demikian, Da Shan menatap Cang Tian Qi dengan saksama, setiap gerakan, setiap ekspresi, semuanya ia amati dengan jelas.
Seolah-olah, ia ingin menembus kedalaman jiwa Cang Tian Qi!
Di bawah tatapannya, keteguhan di wajah Cang Tian Qi tidak melemah, malah semakin kuat. Terutama sorot matanya, menunjukkan tekad keras, tekad yang bahkan kejam pada dirinya sendiri!
“Kalau tubuh Sian Ling benar-benar tak bisa diubah, pasti masih ada jalan lain agar aku menjadi kuat, misalnya mengandalkan kekuatan luar! Setidaknya, itu takkan membuat tekadku padam!”
Setelah beberapa lama, Da Shan mengangguk pada Cang Tian Qi, mata menunjukkan rasa kagum, “Bagus, kau sudah berbeda dari saat pagi tadi, keyakinanmu jauh lebih teguh. Apa yang kau alami dalam tugas tadi?”
Cang Tian Qi mengangguk, tapi tidak mengeluh di depan Da Shan, “Ada sedikit gesekan, tapi membuatku paham beberapa hal, sekaligus meneguhkan keyakinanku.”
Melihat Cang Tian Qi tidak ingin bercerita detail, Da Shan pun tidak memaksa, “Kakak senior tidak tahu bagaimana caramu mendapatkan batu roh kelas menengah dalam waktu sesingkat itu, tapi yang harus kau tahu, sejak kau mendapatkan batu roh ini, latihanmu yang sesungguhnya baru dimulai.”
Sambil berkata, wajah Da Shan menjadi sangat serius, cahaya spiritual menyala di tangannya, lalu sebuah palu tempa muncul di tangannya.
Melihat palu itu, Cang Tian Qi merasa sedikit familiar.
“Jangan heran, itu memang palu tempa milikmu.” Da Shan berkata datar.
“Milikku?” Cang Tian Qi sempat bingung, lalu wajahnya tampak mengerti, “Pantas saja seperti pernah kulihat.”
Palu itu memang ia dapatkan semalam, dan ia letakkan di atas mejanya. Sekarang muncul di tangan Da Shan, jelas Da Shan mengambilnya saat ia pergi menjalankan tugas.
“Ambil, mulai sekarang, kecuali benar-benar terpaksa, palu ini tak boleh kau tinggalkan.”
“Ah? Ini...”
Wajah Cang Tian Qi berubah masam, ia tahu benar betapa beratnya palu tempa ini. Meski ukurannya tak besar, sama seperti palu tempa pada umumnya, tapi bobotnya sungguh luar biasa.
“Kau tak ingin menjadi kuat?”
“Dengan membawanya terus, aku bisa jadi lebih kuat?”
“Bisa.”
Mendapat jawaban pasti dari Da Shan, Cang Tian Qi menarik napas dalam-dalam, menggertakkan gigi, wajahnya menjadi serius, lalu kedua tangan menerima palu tempa itu.
Begitu palu itu berada di tangannya, tubuh Cang Tian Qi yang kurus langsung terhuyung, nyaris jatuh ke tanah.
Da Shan hanya memperhatikan tanpa membantu, wajahnya tetap datar.
Hingga waktu sebatang dupa berlalu, tubuh Cang Tian Qi seolah mulai terbiasa dengan berat palu itu, ia berhasil memanggulnya di bahu meski dengan susah payah.
Sepanjang proses itu, Da Shan tak pernah mengalihkan pandangan. Melihat Cang Tian Qi akhirnya tidak roboh, bahkan memanggul palu di bahu, meski tampak jauh dari gagah atau indah, namun pemandangan itu membuat Da Shan terkejut dalam hati.
“Tubuh yang tak sama dengan orang kebanyakan!” Da Shan membatin, meski tak menunjukkan keterkejutan itu di wajahnya.
“Kakak senior... selanjutnya... apa?” Dengan berat di bahu, wajah Cang Tian Qi memerah, untuk mengucapkan beberapa kata pun ia tampak sangat kesulitan.
Da Shan mengulurkan selembar kertas, penuh tulisan kecil-kecil yang tak diketahui isinya.
“Apa ini?” tanya Cang Tian Qi heran saat menerima kertas itu.
“Daftar bahan untuk menempa embrio logam spiritual. Pergilah, aku akan menunggumu di sini.” Da Shan berkata datar.
Ia tahu Cang Tian Qi tidak memiliki kesadaran spiritual, tak bisa membaca informasi dalam batu giok, jadi ia menuliskan bahan-bahan yang diperlukan dengan tinta di atas kertas.
Cang Tian Qi mengiyakan, menyelipkan daftar bahan ke dalam dadanya, lalu di bawah tatapan Da Shan, ia melangkah perlahan menuju gudang bahan. Setiap langkah membuat tubuh kurusnya bergetar, dan setiap getaran itu justru menambah kekuatan tekad di matanya!
Bukan karena ia tak mau berjalan lebih cepat, tapi memang tak mampu. Palu tempa di bahunya seolah gunung besar yang membuatnya sulit bernapas.
Andai bisa, ia ingin berlari secepat angin.
“Guru, melihat kondisi adik seperguruan saat ini, mungkin cadangan rencanamu tak perlu digunakan.” Melihat langkah demi langkah Cang Tian Qi yang berat namun tak pernah berhenti, sudut bibir Da Shan terangkat membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
Tak bisa dipungkiri, ia benar-benar tersenyum, dan itu untuk Cang Tian Qi.
Dengan satu gerakan tangan, Da Shan seperti melakukan sulap. Kulit binatang dan alat sulam yang tadi ia taruh di dalam rumah, tiba-tiba menghilang dan muncul di tangannya.
Ia tetap berdiri di tempat, satu sisi menunggu kembalinya Cang Tian Qi, satu sisi lagi dengan cekatan menyulam kulit binatang.
Sesekali ia mengangkat kepala, entah melihat apa, atau mungkin sudah jadi kebiasaan, lalu kembali fokus pada sulamannya.
Kadang-kadang, ia juga menggoreskan ujung jarum pada rambut panjangnya, konon katanya supaya jarumnya makin tajam.
Jika ada seseorang mendekat dan menatap kulit binatang di tangannya, pasti akan sangat terkejut, karena setiap tusukan jarumnya ternyata tak meninggalkan bekas apa pun!
Kulit binatang itu tetap utuh seperti semula, sama sekali tak terlihat bekas tusukan jarum!
Namun, jarum dan benang itu benar-benar menembus kulit binatang, bahkan warna benangnya berbeda dengan warna kulit itu sendiri.
Hal ini menimbulkan kesan misterius sekaligus aneh bagi siapa pun yang melihatnya.