Bab Tujuh Puluh Lima: Ketakutan di Bukit Makam
Bahkan si Hitam pun bisa mencium bau amis darah, alisnya mengerut rapat saat menatap ke depan.
Namun, ketika kami melihat ada hamparan rumput kuburan tak jauh di depan, kami berdua tak kuasa merasa lega.
Si Hitam dan aku cepat melangkah mendekat, dia mencabut sebatang rumput kuburan, menelitinya dengan seksama untuk memastikan tidak ada darah, lalu dengan sigap mencabut lebih banyak lagi. Aku berniat ikut membantu, namun mataku malah tertarik pada tanah kuburan nenek yang jaraknya tak sampai sepuluh meter dari kami.
Permukaan kuburan itu masih dipenuhi lintah-lintah hitam yang merayap. Sebelumnya kami tak tahu sebabnya, namun kini aku paham, semua karena tanah di sana bisa mengeluarkan darah, sehingga begitu banyak lintah terundang datang.
Anehnya, kuburan lain belum ada lintah, tapi kuburan nenek, seperti yang pernah dikatakan si Hitam, sudah muncul lintah sejak sebulan lalu, bahkan gundukan tanahnya amblas tanpa sebab. Apakah ada sesuatu di bawah sana?
Memikirkan itu, dan melihat lintah-lintah itu, aku tak bisa menahan diri untuk menggeleng.
Aku segera berjongkok membantu si Hitam mencabut banyak rumput kuburan, membungkusnya dengan baju si Hitam, lalu buru-buru mendesaknya untuk segera turun gunung bersamaku.
Sebab, di tengah makam-makam ini, jantungku berdebar sangat kencang, bahkan kini terasa sesak, seolah firasat buruk sedang menghantui.
Perasaan itu sangat kuat, apalagi sebelumnya Bai Liunian sudah mengingatkan kami untuk tidak masuk terlalu dalam. Setelah mendapat cukup, segera kembali.
Sekarang kami sudah masuk terlalu jauh. Jika tidak segera kembali, mungkin akan ada hal buruk terjadi.
“Tapi, harus direndam tujuh hari, apakah rumput ini cukup?” tanya si Hitam dengan nada khawatir.
“Hitam, kita harus pergi sekarang. Lihat, hari sudah hampir gelap. Jika tidak segera turun, entah apa yang akan kita temui.” Aku menarik si Hitam dengan cemas, menyeretnya menuruni bukit.
Melihat wajahku yang serius, si Hitam tidak membantah. Satu tangannya menggenggam erat baju berisi ramuan itu.
Namun, meski kami sudah berusaha sekuat tenaga menuruni gunung secepat mungkin, ternyata sudah terlambat. Sebuah bayangan melayang dari atas pohon, mendekati aku dan si Hitam.
Dari sudut mataku, jelas terlihat sosok itu menyerupai manusia. Bagaimana mungkin ada manusia di atas pohon, melayang seperti burung? Apakah kami kembali bertemu makhluk tak bersih?
Aku hanya memendam pikiran itu, tak berani mengatakannya, khawatir membuat si Hitam semakin takut.
Jika rasa takut sudah merasuk ke dalam hati, kaki akan melemas, dan saat ingin lari pun mungkin tak akan bisa.
Karena terus melirik bayangan di atas pohon, kakiku tersandung batu, aku pun terjatuh ke tanah.
“Ah!”
Aku menjerit, melepaskan tangan si Hitam, jatuh keras ke tanah.
Si Hitam tertegun, menoleh ke arahku. Begitu menoleh, ia langsung terduduk lemas ketakutan, bahkan ramuan yang digenggamnya pun berhamburan ke tanah.
“Xi... Xi... Xi... Ada... ada hantu...!”
Tangan si Hitam gemetar menunjuk ke arah pohon. Aku mengerutkan kening, menoleh, dalam hati berpikir inilah akhirnya, Bai Liunian sudah pasti tak sempat menolong kami.
Terdengar suara “krek-krek” dari atas pohon, seperti seseorang sedang menguyah sesuatu.
Aku menajamkan pandangan, melihat sosok itu menggenggam seekor gagak mati di tangannya. Ia menggigit kepala burung itu hingga lepas, lalu mengunyahnya dengan suara keras.
“Xi?” Si Hitam ingin bicara, segera kutunjukkan isyarat “diam”, lalu diam-diam mengambil batu, menarik si Hitam untuk perlahan-lahan bangkit.
Namun si Hitam masih berusaha meraih ramuan di tanah. Gerakannya itu membuat sosok di atas pohon itu kembali menoleh ke arah kami.
“Lari!” Aku berteriak, menarik si Hitam dan berlari sekuat tenaga. Jika ini lomba lari, pasti aku sudah memecahkan rekor.
“Ah!”
Baru beberapa meter berlari, si Hitam tiba-tiba menjerit. Saat aku menoleh, ia sudah ditarik oleh sosok itu. Sosok itu mengenakan jubah hitam, wajahnya tertutup topeng aneh yang menutupi mata dan hidung, hanya menyisakan mulut penuh darah.
Tubuhnya memancarkan bau amis dan tanah yang sangat menyengat.
Si Hitam diangkat dengan satu tangan, kedua kakinya mengayun-nyayun, namun sia-sia. Sosok itu bahkan mengulurkan tangannya ke arahku. Aku melihat, tiga jarinya telah berubah menjadi tulang putih.
“Lepaskan Hitam!” Aku berteriak, melempar batu ke wajah sosok itu.
Bunyi “plak” terdengar, topeng itu pecah terkena batu, menyingkap separuh wajah lelaki yang membusuk.
Ia membuka mulut, mengulurkan lidah kehijauan, menjilat wajah si Hitam dengan keras.
“Ahhhh!” Si Hitam menjerit ketakutan, wajahnya kini berlumuran luka berdarah yang mengerikan.
Baru ku sadari, lidah makhluk itu ternyata dipenuhi duri tajam. Sekali dijilat, kulit pun terkelupas.
“Xi, lari! Cepat lari!” Si Hitam menendang-nendang makhluk itu sekuat tenaga. Aku menoleh ke sekeliling, melihat di dekat makam ada dua tempat lilin. Segera kuambil lalu kutimpukkan ke kepala makhluk itu.
Aku berharap ia akan melepas si Hitam, namun ia hanya sedikit menoleh, lalu membuka mulut hendak menggigit si Hitam.
Di saat genting itu, entah dari mana selembar jimat kuning melayang, menempel tepat di dahi makhluk itu.
Bunyi “dukk”, si Hitam terlepas dan jatuh ke tanah.
“Bai Kakak!” teriak si Hitam, berlari ke depan. Aku melihat Bai Liunian telah datang, segera menyusulnya.
Kulihat Bai Liunian bermandikan keringat, bibirnya agak ungu, napasnya tersengal—jelas ia berlari ke sini secepat mungkin.
“Bukankah sudah kubilang jangan masuk ke hutan? Kenapa kalian tidak menurut!” Bai Liunian untuk pertama kalinya membentakku dengan nada marah.
Aku dan si Hitam tertegun, menunduk tanpa berani bicara, karena memang kami yang salah.
Mengabaikan ucapannya, kami hampir kehilangan nyawa.
Melihat kami diam saja, Bai Liunian berjalan mendekat ke makhluk itu, mengangkat tangannya dan menebas leher makhluk itu dengan keras. Kepala makhluk itu langsung terputus dan jatuh ke tanah.