Bab Tiga Puluh Tiga: Penyergapan
Penolakan tanpa ampun dari Cang Yan membuat suasana di tempat itu menjadi canggung. Ai Yili merasa dirinya sedikit dipermalukan, hatinya agak malu sekaligus kesal. Ia tak bisa menahan diri untuk menggerutu dalam hati: Bocah sialan, tak kusangka seorang murid seperti kamu ternyata lebih sulit diatur daripada aku sebagai guru.
Memikirkan itu, ia pun mengganti nada bicara menjadi serius, “Cang Yan, sekarang aku mengundangmu makan malam sebagai pembimbing kelas Penyihir Petir. Ada hal penting yang perlu dibicarakan.”
Sembari berkata demikian, matanya menatap tajam ke arah Cang Yan, menanti ia menyerah.
Dasar bocah, guru sudah berbicara sampai sejauh ini, masak kau masih berani menolak dan melawan perintah guru?
Sayangnya, hal yang tidak ia duga adalah bahwa raja kita satu ini benar-benar tidak tergoyahkan.
“Bu Ai, sekarang aku juga sebagai murid kelas Penyihir Petir memberitahumu, aku benar-benar tidak ingin pergi.”
Cang Yan sudah mulai tidak sabar, ia menggaruk kepala dan ingin segera kembali ke kamar untuk tidur.
Sungguh, jangan lakukan pada orang lain apa yang kau sendiri tidak suka! Tak kusangka guruku ini begitu sewenang-wenang, ingin menekanku dengan statusnya, padahal tidak sadar kalau akademi ini dinamai ‘Qingtian’ karena siapa!
Melihat Cang Yan berbalik hendak pergi, sama sekali tak berminat menanggapinya, bukan hanya sang guru cantik yang jadi panik, bahkan si gendut kecil di sampingnya pun tak tahan lagi.
“Bos...”
Ia buru-buru melangkah menghadang pintu kamar Cang Yan, berbisik cemas, “Bos, kalau kita berdua mau punya masa depan cerah di akademi, semua tergantung penampilanmu malam ini. Jangan langsung menolak begitu saja. Walaupun kau tak berminat, setidaknya demi adikmu ini, kau harus pergi. Asal kau mau bicara baik-baik soal aku di depan Bu Ai, aku bakal berterima kasih seumur hidup!”
Mendengar itu, Cang Yan baru sadar juga, sebenarnya ia sendiri tak peduli dengan hidup di akademi, tapi sekarang kan ada adik kecil satu ini!
Baiklah, toh cuma makan gratis dengan wanita ini, anggap saja aku mengalah untuk kali ini!
Andai saja Ai Yili tahu isi hati tak tahu malu Cang Yan ini, entah apa yang akan ia pikirkan, yang jelas ia pasti menyesal datang ke sini.
“Bu Ai, tunggu sebentar. Aku beres-beres dulu, habis itu kita makan... eh, maksudku ikut makan.”
Selesai bicara, dan melihat Ai Yili tersenyum puas, Cang Yan pun masuk kamar dan mengganti baju dengan jubah Penyihir Petir, karena keluar makan pakai piyama itu jelas tak sopan.
Melihat Cang Yan dan gurunya pergi menjauh, bibir Meng Chao menyunggingkan senyum licik, bergumam, “Bos, nikmati saja keberuntunganmu bersama wanita. Kalau beneran jadi, jangan lupa sama adikmu yang sudah membantu ini…”
Duh! Jadi ternyata tujuannya bukan cuma agar bosnya bicara baik soal dirinya di depan guru, tapi ingin jadi mak comblang!
Kalau Cang Yan tahu, pasti gendut kecil itu sudah kena bogem mentah, karena membangunkannya dari tidur saja sudah cukup bikin orang marah.
...
Di luar Akademi Qingtian, berdiri Restoran Litian di jalan utama kota Qingtian, sekaligus tempat terkenal di kalangan kaum bangsawan. Meski sudah larut malam, tamunya tetap penuh.
Di sebuah ruang pribadi yang elegan, Cang Yan duduk bosan di ujung meja menanti jamuan makan malam.
Demi meredakan ketegangan yang barusan terjadi, Ai Yili memilih kata-kata dengan hati-hati, lalu berkata sambil tersenyum, “Cang Yan, hari ini berkat kau, kelas Penyihir Petir bisa membalikkan keadaan dan menang.”
Sebenarnya, yang paling ingin ia syukuri adalah karena Cang Yan telah membantunya meraih kebebasan, hanya saja ada hal yang tak bisa diketahui banyak orang. Ia pun tak ingin mengungkapkan identitas aslinya, namun sejak kecil ia sudah terbiasa untuk tak berutang budi pada siapa pun. Inilah alasan kenapa ia mengundang Cang Yan makan malam. Meski satu kali jamuan tidak cukup untuk membalas budi, setidaknya ia sudah menunjukkan niat baik.
Mendengar pujian dari Ai Yili, Cang Yan hanya menanggapinya dengan santai, “Oh, itu sudah seharusnya! Siapa suruh mereka mengganggu tidurku.”
“Tidur?”
Mendengar kata itu lagi, Ai Yili hampir saja kehilangan kendali. Dasar bocah, tidur, tidur, tidur! Itu saja yang kau pikirkan!
“Benar, aku lagi tidur nyenyak di bawah kursi, tiba-tiba dibangunkan gara-gara mereka. Kau bilang, pantas nggak aku kasih pelajaran?”
Sambil berkata, Cang Yan mengepalkan tinju, tampak jelas ia masih kesal karena tidur siangnya diganggu.
Ai Yili hanya bisa terdiam, tak menyangka alasan anak ini naik ke arena hanya karena itu. Padahal ia tadinya ingin memuji karena Cang Yan punya rasa solidaritas kelompok yang tinggi.
“Oh iya, kenapa Bu Ai tiba-tiba ingin mengajakku makan malam?”
Saat Ai Yili masih dalam hati menggerutu soal kebiasaan tidur Cang Yan, ia malah balik bertanya.
“Oh, tentu karena penampilanmu hari ini luar biasa. Kau membawa nama baik kelas Penyihir Petir.”
Ai Yili memang tak berniat mengatakan alasan sebenarnya, jadi ia hanya menggunakan kelas sebagai alasan.
“Ngomong-ngomong, kau ini sebenarnya belajar ilmu sihir apa sih? Waktu melihat cahaya ungu yang kau lepaskan, aku sampai kaget.”
Mendengar sang guru cantik menyinggung kekuatan Bintang Berkumpul miliknya, Cang Yan hanya bisa menjawab seadanya, mengaku kalau metode latihannya memang sedikit berbeda dari yang lain, tidak ada yang istimewa.
Singkatnya, kedua orang ini bicara lama, tapi tak satupun yang berkata jujur.
...
Setelah Cang Yan dan Ai Yili selesai makan malam yang terasa hambar itu dan keluar dari restoran, bulan telah tinggi di langit, hampir tengah malam.
Dalam perjalanan pulang, jalanan sudah sepi, maklum pada jam segini semua rumah sudah terlelap. Mereka masih sempat bercakap-cakap ringan sampai hampir tiba di gerbang akademi...
Tiba-tiba terdengar suara “wusss”, untung saja meski kekuatan lamanya telah hilang, Cang Yan masih punya reflek yang luar biasa. Sekejap tubuhnya melesat menghindari serangan senjata rahasia itu.
“Siapa di sana?!”
Melihat Cang Yan tak terluka, Ai Yili segera menengok ke arah datangnya senjata itu, berseru waspada.
Cang Yan pun segera merasakan gelombang energi di sekitarnya. Ia mendapati, ternyata bukan hanya satu orang yang bersembunyi, melainkan empat, masing-masing di empat penjuru.
Ia tak berani lengah, segera menggerakkan kekuatan penyihirnya, menggunakan Teknik Bintang Menghilang, melangkah dengan langkah rahasia menuju satu arah, sementara tetap mengawasi ketiga arah lainnya agar kalau musuh gagal menyerang dirinya, mereka tidak berbalik menyerang Ai Yili.
Saat sampai di tempat si penyerang bersembunyi, ia melihat orang itu membungkuk di sudut gelap yang terhalang cahaya bulan. Dengan indra Hati Suci Iblis, Cang Yan mengetahui bahwa orang itu adalah penyihir tingkat Kaisar. Andai dulu saat masih punya kekuatan ilahi, ia bisa membunuhnya hanya dengan satu tarikan napas. Sayang, sejak terakhir kali memaksa saluran energi dalam tubuhnya berubah, kekuatan ilahinya jadi kacau dan tak bisa digunakan lagi.
Ia mencoba menimbang perbedaan kekuatan, jika ia menggunakan kekuatan Bintang Berkumpul dan menyerang dengan sekuat tenaga, mungkin saja ia bisa membunuh lawan jika berhasil menyerang titik vital secara tiba-tiba.
Tanpa pikir panjang lagi, ia memaksimalkan Teknik Bintang Menghilang, menahan napas, menutupi seluruh jejak kekuatannya, lalu dengan hati-hati mendekat, mengumpulkan kekuatan di tangan kanan. Begitu cukup dekat, ia langsung memukul tepat di pelipis si penyergap. Tak terdengar suara sedikit pun, tubuh penyihir Kaisar itu langsung tergeletak tak bernyawa, bahkan ia sendiri mungkin sampai mati tak akan tahu bagaimana ia dibunuh, semuanya terjadi tanpa jejak, tanpa suara. Sungguh kematian yang menyedihkan.
Cang Yan berencana mengulangi cara yang sama ke tiga arah lain, namun tak disangka lawan rupanya tak sabar, atau terlalu percaya diri dengan kekuatan sendiri. Mereka bertiga malah langsung keluar dari persembunyian. Hal ini jelas membuat Cang Yan kesal, sebab kalau bertarung terang-terangan, dengan kekuatannya saat ini kemenangan sangat sulit diraih.
“Hahaha... Ai Yili, bagaimana? Tak menyangka, bukan?”
Tawa nyaring yang sombong itu disusul suara dingin menusuk.
“Holian Ying!”
Melihat satu dari tiga orang berbaju hitam keluar dari bayangan, Ai Yili sampai menggertakkan gigi.
Benar, orang itu adalah Holian Ying, yang siang tadi memimpin kelas Penyihir Api melawan kelas Penyihir Petir.
“Kenapa? Tak senang bertemu denganku?”
“Kau bajingan, taruhan itu sudah kau kalah. Apa lagi yang kau inginkan?”
Namun Holian Ying tidak langsung menjawab, ia malah menoleh ke sekeliling, lalu menyeringai, “Suruh bocah itu keluar. Siang tadi aku sudah lihat sendiri ilmu menghilangnya yang aneh itu. Jangan kira cuma karena bersembunyi aku tak bisa menemukannya.”
Padahal, ia sendiri sebenarnya tak bisa menemukan Cang Yan. Ia hanya bermaksud menipu Ai Yili dan Cang Yan, berharap mereka lengah dan Cang Yan keluar, sehingga ia bisa membunuhnya tanpa sisa. Sebab kemampuan menghilang aneh itu, bahkan sebagai penyihir tingkat Kaisar pun ia tak bisa merasakannya, jelas sangat berbahaya.
Mendengar itu, Ai Yili tentu paham ia hanya mencoba mengelabui. Bahkan dirinya yang juga penyihir tingkat Kaisar tak bisa mendeteksi Cang Yan saat menghilang, apalagi Holian Ying.
Yang ia khawatirkan sekarang adalah jangan sampai Cang Yan betul-betul muncul karena terpancing kata-kata musuh. Kalau bisa, sebaiknya Cang Yan langsung kabur saja, biar tak dibunuh dan disingkirkan oleh mereka.
Tapi sebenarnya kekhawatiran Ai Yili itu sia-sia belaka. Seseorang yang sudah hidup puluhan ribu tahun seperti Cang Yan, andai tak mampu membaca trik murahan seperti itu, tak layak menyandang gelar penguasa dunia.
Saat itu, ia justru berdiri “terang-terangan” di depan ketiga orang Holian Ying, menunggu kesempatan menyerang.
“Bagaimana? Jangan-jangan kekasih kecilmu sudah kabur meninggalkanmu?”
Setelah lama menunggu Cang Yan tak juga muncul, Holian Ying menyeringai sinis, mengejek.
Mendengar kata “kekasih kecil”, wajah Ai Yili seketika merona, lalu segera memudar. Ia membalas, “Bajingan, tutup mulutmu! Hubungan kami hanya guru dan murid!”
Entah kenapa, untuk pertama kalinya mendengar dirinya dan Cang Yan dikait-kaitkan dengan hubungan semacam itu, meski ia tahu itu hinaan, hatinya selain marah juga diam-diam muncul perasaan aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan itu muncul sejak siang tadi ketika ia melihat Cang Yan berdiri di atas arena dengan kemenangan mutlak.
Melihat perubahan ekspresi Ai Yili yang begitu halus, Holian Ying hampir saja meledak karena marah. Saat tadi siang melihat Ai Yili berlari ke pelukan Cang Yan, ia tak peduli apa alasannya. Dalam hatinya, mereka sudah dianggap pasangan mesum. Ditambah lagi dendam karena Cang Yan telah menggagalkan rencananya, ia telah bersumpah akan menghancurkan bocah itu hingga tak bersisa.