Bab 31: Shu Bai
Pada hari pengangkutan bahan makanan itu, dia memanfaatkan keramaian untuk menyelinap bersama Qinglan ke dalam rombongan pengawal logistik.
Kedai arak Nianxia di Jiangzhou sudah mulai beroperasi. Meski usahanya tidak seramai toko utama di Liyangfu, namun tetap saja memberikan pemasukan bagi Wan Jingyue.
Yang terpenting, melalui kedai arak itu, dia juga bisa mendapatkan beberapa kabar berguna dari masyarakat.
Mengikuti rombongan pengawal logistik, Wan Jingyue sama sekali tidak menyadari bahwa ada satu orang yang dikenalnya di antara mereka, yakni Zhang Fenyu.
Zhang Fenyu telah merubah penampilannya. Semula dia adalah seorang pria berwajah tampan, kini wajahnya penuh bintik hitam dan nampak buruk rupa.
Berdasarkan informasi dari akademi, dia mengetahui rencana perjalanan Wan Jingyue.
Tujuannya kali ini adalah membawa Wan Jingyue kembali ke akademi.
Selama misi ini bisa diselesaikan dengan lancar, dia akan mendapatkan penawar dan kebebasannya.
Malam itu, rombongan pengawal logistik beristirahat di kaki sebuah bukit kecil di tengah perjalanan.
Zhang Fenyu sedang memikirkan rencananya untuk bertindak tengah malam.
Obat bius yang sangat manjur membuat Wan Jingyue bermimpi indah.
Dalam mimpinya, ada ayah, ibu, kakak, dan seseorang yang sering dianggap kayu... Cahaya matahari begitu hangat dalam mimpi itu, seolah-olah malam tidak pernah datang.
Namun Wan Jingyue tetap terbangun. Yang terlihat hanyalah kegelapan.
Zhang Fenyu berhasil melaksanakan niatnya. Ia membius Wan Jingyue dengan dupa, lalu membawanya pergi dari rombongan pengangkut bahan makanan.
Membawa Wan Jingyue, Zhang Fenyu tak berani menempuh jalan utama, ia terus menyusuri jalan setapak di pegunungan.
Perjalanannya tidak terlalu cepat, juga tidak lambat, namun Wan Jingyue menderita karenanya.
Zhang Fenyu tidak pernah berbicara dengan Wan Jingyue, demi menjaga penyamarannya. Saat waktu makan tiba, ia hanya mengikat kaki Wan Jingyue dan melepaskan ikatan tangannya.
Lalu ia menyelipkan dua roti kukus ke tangan Wan Jingyue.
Makanan itu sudah dicampur obat yang membuat tubuh lemas, Wan Jingyue mengetahuinya, namun ia tidak bisa menolak makan.
"Yang menculikmu adalah Zhang Fenyu." Yun Yao, yang dulu pernah menjadi pembunuh bayaran, sering bersinggungan dengan penyamaran. Meski ilmunya tidak terlalu tinggi, tetapi ia tetap bisa mengenali orang yang sedang menyamar.
Wan Jingyue sangat penasaran dengan akademi yang sering disebut-sebut oleh mereka. Ia merasa akademi itu mungkin berkaitan dengan peperangan di Nan Ming.
Untuk saat ini belum bisa melarikan diri, mendapatkan kabar saja sudah cukup baik. Soal bagaimana kabur, kalau memang bisa, ia tak perlu mengambil resiko sebesar itu.
Wan Jingyue melahap roti kukus yang sudah dicampur obat dengan getir, dalam hati ia bertanya-tanya apakah hidupnya akan berakhir di tangan akademi misterius yang tiba-tiba muncul ini.
Hari itu, Shu Bai berhasil menangkap empat ekor kelinci gemuk dan hatinya sangat senang.
Sambil bersenandung, ia melihat dua orang sedang beristirahat di tanah lapang di tepi hutan pegunungan.
Sudah lama tak ada orang yang menemaninya berbincang. Kebetulan hari ini hasil buruannya banyak, ia berniat mengajak mereka makan daging bakar dan minum arak bersama.
Wajah Shu Bai dipenuhi janggut, berpakaian seperti pemburu gunung. Saat hendak menyapanya, ia menyadari ada yang tidak beres, salah satu dari dua pria itu tampak terikat.
Sudah lama ia tidak melihat kejadian semenarik ini.
Shu Bai segera menyembunyikan diri di titik buta pandangan kedua orang itu, lalu mengamati mereka dengan seksama.
"Wan, ada orang yang datang," bisik Yun Yao yang terselip di pinggang Wan Jingyue, melihat lelaki berjanggut lebat dari kejauhan.
"Bang, kau sudah menculikku beberapa hari. Kita terus berjalan tanpa banyak bicara, apa kau tidak bosan?" Wan Jingyue sengaja menaikkan nada suaranya menjadi agak manja.
Zhang Fenyu tetap fokus makan, tak menggubris Wan Jingyue.
Penjual manusia? Yang paling ia benci adalah penjual manusia.
Shu Bai meletakkan kelinci buruannya, mengangkat busur dan membidik pria yang tak jauh itu.
Satu anak panah menembus pinggang belakang pria itu, membuat Zhang Fenyu merasakan sakit yang menusuk.
Shu Bai segera maju dan melepaskan ikatan di kaki Wan Jingyue.
"Nona, bagaimana perasaanmu?"
Wan Jingyue memandangi pria di depannya, tampak seperti pemburu hutan, namun ia tak tahu bagaimana wataknya.
Jangan sampai lepas dari mulut harimau, masuk ke sarang serigala.
"Aku terkena obat pelumpuh, mungkin jalanku masih lambat, perlu tempat beristirahat untuk menghilangkan efek obat. Terima kasih sudah menyelamatkanku, kau pemburu di gunung ini, ya?"
"Benar, ikutlah aku. Soal penjual manusia itu, biarkan saja, hidup atau mati itu urusannya sendiri."
Wan Jingyue merasa sedikit menyesal meninggalkan Zhang Fenyu, tampaknya ia tidak sempat menanyakan tentang akademi itu.
Untung masih ada jalur Ye Lin.
Siapa tahu Chen Zexi juga ada kaitan dengan akademi misterius itu.
Sebuah pondok kayu yang rapi berdiri di tengah hutan lebat Gunung Xi.
Pemburu ini benar-benar tinggal di tempat terpencil.
"Bagaimana aku harus memanggilmu?"
"Namaku Shu, hanya satu kata Bai. Panggil saja Kakak Shu," jawabnya.
Shu Bai lalu keluar dari rumah, menuju sungai kecil di depan pondok untuk membersihkan kelinci buruannya.
Aroma kelinci panggang yang sedap menyeruak masuk ke dalam pondok, membangunkan Wan Jingyue yang sedang bersandar di dinding.
"Nak, kelincinya sudah matang, ayo keluar makan."
Nak pun jadilah, kenapa harus pakai kata kecil segala?
Wan Jingyue memang tidak suka diperlakukan seperti anak kecil.
Walau hanya menggerutu dalam hati, makan tetap harus makan.
Tanpa dicampur obat, kewaspadaan Wan Jingyue sedikit menurun.
Ia duduk di tepi perapian, melahap kelinci panggang yang lezat, tak kuasa menahan syukur atas keberuntungannya.
"Bagaimana kau bisa bertemu penjual manusia itu? Di mana rumahmu? Apa kau tahu jalan pulang?"
"Aku keluar bersama rombongan kafilah pengangkut bahan makanan, tapi malah diculik oleh orang jahat. Aku tinggal di Kabupaten Mengxi, Lingzhou, tapi aku tidak tahu jalan pulang."
"Kalau begitu, beberapa hari ini kau tinggal di sini dulu. Aku akan sering berburu, mengumpulkan bekal, lalu mengantarmu kembali."
Shu Bai hanya punya satu pondok kecil dan satu ranjang. Sekarang dengan adanya seorang anak perempuan, tentu agak merepotkan.
"Nanti malam, kau tidur di ranjang, aku tidur di dekat pintu. Kebetulan masih ada beberapa meter kain kasar, bisa kita pasang tirai di tengah."
Wan Jingyue tahu keadaannya terbatas, ia buru-buru mengangguk menyetujui.
Malam pertama, Wan Jingyue tak benar-benar tidur lelap, ia khawatir Shu Bai yang ditemuinya ternyata bukan orang baik.
Hari-hari berlalu, kondisi Wan Jingyue pun berangsur pulih.
Saat Shu Bai pergi berburu, ia berlatih lagi jurus langkah angin bayangan yang sudah lama tak ia tekuni.
Cukup menginjak ranting kecil, ia bisa melompat tiga kaki ke atas. Jurusnya belum kaku, tetapi belum juga sempurna.
Menurut Yun Yao, jika ilmu meringankan tubuh ini sudah benar-benar dikuasai, ia bisa melompat enam kaki hanya dengan menginjak daun. Sepertinya ia harus rajin berlatih.
Hari itu, Shu Bai sedang beruntung, membopong banyak hasil buruan. Saat ia sampai di depan pondok, ia melihat si gadis kecil sedang melompat ke atas dengan menginjak ranting.
Langkah angin bayangan? Ia seolah melihat kembali sosok guru perempuannya yang lembut, berlatih langkah demi langkah mengikuti kitab peninggalan leluhur.
Itulah guru terbaiknya, yang telah menghilang bertahun-tahun.
Guru, Shu Bai sudah dewasa, kenapa guru belum juga kembali ke Gunung Xi mencarinya?
"Nak, besok pagi kita berangkat."
Wan Jingyue tidak menyadari sorot mata berkaca di mata Shu Bai, ia masih memikirkan bagaimana caranya agar ilmu bela dirinya bisa cepat meningkat.
Keesokan harinya cuaca mendung. Wan Jingyue mengenakan caping besar milik Shu Bai, membawa buntalan kecil berisi makanan dan kantong air, lalu mengikuti Shu Bai di jalan setapak.
Shu Bai sudah memangkas janggutnya, memperlihatkan dagu yang bersih.
Namun perbedaan warna antara dagu dan pipinya sangat mencolok, membuat orang ingin tertawa melihatnya.
Shu Bai mengganti pakaian pemburunya dengan baju kain biasa, kini ia tampak seperti petani desa pada umumnya.
Setelah turun dari Gunung Xi, mereka sampai di Kabupaten Yifeng.
Shu Bai mencari seorang pedagang keliling untuk menanyakan arah menuju Kabupaten Mengxi, Lingzhou.
"Mas, di Mengxi sedang terjadi perang. Untuk apa sengaja pergi ke sana? Bukan hanya orang biasa, bahkan para pedagang yang biasa bepergian jauh pun jarang ke Mengxi saat ini."