Seorang pembunuh berusia dua puluh delapan tahun bertemu dengan gadis kecil berusia lima tahun dari Kediaman Adipati. Dua jiwa saling bertemu dalam satu tubuh—apakah mereka akan memilih saling memusnahkan, atau justru hidup berdampingan dengan damai?
Pada musim dingin tahun kesembilan belas pemerintahan Shengyun, salju turun berturut-turut dalam badai lebat. Salju, yang biasanya sangat langka di musim dingin Xiaxi, tahun ini menjadi semurah rumput liar di ladang dan sawah. Harga kapas dan arang meningkat tajam, dan setiap hari tak terhitung banyaknya orang miskin yang mati kedinginan. Anak-anak pengemis yang dulu sering terlihat di depan rumah dan di jalanan kini menghilang; mereka meringkuk bersama di kuil-kuil bobrok yang dingin, memeluk tubuh demi kehangatan, di samping api kecil yang nyaris padam.
Pada hari bersalju seperti inilah, Shen Tan yang berambut perak dan berjubah hitam, memimpin delapan puluh satu pembunuh dari Paviliun Qinxia memasuki Kota Awan, langsung menerobos ke Istana Merah Awan, kediaman Ratu Xiaxi. Paviliun Qinxia didirikan memang untuk menggulingkan keluarga kerajaan Xiaxi, dan belum pernah sebelumnya Shen Tan begitu menyukai salju seperti hari itu.
Berhari-hari angin dan salju tiada henti, sinar matahari sudah lama tak menyinari tanah Xiaxi, sehingga di siang hari pun Istana Merah Awan masih menyala oleh banyak lampu. Seluruh istana sunyi mencekam, begitu sunyinya hingga menakutkan. Dengan pengalaman bertahun-tahun sebagai pembunuh, Po Yun menangkap sesuatu yang aneh dari udara—bau darah, darah segar yang baru mengalir.
Tiba-tiba, pintu utama Istana Merah Awan terbuka. Ratu Xiaxi, Yun Lian, berdiri di tengah aula dengan busana merah menyala. Di tangannya tergenggam sebilah pedang berlumur darah, dan darah dari ujung mata pedang perlahan menetes jatuh.
"Kalian terl