Di dunia tempat sihir dan dewa berkelindan, kemegahan kekaisaran berdampingan dengan kejayaan akademi. Jalan menuju keilahian terbentang di hadapan, sementara di tepinya berbaris tumpukan tulang belulang. Su Zi Ye hadir di dunia ini, namun ia segera menyadari bahwa di balik kemakmuran hanya ada kebusukan dan kegelapan yang tiada akhir. Jika suatu hari kau ingin mengubah dunia di tengah kepungan para monster, maka kau harus menjadi monster terbesar dan terkuat di antara mereka. Sejak hari itu, ia meninggalkan nama lamanya dan melangkah menuju ketidakpastian. Dengan jemarinya ia memetik dawai dunia, dan dalam canda tawanya, dewa serta iblis pun lenyap tanpa jejak. Inilah kisah tentang sosok di balik layar.
Perbatasan Kekaisaran Site, sebuah kota kecil, pasar budak.
Pagi hari.
Liuru masih dalam keadaan setengah sadar, tiba-tiba seember air dingin bercampur pecahan es disiramkan dari atas, cairan sedingin tulang itu menusuk setiap luka di tubuhnya, rasa perih yang membakar segera menyebar dan berdenyut.
“Ah!” Ia tak tahan mengeluarkan erangan serak.
“Lihat, kan benar masih hidup, sekitar tiga belas atau empat belas tahun, gadis muda secantik bunga, bawa pulang buat kerja kasar, lima koin perak, Anda tak akan rugi, tak akan tertipu.” Suara pedagang yang berminyak dan penuh semangat menggema di telinganya.
Liuru berusaha membuka matanya, tapi bengkak di mata kanannya membuat ia hanya bisa mengintip sedikit.
Sinar matahari musim dingin menyinari tubuhnya, membuat segala sesuatu di hadapannya menjadi jelas.
Ia berada di atas panggung kayu, kerah besi berat melingkar di lehernya, rantai besi mengikatnya ke tiang di tepi panggung, dan jika dilihat sekeliling, ada belasan laki-laki dan perempuan yang juga terkunci di atas panggung seperti dirinya.
Siapa aku?
Mengapa aku ada di sini?
Liuru membasahi bibirnya yang kering dan pecah-pecah, berusaha mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Seketika, kenangan tentang darah dan api membanjiri pikirannya, amarah memenuhi benaknya, ia tak tahan lagi dan langsung menerjang ke arah pedagang budak yang sedang berkoar dengan cambuk di tangannya. Dalam sekejap, rantai besi yang terikat padanya ikut berdering keras.
Pedagang budak itu tengah asyik menawarkan “barang dagangannya” ya