Bab Tiga: Sang Jenderal dan Para Prajurit
Akademi Daun Malam.
Liu Ru perlahan-lahan mengecap empat kata itu di mulutnya. Saat ini ia sedang berendam dalam air hangat, di dalam bak kayu berbalut besi yang bagian bawahnya dipanaskan bara api. Maka, meskipun musim dingin begitu menusuk, ia tetap bisa menikmati mandi air hangat yang panjang dan nyaman.
Ia sangat membutuhkan hiburan ini untuk merilekskan tubuh dan jiwa yang telah mencapai batasnya. Namun di saat yang sama, ia mulai memikirkan lebih dalam tentang situasinya.
Ia belum pernah mendengar tentang tempat bernama Akademi Daun Malam, atau lebih tepatnya, dirinya yang dulu memang sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang dunia ini. Ia seperti orang-orang desa yang bahkan tidak tahu kapan dinasti berganti; hari demi hari, tahun demi tahun, mereka hanya mondar-mandir di tanah kelahiran mereka, tanpa pernah tergerak untuk mengetahui seperti apa dunia di luar sana.
Sampai akhirnya malapetaka menimpa mereka.
Siapa sebenarnya pemuda yang menyebut dirinya Su Ziye itu? Apa identitas dan tujuannya? Dalam pandangan Liu Ru, anak laki-laki seusianya itu telah memiliki kekuatan yang setara dengan dewa atau iblis. Kalau begitu, mengapa orang seperti itu masih perlu belajar di tempat bernama Akademi Daun Malam?
Ia hanyalah Liu Ru, dan semua ini benar-benar di luar pengetahuannya.
Tapi setidaknya, ada satu hal yang Liu Ru pahami—Su Ziye telah memberinya kehidupan dan masa depan yang baru. Meski pemuda itu tampaknya tidak mengharapkan balasan apa pun darinya, ia tahu, budi harus dibalas.
Dengan pikiran itu, Liu Ru berdiri di dalam bak kayu, bersiap melangkah keluar.
Namun tepat pada saat itu, suara Su Ziye terdengar dari luar, “Nona, harap tunggu sebentar, makanannya belum siap. Berendamlah lebih lama lagi.”
Liu Ru pun kembali menyelupkan tubuhnya ke dalam air hangat, sedikit kesal meniup gelembung di permukaan air—sepertinya benar-benar tidak ada satu pun rahasia tentang dirinya yang bisa disembunyikan dari pemuda itu.
...
Masakan yang dibuat Su Ziye ternyata jauh lebih sederhana dari yang dibayangkan Liu Ru.
Semangkuk sup daging, di atasnya terapung daun bawang dan ketumbar segar, sepiring kecil roti pipih yang diiris tipis, dan sepiring kecil saus merah yang menguar aroma menggoda.
Liu Ru menunduk, menyeruput sup itu. Aroma daging yang kental berpadu dengan rasa manis gurih sup menyapu lidahnya, membuatnya serasa berada di surga.
“Supnya enak sekali,” ujar Liu Ru pelan memuji.
Jika benar sup itu buatan Su Ziye, maka identitas pemuda itu semakin membingungkan.
Bagaimanapun juga, memasak bukanlah sesuatu yang lazim dilakukan oleh orang terpandang.
“Kau bisa coba makan bersama potongan roti ini,” ujar Su Ziye sambil tersenyum. Ia mengambil sejumput roti pipih, memasukkannya ke mangkuk Liu Ru. “Kau suka rasa pedas?”
Ia menanyakan itu sambil lalu.
“Pedas?” Liu Ru menatap potongan roti tipis yang perlahan tenggelam dalam sup daging, ragu mengulangi kata itu, lalu menggeleng, “Entahlah.”
“Coba saja,” Su Ziye tetap tersenyum, mengambil satu sendok kecil saus merah itu dan menaruhnya ke mangkuk Liu Ru, lalu mengaduknya perlahan. “Jangan langsung dimakan semua, ya.”
Liu Ru mengangguk, menggunakan sumpit untuk mengaduk saus merah itu hingga larut. Seluruh permukaan sup berubah kemerahan, aromanya menjadi pedas menyengat namun juga menggoda.
Dengan keyakinan bahwa pemuda itu tidak akan meracuninya, Liu Ru kembali menyeruput sup itu. Kali ini, selain rasa gurih, ada sensasi panas membakar di lidah, namun bukan rasa yang menyakitkan, melainkan seperti tarian kecil di atas permukaan lidah. Aroma daging yang sudah nikmat sebelumnya kini terasa jauh lebih lezat.
Liu Ru menatap Su Ziye dengan penuh kejutan. Ini rasa yang belum pernah ia cicipi, tapi ia sangat, sangat menyukainya.
Tanpa berkata-kata, mata dan raut wajah Liu Ru telah menyampaikan semua yang ingin ia ungkapkan.
“Kalau kau suka pedas, berarti kita pasti bisa jadi teman baik,” ujar Su Ziye sambil tersenyum kepada Liu Ru.
Liu Ru hanya mengangguk pelan dan melanjutkan makannya.
Saus merah pedas itu sangat lezat, sup dagingnya pun sangat nikmat, potongan dagingnya memberi rasa puas, dan roti yang terendam sup memiliki tekstur pas, sedikit renyah dari panggangan, hingga membuat siapa pun ingin berlama-lama menikmatinya.
Sudah lama Liu Ru tidak makan makanan yang layak, atau bahkan bisa dibilang ia hampir tidak pernah makan sebelumnya. Tapi hidangan sederhana namun lezat ini membuat tubuhnya bergetar.
Kepalanya tertunduk, air mata sebesar biji jagung jatuh ke mangkuk sup berwarna merah itu.
Saat orang tuanya mati di hadapannya, ia tidak menangis. Saat dijual jadi budak dan disiksa, ia tidak menangis. Saat dicambuk dan diperdagangkan di atas panggung, ia tetap tidak menangis.
Namun kini, di hadapan semangkuk sup daging yang tak bisa dilukiskan kelezatannya, ia tidak mampu menahan tangis.
Su Ziye hanya menatap gadis yang menangis itu dalam diam, tanpa berkata satu pun, tanpa menghibur, hanya menatapnya saja.
Hingga akhirnya Liu Ru berhenti menangis, dan kembali mendekatkan bibir ke mangkuk sup.
“Kalau mau, aku bisa menggantikan semangkuk lagi untukmu,” kata Su Ziye.
Liu Ru telah meneteskan setengah mangkuk air mata ke dalam sup itu.
Namun Liu Ru menggeleng keras kepala, ia meneguk sup yang telah bercampur air matanya itu hingga habis, tanpa jeda, menghabiskan potongan roti, daging, daun bawang, ketumbar, dan sup hingga tak tersisa setetes pun, lalu baru meletakkan mangkuknya.
Matanya masih memerah.
Ia menatap Su Ziye, bibirnya bergetar lirih, “Kenapa kau berbuat baik padaku?”
Bila semua kebaikan Su Ziye hanyalah demi mendapatkan hatinya, maka saat itu juga, gadis itu pasti sudah tenggelam dalam kelembutan pemuda itu.
Seperti halnya banyak gadis yang akhirnya jatuh ke pelukan lelaki buruk, hanya karena mereka merasakan kelembutan dan perhatian yang mungkin seumur hidup tak pernah mereka dapatkan.
“Aku ingin bercerita padamu,” kata Su Ziye, menatap gadis bermata sembab itu dengan senyum tipis, seolah-olah tangisan Liu Ru tadi tak berarti apa-apa baginya.
“Dahulu kala, ada seorang jenderal hebat dalam berperang. Ia hidup dan makan bersama para prajurit, menanggung suka dan duka. Suatu waktu, salah seorang prajuritnya terkena borok parah, dan sang jenderal sendiri mengisap nanah dan darahnya dengan mulut.”
Mata hitam Su Ziye tak menunjukkan gelora, iba, atau emosi apa pun. Ia hanya bercerita dengan tenang.
“Semua orang memuji akhlak jenderal itu. Tapi ibu dari prajurit itu, saat mendengar kabar tersebut, justru menangis meraung-raung,” lanjut Su Ziye, menatap Liu Ru. “Tahukah kau mengapa ibu itu menangis?”
Liu Ru tidak tahu mengapa Su Ziye menceritakan kisah itu, maka ia menggeleng, “Aku tidak tahu.”
“Karena suami ibu itu juga pernah menjadi prajurit sang jenderal, dan dulu sang jenderal juga mengisap nanah dan darah dari lukanya. Demi membalas budi itu, suaminya berjuang mati-matian di medan perang, tak pernah mundur meski nyawa taruhannya. Kini, putra satu-satunya pun telah menerima kebaikan yang sama dari jenderal itu, ia pasti juga akan mati-matian di medan laga, dan ibu itu tahu, setelah kehilangan suami, ia akan segera kehilangan anak satu-satunya, maka ia menangis meraung,” jelas Su Ziye.
Kali ini Liu Ru mengerti.
Barusan, ia memang merasa begitu terharu, hingga jika harus mati demi Su Ziye saat itu juga, ia tak akan ragu.
Tapi jika semua ini hanyalah siasat dan muslihat Su Ziye, hatinya yang semula membara langsung berubah sedingin es.
Ia menatap Su Ziye, “Mengapa kau menceritakan kisah itu padaku?”
“Aku tidak ingin kesetiaanmu,” ujar Su Ziye sambil tersenyum. “Kalau suatu hari mengkhianatiku bisa memberimu lebih banyak keuntungan daripada yang bisa kuberikan, maka khianatilah aku tanpa ragu. Semua yang kulakukan untukmu, anggap saja sebagai imbalan.”
“Tetapi demikian juga,” lanjut pemuda yang sama sekali tak bisa dibaca oleh Liu Ru itu, “aku juga akan menjadi teman yang sangat baik. Jika kau bersedia berdiri di sisiku, kita bisa menapaki dunia dan tempat yang tak pernah dicapai siapa pun sebelumnya.”
“Meskipun sekarang, kau dan aku sama-sama tidak memiliki apa-apa.”