Bab Dua: Undangan dari Pemuda
Di sebuah penginapan kecil di kota itu, Liu Ru dibawa masuk ke kamar oleh pemuda yang mengaku bernama Su Ziye.
“Mengapa kau menolongku?” Begitu pintu kamar tertutup, Liu Ru yang kebingungan tak mampu menahan diri untuk bertanya.
“Lepaskan semua pakaianmu,” ujar Su Ziye tenang, tanpa basa-basi, seolah-olah ia tengah menyiapkan sarapan untuk Liu Ru.
Liu Ru menatapnya dengan terkejut. Meski usianya masih muda, Liu Ru jelas bukan anak yang polos dan lugu. Jika pemuda ini membeli dirinya hanya untuk hal semacam itu, bukankah itu agak... terlalu aneh?
Memang, Liu Ru tahu dirinya tidak buruk rupa. Tapi kini tubuhnya penuh luka dan darah, bahkan belum sempat mandi, rambut kusut, wajah kotor, tubuh kurus kering. Anak ini pun tampak masih muda. Jangan-jangan, ia memang seorang penyimpang?
“Lepas pakaianmu,” ulang Su Ziye dengan nada datar, menatap Liu Ru tanpa sedikit pun berniat menjelaskan.
Dari tatapannya, Liu Ru merasa dirinya seperti sepotong daging babi di mata pemuda itu.
Ia terdiam sejenak, lalu melepaskan kain lusuh yang menutupi tubuhnya.
Su Ziye mengangguk, mengangkat satu jari di depan Liu Ru. Dari ujung jarinya, tiba-tiba menyala api keemasan yang berkilauan.
Ia mengacungkan api itu seperti lilin, lalu mendekatkannya ke tubuh Liu Ru seolah hendak membakar dirinya.
Api itu memang menyala di tubuh Liu Ru, membakar darah dan luka-luka, berubah menjadi cahaya keemasan. Ajaibnya, Liu Ru tidak merasakan sakit yang tak tertahankan. Justru, rasa nyeri yang selama ini menyiksa perlahan-lahan mereda, digantikan sensasi hangat dan geli, seperti belaian lembut bulu burung.
Ia menatap Su Ziye dengan takjub, akhirnya menyadari pemuda itu menyuruhnya membuka pakaian untuk mengobati luka-lukanya. Namun kekuatan dan caranya sungguh di luar nalar dan imajinasi.
“Kau... malaikat kah?” tanya Liu Ru tanpa sadar.
“Bukan,” jawab Su Ziye singkat. Sembari menggerakkan jarinya perlahan di atas kulit Liu Ru untuk menyalakan lebih banyak cahaya, ia bertanya, “Kenapa kau bisa menjadi budak?”
Pertanyaan itu membuat udara di dalam kamar mendadak hening beberapa saat.
“Aku...,” Liu Ru bingung bagaimana menjelaskan, akhirnya hanya mampu berkata, “Aku ditangkap.”
“Siapa yang menangkapmu?” tanya Su Ziye lagi.
“Prajurit pemerintah,” jawab Liu Ru lirih.
“Kenapa?” Su Ziye tetap tenang, tanpa raut terkejut.
“Aku tidak tahu...” Liu Ru menggeleng kosong. “Rumahku di Desa Keluarga Liu. Ayahku tabib di desa, kami hanya petani biasa, tidak pernah melakukan kejahatan. Tapi hari itu, sekelompok prajurit mengepung desa, membunuh banyak orang. Ayah dan ibuku mati di depan mataku. Aku menghunus pisau untuk melawan, tapi baru beberapa kali sudah dipukul jatuh.”
Meski menceritakan peristiwa sedemikian tragis, entah mengapa Liu Ru tidak menangis atau gemetar. Penderitaan setelahnya jauh lebih mengerikan dari kematian, hingga tragedi itu tampak tak berarti lagi.
“Aku mengerti,” Su Ziye mengangguk, tak menghentikan gerakannya. Ia kembali bertanya dengan nada datar, “Aku sudah melihat banyak budak seperti ini. Tapi bahkan seekor semut pun ingin bertahan hidup. Kenapa kau tidak ingin hidup di dunia ini?”
Liu Ru tertawa getir. “Apa yang masih layak kutinggalkan di dunia ini?”
Segala yang ia miliki telah dihancurkan, masa depan pun gelap gulita. Sepanjang perjalanan, Liu Ru tak pernah berhenti melawan, hanya mendambakan kematian yang cepat.
“Tapi tadi kau tetap menggenggam tanganku,” kata Su Ziye tenang.
“Kau tadi bertanya kenapa aku menolongmu, bukan?” Sambil tetap mengobati, ia berkata, “Aku hanya merasa dirimu menarik. Dalam penglihatanku, kau berteriak minta dibunuh, tapi juga menangis minta tolong. Aku merasa itu lucu, jadi aku menolongmu.”
Setelah berkata demikian, Su Ziye menarik jarinya, meniupkan napas pelan, memadamkan cahaya emas suci itu.
“Periksa tubuhmu,” katanya lirih.
Ragu, Liu Ru menunduk memeriksa dirinya. Sepanjang jalan ia disiksa, terus melawan, terus dipukuli, seolah-olah hidupnya hanya untuk berjuang. Tubuhnya penuh luka baru dan bekas luka lama yang menyiksanya hingga tak bisa tidur, setengah sadar setengah pingsan. Namun kini, setelah dibersihkan dengan api itu, semua luka dan darah lenyap, kulitnya putih mulus seperti baru.
Segala kelelahan dan sakit seakan terbakar habis, yang tersisa hanya tubuh penuh semangat hidup.
“Ini...” Liu Ru bergumam, tak percaya.
Tatapannya penuh kejutan. Tadi ia bertanya apakah pemuda itu malaikat, dan meski ditolak, kini ia yakin pemuda itu tak jauh beda dari malaikat.
“Tubuhmu terlalu lemah, jadi energi untuk memulihkan semuanya aku yang memberikannya,” ujar Su Ziye tetap tenang. Kini Liu Ru bagai bayi yang baru lahir. Jika sebelumnya, Liu Ru seperti roti kukus yang berguling di lumpur, kini ia bersih dan tampak menggoda.
Namun, pandangan Su Ziye pada Liu Ru tetap seperti menatap sepotong daging.
“Ada bak mandi air hangat di dalam. Kau bisa mandi dulu, nanti aku siapkan pakaian bersih,” ia menunjuk ke sudut kamar.
Liu Ru tak bergerak.
Ia memandang Su Ziye, mengulang pertanyaan yang jawabannya terasa mengambang.
“Kenapa?”
Padahal tadi di pasar banyak budak lain, tapi Su Ziye hanya menolong dirinya.
Ia sudah melihat sisi tergelap dunia, namun tetap tak bisa menebak tujuan dan niat Su Ziye.
Bahkan nama Su Ziye pun ia tak tahu benar atau palsu.
“Setidaknya bukan karena aku menyukaimu,” Su Ziye tersenyum pada Liu Ru. “Tapi aku hendak pergi ke suatu tempat. Jika kau tidak punya tujuan, kau bisa ikut denganku.”
“Jauh?” tanya Liu Ru.
“Sangat jauh. Melewati padang es dan gunung salju, menyeberangi danau dan sungai, menuju negeri yang jauh dari sini,” jawab Su Ziye santai.
“Lalu kenapa membawaku?” Liu Ru tak kuasa menahan tanya.
Ia begitu biasa dan hina, bahkan dirinya pun tak tahu apa gunanya.
Jangan-jangan ia benar-benar tergoda kecantikan dirinya? Namun, selama otaknya masih waras, Liu Ru tak kan pernah berpikir demikian.
“Karena aku butuh bayangan,” jawab Su Ziye sambil tersenyum. “Sebenarnya aku belum menyiapkan bayangan itu. Dalam rencanaku, siapapun bisa menjadi bayangan itu. Namun sekarang, aku rasa jika kau yang melakukannya, aku akan sangat senang.”
“Aku?” Liu Ru tak yakin.
“Benar. Aku ingin kau menjadi diriku,” angguk Su Ziye.
Liu Ru menggigit bibir, lalu tersenyum kecil. “Toh aku juga tak punya apa-apa yang bisa ditipu orang.”
“Itu benar,” Su Ziye pun tersenyum.
“Tempat yang ingin kutuju bernama Akademi Malam Daun. Aku akan bersekolah di sana.”
“Tapi sebelum itu, aku harus menyelesaikan beberapa urusan di sini.”
“Air mandimu sudah siap. Kau boleh membersihkan diri dulu.”
“Aku akan menyiapkan sesuatu untuk kau makan.”