Bab Lima Puluh Delapan: Pria Berjubah Hitam
Hantu perempuan itu mulai terisak lirih, mengatakan bahwa ia sudah sadar sepenuhnya. Dulu, dirinya terlalu bodoh dan naif karena mengira pengusaha kaya itu tulus mencintainya, padahal pria itu hanya memperlakukannya sebagai mainan pelepas penat lantaran hartanya yang melimpah.
Baik vila yang diberikan kepadanya maupun uang-uang itu hanyalah setetes air di tengah samudra bagi si pengusaha. Namun, hantu wanita itu salah mengartikannya sebagai cinta sejati.
Pada akhirnya, ia salah memasang taruhan. Bahkan ketika ia mati demi pria itu, sang pengusaha sama sekali tidak peduli. Pria itu langsung masuk ke mobil dan menyuruh orang menguburnya secara sembarangan di belakang vila begitu saja.
“Hingga suatu hari, seorang pria berjubah hitam datang menemuiku. Dia bilang, asalkan aku bisa menakuti seorang gadis bernama Lin Xi hingga jiwanya terlepas dari raga, dia akan membantuku menyeberangkan rohku agar aku bisa segera mencapai kebahagiaan abadi,” tutur hantu perempuan itu, yang kemudian buru-buru menambahkan, “Aku benar-benar terpaksa menyetujuinya. Aku sudah tidak tahan lagi dengan siksaan ‘bunuh diri’ yang berulang setiap tujuh hari sekali. Aku tahu aku salah.”
Hantu wanita bergaun merah itu memohon maaf kepadaku dengan putus asa. Bai Liunian maju dan bertanya, “Pria berjubah hitam? Apakah kau melihat wajahnya? Dia hanya menyuruhmu menakuti jiwa Lin Xi agar keluar, bukan menyuruhmu langsung membunuhnya?”
“Benar. Katanya, tidak boleh membunuh secara langsung, jiwa Nona Lin ini harus ditakuti hingga keluar raga. Hanya saja, keberanian Nona Lin ini luar biasa besar, aku sudah mencoba beberapa kali tetapi selalu gagal,” kata hantu itu sambil menatapku.
“Xi Kecil, apa kau telah menyinggung seseorang?” tanya Meng Tianyi sambil menatapku lekat-lekat setelah mendengarkan perkataan hantu tersebut.
“Aku tidak tahu. Biasanya aku kalau tidak bersama kalian ya di toko, bagaimana bisa aku punya kesempatan menyinggung seseorang,” jawabku kebingungan, sama sekali tidak mengerti mengapa seseorang memperlakukannya seperti ini.
Meng Tianyi berniat mengatakan sesuatu lagi, tetapi Bai Liunian lekas memotongnya, “Kau hafal mantra untuk mengantar arwah, kan?”
“Hmm, ada apa? Menyuruhku mengantarnya pergi? Tapi, apakah ini sudah jelas? Bagaimana jika dia berbohong?” tanya Meng Tianyi.
“Apa yang dikatakannya adalah kejujuran. Antarkan dia pergi. Xi Kecil, ikut aku.” Bai Liunian menarik tanganku dan membawaku ke ruang makan, menatapku dengan tatapan yang menyiratkan kerumitan.
“Kalung manik Buddha itu, apa masih kau kenakan?” tanya Bai Liunian.
Aku mengangguk, lalu segera mengeluarkan manik Buddha yang melingkar di leherku. Melihat manik itu, Bai Liunian mengangguk kepadaku.
“Ingat, manik Buddha ini tidak boleh lepas dari tubuhmu bagaimanapun caranya. Lagi pula, mulai hari ini, kau harus mengikutiku tanpa terpisahkan barang ses Langkah pun.” Tatapan Bai Liunian terpaku tajam padaku, dan aku bisa menangkap ketakutan yang tersembunyi di lubuk matanya.
“Bai Liunian, apa kau khawatir aku dalam bahaya? Tidak apa-apa, keberanianku besar, tidak mudah bagiku untuk dibuat ketakutan hingga kehilangan jiwa.” Melihat Bai Liunian begitu tegang, aku sengaja tersenyum padanya dan pura-pura tidak merasa takut sama sekali.
“Lakukan saja apa yang kukatakan,” ucap Bai Liunian dengan nada suara yang naik beberapa oktaf.
Hal itu sontak membuatku terpana sesaat. Ini adalah pertama kalinya ia berbicara dengan nada yang begitu “keras” kepadaku.
“Baiklah, aku mengerti. Tapi, menurutmu siapa pria berjubah hitam itu? Kenapa dia ingin menakuti jiwaku sampai lepas?” tanyaku sambil memandangnya.
“Jangan banyak tanya, pokoknya ikuti saja aku.” Setelah mengucapkan kalimat bernada perintah itu kepadaku, Bai Liunian menarikku menuju ruang penyimpanan kecil untuk memeriksa kondisi Meng Tianyi.
Kulihat Meng Tianyi bermandi keringat, namun hantu perempuan bergaun merah itu benar-benar telah diantarkannya pergi.
“Aduh, ya ampun, benar-benar tidak mudah rupanya,” tukas Meng Tianyi sambil mengangkat tangan untuk menyeka keringat di keningnya, lalu berkata kepada Bai Liunian, “Kita harus menyelidiki siapa dalang di balik niat jahat yang ingin mencelakai Xi Kecil. Tunjukkan padaku orang-orangan kayu itu.”
“Masalah ini cukup sampai di sini,” potong Bai Liunian secara langsung, lalu menarikku keluar menuju ruang tamu.
Meng Tianyi menatapku dengan kebingungan, begitu pula diriku yang merasa hampa dan tak mengerti angin apa yang merasuki Bai Liunian hari ini hingga bersikap begitu keras.
Sesampainya di ruang tamu, Bai Liunian menyuruh para pengawal untuk mengangkat peti mati di dalam dan membakarnya. Meskipun berbadan tegap dan tinggi, para pengawal itu tampak ketakutan setengah mati saat melihat kedua peti mati tersebut.
Tak seorang pun yang berani maju untuk menyentuh peti-peti itu. Pada akhirnya, Bai Liunian dan Meng Tianyi sendiri yang memimpin untuk mengangkat peti mati ke halaman depan, sementara para pengawal menyiapkan solar dan menyiramkannya ke atas kedua peti mati merah itu.
Bibis Kedua turun dari mobil dengan dipaparkan oleh Paman Zheng, wajahnya berubah pucat pasi begitu melihat kedua peti mati tersebut.
Ia bergumam, “Astaga, kenapa ada peti mati di sini? Mungkinkah Master Xuyu benar-benar berniat mencelakai kita?”
Hingga detik ini pun ia masih menaruh angan-angan terhadap Master Xuyu, namun setelah melihat peti-peti mati merah ini, Bibis Kedua pun tak bisa berkata apa-apa lagi. Sudah sangat jelas bahwa Master Xuyu sengaja mencarikan sebuah rumah angker untuknya.
“Nyalakan api, bakar peti mati ini, dan suruh semua orang di vila datang ke sini untuk membersihkan kesialan menggunakan air rendaman daun pomelo,” perintah Bai Liunian kepada Paman Zheng agar mengumpulkan seluruh penghuni vila.
Sesaat kemudian, bahkan pengemudi bernama Jiang Feng pun turut datang. Namun, aku sama sekali tidak melihat Qin Ling dan Qin Yue, entah kemana perginya kedua saudari itu.
“Paman Zheng, di mana Qin Ling dan Qin Yue? Kenapa aku tidak melihat batang hidung mereka sedari tadi?” tanyaku pada Paman Zheng.
Paman Zheng turut menoleh ke arah bangunan vila sambil bergumam, “Benar juga, kenapa kedua saudari itu belum juga keluar.”
Sambil berbicara, Paman Zheng menyuruh orang untuk mencari secara khusus keberadaan kedua saudari tersebut. Namun, setelah dicari setengah harian, batang hidung mereka tetap tidak kelihatan, seolah-olah mereka telah menguap begitu saja dari muka bumi.
“Apakah mereka berdua adalah orang yang kalian pekerjakan sendiri?” tanya Bai Liunian seperti teringat sesuatu.
“Bukan, mereka berdua datang menawarkan diri untuk bekerja di sini,” jawab Paman Zheng.
“Datang menawarkan diri?” Bai Liunian mengulangi ucapan itu, lalu menatapku. “Xi Kecil, apakah kau pernah berinteraksi dengan mereka? Apakah mereka pernah melakukan hal aneh kepadamu?”
“Hal aneh? Tidak pernah,” jawabku. Sembari merenung, aku mendadak teringat pada sup yang beraroma amis tajam itu. “Ah, benar, sebelumnya Qin Ling pernah memberiku sup penambah tenaga yang disiapkan khusus oleh Bibis Kedua.”
“Begitu ya.” Bai Liunian mengalihkan pandangannya ke arah Bibis Kedua.
Bibis Kedua tampak tertegun, lalu buru-buru menggelengkan kepala seraya bersumpah bahwa ia tidak pernah menyiapkan sup penambah tenaga apa pun untukku.
“Tetapi, Qin Ling bilang itu disiapkan khusus oleh Anda untukku, dan aku sudah meminumnya dua kali.” Kulit kepalaku mendadak terasa sedikit merinding.
Jika bukan Bibis Kedua yang menyuruh Qin Ling dan yang lainnya untuk menyiapkan itu, lalu sebenarnya apa yang telah mereka berikan kepadaku untuk diminum?
Bai Liunian memintaku menjelaskan secara rinci mengenai aroma, rasa, serta warna sup tersebut. Pada akhirnya, ia menyimpulkan dengan penuh keyakinan bahwa itu adalah sup pemanggil arwah.
Sup yang direbus menggunakan tulang orang mati, yang membuat tubuhku—yang memang sudah memiliki unsur yin yang pekat—menjadi mirip dengan mayat, sehingga jiwa ini semakin mudah terlepas dari raga.