Bab tiga puluh satu: Jiwa yang Terbang dan Raga yang Terserak
Hal itu seketika membuatku tersentak. Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres dan gemetar hendak melepaskan diri, tetapi tangan itu justru mencengkeram lenganku dari belakang.
Gelombang hawa dingin yang dahsyat menerjang. Namun, sebelum sempat memanggil Bai Liunian, terdengar jeritan nyaring seorang anak. Tangan yang mencengkeram lenganku pun perlahan terlepas.
Sesudah itu, terdengar suara Bai Liunian melafalkan mantra, disusul tangisan histeris seorang gadis kecil.
“Ayah, Ayah!” teriak gadis itu, berharap ayahnya datang menyelamatkannya. Tiba-tiba Bai Liunian berhenti melafalkan mantra, dan kabut hitam di sekeliling kami perlahan menghilang.
Seorang gadis kecil kurus dan mungil sedang berjongkok di sudut ruangan, menangis dengan memilukan. Tubuhnya sama sekali tidak tampak seperti anak berusia sepuluh tahun—paling-paling baru tujuh atau delapan tahun. Ia tampak sangat rapuh.
“Ayah, Ayah.” Gadis itu memeluk lututnya sambil menangis tersedu-sedu.
Bai Liunian langsung menyodorkan darah milik Jing Guotian ke hadapan gadis itu. Gadis tersebut tertegun, lalu mengangkat wajah dan menatap kami.
“Ayah!” serunya.
“Ayahmu sudah tidak menginginkanmu lagi. Bahkan, dialah yang menyuruh kami datang untuk melenyapkanmu. Jika aku menggunakan benda ini sebagai pemicu mantra, kau akan segera lenyap tanpa jejak. Pergilah. Tak ada lagi yang perlu kau khawatirkan di dunia ini.” Sambil berkata demikian, Bai Liunian mengulurkan tangan dan mengusap kepala gadis kecil itu dengan lembut.
Gadis itu menangis tersedu-sedu cukup lama. Aku pun diam-diam bergeser ke belakangnya.
“Adik kecil, meskipun dia ayahmu, dia tidak pantas membuatmu terus bertahan di sini dan menderita demi dirinya.” Aku menatap tubuhnya yang kurus dan mungil, entah mengapa hatiku terasa pilu.
“Jika kau ingin membalas dendam, hukum sebab-akibat akan berputar dengan sendirinya. Sebaiknya kau lupakan niat itu,” kata Bai Liunian sambil menatap mata gadis kecil tersebut.
Namun, dengan air mata yang masih menggenang, gadis itu mendongak dan menatap Bai Liunian.
“Kalau aku pergi, Formasi Pemanggil Rezeki akan hancur,” katanya terbata-bata.
Ternyata selama ini ia tidak mau meninggalkan tempat itu demi Jing Guotian.
“Nasib manusia telah ditentukan sejak lahir. Hal-hal seperti ini bukan sesuatu yang seharusnya dipikirkan oleh anak sepertimu. Pergilah. Setelah memasuki siklus kelahiran kembali, kau tak perlu lagi menderita,” ujar Bai Liunian dengan sungguh-sungguh.
Gadis itu terdiam sejenak, lalu berdiri. Pandangannya beralih ke arah pintu. Dengan suara yang sangat lirih, ia bertanya, “Bolehkah aku bertemu Ayah sekali lagi?”
Ucapan itu seketika membuat hidungku terasa perih. Air mata di mataku hampir saja jatuh.
Bai Liunian sedikit mengernyit tanpa berkata apa-apa. Melihat tatapan penuh harap gadis itu, aku pun mengangguk.
“Aku akan memanggil ayahmu kemari,” kataku.
Aku menoleh kepada Bai Liunian. Ia tidak melarangku, jadi aku segera turun untuk mencari Jing Guotian.
Sesampainya di dekat tangga, aku melihat Jing Guotian dan para pengawalnya sedang menunggu di sana.
Begitu melihatku turun, ia langsung bertanya dengan penuh semangat, “Bagaimana? Sudah disingkirkan?”
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku hanya berkata terus terang, “Putrimu ingin bertemu denganmu. Kau mau—”
“Tidak punya otak, ya? Memangnya dia ingin menemuiku? Dia pasti ingin membunuhku! Jangan banyak bicara. Segera lenyapkan dia! Berapa pun biayanya, aku sanggup membayar!” bentak Jing Guotian.
“Bagaimanapun juga, dia putrimu. Karena dirimu, dia tidak bisa bereinkarnasi selama bertahun-tahun. Apa kau sama sekali tidak merasa bersalah?” tanyaku sambil menatapnya tajam.
Jing Guotian hanya tertawa dingin. “Kalau dia putri Jing Guotian, sudah seharusnya dia melayaniku dengan baik. Hanya roh kecil, berani-beraninya menghalangiku?”
Nada suaranya dipenuhi penghinaan terhadap roh kecil itu. Terhadap putrinya sendiri, ia sama sekali tidak memiliki rasa bersalah.
Tiba-tiba terdengar suara benda pecah.
Aku segera mendongak ke lantai atas.
Saat itulah pandanganku bertemu dengan mata roh kecil itu yang hitam pekat seperti tinta. Aura kebencian di tubuhnya perlahan memudar, sementara sosoknya berubah menjadi semakin transparan.
“Adik kecil!” teriakku.
Aku berbalik dan berlari menaiki tangga. Bai Liunian sudah berdiri di lorong lantai tiga, menatap roh kecil itu dengan sorot mata yang juga menyiratkan kesedihan.
Sebuah boneka yang sudah usang dan rusak berguling dari tangan roh kecil itu. Barangkali boneka tersebut adalah hadiah yang pernah dibelikan Jing Guotian untuknya. Gadis itu menatap boneka tersebut, sementara tubuhnya perlahan menghilang di bawah sinar matahari.
Bai Liunian merapatkan kedua tangannya dan melafalkan mantra pengantar arwah. Beberapa detik kemudian, gadis kecil itu pun lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Sementara itu, Jing Guotian masih berteriak dari lantai bawah, “Bagaimana? Aku tidak punya waktu untuk terus menunggu kalian!”
“Keinginanmu sudah terpenuhi,” kataku sambil menggertakkan gigi, mengucapkan setiap kata dengan jelas.
Jing Guotian langsung tersenyum lebar.
Bai Liunian turun dari lantai atas, menggenggam tanganku, lalu mengajakku menuju lantai dua. Kami hendak masuk ke kamar untuk membawa si Gendut dan Meng Tianyi pergi, tetapi Jing Guotian tampaknya masih belum yakin. Ia bahkan meminta beberapa pengawalnya naik terlebih dahulu untuk memeriksa keadaan sebelum mengizinkan kami pergi.
Aku memandang Jing Guotian dan tak kuasa menahan senyum mengejek.
Beberapa menit kemudian, dua pengawalnya berlari turun dari lantai atas dan mengangguk kepadanya.
“Hehehe.”
Jing Guotian segera tertawa lepas. Ia lalu membuka pintu kamar, dan si Gendut bersama Meng Tianyi langsung berdiri dengan penuh semangat.
Melihat wajahku dan Bai Liunian yang muram, Meng Tianyi mengira urusan itu belum selesai.
“Kenapa? Roh kecil itu begitu kuat sampai-sampai si Wajah Es pun tidak mampu menghadapinya?”
“Pergi!” Bai Liunian hanya mengucapkan satu kata.
Meng Tianyi sempat tertegun, tetapi segera memahami maksudnya. Ia buru-buru menopang si Gendut dan bersiap meninggalkan kamar.
Namun, Jing Guotian mengulurkan tangan untuk menghalangi jalan Bai Liunian. Bai Liunian mengangkat pandangan dan menatapnya.
Jing Guotian segera tersenyum dan dengan penuh hormat menyerahkan sebuah kartu nama kepada Bai Liunian.
“Tuan Bai, sebelumnya sudah kukatakan bahwa aku sangat menghargai orang berbakat. Jika kau bersedia, kau bisa tetap berada di sisiku dan bekerja untukku. Mengenai gaji, jumlahnya pasti jauh di luar bayanganmu.”
“Tidak perlu,” jawab Bai Liunian tanpa ragu.
Ia lalu membawa kami semua turun.
Jing Guotian terus mengikuti kami hingga ke depan vila. Bahkan, ia masih berteriak kepada Bai Liunian, “Aku yakin kau akan kembali! Tidak ada orang yang mau menentang uang!”
Sudut bibir Bai Liunian terangkat membentuk senyum dingin.
Meng Tianyi menunjuk ke arah tempat parkir di bawah dan berkata bahwa kami sebaiknya membantu si Gendut sampai ke gerbang kompleks, sementara ia akan mengeluarkan mobil.
“Baik,” jawabku sambil bersiap menopang si Gendut.
Namun, Bai Liunian melirik si Gendut. Si Gendut segera menepis tanganku.
“Tidak apa-apa. Aku bisa, aku bisa berjalan sendiri.”
Bab tiga puluh satu dari novel “Suamiku Sang Mayat Gaib” hanya tersedia sebagian. Untuk membaca versi lengkapnya, carilah judul tersebut melalui mesin pencari internet.