Bab Tujuh Puluh Empat: Fenomena Aneh di Sungai Kuning
Dua bunga yang mekar, masing-masing punya kisahnya sendiri.
Pagi ini aku dan Zhang Kailong pergi ke lokasi pembunuhan di kapal tengah sungai. Saat itu, Chen Laosam masih tertidur pulas. Sebelum pergi, aku sudah berpesan pada polisi pembantu dan satpam yang berjaga agar, jika sempat, mereka mengajak Chen Laosam ke kantin untuk makan sesuatu. Kurasa beberapa hari ini orang tua itu belum sempat makan dengan benar.
Sementara itu, sekelompok orang sedang menginterogasi Li Si Antik. Walaupun dia bukan tersangka utama, namun semua bukti saat ini mengarah padanya sebagai kaki tangan, atau setidaknya sengaja menutupi sesuatu yang diketahuinya.
Ketika aku dan Zhang Kailong kembali ke kantor polisi dari rumah sakit, waktu sudah menunjukkan tengah hari.
Begitu masuk gerbang halaman kantor polisi, terasa hawa tegang menyambut. Suasana yang biasanya khidmat berubah layaknya pasar, polisi lalu lalang tampak sangat sibuk, hampir semuanya berjalan setengah berlari.
Xiao Zhang melihat Zhang Kailong datang, segera menyambut.
“Kapten Zhang, akhirnya Anda kembali. Telepon pengaduan di kantor hampir meledak, hanya dalam setengah hari sudah ada dua ratus laporan masuk!”
Zhang Kailong terkejut mendengar jumlah itu, masa mungkin ada serangan teroris?
Sambil bergegas ke ruang rapat, kami mendengarkan penjelasan Xiao Zhang tentang kasus-kasus yang masuk. Dari lebih dua ratus laporan, sepertiganya adalah tentang orang yang tiba-tiba menjadi gila dan melukai orang di sekitarnya, bahkan ada yang menggigit telinga, mencakar kemaluan. Sepertiga lagi tentang kasus kematian dan luka-luka dengan penyebab yang beragam; seorang bapak tua mengadu anaknya menusuk perut sendiri dengan sumpit. Sepertiga sisanya lebih aneh lagi.
Ada keluarga yang melapor kucing mereka berubah jadi monster, menyerang semua orang, bahkan keluarganya sendiri pun diterkam. Ada juga kasus sebaliknya, rumah lain melapor sekelompok tikus keluar dari sarang mereka, bukan hanya tak takut pada kucing, malah mengejar dan melukai kucing dan manusia.
Sebenarnya, sebagian pengaduan itu seharusnya ditujukan ke rumah sakit, hanya saja masyarakat panik dan tidak tahu harus berbuat apa.
Ruang rapat sudah penuh dengan anggota satuan tugas khusus. Aku sudah cukup akrab dengan mereka, sebelumnya mereka memanggilku “Master Chen” dengan sopan. Tapi sekarang suasana di ruangan sangat muram, tak ada yang menyapaku, asap rokok memenuhi udara, tampaknya mereka sudah lama menunggu di situ.
Zhang Kailong mendengarkan laporan tambahan dari beberapa rekan, juga analisa singkat mereka.
“Tenang dulu semuanya, saya yakin kasus-kasus yang muncul pagi ini pasti ada hubungannya dengan yang kita lakukan sebelumnya!” suara Zhang Kailong tegas dan tak terbantahkan.
Hampir semua yang hadir pernah terlibat dalam operasi kemarin, tentu paham maksud Zhang Kailong tentang “kejadian kemarin”.
Setelah berpikir sejenak, dia berkata, “Xiao Zhang, ambilkan peta Kecamatan Hekou!”
Xiao Zhang segera mengambil peta lalu membentangkannya di atas meja.
Zhang Kailong meminta beberapa polisi yang menerima laporan untuk menandai lokasi kejadian dengan spidol.
Mereka segera menyelesaikan penandaan, lalu menyingkir ke samping.
Zhang Kailong memandang peta di meja, wajahnya berubah, lalu mengangkat peta itu agar semua bisa melihat.
“Coba perhatikan lokasi-lokasi yang dilingkari hitam ini, apa persamaannya?” tanya Zhang Kailong dengan wajah tegang.
Tak sampai sepuluh detik, Pak Guo, polisi paruh baya, berseru, “Ini... semuanya di tepi Sungai Kuning! Masa mungkin hanya kebetulan?”
Zhang Kailong menjawab, “Tak mungkin ada kebetulan seperti itu. Ini pasti ada hubungannya dengan Sungai Kuning, dengan runtuhnya gua kemarin.”
Sebenarnya, siapa pun yang mengalami kejadian kemarin tak meragukan penilaian Zhang Kailong.
Yang paling mendesak adalah segera melapor ke atasan, juga secepatnya menginformasikan ke masyarakat, mengingatkan warga agar menjauhi Sungai Kuning sebelum situasinya jelas, dan jangan makan ikan atau udang dari sungai itu.
Permohonan segera disetujui dan diteruskan ke semua kelurahan dan desa.
Setelah selesai memberi tugas, Zhang Kailong bertanya pada polisi yang pagi tadi ke kapal lokasi pembunuhan, apakah sudah memeriksa sup ikan itu.
Seorang polisi muda dan tinggi menjawab, “Hasil laboratorium sudah keluar, tubuh ikan itu mengandung unsur yang belum diketahui, mirip logam berat tapi bukan logam juga. Mungkin inilah penyebab satu keluarga itu menjadi gila dan kehilangan akal.”
Hari itu hampir semua polisi dikerahkan ke berbagai tempat, Zhang Kailong mengingatkan: selain menangani kasus, mereka harus memantau situasi di kedua sisi sungai.
Setelah semua tugas dibagi, Zhang Kailong menghela napas, “Baru saja satu masalah belum selesai, sudah muncul masalah baru. Kasus pembunuhan gadis itu belum terpecahkan, eh, sekarang malah bertambah rumit—ayo, kita lihat dulu Li Si Antik!”
Baru saja kami sampai di tangga, bertemu Chen Laosam yang hendak naik mencari kami.
“Kakak Tiga! Tadi pagi aku ke lokasi pembunuhan, lihat kau tidur nyenyak...” aku segera menyapa.
“Oh! Polisi muda yang berjaga sudah bilang, katanya sekarang kau adalah... ‘asisten polisi khusus’, malah dipanggil Master Chen! Rupanya kekhawatiran nenekmu tak perlu,” jawab Chen Laosam sambil tertawa kecil. Tampaknya dia sudah kembali ceria.
“Oh? Nenekku khawatir apa?”
“Nenekmu khawatir ada sesuatu di Sungai Kuning yang akan membahayakanmu, makanya aku datang untuk membantu!”
Kami bertiga berbincang sambil turun tangga.
Keluar dari gedung, aku baru teringat, walau Zhang Kailong dan Chen Laosam sudah bersama seharian, mereka belum benar-benar saling kenal. Situasi waktu itu mendesak, aku pun belum sempat memperkenalkan.
Aku menepuk pundak Zhang Kailong, berkata pada Chen Laosam, “Kakak Tiga, ini Kapten Zhang Kailong dari tim khusus kepolisian distrik kita!” Lalu menunjuk Chen Laosam, “Kakak Long, ini teman sejiwaku yang kukenal di Ningxia, Chen Laosam, Kakak Tiga!”
Mungkin karena keduanya masih sibuk dengan pikirannya masing-masing, mereka tak terlalu antusias, bahkan tak sempat berjabat tangan, hanya saling mengangguk dan tersenyum tipis, sebagai tanda perkenalan resmi.
Sambil berbincang, kami tiba di gedung tahanan di ujung selatan halaman kantor polisi.
Sistem kepolisian di Hekou cukup berperikemanusiaan, di samping ruang interogasi selalu disiapkan ruang tahanan, sehingga jika interogasi belum selesai, tersangka, narapidana, atau saksi bisa beristirahat di ruangan sebelah.
Kami masuk ke ruang istirahat tempat Li Si Antik berada, dia sedang menunduk menulis atau menggambar sesuatu di atas meja.
“Pak Li... Guru Li, bagaimana perasaanmu?” teringat kebersamaan kami sebelumnya, juga perubahan dirinya belakangan, aku jadi bingung harus memanggilnya apa.
Li Si Antik mendongak melihat aku dan Chen Laosam, tampak terkejut, lama pandangannya tertuju pada Chen Laosam.
“Kau... bagaimana bisa ada di sini?”
Chen Laosam tidak tahu apa yang dialami Li Si Antik belakangan, ia hanya tertawa, “Pak Li! Tak menyangka aku, Chen Laosam, bisa masuk ke wilayahmu!”
Li Si Antik tidak terhibur oleh candaan Chen Laosam, tetap berwajah serius.
“Kau sudah keluar dari sana, kenapa harus kembali terjun ke air keruh ini?”
Setelah berkata begitu, ia kembali menunduk menggambar.
Kami bertiga tak mengerti maksud ucapannya. Aku dan Chen Laosam memang kenalan lama Li Si Antik, sedangkan Zhang Kailong tak punya hubungan pribadi dengannya, hanya melirik beberapa kali lalu keluar dari ruang tahanan.
Aku dan Chen Laosam mendekat ke sisi Li Si Antik, ternyata dia sedang menggambar peta. Aku pernah melihat kemampuannya menggambar peta, meski tak selevel profesional, tapi untuk ukuran amatir sudah sangat baik.
“Pak... Paman Li, sedang menggambar apa itu?”
Li Si Antik tetap menunduk, menjawab singkat, “Jalur kuno Sungai Kuning.”
Aku tidak mengerti, lalu menunduk melihat gambarannya.
Di depannya terbentang kertas besar, hampir penuh dengan gambar. Aku hanya bisa mengenali tanda sungai dan desa. Malu juga rasanya, aku bahkan belum lulus SMP, ilmu geografi yang kupelajari sudah lama terlupa, sedikit banyak yang aku tahu pun hasil belajar dari Li Si Antik ketika di kabupaten tempo hari.
“Apa maksudnya jalur kuno Sungai Kuning?” aku bertanya lagi.
Aku tahu Li Si Antik sangat tertarik pada budaya Sungai Kuning. Dulu Kepala Museum Yang Guoshan juga pernah bilang, walau sudah pensiun, ia sengaja pindah dari ibu kota provinsi ke daerah terpencil, sebagian besar demi meneliti budaya Sungai Kuning.
Li Si Antik tidak langsung menjawab, malah balik bertanya, “Kau tertarik untuk memecahkan misteri ini?”
Aku tertegun, tak mengerti apa maksud ucapannya yang tiba-tiba.
“Misteri apa? Kau maksud tentang Sungai Kuning?”
Li Si Antik mengangguk, menatapku serius, “Kau kira semua kejadian sebelumnya kebetulan belaka? Sungai Kuning bukanlah sungai biasa.”
Aku semakin bingung, dalam hati bertanya-tanya, jangan-jangan pikiran orang tua ini belum pulih? Bicaranya pun tak nyambung. Aku memutuskan menunggu sampai dia selesai bicara.
Soal kondisi otak Li Si Antik, aku waktu itu tak berani bertanya. Setelah keluar dari gedung interogasi, Zhang Kailong sempat menjelaskan padaku, rupanya saat itu dia keluar dari ruang istirahat Li Si Antik untuk mencari penjelasan dari dokter forensik.
Sebelumnya, Li Si Antik menjadi tersangka, ditemukan polisi di kuil tua di pinggiran barat Desa Lao Miao dalam keadaan linglung. Setelah diperiksa, seluruh sel otaknya dinyatakan mati. Namun pagi ini, polisi jaga menemukan ia tiba-tiba sadar, dokter forensik segera memeriksanya lagi, dan terjadi keanehan: seluruh sel otaknya hidup kembali, kondisi fisiknya pun normal.
Para dokter forensik tak percaya pada penglihatan mereka sendiri. Dari sisi medis, sel otak yang mati tak mungkin “hidup kembali”, bahkan otak manusia tak bisa menumbuhkan sel otak baru.
Orang-orang yang terlibat dalam pemeriksaan yakin benar bahwa otak Li Si Antik sebelumnya memang sudah mati.
Beberapa polisi berpengalaman menginterogasinya sepanjang pagi, namun Li Si Antik hampir selalu menjawab di luar topik. Kalimat yang paling sering ia ucapkan adalah: Waktunya sudah tak banyak, sepertinya waktunya sudah habis!
Soal medis aku tak paham. Kukira Li Si Antik hanya menerima guncangan hebat sehingga pikirannya “berkarat”, kini sedang dalam keadaan “setengah linglung”, makin tak mengerti bagaimana memahami kata-katanya.
“Sungai Kuning sebenarnya bukan sungai buatan manusia, di dalam lumpurnya tersembunyi terlalu banyak rahasia...”
Saat aku masih berpikir bagaimana berkomunikasi dengannya, Li Si Antik kembali berkata dengan kalimat yang ganjil.