Bab Seratus Empat Puluh: Perampasan Paksa
Bagi Liu Yong, Cang Tianqi merasakan hal yang sama seperti murid Sekte Pembuat Senjata lainnya—sebuah rasa suka, sebuah ketertarikan yang muncul secara alami karena terpesona oleh pembawaannya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa di balik wajah yang selalu dihiasi senyum hangat itu tersimpan kelicikan yang begitu menjijikkan.
Dengan senyum hangatnya dan pembawaannya yang ramah, ia berhasil menipu seluruh anggota Sekte Pembuat Senjata.
Saat ini, melihat embrio roh marten kayu hijau yang dengan susah payah ia tempa diklaim begitu saja oleh Liu Yong sebagai hasil karyanya sendiri, rasa jijik Cang Tianqi terhadap orang ini telah mencapai puncaknya.
Benar, embrio roh itu memang dibeli oleh Liu Yong saat itu, dan orang yang berhasil menyempurnakan embrio tersebut menjadi artefak tingkat dua juga memang dirinya.
Namun, memaksakan diri untuk mengeklaim embrio buatan orang lain sebagai karya sendiri sudah lebih dari cukup untuk membuat Cang Tianqi merasa mual.
Satu hal lagi, sebagai sesama pembuat senjata, Cang Tianqi sangat memahami pentingnya kualitas sebuah embrio roh. Semakin tinggi kualitasnya, semakin besar pula peluang keberhasilan dalam menempa artefak, serta semakin besar kemungkinan untuk menembus tingkat satu.
Jika marten kayu hijau itu bukan hasil tempanya sendiri, melainkan dibuat oleh Liu Yong seorang diri, belum tentu ia bisa berhasil mengubahnya menjadi artefak tingkat dua.
Orang lain tentu tidak mengetahui rahasia di balik semua ini. Yang membuat mereka terkejut adalah usia Liu Yong yang masih sangat muda, namun sudah mampu menempa artefak tingkat dua dan menjadi seorang pembuat senjata tingkat dua!
Fakta inilah yang mengejutkan semua orang, termasuk para leluhur dari ketiga sekte dan Li Shu.
Dari ekspresi terkejut para cultivator Sekte Pembuat Senjata, terlihat jelas bahwa sebelumnya mereka sama sekali tidak tahu bahwa Liu Yong telah berhasil menempa artefak tingkat dua.
Seorang pembuat senjata tingkat dua yang masih muda, menyusul setelah Cang Tianqi!
Tatapan para leluhur ketiga sekte saat melihat Liu Yong kini tampak sangat berbeda dari sebelumnya.
Bakat kultivasi tingkat atas memang sangat baik, tetapi dibandingkan dengan seorang pembuat senjata tingkat dua, nilai yang terakhir tentu jauh lebih tinggi!
Seorang murid dengan bakat kultivasi tingkat atas harus menunggu hingga ia tumbuh sampai taraf tertentu sebelum dapat memberikan kontribusi nyata bagi sekte—sebuah proses yang cukup panjang.
Sebaliknya, seorang pembuat senjata tingkat dua, begitu bergabung dengan sebuah sekte, akan langsung memberikan nilai tambah yang sangat signifikan bagi sekte tersebut!
Faktor terpenting adalah usia Liu Yong. Di usia senuda itu, ia tidak hanya memiliki bakat kultivasi tingkat atas, tetapi juga seorang pembuat senjata tingkat dua. Jika diberi waktu untuk berkembang, baik tingkat kultivasi maupun kemampuan pembuatannya pasti akan mencapai tingkat yang luar biasa!
Bakat kultivasi dan bakat pembuatan senjata yang bersatu dalam satu orang tentu memberikan nilai yang jauh lebih tinggi bagi sebuah sekte!
Oleh karena itu, ketika para leluhur ketiga sekte melihat cahaya dua warna yang berpendar di tangan Liu Yong, ekspresi mereka langsung berubah menjadi bersemangat.
"Konon jumlah pembuat senjata tingkat dua di seluruh Sekte Pembuat Senjata sangatlah langka. Aku tidak menyangka di usiamu yang masih muda, kau sudah mampu mencapai tingkat seperti ini. Bagus! Bagus sekali! Selama kau bersedia bergabung dengan Sekte Pedang Tunggal kami, kau tidak hanya akan menjadi murid inti di sekte kami, tetapi seluruh bahan yang kau perlukan untuk menempa senjata akan disediakan oleh Sekte Pedang Tunggal secara cuma-cuma untuk membantumu meningkatkan kemampuan. Namun, aku berharap artefak yang kau tempa nantinya bisa dijual kepada Sekte Pedang Tunggal kami." Leluhur ranah Jindan dari Sekte Pedang Tunggal tersenyum sambil memberikan janji yang jauh melampaui penawaran sebelumnya.
Disediakan bahan untuk meningkatkan keterampilan menempa, dan artefak yang berhasil dibuat tidak perlu diserahkan kepada sekte, melainkan dibeli menggunakan batu roh—kesempatan sebaik ini tidak akan datang dua kali.
"Janji yang diberikan oleh Saudara Jian juga bisa dipenuhi oleh Istana Pembunuh Darah."
"Lembah Es Tentu saja juga bisa menawarkan hal yang sama. Namun, orang tua ini bisa menjanjikan satu hal lagi untukmu: selama kau bersedia bergabung dengan Lembah Es, kau boleh memilih tiga orang murid perempuan kami untuk dijadikan pasangan dao. Keberadaan mereka tidak hanya akan membantumu dalam berkultivasi, tetapi juga memberi warna lain dalam perjalanan kultivasi yang membosankan."
Lembah Es terkenal dengan banyaknya wanita cantik bagaikan es dan salju. Para cultivator dari berbagai sekte selalu mendambakan untuk mendapatkan pasangan dao dari Lembah Es. Sikap para murid Sekte Pedang Tunggal terhadap murid Lembah Es di gerbang Sekte Pembuat Senjata sebelumnya sudah cukup membuktikan hal tersebut.
Baik leluhur Jindan dari Sekte Pedang Tunggal maupun leluhur Jindan dari Istana Pembunuh Darah sama sekali tidak menyangka bahwa Lembah Es akan menggunakan cara seperti ini demi merekrut Liu Yong ke dalam faksi mereka.
Meskipun ada beberapa cultivator yang memilih jalan pertapaan tanpa nafsu duniawi, tidak sedikit pula yang tidak demikian. Bahkan, ada sebagian yang melatih teknik khusus dan menjadikan hubungan pria dan wanita sebagai sarana untuk menembus tingkat kultivasi.
"Murid sudah lama mengagumi Lembah Es. Kebaikan yang begitu besar dari Leluhur ini telah mengabulkan sebuah harapan dalam hati murid, tetapi..."
Melihat situasi tersebut, para leluhur Jindan dari Sekte Pedang Tunggal dan Istana Pembunuh Darah berniat membuka suara untuk meningkatkan penawaran mereka, tetapi nenek tua dari Lembah Es bergerak lebih cepat. Dengan lambaian telapak tangannya yang keriput, ia langsung menarik Liu Yong ke belakang punggungnya dan melindunginya dengan kekuatan spiritual, seolah takut direbut oleh orang lain.
"Perempuan tua, tindakanmu sepertinya melanggar aturan." Leluhur Istana Pembunuh Darah berkata dengan wajah tidak senang.
"Yang melanggar aturan adalah kau. Ia sudah setuju untuk bergabung dengan Lembah Es," ucap sang nenek dengan nada dingin.
"Ia sama sekali belum membuka mulut untuk menyatakan kesediaannya bergabung dengan Lembah Es kalian." Leluhur Istana Pembunuh Darah tidak mau mengalah.
"Maksud dari perkataannya sudah sangat jelas. Kenapa, apa kau berniat merampasnya secara paksa?" Saling bersitegang, secercah hawa dingin langsung terpancar dari mata sang nenek.
Leluhur Istana Pembunuh Darah mendengus dingin, jelas tidak gentar dengan gertakan nenek dari Lembah Es itu, dan sikapnya memang menunjukkan niat untuk merebut secara paksa.
Namun pada saat itu, leluhur Sekte Pedang Tunggal di samping buru-buru tersenyum dan berkata, "Hanya seorang murid saja. Meskipun sangat luar biasa dan kita bertiga sama sekali tidak ingin melepaskannya, kita tidak boleh merusak keharmonisan karena hal ini. Lagipula, sekarang kita semua berada di dalam perahu yang sama."
Berkelahi di dalam kelompok pada saat seperti ini tentu bukan hal yang ingin dilihat oleh leluhur Jindan Sekte Pedang Tunggal, sehingga ia memilih untuk melerai.
"Aku tidak berniat memicu konflik, tapi jika ada orang yang ingin bertindak semena-mena, orang tua ini bukanlah kesemek lunak yang bisa diremas begitu saja."
Liu Yong tetap tersenyum dan memilih diam. Meskipun ia menginginkan keuntungan yang lebih banyak, ia tahu betul bahwa tidak bersikap proaktif maupun menolak adalah pilihan terbaik saat ini, agar tidak mendatangkan malapetaka bagi dirinya sendiri.
"Bagaimana kalau begini? Aku tahu teknik kultivasi yang kau latih membutuhkan wanita sebagai tungku untuk menyerap intisari demi menembus tingkat kultivasi. Bagaimana menurutmu dengan kedua wanita itu?" Leluhur Jindan Sekte Pedang Tunggal berkata sambil menatap leluhur Istana Pembunuh Darah, lalu mengarahkan jarinya ke arah dua orang di antara para murid Sekte Pembuat Senjata.
"Aku telah melihat banyak orang. Bicara soal kecantikan, yang satu berwajah dingin dan mempesona, sementara yang satunya lagi tampak manis dan menggemaskan. Baik rupa maupun bentuk tubuh mereka benar-benar jarang ditemui. Lagipula, mereka mengenakan pakaian hitam, yang berarti mereka adalah murid inti dari Sekte Pembuat Senjata; bakat mereka tentu saja berada di tingkat atas. Wanita dengan bakat kultivasi tingkat atas dan paras luar biasa seperti ini mungkin tidak terlalu menarik bagiku, tapi bagimu, mereka adalah tungku berkualitas tinggi yang sangat langka."
Leluhur Istana Pembunuh Darah, yang tadinya masih merasa kesal, langsung mengarahkan pandangannya ke tempat yang ditunjuk oleh Pendeta Jian begitu mendengar kata-kata tersebut.
Sekilas memandang, matanya tanpa sadar langsung berbinar. "Sebelumnya aku tidak menyadari hal ini. Meskipun penampilan mereka sedikit berantakan, mereka benar-benar tungku yang sangat langka! Kalau begitu, baiklah, kedua orang ini menjadi milikku!"
Pendeta Jian tersenyum tipis dan berkata, "Meskipun mereka bukan pembuat senjata tingkat dua, setidaknya mereka adalah pembuat senjata tingkat satu. Terlebih lagi, begitu mereka dibawa pergi olehmu, hidup dan mati mereka berada di tanganmu, dan kau tidak perlu membuat janji apa pun kepada mereka."
Kedua wanita yang ditunjuk oleh Pendeta Jian tidak lain adalah Yun Xuan dan Gu Mei'er yang kini telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja!
Meskipun kedua wanita itu tidak melangkah maju, mereka justru diincar oleh leluhur Istana Pembunuh Darah. Hal ini hanya bisa berarti satu hal: Istana Pembunuh Darah hendak merampas mereka secara paksa!
Seketika itu juga, ekspresi wajah Yun Xuan dan Gu Mei'er berubah drastis. Mereka sangat mengerti bahwa kedua wanita yang dimaksud tidak lain adalah diri mereka sendiri!
Gu Mei'er dan Yun Xuan sama-sama tahu apa itu tungku—itu adalah wadah yang digunakan khusus untuk diambil intisarinya oleh para cultivator pria. Begitu seseorang menjadi tungku, ia sama saja menjadi budak untuk memuaskan hasrat orang lain. Bagi kedua wanita itu, nasib tersebut jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Mereka memiliki keberanian untuk hidup dan mati bersama sekte, namun sama sekali tidak ingin berakhir sebagai tungku!
Namun, banyak hal di dunia ini yang tidak berjalan sesuai keinginan. Kata-kata Pendeta Jian bahkan belum sepenuhnya reda ketika leluhur Istana Pembunuh Darah sudah melambaikan tangan lebarnya. Dua gelombang energi spiritual seketika melumpuhkan tubuh Yun Xuan dan Gu Mei'er. Bukan hanya kekuatan spiritual mereka yang tidak bisa digerakkan lagi, tetapi kendali atas tubuh mereka pun dirampas seketika, persis seperti saat Cang Tianqi dibawa pergi oleh siluman berwujud manusia itu dulu.
Ketakutan terpancar dari mata kedua wanita itu. Li Shu yang melihat hal tersebut merasa sangat murka dan hendak maju untuk mencegat, namun kecepatan Pendeta Jian dan nenek Lembah Es jauh lebih kilat, langsung memukul mundur Li Shu secara paksa!
Begitu Li Shu berhasil menstabilkan tubuhnya, Yun Xuan dan Gu Mei'er telah jatuh ke tangan leluhur Istana Pembunuh Darah.
Cahaya spiritual menyapu tubuh kedua wanita itu, membersihkan noda darah di sekujur pakaian mereka. Rambut panjang mereka kembali terurai lembut, menampakkan dua wajah yang kecantikannya luar biasa. Kecantikan Gu Mei'er saat ini bahkan tidak kalah sedikit pun dari Yun Xuan.
Seketika tubuh mereka menjadi bersih, pakaian hitam mereka yang robek di sana-sini memperlihatkan kulit seputih salju samar-samar, membuat pesona kedua wanita yang memang sudah sangat memikat itu semakin berlipat ganda!
"Sayang sekali. Aku sudah mengincar kedua wanita itu sejak lama, tapi tidak pernah ada kesempatan. Dan sekarang, kesempatan itu benar-benar tertutup sudah." Liu Yong menggelengkan kepala dalam diam di balik perlindungan sang nenek, merasa sangat menyesal.
Sementara itu, para cultivator Sekte Pembuat Senjata, termasuk Li Shu, hampir memuntahkan api dari mata mereka. Jika bukan karena tekanan gabungan dari sang nenek dan leluhur Sekte Pedang Tunggal, Li Shu pasti sudah menerjang maju!
"Bagus! Benar-benar tungku berkualitas tinggi!" Leluhur Istana Pembunuh Darah mengamati wajah cantik serta lekuk tubuh Yun Xuan dan Gu Mei'er secara saksama. Kekecewaannya tadi langsung sirna berganti dengan seruan penuh kepuasan!
Pada saat bersamaan, karena gerakan refleks, ia mengulurkan telapak tangannya yang keriput dan tanpa sadar hendak mencengkeram bagian dada Yun Xuan yang tampak samar-samar di balik pakaiannya yang robek!
Itu adalah gerakan yang sepenuhnya bersifat naluriah, dan tindakan semacam itu hanya bisa berarti satu hal: ia sudah sangat terbiasa melakukannya!
Menghadapi cakar iblis yang menyergap ke arahnya, mata indah Yun Xuan memancarkan kobaran api amarah, namun ia tidak berdaya. Sebuah rasa terhina yang belum pernah ia rasakan sebelumnya membuncah di dalam hatinya!
Ia adalah seorang wanita yang memiliki harga diri tinggi. Penghinaan semacam itu jauh lebih menakutkan baginya daripada kematian. Jika di hadapan banyak orang cakar leluhur Istana Pembunuh Darah itu benar-benar menyentuhnya, dengan karakternya, ia pasti akan melawan sampai titik darah penghabisan—kecuali jika leluhur Istana Pembunuh Darah mengurungnya seumur hidup!
Melihat telapak tangan itu hampir menyentuh tubuhnya, hati Yun Xuan mendingin seketika, dan niat membunuh yang belum pernah ada sebelumnya meledak dari matanya. Namun, tepat pada saat itu, sebuah suara yang terdengar tenang tiba-tiba bergema di seluruh alun-alun.
"Jika kau tidak ingin lagi menggunakan kedua tanganmu, silakan saja teruskan cengkeraman itu."
Gerakan leluhur Istana Pembunuh Darah terhenti. Telapak tangannya melayang tepat di depan dada Yun Xuan. Alisnya sedikit berkerut, dan dengan wajah penuh niat membunuh, ia menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Bukan hanya dirinya, kemunculan suara itu yang begitu mendadak—terlebih lagi karena berani menantang seorang leluhur ranah Jindan—langsung menarik perhatian seluruh pasang mata yang ada di sana!
Termasuk Yun Xuan yang tadinya sudah merasa putus asa!
Dan sosok yang kini tertangkap oleh pandangan mereka tidak lain adalah Cang Tianqi, yang entah sejak kapan sudah turun dari punggung Roc Bulu Biru.