Bab Delapan Belas: Kejayaan Seratus Pertempuran
Ini adalah pertama kalinya Yang Yuanqing benar-benar bertarung sejak mempelajari ilmu bela diri, sehingga ia pun merasa sangat gugup. Ia tidak berani meremehkan lawan sedikit pun, juga tak berani lengah, dan mengerahkan seluruh ilmu yang telah dipelajarinya. Dengan cekatan, ia menangkis gerakan pedang Liu dan langsung membalas dengan satu tebasan lurus ke arah perut lawannya.
Liu sama sekali tidak menyangka lawannya bisa beralih dari bertahan ke menyerang secepat itu. Ia ingin mundur, tapi sudah terlambat. Ia coba menangkis dengan pedangnya, namun tenaga yang sudah ia arahkan keluar tidak bisa segera ditarik kembali. Dalam sekejap mata, pedang lawan sudah berada di bawah dadanya. Tamatlah riwayatku, pikirnya, dan ia pun memejamkan mata, pasrah menunggu ajal.
Terdengar suara tajam seperti kain terbelah. Ada rasa dingin di perutnya, dan celananya tiba-tiba terasa longgar. Liu buru-buru memegangi celananya, lalu merasakan dingin di leher—pedang lawan sudah menempel di sana.
Hatinya dicekam rasa takut. Pedang macam apa ini, pikirnya, bagaimana bisa hanya memutuskan ikat pinggang tanpa melukai badan? Baru sekarang ia sadar bahwa ilmu bela dirinya masih jauh di bawah pemuda itu.
"Mau bunuh, bunuh saja! Aku tidak akan mengerutkan alis sedikit pun!" Liu masih berusaha keras menjaga harga dirinya di depan anak buah.
"Kau kalah."
Yuanqing berkata dingin, lalu menarik kembali pedangnya dan berbalik pergi. Meskipun Liu masih memegang pedangnya, nyalinya sudah habis. Ia hanya bisa memandangi punggung Yuanqing yang makin menjauh.
Seorang anak buah mendekat dan berbisik, "Bagaimana kalau kita ramai-ramai menghabisi bocah itu?"
Liu menggeleng, "Anak ini aneh, asal-usulnya juga tidak jelas. Jangan cari masalah, kita pergi!"
Dengan celana masih terpegangi, Liu naik ke kudanya dan memimpin rombongan pergi dengan cepat. Ketika orang terakhir yang membawa bambu melewati Yuanqing, Yuanqing menudingkan pedangnya sambil berkata, "Tinggalkan bajuku!"
Orang terakhir itu ketakutan, melemparkan bambu dan baju ke arah Yuanqing, lalu memecut kudanya dan lari terbirit-birit.
Yuanqing mengenakan kembali bajunya, lalu meludah ke arah kelompok yang sudah menjauh, "Katanya mau gantiin aku sepuluh baju, omongan mereka sama saja dengan kentut!"
Saat itu, Zhang Xuduo mendorong kudanya keluar dari balik pepohonan. Wajahnya yang biasanya dingin kini tampak tersenyum tipis, jarang sekali terjadi. Ia sangat puas dengan cara Yuanqing mengatasi masalah: berani sekaligus cerdas, inilah sikap seorang calon jenderal.
Namun Yuanqing merasa heran, sebab hari ini bukan jadwal mereka berlatih bersama. Kenapa gurunya datang? Ia pun segera maju memberi salam, "Murid menyapa guru!"
Zhang Xuduo mengangguk dan bertanya, "Kau bawa busur dan anak panahmu?"
"Menjawab guru, biasanya aku berlatih memanah sore atau malam, jadi pagi ini tidak kubawa."
Zhang Xuduo mengambil sebuah busur bertanduk berwarna hitam dari kantong kudanya dan menyerahkannya, "Ini busur delapan-dou, busur khusus penunggang kuda. Coba kau pakai!"
Yuanqing selama ini memakai busur lima-dou, yang sudah termasuk standar militer, dengan jangkauan hingga enam puluh langkah. Meski baru berumur delapan tahun, tubuhnya sudah sebesar anak dua belas tahun, sehingga mampu menggunakannya.
Satuan "satu-shi" pada busur menunjukkan kekuatan tariknya, kira-kira seratus dua puluh kati. Busur di bawah lima-dou disebut busur biasa, lima-dou sampai satu-shi adalah busur unggul, di atas satu-shi disebut busur kuat.
Karena panah silang dilarang di masyarakat umum, busur lebih banyak digunakan rakyat dan tidak ada pembatasan. Anak-anak keluarga Zhang dan Li kerap memamerkan busur mereka dengan bangga.
Namun, di militer Sui dan Tang, busur lebih banyak digunakan kavaleri. Infanteri memang memakai busur, tapi lebih mengandalkan panah silang. Karena menarik busur di atas kuda membutuhkan tenaga lengan lebih besar, hanya mereka yang bertubuh tinggi dan kuat yang bisa jadi penunggang kuda. Umumnya digunakan busur lima-dou, sedangkan para jenderal perkasa bisa menarik busur satu-shi.
Beberapa jagoan terkuat di dunia bahkan mampu menggunakan busur dua-shi atau tiga-shi. Dalam kisah-kisah Sui dan Tang, Xiong Kuohai pernah mempersembahkan busur tiga-shi ke ibukota pada festival Yuanxiao. Qin Qiong hanya mampu menarik setengahnya saat berdiri di tanah, menandakan bahwa di atas kuda ia hanya mampu menggunakan busur satu-shi. Sedangkan Yuwen Chengdu mampu mematahkan busur di atas kuda, berarti ia setidaknya menggunakan busur tiga-shi.
Zhang Xuduo sendiri menggunakan busur dua-shi lima-dou, setara tiga ratus kati. Ia merasa kekuatan Yuanqing sudah meningkat, jadi hari ini ia membawakan busur delapan-dou khusus kavaleri, sebagai persiapan Yuanqing mulai berlatih menembak panah di atas kuda.
"Coba saja, jika cocok, busur ini untukmu!"
Ia menyerahkan satu anak panah pada Yuanqing. Yuanqing menerima busur berat itu. Busur kavaleri lebih kecil dari busur infanteri. Lengan bagian atas lebih panjang, lengan bawah lebih bulat dan pendek—agar tidak mengganggu gerak kuda. Namun pengerjaannya lebih rumit, pendek dan sangat kuat, sehingga penunggang kuda harus menembak dengan cepat.
Sebuah busur kavaleri berkualitas tinggi butuh waktu empat tahun untuk dibuat, harganya sangat mahal, dan sulit didapat di pasaran.
Yuanqing mengenakan pelindung ibu jari, lalu memperhatikan anak panahnya, ternyata memang lebih pendek dari anak panah busur infanteri, bulu di bagian belakang juga dipangkas rapi.
Ia memasang anak panah di tali, anak panah di kanan busur, sementara pandangan diarahkan dari kiri busur, lalu perlahan-lahan menarik tali busur.
"Salah!" seru Zhang Xuduo, segera menyadari kesalahan Yuanqing yang masih menggunakan teknik memanah infanteri. Dengan suara keras ia berkata, "Tarik secepat angin, pandangan setajam kilat; tarik penuh, lepas dengan mantap..."
Yuanqing langsung tersadar, ia menarik busur secepat kilat, pandangannya tajam menyapu ke depan, tanpa ragu. Begitu ujung anak panah menyentuh jarinya, ia segera melepaskannya. Anak panah bersayap elang itu melesat laksana petir, dan dengan suara keras menancap tepat di sebuah pohon kecil delapan puluh langkah jauhnya. Yuanqing diam-diam memuji diri sendiri, tiga tahun berlatih membuahkan hasil.
Busur kavaleri memang lebih kecil, tapi energinya jauh lebih besar. Kedua lengan umumnya tak sanggup menahan lama, sehingga harus segera menembak setelah menarik. Karena itu, penunggang kuda dituntut punya penglihatan dan keahlian tinggi.
Sebaliknya, busur infanteri lebih lunak dan ukurannya besar agar tenaga lebih kuat, bisa ditarik perlahan sambil membidik, serta memakai anak panah besar dan menembak dengan sudut ke atas. Busur kavaleri menembak lurus. Di zaman Sui dan Tang, busur infanteri lebih sering dipakai untuk bertahan di benteng atau latihan bela diri di masyarakat.
Selama ini Yuanqing hanya berlatih busur infanteri. Busur infanteri adalah dasar dari busur kavaleri; jika latihan dasarnya matang, kemajuan dalam busur kavaleri akan berlipat ganda. Meski latihan langsung di atas kuda lebih cepat, dasar yang kokoh membuatnya bisa menguasai teknik panah tingkat tinggi.
Yuanqing tidak menyangka tembakan pertamanya dengan busur kavaleri langsung tepat sasaran. Ia merasa sedikit bangga.
Zhang Xuduo menangkap rasa bangga itu dari sorot matanya. Ia tersenyum sinis, lalu naik ke kuda. Dari kudanya, ia mengambil busur dua-shi lima-dou miliknya, menggigit delapan anak panah, lalu menembakkan dua anak panah sekaligus dengan satu tarikan busur. Ia lalu memutar tubuh, berganti tangan kanan memegang busur, kembali menembakkan dua anak panah ke belakang. Ia kemudian menembak dua anak panah ke kanan dan dua ke kiri sambil rebah di atas pelana.
Dalam sekejap mata, delapan pohon kecil di empat penjuru seratus langkah jauhnya langsung tertancap anak panah, bulu panahnya masih bergetar.
Yuanqing menunduk malu. Ia tahu gurunya sedang menegur rasa puas diri. Ia masih jauh dari sempurna. Ketepatan menembak hanyalah dasar, yang terpenting adalah kekuatan, jarak, teknik, dan kecepatan—itulah kualitas pemanah sejati.
Guru dan murid itu memang jarang berbicara panjang lebar, tapi saling memahami. Zhang Xuduo menyimpan kembali busurnya, "Waktunya sudah cukup, mari kita pulang!"
Hari itu, Zhang Xuduo tidak menyuruh Yuanqing berlari, melainkan mengajaknya menunggang kuda bersama.
"Yuanqing, setelah pertempuran tadi, menurutmu apa yang paling kau kurang?" tanya Zhang Xuduo sambil memacu kudanya perlahan.
Yuanqing berpikir sejenak, "Guru, kurasa yang paling kurang dari diriku adalah pengalaman bertarung sebenarnya."
Zhang Xuduo tersenyum, matanya menunjukkan rasa puas. Ia perlahan berkata, "Benar sekali. Mungkin aku belum pernah memberitahumu, ilmu bela diriku ini sangat sulit dikuasai. Dalam tiga ratus tahun keluarga Zhang, ada lebih dari seratus orang yang berlatih, tapi hanya tiga yang berhasil menembus masa stagnasi: aku, ayahku, dan kakekku. Aku berharap kau menjadi orang keempat."
"Mengapa?" tanya Yuanqing heran, "Apa karena bakat mereka kurang?"
Zhang Xuduo menggeleng, "Bakat memang penting, tapi bukan satu-satunya alasan, juga bukan soal rajin berlatih—semua keluarga Zhang rajin. Masalahnya adalah tidak ada kesempatan."
Yuanqing diam, mendengarkan dengan saksama.
"Ilmu yang kupelajari ini punya kelebihan sekaligus kelemahan mematikan. Di awal, kemajuan sangat cepat, seperti pepatah 'ingin cepat malah tidak sampai'. Awal yang terlalu cepat membuat dasar tidak kuat, sehingga saat menemui masa stagnasi, sangat sulit untuk menembusnya. Pada titik itu, meski sudah dianggap ahli, tetap tidak bisa jadi jenderal perkasa. Selama tiga ratus tahun, tidak pernah ditemukan cara menembusnya. Kakekku akhirnya paham setelah ikut perang sejak umur dua belas tahun, bertempur ratusan kali, dan menembus masa stagnasi saat berumur enam belas. Ia sadar, kunci menembusnya adalah pengalaman bertempur. Maka, ia mengganti nama ilmu dasar ini menjadi Ilmu Seratus Pertempuran. Dengan bakat dan pengalaman tempur, pasti bisa menembusnya."
Yuanqing merasa proses itu mirip seperti dalam cerita silat: membuka dua saluran utama tenaga dalam. Ia penasaran, "Guru, setelah menembus masa stagnasi, apa ada kemajuan besar?"
"Tentu saja! Yang paling terasa adalah kekuatan dan kecepatanmu meningkat pesat. Misalnya, kau bisa menarik busur dua-shi, menggunakan golok berat seratus dua puluh kati, tak seperti sekarang yang hanya sanggup tiga puluh kati. Staminamu juga luar biasa, bisa bertarung lama tanpa lelah. Jika kekuatan, kecepatan, dan stamina menyatu, kau bisa menghadapi seribu lawan sendirian—itulah jenderal sejati."
"Lalu bagaimana dengan jurus-jurus yang guru ajarkan padaku?" tanya Yuanqing heran, "Apa jurus tidak penting?"
Zhang Xuduo tersenyum, "Nanti di medan perang, kau akan menghadapi dua jenis pertempuran. Satu, duel antar jenderal, di mana jurus-jurus pedang yang rumit sangat penting, seperti tiga belas jurus yang kuajarkan padamu. Sebenarnya, keunggulan teknik pedang Zhang terletak pada pemanfaatan kekuatan, dan itu bisa diterapkan pada senjata lain. Nanti, jika ada kesempatan, kau bisa mencoba."
Zhang Xuduo berhenti sejenak, memastikan Yuanqing memahami maksudnya, lalu melanjutkan, "Jenis pertempuran lain adalah pertempuran besar-besaran. Misal, kau dikepung ribuan musuh, harus menerobos kepungan dari segala arah. Dalam situasi itu, teknik rumit tidak lagi penting. Yang utama adalah kekuatan, kecepatan, stamina, serta ketajaman mata dan telinga. Di tengah kekacauan, kau harus bisa mendengar suara tali busur, dan di saat ribuan senjata mengarah padamu, kau harus bisa membedakan semuanya."
Yuanqing mengangguk, ia paham. Seperti Zhao Yun saat bertempur di Changban, ia tak hanya melawan para jenderal, tapi juga menerobos ribuan pasukan Cao. Itu bukan hal yang bisa dilakukan orang biasa.
Zhang Xuduo berkata demikian karena ingin Yuanqing segera bergabung dengan militer—itulah harapannya. Hanya di medan perang, muridnya bisa bersinar.
Hari itu, Zhang Xuduo berbicara lebih banyak dari biasanya. Ia menatap Yuanqing, lalu berkata pelan, "Aku melihat latihan pedangmu di air sudah sulit berkembang lagi, itu tandanya kau sudah masuk masa stagnasi. Jadi, mulai sekarang, kau harus mengubah metode latihan."
"Tapi guru, kemarin aku sudah bisa mengayunkan pedang seratus lima puluh kali dalam satu sesi," sanggah Yuanqing, sedikit tak terima.
"Itu kau paksakan. Bukan hasil alami, malah bisa melukai dirimu, itu tidak baik."
Zhang Xuduo jelas tidak setuju. Ia mengeluarkan sebuah tanda pengenal dan memberikannya pada Yuanqing. "Mulai besok, kau akan menggunakan nama samaran Li Yuanqing, dan setiap siang kau akan berlatih menunggang kuda dan memanah di barak militer Garda Kiri, selama dua tahun."
Yuanqing sangat gembira, karena latihan menunggang dan memanah adalah impiannya. Ia menerima tanda perunggu itu, di mana terukir tulisan "Patroli Garda Kiri". Ia tahu itu adalah pengaturan dari kakeknya.
Setelah menyimpan tanda itu, ia baru sadar mereka sudah tiba di luar Gerbang Mingde. Biasanya, mereka berpisah di sini: Yuanqing masuk kota, barak Zhang Xuduo terletak di luar.
Saat itu, mata Zhang Xuduo tampak sendu. Ia menghela napas pelan, "Yuanqing, maukah kau menemaniku minum arak? Sebagai minuman perpisahan antara guru dan murid."