Bab Dua Puluh Satu: Mengadu Nasib di Utara
Sebulan kemudian, pagi itu, Yuan Qing selesai berlatih di Danau Qujiang lalu bergegas menuju Bukit Utara. Ia berniat berburu untuk mendapatkan uang, sebuah ide yang terlintas ketika ia membunuh seekor anjing liar; membunuh anjing harus mempertimbangkan pemiliknya, tapi jika memburu hewan liar, tak ada pantangan. Selain melatih kemampuan memanah, ia juga bisa mendapat penghasilan, sungguh menguntungkan.
Lagipula, hasil buruan biasanya laku mahal di kedai arak; ia ingat seseorang pernah menjual seekor kambing liar seharga tiga koin besar. Meski di sekitar Danau Qujiang terdapat hutan, daerah itu ramai dengan desa-desa, sehingga jarang ditemukan binatang buas, paling hanya bebek liar, ayam hutan, kelinci, yang tak bernilai tinggi.
Sementara di utara kota, di belakang istana, bentang alamnya luas, lembah-lembah sunyi membentang hampir seratus li, hutan lebat dan penduduknya jarang, sering didatangi hewan liar. Karena berdekatan dengan istana, masyarakat umum dilarang masuk, apalagi berburu, sehingga populasi hewan di sana sangat banyak.
Saat musim gugur, para bangsawan biasanya melakukan perburuan di sana. Ada Sungai Ba yang mengalir, dan banyak bebek liar di sungai itu, meski harga bebek liar hanya sepuluh koin per ekor.
Setelah setengah jam berlari, Yuan Qing tiba di utara kota. Topografi Kota Daxing adalah timur laut lebih tinggi daripada barat daya, di antara Sungai Ba, Chan, dan Yu terbentuk dataran aluvial, dan kota Daxing dibangun di atas dataran ini.
Namun, di arah timur laut terdapat dataran tinggi Longshou, menjadi titik tertinggi di Kota Daxing. Puluhan tahun kemudian, Istana Ming Raya mulai dibangun di sana, namun kini wilayah itu masih sunyi dan tandus, jika menempuh perjalanan tiga puluh li ke barat laut, akan tiba di bekas Kota Chang’an milik dinasti Han, yang masih berpenduduk.
Tempat berburu terbaik adalah dataran tinggi Longshou di timur laut dan hutan lebat di utara kota. Daerah itu berdekatan dengan Taman Dalam Barat, yang sering dipatroli pasukan berkuda, melarang warga desa masuk, dan daerah sekitar taman juga dilarang berburu.
Tak jauh dari istana ada jalan yang dijaga prajurit, melarang orang melintas. Yuan Qing memanjat tebing, menyusup ke rimbunnya hutan, berlari cepat. Selain jalan utama yang dijaga pasukan berkuda, di dalam hutan tak ada satu pun orang, bahkan penebang kayu pun tidak.
Kawasan itu memang dilarang untuk berburu atau mengambil kayu; tiap persimpangan dijaga prajurit, dan jalan dekat istana dipatroli tentara, penjagaan sangat ketat. Apalagi Yuan Qing membawa senjata, bisa dianggap sebagai pembunuh, jika tertangkap prajurit, nyawanya terancam, risiko sangat besar.
Namun, risikonya sepadan dengan keuntungan; berbagai jenis hewan liar berlimpah di sana, tempat sempurna untuk berburu. Kalau lebih berani, menyusup ke Taman Dalam Barat di istana, hasilnya lebih menggiurkan.
Yuan Qing pernah mendengar obrolan keluarga Yang; ada yang berani menyelinap ke Taman Dalam Barat untuk memburu binatang langka demi mendapatkan kulitnya. Jika tertangkap, hukuman bisa masuk penjara atau kehilangan nyawa, namun jika berhasil, dapat rezeki luar biasa. Di taman itu dipelihara hewan-hewan langka, kulitnya sangat mahal.
Yuan Qing melintasi lembah sunyi, mengenakan pakaian kain biru, sepatu tua, kepalanya dililit kain sederhana, di pinggang terselip sebilah belati pendek tebal, di punggung tabung anak panah, tangan mengenggam busur hitam panjang. Meski pakaian sederhana, ia tampak gagah dan gesit, melangkah ringan.
Di kedua sisi lembah terbentang hutan rimba lebat. Musim semi baru tiba, segalanya hidup kembali, ranting mulai bersemi, rumput menghijau, kawanan burung beterbangan di atas kepala, penuh semangat kehidupan.
Beberapa li di belakangnya adalah Taman Dalam Barat, yang hanya dibatasi beberapa batu penanda, dan taman itu dikelilingi hutan rimba lebat. Di tengah taman terbentang padang rumput tempat berkuda, panjang taman belasan li, lebar hanya beberapa li, di dalamnya ditempatkan ribuan prajurit pengawal.
Melewati taman, tampak tembok kota yang megah, di balik tembok samar-samar terlihat istana yang menjulang, itulah Istana Kekaisaran Dinasti Sui yang agung. Bahkan Yuan Qing dapat melihat gerbang istana yang gagah, yakni Gerbang Xuanwu, tempat peristiwa bersejarah Gerbang Xuanwu terjadi.
Yuan Qing tengah melamun, tiba-tiba bayangan besar hitam melintas di atas kepalanya; matanya tajam, langsung mengenali seekor ayam hutan jantan dengan ekor panjang dan bulu cerah. Bulan lalu, saat ia dan Niuniu pergi ke pesta malam, sehelai bulu ayam hutan dihargai sepuluh koin.
Di mata Yuan Qing, yang tampak bukan sekadar ayam hutan, melainkan koin terbang di udara. Kini ia sangat membutuhkan uang, berseru dan segera berlari mengejar.
Tiga tahun membangun dasar dan latihan keras membuat fisiknya jauh di atas manusia biasa, ia melepaskan sepatu kain, berlari tanpa alas kaki, gerakannya cepat seperti bayangan. Dalam sekejap, ia sudah mengejar ayam hutan hingga hanya tiga puluh langkah. Ayam hutan itu menyadari bahaya, hendak terbang ke hutan, Yuan Qing sudah membidik busur, melepaskan anak panah seperti bintang jatuh yang menembus tubuh ayam hutan di udara. Ayam itu mengerang dan jatuh.
Yuan Qing girang, ia berlari ke lereng lembah, menemukan mangsanya di rumpun rumput. Ayam hutan itu sudah mati, darah mengalir di sepanjang anak panah, Yuan Qing mengambil anak panah dan mengangkat mangsanya, beratnya sekitar dua atau tiga kati, bulunya panjang dan sangat indah. Ia menghitung, ada lima belas bulu cantik.
Sebenarnya bulu ayam hutan terbaik adalah saat musim gugur, kini baru awal musim semi, kualitasnya kurang, tapi karena langka, harga tetap tinggi; bulu-bulu itu pasti bisa dijual satu koin besar.
Yuan Qing sangat gembira; ini adalah mangsa pertamanya sekaligus makan siangnya. Ia memasukkan panah ke tabung, lalu berlari ke dalam lembah, menyeberangi lembah dan sampai di Sungai Ba.
Sungai Ba sudah mencair, airnya melimpah, mengalir perlahan di antara pegunungan, kedua tepi sungai dipenuhi hutan lebat. Setengah jam kemudian, Yuan Qing duduk bermeditasi di tepi sungai, perlahan bangkit dari penyesuaian napas, merasa segar dan penuh tenaga, tapi perutnya mulai lapar.
Ia menoleh, melihat api yang tadi dinyalakan sudah padam. Ia melonjak girang, membongkar tumpukan api, mengorek tanah dan mengeluarkan gumpalan lumpur keras, lalu memecahnya dengan pisau. Kulit lumpur terbelah, menampakkan daging putih panas yang mengeluarkan aroma lezat.
Resep ayam bakar lumpur ini ia baca dari buku, dan percobaan pertamanya ternyata sukses. Satu-satunya yang ia tidak tahu, sebenarnya bulu ayam tidak perlu dicabut, karena setelah matang bulu akan terlepas sendiri; ia malah membuang waktu setengah hari untuk mencabut bulu.
Yuan Qing menaburkan garam, air liurnya hampir menetes, ia mengambil daging ayam liar yang empuk dan menggigitnya dengan lahap, sambil menatap seikat bulu cantik yang tertancap di rumput seperti bendera berkibar. Ia tertawa sendiri, “Bagus sekali! Bisa makan, bisa dapat uang, bisa latihan memanah. Hidup seperti ini sungguh menyenangkan.”
Baru dua gigitan, ia tiba-tiba meletakkan ayam, berputar dan segera menghunus pisau, merasakan aura bahaya yang sangat kuat...
Dalam jarak lima puluh langkah, ada sesuatu mendekatinya. Ia mendengar jelas suara kaki empat menapak ranting, pasti bukan manusia. Ia menyelipkan pisau ke pinggang, mengambil busur dan panah, mencari-cari sekitar. Penglihatannya luar biasa, tak ada perubahan yang luput dari matanya.
Tiba-tiba, matanya terpaku pada pohon kayu manis tiga puluh langkah di depan; tatapannya bertemu dengan sepasang mata tajam dan buas.