Bab Delapan Puluh Empat Ikan Mas Logam
Kali ini, Li He benar-benar ketakutan. Andai saja ia tidak sedang berada di atas perahu, mungkin sudah meloncat belasan meter jauhnya. Malam itu suasana gelap gulita, Li He langsung tiarap di buritan perahu, namun matanya tak pernah lepas dari jasad bayi mati itu walau sedetik pun.
Ketika menceritakan sampai di sini, wajah Li He yang terbaring di ranjang rumah sakit tampak sedikit berubah, kemungkinan kenangan akan kejadian semalam masih membuatnya takut. Kami yang mendengarkan pun jadi tegang, membayangkan suasana saat itu: siapa pun yang sendirian di tempat seperti itu, pasti akan ketakutan setengah mati jika mengalami hal serupa.
Waktu itu, Li He menatap jasad bayi mati itu selama lima hingga enam menit. Selama proses itu, tubuhnya tidak bergerak, tetapi otaknya bekerja keras. Pertama-tama, ia berpikir kenapa jasad bayi itu pucat pasi, mungkin warnanya berkaitan dengan lamanya jasad itu terendam air, atau mungkin anak itu menderita penyakit kulit tertentu.
Ia juga menganalisis mengapa bisa ada dua jasad bayi, akhirnya ia teringat pada rumah sakit. Di bagian kebidanan dan anak rumah sakit, setiap tahun banyak orang meninggal. Beberapa jasad bayi yang meninggal dijadikan bahan percobaan, ada pula yang dibuang. Li He pernah mendengar dari sesama nelayan, katanya banyak rumah sakit yang diam-diam mengubur jasad bayi dalam-dalam untuk menghemat biaya, atau membuangnya ke perairan yang dalam.
Keuntungan memang sering membuat banyak orang tergoda untuk berbuat jahat. Mungkin ada sebuah rumah sakit yang beberapa hari ini diam-diam membuang jasad anak-anak ke sini.
Begitu dipikir, semuanya terasa masuk akal, hati Li He pun tenang kembali. Ia memberanikan diri, perlahan mendekati jasad bayi yang pucat, menatap wajah yang seperti tersenyum namun tidak, memastikan tidak ada perubahan. Kali ini ia makin tenang, barangkali benar wajah itu berubah karena terendam air sungai.
Walau dua kali menebar jala hanya mendapat jasad bayi, Li He tetap pantang pulang dengan tangan kosong. Ia menyalakan mesin, membawa perahu berjalan ratusan mil jauhnya, lalu berganti tempat.
“Masak aku sebegitu sialnya,” batinnya. “Sudah dua kali jala, masa yang ketiga tidak dapat hasil?” begitu ia menghibur diri.
Jala ketiga segera dilempar. Setelah menunggu beberapa menit, ia perlahan-lahan menariknya. Ia coba merasakan beratnya jala. “Eh, kali ini beda! Lebih berat dari dua jala sebelumnya!”
Merasa jalanya berat, ia malah lebih lega. “Bayi mati pasti tidak seberat ini. Kalau lebih berat, pasti bukan bayi mati,” pikirnya. Meski begitu, ia tetap merasa was-was. Bukankah orang pernah berkata, sekali digigit ular, sepuluh tahun takut akan tali?
Jala sedikit demi sedikit terangkat, selama dua menit itu, keringat membasahi tubuh Li He.
Begitu jala sampai di atas papan perahu, terdengarlah suara “klontang” cukup keras. Suara mendadak itu membuat Li He bergidik, spontan ia memaki. “Hari ini hari apaan, kenapa semua kejadian aneh menimpaku?” gerutunya. Mendengar suara itu, ia tahu pasti mendapatkan sesuatu yang aneh lagi.
Kali ini, ia malah lebih tenang. Disorotnya jala dengan senter. Anehnya, ternyata yang tertangkap hanyalah ikan—sekitar tujuh atau delapan ekor, ukurannya lumayan besar.
Li He merasa seolah keberuntungan datang tiba-tiba, mulutnya tak kuasa menahan tawa pahit, bahkan tak memikirkan suara aneh tadi, langsung membungkuk hendak mengambil ikan.
Saat mengambil ikan ketiga, tangan yang baru saja diulurkan langsung ditarik lagi, jantungnya berdebar. Ia merasakan sesuatu yang keras dan dingin, jelas bukan ikan.
Karena malam dan penerangan minim, ia mengamati lebih teliti. Barulah ia sadar, benda yang dipegangnya memang bentuk ikan, seekor ikan mas Sungai Kuning yang sangat besar—namun bukan makhluk hidup, melainkan dari logam.
Ikan itu dibuat sangat mirip aslinya, warnanya pun tak beda jauh dengan ikan mas asli. Dalam gelap malam, sulit membedakan, apalagi dalam situasi seperti ini, siapa yang menyangka bisa mendapat ikan mas logam dari sungai?
Li He menimang ikan logam itu, beratnya lebih dari sepuluh kilo. Ia tak tahu terbuat dari logam apa. Melihat warnanya mirip perak, ia tambah senang. Sepuluh kilo perak saja sudah bernilai tinggi, apalagi ikan logam ini dibuat sangat indah, bisa jadi benda seni yang sangat berharga.
Ia buru-buru memindahkan ikan-ikan lain ke ember, lalu membawa ikan logam itu ke kabin perahu dan menutupnya dengan selimut. Semua kejadian tidak menyenangkan tadi langsung lenyap. Li He bersenandung lagu-lagu Sungai Kuning, merasa peruntungannya sedang baik, lalu bersiap menebar jala lagi.
Dalam dua jam berikutnya, Li He berhasil menangkap lebih dari seratus kilo ikan, termasuk ikan-ikan mahal seperti ikan pisau dan ikan lele Sungai Kuning.
Hasil tangkapannya malam itu jauh melebihi harapan. Setiap nelayan Sungai Kuning tahu, jangan terlalu serakah. Li He memutuskan ini jala terakhir, lalu selesai dan pulang tidur.
Kali ini ia mengerahkan seluruh tenaganya, melempar jala berbentuk lingkaran ke udara, jatuh ke sungai. Beberapa menit kemudian, jala ditarik perlahan.
Di sinilah ia menangkap seekor belut Sungai Kuning.
Karena lelah dan mengantuk, di bawah penerangan remang, Li He hanya melihat seekor “ular air Sungai Kuning” berwarna emas, panjangnya lebih dari satu meter. Ia buru-buru menangkap dan memasukkan ke ember. Sepanjang hidupnya, baru kali ini ia melihat belut Sungai Kuning sebesar itu. Ia yakin, satu ekor itu saja bisa dijual satu-dua juta rupiah.
Keberuntungan membuat Li He semalam benar-benar pulang dengan hasil melimpah. Dalam hati ia sedikit jumawa, bersenandung sambil menambatkan perahu di dermaga kecil luar desa. Membayangkan hasil tangkapannya, ia begitu bersemangat hingga sulit tidur. Ia pun mengambil sebotol arak khas daerah Sungai Kuning, beberapa batang mentimun, dan makan-minum sendiri.
Menjelang fajar, barulah kantuk menyerang dan ia pun terlelap.
Ketika terbangun, hari sudah menunjukkan pukul tujuh lebih. Li He segera memanggil dua pekerja pelabuhan untuk membantu memindahkan tiga ember ikan ke atas gerobak.
Di antara Desa Kelenteng Tua dan Desa Cui Timur ada pasar pagi, tempat para pedagang ikan membeli hasil tangkapan nelayan. Setiap pagi, ikan segar hasil tangkapan malam langsung dijual di sini. Harga ikan hidup jauh lebih mahal daripada ikan mati, jadi hasil tangkapan malam harus segera dijual.
Semua perahu nelayan yang pulang pasti merapat di dermaga. Beberapa petani yang cerdik pun mengambil kesempatan menjadi buruh angkut ikan, menunggu sejak subuh di dermaga.
Biasanya, nelayan hanya berdua, ikan dan airnya berat sekali, dan untuk membawa ikan ke pasar pagi, butuh alat bantu. Li He menyewa dua pekerja, masing-masing diberi tiga puluh ribu rupiah—jumlah yang cukup besar untuk ukuran desa. Untungnya, ia baru saja mendapat rejeki nomplok, jadi tak masalah keluar uang lebih.
Tiga orang itu mendorong gerobak ke arah pasar. Tiba-tiba terdengar suara batuk seorang kakek dari belakang.
Mereka menoleh, tapi tidak ada siapa-siapa. Li He mengira ia salah dengar. Namun baru melangkah beberapa langkah, terdengar lagi beberapa kali suara batuk. Kali ini, mereka bertiga serempak menoleh. Tak mungkin semuanya salah dengar.
Mereka heran, lalu menghentikan gerobak dan memeriksa dengan seksama. Tepat saat itu, suara batuk kembali terdengar, kali ini jelas berasal dari salah satu ember di atas gerobak. Li He yang penuh tanda tanya segera naik dan mengintip ke dalam ember.
Sekejap itu tubuhnya lemas dan ia langsung pingsan.
Di dalam ember itu, muncul wajah sebesar kepalan tangan orang dewasa—wajah dari “ular air Sungai Kuning” sepanjang lebih dari satu meter yang ia tangkap semalam!