Bab 152 Saatnya Beradu Akting
"Aku tidak peduli apa latar belakang kalian, sebaiknya jangan ikut campur urusan orang lain. Serahkan wanita ini kepada kami, maka kami akan membiarkan kalian pergi," ucap kepala gerombolan perampok itu dengan nada tajam.
Alis Li Hanguang sedikit berkerut. Ia memikul tanggung jawab yang besar dan tidak ingin menimbulkan masalah baru, tetapi wanita ini berparas sangat cantik. Pria normal mana pun pasti akan merasa kasihan saat melihatnya, dan Li Hanguang tidak terkecuali.
Terlebih lagi, ketujuh atau delapan perampok itu sekilas tampak seperti penjahat rendahan. Dirinya bersama keenam prajurit itu akan sangat mudah untuk mengatasi mereka.
Melihat Li Hanguang ragu-ragu, wanita bergaul merah itu sudah menangis dan memohon, "Tuan muda, kumohon selamatkan aku. Hamba bersedia membalas budi dengan menyerahkan diri."
Begitu mendengarkan ucapan itu dan memandang wajah sang wanita yang teramat cantik, mata Li Hanguang langsung berbinar. Ia berpikir, kesempatan berharga untuk menjadi pahlawan yang menyelamatkan wanita cantik benar-benar datang padanya.
Seorang wanita yang nyaris dirampas ke gunung oleh para perampok untuk dijadikan istri kepala bandit, lalu kebetulan bertemu dengan seorang pemuda berbusana necis yang tampak berkedudukan dan berwajah lumayan, tentu akan dengan tegas menyatakan bersedia mengabdikan diri demi menyelamatkan nyawanya. Ini adalah reaksi yang sangat wajar dan masuk akal, sehingga Li Hanguang sama sekali tidak merasa curiga.
"Wahai para pendekar, jumlah kalian hampir sama dengan kelompok kami. Karena urusan seperti ini sudah telanjur kulihat, tentu saja aku tidak bisa tinggal diam. Bagaimana kalau kita saling memberikan kelonggaran? Kalian berbaliklah dan pergi, pura-pura saja tidak pernah bertemu dengan kami, bagaimana?" Li Hanguang tidak ingin merelakan diri untuk menggunakan kekerasan jika tidak terpaksa, karena enam orang pengikutnya adalah prajurit Khitan. Jika pertarungan pecah, identitas mereka dikhawatirkan akan terbongkar dan merusak rencana besar. Oleh karena itu, ia mencoba bernegosiasi sambil tersenyum dingin.
"Tidak bisa!" Kepala perampok itu langsung menolak dengan tegas, tetapi sesaat kemudian bola matanya berputar, lalu berkata, "Kecuali kalian memberi kami seratus tael perak."
Meskipun perjalanan Li Hanguang kali ini adalah menjalankan tugas resmi, uang sejumlah seratus tael perak yang begitu besar tentu tidak akan diganti oleh atasannya, sehingga ia tidak mungkin memberikannya kepada para perampok itu.
Oleh karena itu, kilatan dingin melintas di sepasang matanya. Dengan sebuah lambaian tangan, keenam prajurit itu secara berurutan mencabut pedang sepanjang tiga kaki dari pinggang mereka.
Setiap bilah pedang berkilau terang bagaikan air musim gugur, dan pada bagian mata pedangnya samar-samar menyisakan beberapa noda kemerahan.
Pedang-pedang itu adalah senjata yang pernah mencicipi darah dan telah merenggut banyak nyawa, itulah sebabnya bagian ketajamannya memancarkan rona kemerahan!
Kepala perampok itu tampaknya memiliki sedikit pengalaman. Ekspresinya membeku, lalu bersama ketujuh anak buahnya, ia tanpa sadar mulai mundur ke belakang.
Melihat para perampok itu telah membuka jalan, Li Hanguang tentu tidak berniat mengejar dan membunuh mereka mati-matian. Ia melambaikan tangannya, dan rombongan itu segera menunggangi kuda mereka satu per satu. Li Hanguang bahkan tanpa sungkan merangkul pinggang wanita bergaul merah itu, mendudukkannya di atas kuda yang sama dengannya, lalu memacu kuda kencang-kencang menuju ke utara.
Saat melewati kereta kuda dan mayat kusir di pinggir jalan, wanita bergaul merah itu menangis dan menyeru, "Ah Zhuang..."
Li Hanguang menghiburnya, "Harap Nona memaklumi, kelompok perampok itu mungkin memiliki rekan lain. Tempat ini tidak aman untuk berlama-lama, hanya saja kita memang tidak sempat mengurus jenazah kusir Nona."
Wanita bergaul merah itu tidak menjawab, ia hanya menangis semakin pilu.
Benar sekali, wanita bergaul merah itu sebenarnya adalah She Nu yang sedang menyamar. Jika Zhang Bin menyaksikan seluruh kejadian barusan, ia pasti akan mengagumi kemampuan akting She Nu yang tampaknya semakin meningkat, mengingat dulu Zhang Bin sendiri hampir terkecoh olehnya.
Tepat pada saat itu, tiba-tiba sebuah panji tersembunyi meluncur deras dari semak-semak di sisi jalan. Li Hanguang tidak sempat mengelak, dan anak panah tersebut langsung menembus punggungnya.
Wanita bergaul merah itu terperanjat kaget dan berteriak, "Tuan muda! Tuan muda! Panah! Anda terkena panah!"
Hati Li Hanguang terasa dingin. Ia berteriak kencang, "Para perampok itu benar-benar punya komplotan! Cepat pergi!"
Seketika itu juga, Li Hanguang menahan rasa sakit yang mendalam. Di bawah perlindungan keenam prajurit, ia membawa wanita bergaul merah itu memacu kuda dengan kecepatan penuh, berlari tanpa henti melewati punggung bukit. Setelah melihat tidak ada lagi perampok yang mengejar di belakang, barulah Li Hanguang mencari tempat untuk turun dari kuda dan membalut lukanya.
She Nu dengan lembut membersihkan luka Li Hanguang dan membalutnya dengan penuh perhatian. Untunglah ia hanya tertusuk panah di bagian bahu; meskipun cederanya cukup parah, luka tersebut tidak sampai merenggut nyawanya.
Selama proses itu, keduanya saling memperkenalkan identitas. She Nu dengan berlinang air mata mengaku sebagai putri dari keluarga Wang yang berniat pergi menjenguk kerabat di Prefektur Zhending bagian utara, sementara Li Hanguang mengaku sebagai putra dari keluarga Li di Prefektur Zhending.
Mengingat kemampuan akting She Nu, Li Hanguang sama sekali tidak menaruh kecurigaan. Melihat She Nu tidak menunjukkan niat untuk mengingkari janji, ia berpikir bahwa luka panah yang dideritanya tidak sia-sia karena ia berhasil mendapatkan wanita yang begitu cantik jelita untuk dibawa pulang sebagai selir penghangat ranjang. Sungguh suatu hal yang sangat membahagiakan.
Li Hanguang memutuskan untuk menyembunyikan identitas aslinya terlebih dahulu guna merajut perasaan, dan baru akan memperdayanya untuk pergi ke negeri Liao setibanya di daerah perbatasan. Begitu tiba di Liao, wanita itu tidak akan bisa berbuat apa-apa meskipun ia menyesalinya.
Di sisi lain, She Nu berpikir bahwa ia tidak boleh terburu-buru bertindak gegabah. Sambil secara diam-diam meninggalkan tanda petunjuk, ia juga mengintai kesempatan yang tepat.
Malam harinya, rombongan tersebut beristirahat di sebuah penginapan kecil di kota kecil. She Nu dengan wajah merona malu tinggal di kamar yang sama dengan Li Hanguang. Namun, karena pemuda itu sedang terluka, meskipun ia berniat melampiaskan nafsunya pada She Nu, ia tidak mampu melakukannya. Sementara itu, She Nu bertindak seolah-olah dirinya adalah pelayan setia yang merawat Li Hanguang dengan penuh perhatian.
Kendati demikian, Li Hanguang bertindak amat berhati-hati. Saat tidur malam hari, ia tidak membiarkan She Nu berbagi ranjang dengannya. She Nu menyadari bahwa bungkusan berisi surat rahasia dan pisau pinggang milik Li Hanguang sama sekali tidak pernah lepas dari sisinya, bahkan diletakkan di dekat kepala ranjang saat tidur, sementara di bagian luar kamar dua orang pengawal bergantian berjaga.
Demikianlah waktu berlalu selama lima hari berturut-turut. She Nu merawat Li Hanguang dengan telaten setiap hari hingga kondisi luka pemuda itu jauh membaik. Tanpa disadari, kepercayaan Li Hanguang kepada She Nu semakin mendalam, namun She Nu tetap tidak menemukan kesempatan untuk menukar surat rahasia tersebut.
Kala siang hari tiba, rombongan itu pun tiba di Xingzhou. Memandang kenyataan bahwa perjalanan hanya tinggal dua hari lagi menuju perbatasan Prefektur Zhending, She Nu memutuskan untuk tidak menunggu lebih lama lagi.
Xingzhou adalah sebuah kota besar yang menjadi pusat perdagangan dan distribusi sutra serta beras bagi para saudagar dari selatan maupun utara, sehingga suasananya amat ramai dan makmur.
Rombongan Li Hanguang berhenti di depan sebuah penginapan yang cukup besar, lalu turun dari kuda untuk bersiap menginap di tempat tersebut.
Li Hanguang berjalan di barisan depan sambil memanggul sendiri bungkusannya, ditemani She Nu di sisi kanannya, sementara keenam prajurit mengawalnya rapat-rapat di belakang.
Baru saja rombongan itu melangkah masuk ke gerbang penginapan, mereka melihat seorang pria berbadan kurus berjalan sempoyongan dari arah berlawanan.
Begitu jarak mereka semakin dekat, Li Hanguangmencium bau minuman keras yang menyengat. Ditambah lagi penampilan pria itu yang tampak pemalas, sekujur tubuhnya berminyak, pakaiannya berantakan, serta wajahnya dipenuhi kotoran—tampaknya ia sudah tidak mandi selama lebih dari sepuluh hari. Li Hanguang tidak kuasa menahan kerutan di keningnya, lalu mempercepat langkah karena takut tersentuh oleh kotoran yang menempel di tubuh orang tersebut.
Tanpa diduga, kaki pria itu tersandung sesuatu, membuat tubuhnya terhuyung-huyung dan menabrak tubuh Li Hanguang.
Dengan nada murka, Li Hanguang membentak, "Enyah!"
Ia sekalian mendorong pria itu ke samping menggunakan tangannya, dan tidak lupa memeriksa bungkusan di punggungnya. Setelah mendapati bungkusan itu dalam kondisi utuh tanpa kurang suatu apa pun, ia melirik si pemabuk dengan rasa jijik dan hendak melanjutkan langkahnya masuk ke dalam.
Melihat kelompok Li Hanguang bukan orang sembarangan yang mudah ditindas, si pemabuk pun pergi dengan ekor di antara kedua kaki.
Rombongan Li Hanguang memesan kamar di lantai dua. Tepat ketika mereka hendak menaiki tangga, tiba-tiba terdengar suara arogan dari belakang: "Singkirkan tubuh kalian, jangan menghalangi jalanku!"
Rombongan Li Hanguang berbalik serempak dan mendapati seorang pemuda bangsawan pesolek dikelilingi oleh belasan pengikut dengan sikap yang sangat angkuh.
Alis Li Hanguang langsung berkerut. Saat ia hendak mengucapkan sesuatu, pemuda bangsawan itu tiba-tiba menatap ke arah She Nu dengan mata yang berbinar-binar penuh kelancangan, lalu tertawa mesum, "Nona muda ini berparas sangat menawan. Dilihat dari gaya kalian, kalian pasti pendatang dari luar daerah. Tinggalkan gadis ini di sini, maka aku akan mengampuni dosa kalian karena telah menghalangi jalanku. Jika tidak, aku pasti akan membuat darah kalian memercik di tempat ini!"